BAB VI

2864 Kata
Matahari terpaku sempurna di tengah-tengah langit Kabupaten Karanganyar. Sinarnya menghitamkan kulit putihku. Apalagi di tepi jalan di emperan toko semacam ini. Panas sekali. Menunggu seseorang yang katanya ingin menemuiku. Bukan Sada, dia jelas belum kembali dari medan tugasnya. Bukan juga IPDA Ksatria atau Satria tanpa K itu yang akan melaporkan beberapa akun provokator, dia jelas sedang sibuk menjadi juri lomba polisi cilik antar sekolah dasar di GOR RM Said sekarang. Ya, hari ini aku akan menemui Shandi. Adik kandung Sada yang jauh-jauh datang dari Semarang. Katanya ada hal yang harus dia urus dan butuh bantuanku. Lama sekali aku menunggunya, hingga pegal rasa kaki berdiri di atas sepatu berhak 5 cm ini. Apalagi dengan seragam khas pegawai negeri juga rok semacam ini. Memang ya, antara kakak dan adik itu mirip. Sama-sama suka telat kalau janjian. "Mbak Kanya," panggil pemilik suara bass dari sisi kanan. Berjalan begitu semangat ala anak ABG alay dengan menenteng tas ransel di tangan kanannya. Kucing nakal plus aneh. Bukannya tas ransel berada di punggung justru di tenteng. "Sudah jam berapa coba?" seruku kesal ketika dia sampai di hadapanku sambil terengah-engah. "I'm so sorry, Kakak Ipar," serunya santai sekali. Memang kata-katanya menunjukkan rasa bersalah, tapi lagaknya tidak. "Jalanan Surakarta macet parah," keluhnya meletakkan tas ransel besar secara sembarangan. "Jalanan Surakarta yang mana?" tantangku. "Slamet Riyadi lah," jawabnya cepat. Sayang sekali jawabannya sedikit tidak masuk akal. Aku tertawa terbahak-bahak ketika mendengar jawabannya. "Slamet Riyadi? Haha." Masih mentertawakannya. "Iyalah," jawabnya lebih percaya diri. "Kamu dari Terminal Tirtonadi kan, ya?" tanyaku menahan tawa. Shandi mengangguk. "Kamu di perjalanan nggak sambil main mobile legend kan, ya? Kalau kamu lewat Slamet Riyadi ya kamu muterlah namanya. Gini, kamu tinggal lurus ke timur aja sampai tapi kamu pilih ke barat dulu, ke selatan terus ke timur lagi lurus terus. Muter nggak tuh?" Kebingungan. "Perasaan sih tadi lurus terus, Mbak. Ya tahu lah jalan apa itu, kan setahuku jalanan di Surakarta itu cuma Slamet Riyadi. Asal nyeplos aja ternyata salah." Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Dasar!" Mengacak-acak rambut hitamnya. "Lain kali kalau mau buat alibi keterlambatan dipersiapkan dengan baik ya, Dik!" Semakin gemas. Shandi hanya tertawa manis layaknya anak kecil yang diusap gemas oleh orang dewasa kesayangannya. Ya, kucing nakal ini terkadang memang menggemaskan sama seperti Kakaknya yang selalu bertingkah lucu dan menggemaskan. Aduh, rindunya aku akan Sada. Sudah berapa lama dia tidak memberiku kabar dan membiarkan aku setiap malam menahan tangisku. "Mama sudah bilang kan sama Mbak?" tanya Shandi membuyarkan kegemasanku padanya. "Maksudnya biar aku tidak perlu lagi menjelaskan ulang. Mulutku pegal sekali dari tadi diajak ngobrol sopir taksinya." Sambil memijat sisi mulutnya. Shandi memang bukan anak yang banyak bicara kecuali dengan mereka yang sudah sangat dekat dengannya. Dia lebih banyak diam di dalam kamar, menikmati WiFi atau sekedar bermain game online. "Iya, Mama sudah menjelaskan semuanya kok. Mbak juga sudah cari-cari kos-kosan yang cocok buat