Sudah hari kelima Sada tanpa kabar, stasiun televisi maupun laman media elektronik tidak satupun memberitakan soal tugas Sada. Memang ada sedikit isu-isu tentang perbatasan Indonesia-Timor Leste yang sedikit memanas. Tetapi soal tentara yang dikirim ke sana, tentang perkembangannya dan yang menyangkut keamanan tidak dijelaskan secara gamblang. Selalu ditekankan sebagai rahasia negara. Rakyat hanya digantungkan macam jemuran tiga hari tidak kering-kering.
Membuka menu pada ponsel, menggeser layarnya. Membuka w******p tidak ada kabar, buka i********: tidak ada yang seru, buka f*******: terlalu sepi, buka Twitter hanya tweet-tweet soal politik yang semakin tidak jelas, partai-partai politik saling menjegal satu sama lain. Bahkan berita Line Today lebih asyik memberitakan soal politisi yang bermain-main dengan tiang listrik. Ah, membosankan sekali! Sudah seperti perempuan jomblo dan tidak ada satupun yang menghubungi.
"Suwung banget uripmu, Mbak," celetuk Eka yang mengetahui kegiatan tidak berfaedahku sebelum acara workshop dimulai.
Suwung itu sepi, Urip itu hidup. Ya, hidupku tanpa Sada memang sepi sekali. Tidak ada yang memberi semangat, tidak ada yang membuatku tertawa, tidak ada pula laki-laki yang menyebalkan tetapi selalu bikin kangen.
"Tanpamu langit tak berbintang, tanpamu hampa yang kurasa..." Mulai bernyanyi di tengah sepi para peserta workshop belum datang. "Seandainya jarak tiada berarti akan kuarungi ruang dan waktu dalam sekejap saja. Seandainya sang waktu dapat mengerti tak kan ada rindu yang terus mengganggu, kau akan kembali bersamaku. Ohh, terbit dan tenggelamnya mentari membawamu lebih dekat..."
"Suaranya bagus juga," puji seseorang yang baru saja datang dan langsung duduk di sebelahku.
"Eh, Mas." Langsung terbangun, membenarkan posisi dengan semestinya.
"Biasa ngisi di kafe sih, Pak, eh, Mas. Ini belum suara emasnya, baru suara peraknya." Eka lebih dulu menanggapi.
Ksatria yang kemarin seolah akrab denganku ini tersenyum. "Nggak pengen jadi penyanyi aja? Daripada jadi pegawai negeri begini, ribet."
Aku menggeleng. "Hanya hobby, Mas."
Ksatria manggut-manggut.
Pagi ini setengah jam sebelum acara dimulai tapi belum banyak yang datang. Hanya tiga orang, aku, Eka dan Ksatria. Arif sih jelas dia akan datang terlambat karena harus menghadiri rapat lain. Nah ini yang lainnya? Padahal dalam ketentuan workshop, peserta harus datang setengah jam sebelum acara dimulai. Pantas saja 75% kepercayaan masyarakat pada institusi negara dipegang oleh TNI.
"Ini anak-anak berangkat jam berapa lagi?" gumam Ksatria memandangi jam tangan hitam yang melingkar indah di pergelangan tangannya.
"Loh, emang berangkatnya enggak bareng, Mas? Kan satu mes," sahut Eka sekenanya.
"Oh, saya berangkat dari Solo. Dari rumah," jawab Ksatria.
"Loh, enak ya Polisi tempat tugasnya deket. Nggak kaya tentara bisa sampai pelosok dan daerah terpencil," seru Eka yang sudah mulai mengenal dua instansi itu. Berkat aku dan Arif dia jadi sedikit paham, tidak awam lagi soal yang militer-militer.
"Oh, kalau perwira begini sama saja nanti dengan tentara, Mbak. Tinggal menunggu habis ini saya ditugaskan di mana lagi. Mutasi saya ya tetap di seluruh Indonesia."
