Hari kedua tanpa Sada tetapi lebih sering mendengar suara Satria. Membosankan sekali. Ingin rasanya mengirim pesan kerinduan tapi malu jika pesanku dibaca oleh Mukti. Kan dia yang pegang ponsel Sada. "Argghh!" lenguhku dalam otak yang telah beku. Bagaimana seorang Sada bisa meninggalkan ponselnya dan betah tidak menghubungi kekasihnya? Baiklah tidak menghubungiku kalau sedang dalam rangka tugas yang sesungguhnya, angkat s*****a atau melempar bom molotov pada musuh. Nah ini, dia sedang ada dinas luar semacam workshop untuk menghadapi tahun politik di Bandung. Dia bahkan tidur di hotel bukan di barak tentara. Bagaimana bisa lepas dari ponselnya di saat banyak waktu yang tersisa? Sebegitu marahnya dia padaku? Tapi tidak sepenuhnya aku yang salah, sudah kubilang dia salah paham. Dia justru m