kamu. Ya, enggak sebagus kamar kamu sih, tapi nyaman lah," ucapku merangkulnya, mengajak dia berjalan mendekati mobilku di area parkir tepi jalan Lawu Karanganyar. "Asal ada WiFi-nya pasti nyaman, Mbak," candanya. Menggelengkan kepalaku heran. Anak zaman sekarang banget ini. Apa-apa WiFi. Jadi lupa segalanya karena WiFi. "Ya kali, Dik!" Calon adik iparku ini. Yaelah, macam Sada benar-benar akan menikahiku saja. Lupakan! Shandi datang kemari dan memintaku mencarikan kos-kosan itu karena dia ingin sekolah di Karanganyar. Entahlah motivasi apa yang membuatnya tiba-tiba ingin melanjutkan sekolah di SMA terfavorit di Karanganyar. Padahal di Semarang pendidikan lebih bagus. Jika ditanya soal motivasinya, Shandi selalu menjawab ingin lebih dekat dengan calon Kakak Iparnya. Candaan yang tidak lucu sama sekali. "Sudah yakin diterima, Dik? Mbak dengar kesempatan untuk siswa di luar Karanganyar itu sedikit sekali. Yang diutamakan tetap warga Karanganyar," kataku tidak bermaksud membuatnya psimistis atau minder. Hanya mengatakan yang sebenarnya saja. "Tenanglah, Mbak. Aku kan punya piagam kejuaraan Karate tingkat nasional. Bukannya pasti diterima kalau pakai piagam tingkat nasional, Mbak?" Ya, meskipun Shandi Adik kecil yang nakal, usil dan suka main game. Tapi dia jagonya karate, untuk sementara ini sih masih dalam kelompok umur. Belum sampai ikut PON atau kejuaraan tingkat senior. Dia tetap lebih jago dari Sada. "Entahlah. Ikuti sajalah prosesnya kalau diterima ya Alhamdulillah. Kalau nggak, ada tempat lain." Jawabku santai. Satu tahun aku mengenal Shandi melalui jarak Karanganyar-Semarang. Tidak begitu paham tentang sifat aslinya, yang pasti dia nakal, suka main game, jago karate, soal akademik aku tidak yakin. Sejauh ini Sada sendiri bilang akademiknya standar. Makanya untuk kali ini aku antara yakin dan tidak yakin Shandi diterima sekolah di sini. Alasan bahwa dia bukan orang Karanganyar asli yang membuatku sedikit ragu. "Mbak Kanya nih suka meremehkan adik ipar sendiri." Keluhnya sedikit memanyunkan bibir. "Yakinlah, Mbak. Aku semalam sudah belajar banyak sekali soal-soal ujian SMP, psikotest, banyaklah. Nanti aku belajar lagi biar tidak mengecewakan. Masa' sih sudah susah payah bujuk Mama biar diizinkan sekolah di sini tapi usahanya nol. Malu lah, anak laki!" Sedikit menyombongkan diri. "Aduh." Tangan kiriku mengacak-acak rambutnya lagi. Gemas sekali aku pada Shandi ini. "Eh, Mbak serius ya kali ini. Kenapa kamu mau sekolah di Karanganyar? Di Semarang bahkan kamu lebih mudah masuk ke sekolah favorit dengan piagammu itu. Jangan dijawab karena pengen dekat sama Mbak, ya? Jangan sok menyentuh hati Mbak deh!" Shandi mengambil napas lalu membuangnya perlahan. Bersiap untuk jawaban yang panjang. Membenarkan posisi duduknya. "Kakak Iparku yang paling cantik. Aku jujur loh soal pengen dekat sama Mbak. Gini loh, Mbak..." Terhenti sejenak. "Mama dan Papa itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan aku kesepian. Okelah sekarang Mama sedikit mengurangi pekerjaannya ke luar kota. Tapi sama sajalah, di rumah Mama juga ngurusin pekerjaan terus. Ada waktu cuma untuk masak, makan, mandi, telepon Mas Sada," keluhannya terhenti. Dia menerawang begitu jauh. Aku sendiri memilih diam. Bisa