Eka manggut-manggut. "Soalnya teman, Adik kelas, semua kenalannya Mbak Kanya yang tugas di Polres Karanganyar itu kok asalnya cuma dari Solo Raya, enggak ada yang dari Bandung misalkan, Papua misalkan."
"Iya, rata-rata memang dekat, Mbak. Tapi biasanya perwira dan Brimob itu tempat tugasnya ya bisa jauh dari kampung halaman. Gimana ya jelasinnya?" Menggaruk-garuk kepalanya.
"Ngapain sih tanya-tanya kaya gitu, Ka? Mereka punya urusannya sendiri dalam tugasnya. Tidak perlulah kita ikut campur, memang kamu mau jadi Ibu Bhayangkari?" celetukku.
"Atau kamu yang pengen jadi Ibu Bhayangkari?" tanya Ksatria padaku, mandadak kepalanya sedikit condong ke arahku. Tatapan matanya juga dalam dan menusuk. Seperti saat Sada selalu menatapku dari jarak kurang dari tiga puluh sentimeter. Sayangnya Ksatria tidak memberiku kesan seperti Sada.
"Haha." Eka tertawa. "Mbak Kanya enggak mungkin jadi Ibu Bhayangkari, Mas."
"Bagaimana kalau saya buat mungkin?" seru Ksatria masih di tempatnya, masih tajam menatapku.
Tubuhku mematung, apa pula maksud dari ucapan Ksatria? Kenapa pula tatapannya penuh arti ketertarikan?
"Terima kasih untuk kesetiaan dan kesabarannya menemaniku mengabdi. Dari kesetiaan dan kesabaran itulah aku memiliki dua kaki kuat untuk kembali berdiri saat lelah menghampiri, terkadang saat aku ingin berhenti mengabdi. Kamulah alasanku tetap bertahan dalam pengabdian..." Kalimat Sada ketika kami merayakan anniversary beberapa waktu yang lalu terngiang di telingaku.
"Allah bisa merubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Saya percaya itu. Jadi..." ucap Ksatria terdengar kecil di telingaku.
"Terima kasih pula telah menjadi perempuan waras untuk laki-laki gila macam aku ini. Tapi yang perlu kamu ingat, kegialaanku itu karenamu. Karena aku yang tidak tahu bagaimana caranya mencintaimu..." Kembali, kalimat Sada terngiang di telingaku.
"Sada, katanya kesetiaanku adalah secuil kekuatan untuk pengabdianmu. Aku akan ingat itu, By. Cepatlah pulang, aku takut," batinku meronta-ronta. Ketakutan kalau saja sisi hatiku berubah. Aku tak ingin, tapi semua orang tahu hati berjalan dengan sendirinya.
"Selamat Pagi, Dan. Maaf terlambat enam menit sepuluh detik." Bagus datang dan langsung memberi hormat. Mengganggu komandannya tapi menyelamatkan kakak kelasnya. "Ada sedikit problem dengan kendaraan," lanjutnya kemudian menundukkan kepala.
"Tak apa, mungkin jika keterlambatannya sampai acara sudah dimulai akan ada hukuman seperti biasanya," kata Ksatria santai tapi wajahnya nampak menyembunyikan kekesalan.
"Siap salah, Ndan." Menjawab lantang. "Izin kembali, Ndan."
Ksatria hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian semuanya berubah menjadi canggung. Dia mungkin ingat apa yang baru saja dia katakan padaku, kemudian dia malu atau yang lainnya. Bukan sok percaya diri, tapi perempuan tak mengenal cinta pun bisa paham dengan kalimatnya.
Aku terdiam, Eka terdiam dan Ksatria terdiam. Hanya suara dari beberapa anggota polres yang sedang bercengkrama di belakang kami. Berikut dengan beberapa pegawai Diskominfo yang mulai berdatangan. Sebentar lagi acara akan dimulai.
Ksatria memainkan jari-jemarinya. Beradu satu sama lain semacam orang tidak tenang. Sementara aku lebih memilih mengutak-atik ponsel yang tidak sekalipun mengabarkan kabar baik. Sesekali hanya melihat foto Sada dengan seragamnya, melihat foto kami berdua atau sekedar membaca ulang chatting kami. Lucu lalu membuatku rindu.
"Sudah punya pacar?" tanya Ksatria tiba-tiba. Dugaanku dalam diamnya dia berpikir keras.
Aku menutup ponselku, memasukkannya ke dalam tas. "Ss..."
"Izin, Ndan. Dipanggil IPTU Mario di belakang. Ada yang harus dibicarakan katanya, mendesak." Bagus kembali mengalihkan percakapan kami.
Menurutku percakapan ini memang tidak penting. Tidak termasuk percakapan yang wajar dalam sebuah workshop. Jika membicarakan soal workshop dan sinergi kerjasama itu baru penting.
"Kayanya Mas Ksatria suka sama Mbak," celetuk Eka sedetik setelah Ksatria meninggalkan tempat duduknya.
"Jangan sampai, Ka. Aku sudah punya Sada. Jauh lebih ganteng, lebih manis, jauh lebih cool, perhatian, keunggulannya lebih banyak Sada dibanding Ksatria. Lagian baru juga dua hari kenal," jawabku santai.
Aku hanya memandangi punggungnya yang lebar itu menjauh ke arah belakang. Ada satu polisi dengan wajah serius dan garangnya sedang menunggu.
Dua polisi beda tanda pangkat di bahu itu berbicara serius sekali. Ksatria terlihat sedang berpikir sesekali waktu kemudian dia menanggapi pembicaraan. Selang beberapa menit dua polisi itu melangkah pergi, meninggalkan tempat acara. Pasti ada hal yang mendesak dan berhubungan dengan tugasnya.
"Emm... Kalau dilihat-lihat nih. Lebih ganteng dan manisan Mas Ksatria sih," seru Eka, ternyata dia juga sibuk memperhatikan dua polisi yang tinggal bayangannya itu.
"Iya sih," sahutku pelan, datar dan ringan. Seperti dari hati sekali.
"Tapi apalah arti Mas Ksatria lebih ganteng dan lebih bikin diabetes tapi nyamannya hati tetap untuk Mas Sada, Mbak. Yang penting tuh nyamannya itu lho."
"Tumben pinter. Tapi Ksatria tuh enak juga orangnya diajak ngobrol," sahutku tanpa penyaringan otak sebelumnya.
Kata orang ketika kita berbicara spontan itu justru kata terjujur dari hati. Jika memang kata-kataku yang barusan dari hati, ada masalah apa dengan hatiku hari ini?
"Wah parah, Mbak Kanya. Please ya, Mbak Kanya emang cantik, manis, suple, perempuan kuat, lulusan Informatika, tahu tata krama, pinter masak tapi kalau tidak bisa setia semua itu tidak ada artinya, Mbak!" Begitu keras di telingaku.
"I love you, By," bisikan kalimat cinta dari Sada itu kembali berdengung. Garis wajahnya yang cool biasa membuatku terserang flu mendadak, senyum manisnya yang membuatku diabetes hingga tatapan teduhnya yang sering kali membuatku terkena serangan jantung tetapi selalu sembuh oleh tingkah gilanya yang membuatku tertawa. Semuanya tentang dia kini terlintas di kepalaku. Bahkan hatiku masih bergetar meski sedikit pilu kala mengingatnya.
"Aku merindukanmu. Apa kamu baik-baik saja?" batinku sembari menghela napas tapi tidak bisa menghela kerinduan.
"Mbak, Mbak Kanya?" Teriak Eka di telinga kiriku. Hampir pecah rasanya gendang telingaku. Kalau sampai pecah mau diganti gendang apa coba? Gendang yang biasa ada di gamelan itu? Jangan bercanda.
Aku mengorek telinga kiriku. Berdengung menyakitkan. "Bisa bicara lebih pelan enggak sih?" protesku.
"Ya, habisnya lagi dinasehati malah melamun. Mikirin Mas Ksatria atau mikirin Mas Sada?"