saja Shandi sedang menunggunakan emosinya. Aku pernah berada di posisi Shandi, sering kali merasa kesepian karena kedua orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tapi aku tidak bisa memprotes mereka, karena dengan jerih payah itu aku sampai di titik ini. "Dulu sih enak sebelum Mas Sada masuk Akmil. Ada yang nemenin, bukan game-game online macam sekarang. Nah dengan alasan itu, Mbak Kanya." Sangat ditekan. "Aku pengen dekat sama Mbak. Pengen ada temen berbagi, bercerita bahkan mengeluhkan masalah. Setelah aku pikirkan matang-matang sepertinya Mbak Kanya tidak sesibuk Mama dan Papa." Matanya berbinar menatapku saat ini. Membuatku hilang fokus pada kemudi. Sekalipun dalam seumur hidupku. Aku tidak pernah merasakan yang namanya punya Adik. Apalagi adik yang bahasa kasarnya haus akan perhatian. Jadi atas ucapan Shandi yang baru saja terlontar, hatiku tersentuh. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya punya Adik yang harus diperhatikan. Tersenyum lebar pada Shandi. "Nggak tahu kenapa Mbak mau berjanji untuk menjagamu di sini. Apapun yang kamu alami, kamu boleh setiap waktu menghubungi Mbak untuk berbagi. Bahkan saat mata seharusnya sudah terlelap sekalipun." "Jadi merasa Mas Sada ada di sini, Mbak. Dia selalu mengucapkan kalimat manis kaya Mbak Kanya sekarang ini buat aku." Menerawang jauh setelah menatapku dengan berkaca-kaca. "Apa kabar Mas Sada ya, Mbak? Dia tidak bisa dihubungi sekalipun," keluhnya terdengar parau. "Jangan cengeng. Mas Sada pasti baik-baik saja kok." Menghibur Shandi, padahal itu juga hiburan untuk diriku sendiri. Aku hanya tidak mau terlihat lemah terus menerus di depan orang lain. Shandi kembali menatapku berbinar. "Mbak memang perempuan yang kuat. Cocok banget pokoknya sama Mas Sada. Buruan nikah kek, Mbak." Tertawa kecil. "Kita tunggu saja sampai pangkat di bahu bertambah satu. Apakah Mas Sada bersanding sama Mbak atau yang lain," ujarku. "Mbak enggak mau nikah sama Mas Sada? Kok kayanya tidak berharap sekali. Kaya enggak yakin gitu kalau bakalan nikah sama Mas Sada. Ah, bagaimana, ya?" "Lah, jujur ya. Mbak mau banget, Dik. Kamu pikir hubungan Mbak cuma untuk kesenangan semata. Ah, itu mah anak ABG. Cuma Mbak enggak pengen lupa kalau Tuhan bisa saja merubah arah hati Mbak ataupun Mas Sada." Shandi mengangguk-angguk paham. "Yah, aku akan berdoa setiap hari biar Mbak Kanya sama Mas Sada cepat menikah. Biar Mbak Kanya perhatiin akunya semakin ikhlas," selorohnya memasang wajah sok imut dan manja. Aku hanya tersenyum. "Tapi makasih banyak ya, Mbak. Untuk semuanya. Selama ini mau mendengar ocehan tidak pentingku walaupun hanya via telepon. Jujur nih, kadang laptopku tidak bermasalah. Hanya ingin ada teman mengobrol saja makanya dengan alasan laptop bermasalah aku telepon Mbak Kanya," katanya terlalu jujur di siang bolong seperti ini. Menoleh pada Shandi. "Kamu segitu kesepiannya ya, Dik?" Shandi mengangguk lesu. Mungkin nakalnya Shandi selama ini dalam artian nakal usil itu karena dia butuh perhatian yang lebih. Karena dia yang merasa kesepian sepanjang waktu. Aku jadi semakin ingin menjaga Shandi di sini, aku tak mau kesepiannya menjadi alasan pergaulan bebas. Sebisa dan semampuku harus menjaga Shandi dari hal-hal yang tidak diinginkan. Toh