"Ya Sada lah, Purnama Putra Persada," tegasku. "Kangen banget sama Sada, Ka. Dia terluka enggak ya? Dia kembali dengan selamat kan, Ka? Dia pergi untuk kembali kan?" tanyaku menerawang jauh.
Ribuan kali aku semangat menjalani hidup tapi satu alasan soal masalalu mematahkan semangat itu. Aku bisa tersenyum, bisa berdiri tegak, bisa berjalan lurus tapi itu hanya tipu daya. Yang sesungguhnya hatiku bergejolak setiap waktu, jalannya sudah macam orang mabuk yang sempoyongan kanan-kiri. Siapa yang tidak trauma ditinggal pergi pujaan hatinya tanpa pernah kembali?
Air mataku sudah di ujungnya. Siap jatuh kala mengingat masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan.
"Aku ke kamar mandi bentar ya?" pamitku pada Eka. Sudah tidak tahan sekali rasanya. Lima hari yang mengerikan pun menyengsarakan tanpa kabar dari sang pujaan.
Berlari menuju kamar mandi di belakang Gedung Olahraga. Menutup wajah yang memerah karena tangis dengan telapak tangan. Cukup lama aku berdiam diri di dalam ruang sempit berukuran 1 x 1 meter. Menitikkan air mata beberapa butir, membiarkannya bercampur dengan air keran yang sengaja aku hidupkan.
Berulang kali juga aku mencoba menghubungi Sada tapi tetap tidak ada jawabnya. Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif cobalah beberapa saat lagi. Apa yang sebenarnya terjadi di tempat tugas?
Jam tangan cokelat yang melingkari pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB. Acara seharusnya sudah dimulai sesuai dengan jadwal yang tertera. Maka artinya aku juga harus segera berbenah dan kembali ke tempat semula.
Brukkk...
"Maaf, saya..." Menubruk sesuatu yang keras dan bidang.
"Loh eh..." Suara yang dua hari ini terdengar nyaring di telingaku. "Matamu merah dan sembab. Kamu nangis? Kenapa?" tanya Ksatria mengangkat daguku.
"Nothing." Menjauhkan tangannya kemudian berlalu pergi, meninggalkan dia yang kebingungan sendiri.
Menghela napas panjang, menahan air mata dan masuk ke dalam gedung. Bersamaan dengan Ksatria yang ternyata mengurungkan niatnya ke kamar mandi dan mengikutiku di belakang. Bahkan dia ikut menghela napas berulang kali dan mendongakkan kepalanya ke atas seolah menahan air mata agar tidak terjatuh. Ketika aku melangkah, dia juga melangkah.
"Apa ada masalah?" tanyanya berjalan tegap di sisiku. Kaki jenjangnya berusaha mengiringi langkahku. Tapi dia sama sekali tidak menatapku, pandangan mata dan wajahnya lurus ke depan. Seolah kami tidak sedang saling berkomunikasi.
Tidak ada jawaban dariku. Memang tidak ingin menjawab. Sudah bagus air mata rindu bisa tertahan, salah-salah bisa jatuh lagi nanti.
"Apa ucapanku ada yang salah tadi? Soal Ibu Bhayangkari misalnya? Atau apa? Kenapa mata yang begitu cerah harus mendung hari ini? Bahkan di pagi hari saat matahari sedang hangat-hangatnya."
Ksatria ini kemarin sok sekali, menyapaku saja tidak. Giliran sudah melihat wajahku, tahu namaku langsung sok akrab begini. Memang semua polisi begitu ya? Tidak mudah bergaul sebelum benar-benar mengenal. Eh, tapi ini juga belum benar-benar mengenal.
"Aku sedang tidak menginginkan matahari, hanya sedikit merindukan Purnama. Takut dia tak datang di pertengahan bulan," jawabku dengan bahasa kiasan. Aku tahu dia terlalu penasaran dan rasa penasaran itu akan terus menggebu tanpa jawaban.
"Aduh masa iya karena merindukan purnama sampai nangis gitu? Kamu mah lucu sama seperti tampilannya." Tertawa kecil.
Aku hanya menggeleng. Tak perlulah aku jelaskan lagi. Toh, rasa penasarannya sudah sedikit memudar.
Aku dan Ksatria mengambil posisi duduk yang sama seperti kemarin. Bedanya kali ini di belakangku adalah pasukan polisi-polisi muda. Termasuk Bagus, adik kelasku yang memilih duduk tepat di belakangku.
Acara telah dimulai, langsung pada intinya mengenai berita hoax dan hate speech yang tengah marak di kalangan masyarakat Karanganyar menjelang pemilihan Bupati juga menjelang pemilihan Gubernur Jawa Tengah.
Pengisi acara adalah ahli bahasa, ahli informatika dan ahli hukum dari Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Hingga mentari bersinar terlalu terik di luar sana, beliau-beliau itu bergantian mengisi acara. Sementara yang mendengarkan tidak pernah berganti.
Banyak hal yang dibahas, diperdebatkan, didiskusikan, ramai sekali, seru sekali, tetapi aku tetap diam dan memilih untuk merindu.
Ksatria yang ikut berdiskusi sesekali menatapku penasaran. Mungkin dia ingin sekali bertanya mengapa aku hanya memilih diam.
Sepanjang hari yang aku lewati hanya diam, bicara tentang rindu, bicara tentang candu yang pilu.
Sore ini seperti saat Senja-ku pergi. Hujan dan mendung menyembunyikan jingganya. Bersama rintiknya yang jatuh basah pada tanah aku harap Purnama tetap datang di pertengahan bulan, malam nanti. Dan hujan, ia mau mengalah sejenak. Memberiku gelap yang panjang bersama dengan Purnama.
Masih bertemankan gemericik air, menunggu Mbak Anna menjemputku. Sudah dua hari ini memang aku tidak mengendarai mobilku sendiri.
"Emm... Kanya?" panggil seseorang yang datang dari samping kananku, di pelataran Gedung Olahraga Nyi Ageng Karang. Masih dengan seragam cokelatnya, masih dengan buku-buku di tangannya dan juga topi identitas di kepalanya.
"Eh, iya Mas Ksatria..." Menundukkan kepala sedikit. "Belum pulang?" tanyaku untuk berbasa-basi saja. Anak kecil juga tahu kalau dia belum pulang, memangnya Gedung Olahraga ini rumahnya?
"Belum, ada sedikit diskusi sama anak- di dalam." Menunjuk pintu utama gedung yang masih di penuhi puluhan polisi berseragam. "Kamu sendiri, nunggu hujan reda?"
Menggeleng. "Sedang menunggu jemputan, Mas."
Mengorek-ngorek telinganya. "Kenapa telinga saya itu selalu gatal kalau ada perempuan yang kiranya seumuran sama saya tapi manggilnya Mas atau Pak? Kita cuma beda satu tahun loh. Tak apa panggil saja dengan Satria tanpa K."
"Oke, Satria tanpa K. Tapi darimana kamu tahu kalau usia kita hanya beda satu tahun?" tanyaku bingung. Dia memang seorang anggota polisi, setidaknya dia punya secuil keahlian menjadi seorang detektif. Tapi rasanya beda usia umur kita bukan suatu hal yang penting terkait pekerjaannya. Kecuali karena dia berminat.
"Emmm... Polisi itu terkadang juga seperti perempuan. Memiliki keahlian intilejen yang tinggi walaupun tidak seahli perempuan yang sedang curiga dengan pacarnya." Tertawa kecil entah bagian mana yang lucu.
Aku hanya mengkerutkan dahi tidak mengerti. Mungkin maksudnya dia sedang melucu tapi dimana letak kelucuannya.
"Emm... Ya intinya aku stalking aja. Dan kata orang ketika perempuan sedang curiga dengan pasangannya tingkat stalking-nya melebihi intelejen negara," jelasnya yang sudah menyadari bahwa dia terlalu garing untuk membuatku tertawa.