dia juga Adikku untuk saat ini. "Dik, tapi janji sama Mbak, ya?" kataku memecah hening di dalam mobil yang sudah berhenti di depan rumah joglo yang memiliki halaman luas dan dua pohon rambutan. Menoleh serius padaku. "Janji apa, Mbak?" Membenarkan posisiku, menghadap Shandi dan menatapnya dalam. "Mbak pasti jaga kamu, Mbak pasti mau jadi bahu dan pendengar setiamu. Tapi..." Terhenti sejenak, menatap Shandi semakin dalam. "Jauhi n*****a, rokok, minuman keras, pergaulan bebas, apalah itu!" Shandi tersenyum. "Tatapan Mbak tuh kaya sayang banget sama aku," celetuknya cengengesan. "Shandi!" bentakku di dalam mobil. Dia hanya tertawa kecil. "Iya, Mbak Kanya. Aku ingin sekali masuk pelatnas karate masa' mau aneh-aneh. Percuma tidur di siang bolong terus mendapatkan hidayah berupa mimpi yang indah tapi dirusak dengan kesenangan sementara yang menyengsarakan selamanya." Berulang kali aku menghembuskan napas lega. "Aduh, sama Adiknya saja seperhatian ini apalagi sama Mas Sada," gumamnya sambil bergegas keluar dari mobil. Berdiri, menghirup udara dari rindangnya pohon rambutan kemudian menyisir seluruh sisi tempat. "Bagaimana suka atau tidak?" tanyaku sambil menutup pintu mobil. "Ya, setidaknya dari sisi depan suka atau tidak? Mbak sengaja pilihin kamu tempat kos yang nuansanya masih Jawa banget, masih banyak pohon dan halamannya luas. Pemiliknya juga suka pelihara burung. Yah, paling enggak lebih nyaman lah untuk otak." "Nyaman banget ini, Mbak. Kok ada ya rumah Jawa segede ini dijadikan kos-kosan?" serunya terus-menerus menghirup udara segar. Dari sisi dalam rumah, muncul laki-laki paruh baya yang mengenakan celana kain panjang dan baju batik berlengan pendek. Sosok yang sudah tidak asing lagi bagiku, beliau adalah sahabat Papa kala menempuh pendidikan di Universitas. "Loh, Kanya. Kok tidak langsung masuk ke dalam?" tanyanya mendekatiku. "Eh, assalamualaikum, Om. Maaf ini lihat-lihat bagian depannya dulu. Apa kabar hari ini, Om?" tanyaku menjabat tangan beliau. Shandi mengikuti caraku, menjabat tangan dan mencium punggung telapak tangan Om Alwi ini calon bapak kosnya. "Wa'alaikumsalam. Sehat Alhamdulillah. Bagaimana kabar papamu?" "Alhamdulillah sehat, Om. Kalau tidak sehat pasti Papa tidak sibuk," jawabku semabil tertawa kecil. Om Alwi menggeleng. "Papamu itu, anak-anaknya sudah bisa cari uang sendiri tapi masih sibuk saja. Siapa lagi yang dicarikan uang?" Aku hanya tertawa. Ya, Papa memang bandel di situ. Susah kalau disuruh berhenti bekerja, katanya karena belum ada yang meneruskan usahanya. Bang Raka masih terlalu sibuk dengan pekerjaannya di Bank Syariah. Sementara Papa tidak mungkin mengharapkan aku, beliau saja maunya aku kelak bisa banyak waktu di rumah mengurus anak dan suami. Mau mengharapkan calon suamiku, bahkan Papa yakin sekali bahwa aku akan bersanding dengan Sada. Maka beliau hanya mengharapkan Bang Raka lekas bosan dengan pekerjaannya. "Eh iya, Om. Ini Adik ketemu gede saya yang mau ngekos di sini. Namanya Shandi, Om. Dari Semarang." Memperkenalkan Shandi yang menundukkan kepalanya sopan. Om Alwi langsung mengalihkan pandangannya pada Shandi. "Oh ini Adiknya pacar kamu yang tentara itu?" Menepuk kedua bahu Shandi. "Ganteng loh, pasti Kangmas-nya juga ganteng." Pipi