Manggut-manggut paham tapi tetap terasa tidak lucu untuk ditertawakan. Bahkan hanya tawa kecil semacam tadi.
"Oh, mau aku antar pulang? Aku bawa dua jas hujan kok di dalam tas." Menunjuk tas di punggungnya.
Aku menggeleng. "Tidak usah."
Alasan pertama aku harus menjaga jarak dengan laki-laki lainnya karena ada satu hati yang aku genggam dan harus kujaga. Yang kedua meskipun dengan jas hujan, aku tidak yakin bisa selamat dari jahatnya air hujan yang akan membuatku tumbang. Yang ketiga, kasian Mbak Anna kalau dia sudah berangkat menjemputku. Nanti bisa percuma dia datang kemari tapi aku sudah diantar orang lain.
"Kenapa? Daripada kamu menunggu lama di sini. Tidak masalah kok kalaupun rumahmu jauh."
"Tidak perlu, terima kasih untuk tawarannya, Satria."
"Yakin, nih? Saya hanya berusaha baik dengan warga sipil saja kok, tidak ada niat lainnya. Mencelakai atau berniat buruk, saya juga bukan pedofil."
"Tidak, saya juga tidak berpikir yang aneh-aneh apalagi p*****l. Itu terlalu aneh. Saya hanya tidak mau merepotkan orang lain dan saya sedang menjaga... Oh, itu Kakak Ipar saya sudah datang." Menunjuk ke arah gerbang.
Mobil hitam masih berplat putih datang dari arah gerbang. Berhenti tepat di hadapanku.
"Duluan, Sat." Melambaikan tangan masuk ke dalam mobil.
Satria yang termenung langsung tersadar, mendekati kaca mobil di sisi kiriku. Mengetuknya memintaku untuk membuka.
"Emm... Bisakah kita lebih dekat. Jangan gunakan bahasa formal misalnya... Emm..."
"Baiklah. Sampai jumpa besok." Melambaikan tanganku lagi.
"Oke, sampai jumpa besok, Kanya." Menundukkan kepala untuk menyapa dan salam perpisahan untuk Mbak Anna.
Lelah, letih, semuanya bercampur menjadi satu. Apalagi rindu yang membuat badan semakin tidak karuan.
"Siapa tadi, Dik?" tanya Mbak Anna di tengah perjalanan.
"Polisi dari Polres Karanganyar," jawabku santai.
Mbak Anna menghela napas. "Iya Mbak enggak buta. Jelas dia pakai seragam polisi. Maksudnya kok kayanya kalian dekat. Siapanya itu yang lebih spesifik lah!"
"Temen workshop, Mbak. Gitu aja tidak ada yang lebih spesifik lagi! Tumben mobil baru mau dibawa keluar pada hujan begini."
"Terpaksa. Hanya ada satu mobil di rumah. Tidak mungkin Mbak jemput kamu pakai motor. Bisa ngurus dua anak rewel nanti!"
Aku tertawa kecil. Putra kecilnya, keponakanku memang sedang rewel. Dan Mbak Anna yang tinggal menyelesaikan BAB IV skripsinya sering terganggu. Jika ditambah lagi aku sakit mungkin dia bisa gila. Mama dan Papa pergi liburan untuk memperingati wedding anniversary mereka. Bang Raka terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Mbak Anna menanggungku dan Arta sementara waktu.
"Tapi ya, Dik. Sekalipun kamu akhirnya jatuh cinta dengan orang lain. Jangan pernah selingkuh. Apapun tetap katakan yang sejujurnya pada Sada," nasehat Mbak Anna di tengah hening.
"Aduh, Mbak. Kayanya Mbak salah paham deh sama aku. Aku tidak jatuh cinta dengan Satria kok. Masih untuk Sada Mbak," tegasku.
"Kamu bisa saja jatuh cinta sama siapa, Satria itu. Lebih baik kamu jaga hati dan jaga diri dengan baik. Jangan sampai menyakiti atau lebih parahnya menduakan Sada." Sambil membelokkan stirnya.
Tersenyum masam. "Aduh, iya Mbak Anna. Aku jaga hati kok. Sampai stres begini karena sudah lima hari Sada tanpa kabar. Nomornya tidak dapat dihubungi lagi. Dia tuh enggak tahu apa ya kalau aku khawatir, menakutkan banyak hal yang tidak-tidak," keluhku frustasi sendiri.
"Iya nih, Mbak juga khawatir. Mbak hubungi dari kemarin tapi nggak bisa."
Dahiku terlipat. "Kok Mbak mengkhawatirkan pacarku sih? Ingat tuh Abang yang lagi banting tulang buat Arta sama Mbak!"
Mbak Anna mengangkat kedua alisnya. "Mas Raka tahu kali kalau Mbak sering mengkhawatirkan Sada. Okelah Sada pacar kamu tapi kan dia sahabatku."
Aku diam. Baiklah kali ini aku kalah. Kami memang berawal dari persahabatan bermula duka.
"Yang penting ingat saja sih, Dik. Jaga hati kamu untuk Sada. Kalau Mbak tetap yakin Sada adalah yang terbaik untuk kamu. Yang lainnya belum tentu sebaik dia. Kamu boleh berteman tapi hati bukan barang dagangan." Menepuk bahuku sesaat sebelum dia keluar dari mobil.
Kakak Iparku itu membiarkan aku sendirian masih terdiam di dalam mobil. Sada adalah yang terbaik dan aku yakin itu, sama seperti keyakinan Mbak Anna. Tapi rasanya Mbak Anna justru tidak yakin padaku. Terlihat jelas bahwa dia takut aku jatuh cinta dengan Satria.
Satria memang polisi berpangkat perwira. Tinggi, bersih, manis, tampan, enak diajak ngobrol walaupun ada kesan sedikit songong diawalnya. Tapi dia bukan laki-laki yang bisa membuat jantungku bergetar. Setidaknya untuk sementara ini, masih Sada yang menghuni hatiku. Sekalipun berat rasanya mendampingi seorang tentara.
"Nte?" panggil Arta dari balik pintu kecil pemisah antara garasi dan bagian inti rumahku. Tangan mungilnya melambai-lambai seolah memintaku untuk segera mendekat dan memeluknya.
Soal hiburan yang paling menyenangkan adalah Arta. Setidaknya di depan dia senyumku bukanlah kepalsuan.
Muhammad Arta Yaksa Bhuana. Nama sederhana sumbangan dari beberapa orang. Muhammad itu dari Papa alias Kakungnya. Papa berharap Arta bisa meneladani panutan umat manusia, Nabi Muhammad Saw. Arta itu dari Mama-nya alias Mbak Anna, dengan alasan Papa Arta bekerja di Bank yang notabene ngurusin uang. Orang Jawa pasti paham. Yaksa itu dariku dan Sada. Diambil dari pataka milik Kodam IV/Diponegoro 'Sirnaning Yaksa Katon Gapuraning Ratu'. Dan Bhuana jelas diambil nama belakang Papa-nya yaitu Hatu Caraka Bhuana.
Keponakanku satu-satunya yang paling ganteng dan manis. Kalau ada dua keponakan jelas sulit sekali memilih mana yang paling ganteng. Berhubung hanya Arta keponakanku saat ini, dialah yang paling tampan.
"Assalamualaikum," sapa salamku membiasakan diri agar Arta mengikuti budaya baik untuk saling menyapa.
Arta yang belum lancar betul berbicara langsung berhambur padaku tanpa menjawab salam. Dia memelukku seolah sudah lama sekali kami tidak saling berjumpa. Padahal tadi pagi kami masih sarapan bersama.
Sejenak melupakan Sada apalagi Satria. Ini adalah waktuku bersama dengan Arta. Mumpung besok juga belum ada pekerjaan yang mendesak. Masih harus menyelesaikan workshop yang tinggal penutupan dan penandatanganan kerjasama.
Sambil menanti Sada kembali sambil mencari hiburan lain. Arta.