Shandi langsung memerah, dia pasti tersipu. Dasar ABG! Baru dipuji Bapak-bapak saja sudah tersipu apalagi dipuji perempuan, bisa lupa daratan dan lautan dia. "Kok Om tahu soal pacar saya? Saya loh kemarin belum cerita sama Om." Sedikit bingung. "Papa kamu yang cerita. Yah, papamu itu bangga sekali karena putrinya mau menyusul Mbak Ratna jadi Ibu Persit," jelas beliau membuatku malu sendiri. Mbak Ratna itu putri Om Alwi yang sekarang ikut dengan suaminya bertugas di Bandung. Mungkin karena putri sahabat masa kuliah Papa bersuami tentara maka beliau ingin aku juga bersuami seorang tentara. "Katanya lagi tugas di jauh ya?" tanya beliau membuatku mematung sempurna. Hanya bisa menjawab dengan anggukan pelan. Memang ini Papa menceritakan semuanya pada Om Alwi. Jadi semakin paham bagaimana bangganya Papa saat ini. "Jangan risaukan banyak hal. Percayalah bahwa dia pasti kembali. Kata menantu Om nih, tugas itu sebuah kebanggaan bagi prajurit." Mengusap bahuku lembut. Om Alwi pasti tahu bagaimana perasaanku saat ini, kisah lamaku juga pasti Papa ceritakan pada sahabatnya ini. Aku tersenyum tipis. Lagi-lagi soal kerinduan dan kekhawatiran yang tertahan. "Ya sudah, masuk dulu. Lihat-lihat kamarnya. Beberapa sudah terisi sama calon kakak kelasmu, Nak Shandi. Tinggal tiga kamar yang kosong. Ada kamar yang paling nyaman, kamar mandi di dalam. Depannya ada taman kecil di tengah-tengah rumah. Kalau hujan bisa lihat langsung dari depan kamar, aduh, Om sudah tua, bingung bagaimana menjelaskannya." Sambil merangkul Shandi, mengajaknya masuk ke dalam rumah. Sementara aku memilih menikmati udara segar di luar meski teriknya matahari menerobos celah-celah dahan dan membuat kulitku menghitam. "Tugas adalah kebanggaan bagi seorang prajurit dan ujian kekuatan bagi pasangannya. Bukankah seperti itu, By? Purnamaku cepatlah kembali. Malamku gelap tanpamu, bintang juga enggan menemaniku jika tanpamu," batinku merindu. Sekian lama aku hanya menikmati oksigen yang keluar dari pohon rambutan di hadapanku. Rambutan yang sudah mulai memerah lebat. "Mbak Kanya," panggil Shandi dari sisi teras rumah bergaya Jawa ini. "Aku ambil kamar yang itu, ayo." Kucing nakal itu mengganggu lamunanku soal Sada saja. Tidak bisakah dia memberiku waktu yang leluasa. Melangkah masuk ke dalam rumah, kamar yang cukup besar dengan kamar mandi dalam. Satu jendela kayu khas rumah jawa, bagian depan memiliki satu taman berukuran empat kali tiga meter tanpa atap, benar-benar taman di dalam rumah. Nuansanya begitu nyaman baik untuk otak dan jiwa seseorang. Di tepian taman yang berpagar hayu itu juga disediakan beberapa kursi dan meja. Lengkap dengan colokan listriknya. Satu dua orang siswa masih berseragam sedang mengutak-atik laptopnya di sana. "Yang ngekos di sini rata-rata anak pinter, Nak Kanya. Jadi mereka di kos hanya belajar dan belajar. Bukan individual, mereka lebih sering berdebat dan berbagi soal pelajaran di sini. Beberapa dari mereka juga seorang atlet. Tadi Om dengar Nak Shandi ini atlet karate. Om rasa dia cocok di sini. Tapi ya itu, mohon maaf jika tidak sholat di masjid bisa kena pukul tongkat besar itu." Menunjuk tongkat dari bambu yang lebih besar dari tongkat Pramuka yang menggantung di sisi dinding. "Saya kalau sholat di masjid kok, Om," serunya dengan wajah takut-takut memandang tongkat mengerikan itu. "Ya, paling kalau hujan saja enggak ke masjid." Akhirannya membuatku dan Om Alwi tertawa. Om Alwi mendekati Shandi. "Kalau di sini, kamu harus ke masjid walaupun hujan. Masjidnya di belakang rumah." Menunjuk pintu kecil di pojokan rumah. "Jadi, Nak Shandi jangan risaukan soal hujan." Shandi hanya tersenyum kecil dan sedikit merasa malu. "Kanya titip Adik di sini, Om. Kalau dia bisa lulus tes besok berarti saya titip tiga tahun ke depan." Mendekat sedikit pada Om Alwi. "Tapi, Om, sejujurnya Kanya tidak begitu yakin dia bisa lulus tes," bisikku sambil melirik Shandi. "Astagfirullah, Mbak Kanya! Doanya jelek banget!" Shandi menepuk bahuku keras. Aku hanya menanggapinya dengan tawa. Akhirnya bisa menggoda secara langsung kucing nakal ini. "Nak Shandi banyak piagamnya pasti diterima kok." Om Alwi berusaha menenangkan Adik kandung kekasihku yang sedang cemberut karena ulahku ini. "Tuh, tenanglah." Merangkul Shandi, gemas sendiri. "Mbak pamit dulu, ya? Masih banyak pekerjaan di kantor." Pamitku pada kucing nakal yang mulai mengurangi cemberutnya. "Om, Kanya pamit dulu. Nitip ya, Om. Kalau bandel Om boleh kok jewer telinganya sampai putus," kataku pada Om Alwi yang untuk kesekian kalinya membuat Shandi kesal padaku. "Wah, siap lah. Om kalau diminta memutilasi orang paling jago," canda Om Alwi membuat Shandi bergidik. Aku tertawa kecil. "Ya sudah, Om. Kanya pamit, assalamualaikum." Menjabat tangan Om Alwi, kemudian Shandi menjabat tanganku. Satu tugas pertamaku sebagai calon Kakak Ipar telah selesai untuk hari ini. Tinggal bagaimana esok hari, apa yang dia minta lagi. Kalau bisa ya aku turuti kalau tidak bisa ya nanti. Seperti aku memliki keluarga baru. "Mbak Kanya?" panggil Shandi saat aku sudah berada di pelataran sementara dia berada di teras rumah adat Jawa. Aku menoleh ke belakang. "Kenapa lagi?" tanyaku sebenarnya sedikit gemas. Manja sekali, baru ditinggal begitu saja sudah panggil-panggil namaku. Shandi tidak langsung mengatakan dari jarak jauh. Dia memilih berlari mendekatiku. "Mbak Kanya jangan berpikir yang tidak-tidak soal tugas Mas Sada lagi ya, Mbak? Aku yakin kok Mas Sada baik-baik saja. Dia pasti kembali buat Mbak," ucapnya dengan mata yang sayu. Memang memikirkan tugas Sada itu yang ada hanya negatif. Karena pola pikirku sudah terbentuk semacam itu sejak Cesa gagal dalam tugasnya. Tapi setidaknya aku harus lebih tegar dan menolak pikiran negatif itu sebisa mungkin. Katanya yang dipaksa lama-lama akan terbiasa. "Ya, Mbak? Mas Sada pasti sebentar lagi pulang kok." Mengusap lenganku. Sudah macam orang yang lebih dewasa dariku saja Shandi ini. Yang biasanya macam kucing nakal, selengekan, usil dan apalah itu. Kali ini jauh lebih dewasa dan menenangkan ku. "Iya, Mbak percaya Mas Sada pasti pulang kok," kataku. Antara yakin dan tidak itu lebih besar tidaknya. Tuhan pasti punya rencana terbaik untukku. Jika teori senja itu masanya hanya sekedipan mata sementara purnama jauh lebih lama sepanjang malam. Maka aku yakin Purnama akan datang untuk memperpanjang masanya. Cepatlah pulang cepatlah kembali. Maka akan semakin lengkap hariku di sini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN