BAB VII

4075 Kata
Delapan hari sudah Sada tidak memberiku kabar. Delapan hari itu pula aku bertemankan sepi dalam kerinduan. Bertemankan pula kalut dalam kekhawatiran. Malamku gelap tanpa keindahan. Mematung di depan komputer yang menunjukkan akun f*******: penyebar berita hoax terbaru. Benar-benar baru menerima laporan dari Staria soal akun f*******: yang satu ini. Menyebar berita hoax tentang pelecehan s*****l yang dilakukan salah satu bakal calon Bupati Karanganyar. Heran dengan anak muda zaman sekarang, saking nganggurnya sampai punya waktu luang untuk mengurusi kehidupan orang lain. Kalau ikut ngurusinnya itu benar. Kalau tidak? Kan jadi berurusan dengan polisi macam ini. Banyak sekali pelanggaran UU ITE yang dilakukan oleh satu akun milik pemuda berusia dua puluh tahun ini. Menghela napas berulang kali. Memang sekarang ini zamannya jari-jemarimu adalah harimaumu. Orang lebih pandai mengetik daripada berbicara. Pandai berbicara pun berbicara yang tidak penting, tidak berfaedah. Bosan mengurusi sekian banyak akun yang melakukan pelanggaran. Kini aku beralih pada ponsel Android-ku yang terdiam. Sampai dingin begini karena kurang belaian. Apa yang aku buka pertama kali saat memegang ponsel? Ya, chat-ku dengan Sada. Semua kata rinduku masih centang satu. Itu tandanya ponsel Sada masih belum aktif. Menghela napas panjang, harus berapa lama lagi aku menunggu dia kembali? Minggu depan? Tahun depan? Atau seratus tahun lagi? Mataku terbelalak ketika satu persatu pesan rinduku pada Sada berubah warna dan tanda. Yang tadinya centang satu menjadi centang dua, yang tadinya abu menjadi biru. Tulisan tanggal terakhir dilihat telah berubah menjadi online. Sada sudah kembali? Benarkah? Dia selamat. Bagaimana kondisinya? Bergegas aku memencet tombol telepon di pojok kanan atas. Terlambat karena tanganku sudah gemetar terlebih dahulu. Sada sudah lebih dahulu menelpon ku. Sudah macam orang yang kesetanan, aku langsung mengangkat telepon dari Sada. Menghela napas terlebih dahulu kemudian bersiap untuk banyak pertanyaan dan pernyataan. "Hallo, assalamualaikum, Sada. Apa kabar? Kondisi bagaimana? Tidak ada yang terluka kan? Aman kan, Da? Kamu sudah kembali ke tanah Jawa kan? Aku kangen banget," berondongan pertanyaan sekaligus pernyataan bahwa aku merindukannya. Sangat merindukannya. "Wa'alaikumsalam. Empat menit dua puluh detik lagi jam kerjamu selesai. Aku tunggu di depan kantor," ucapnya kemudian telepon mati. Senyum sumringahku langsung mengembang sempurna. Bersiap dengan banyaknya bar komputer yang terbuka. Klik Alt + F4 untuk semua menu yang terbuka. Masa bodoh f*******: belum di log out, Twitter juga sama. Siapa memangnya yang berani membobol. "Dik Kanya, tolong habis ini ketemu sama IPDA Ksatria ya? Sepertinya ada beberapa akun yang pemiliknya harus menerima surat penangkapan," seru Bapak Kepala Kominfo dari depan pintu ruangannya. Terbelalak sempurna mataku ini. Ah, tapi aku bisa menggunakan alasan lain untuk menolak tugas itu. Kata orang-orang kantor, aku adalah anak emasnya Bapak Kepala Kominfo. Alasannya karena beliau mantan pacar Mama. Dunia sempit kan ya? Di mana-mana mantan pacar Mama. Sudah tiga orang kujumpai sebagai mantan pacar Mama. Setelah Ayah dari teman Paskibra-ku, pemilik warung mie ayam langgananku di dekat kantor itu juga mantan pacar Mama. Kayanya lebih banyak mantan pacar Mama daripada mantan pacar Papa. "Aduh, Pak. Yang lain dulu ya, Pak? Arif, Pak. Dia sedang tidak ada kerjaan. Eka juga, Pak." Mengalihkan perintah pada orang lain. Eka dan Arif hanya saling menunjuk diri mereka masing-masing sambil memelototiku, beberapa inci lagi jatuh itu bola matanya. "Memangnya ada pekerjaan apa kamu setelah ini?" tanya beliau melipat kedua tangannya di atas perut yang sudah tidak datar lagi. Kumisnya yang tipis ala-ala bergerak-gerak kecil, macam ada getaran di sana. Tersenyum sok manis. "Purnama saya sudah datang, Pak. Bapak tahu kan kalau dia lama tak muncul? Kasihanilah saya, Pak. Tidak banyak waktu lagi saya, Pak." Memasang wajah super memelas. Salah satu trik andalanku untuk menghadapi Kepala Kominfo Karanganyar. "Aduh kalau sudah begitu susah Bapak nyuruhnya. Ya, sudah. Pergi sana temuin purnamamu. Untung Purnama itu prajurit negara, kalau cuma ksatria bergitar yang suka tour di bus antar kota antar provinsi, tidak akan Bapak izinkan kamu pergi, Dik Kanya," kata beliau menghela napas. Meringis kecil. "Terima kasih, Bapak. Besok-besok saya deh yang koordinasi tapi kali ini memang saya tidak bisa. Assalamualaikum, Pak. Saya pamit dulu." Langsung menjabat tangan Kepala Kominfo dan berhambur pergi. Membiarkan Eka dan Arif yang memasang wajah kesal karena jatah pulang lebih tepat waktunya sia-sia sudah. Menenteng tas kecil berwarna hitam di bahuku. Meninggalkan ransel besar berikut dengan berkas-berkasnya di dalam kantor, tidak ada juga berkas penting yang mendesak. Hanya beberapa duplikat laporan kegiatan yang baru tadi siang aku kumpulkan. Bergegas meninggalkan gedung Kominfo yang seadanya ini. Berjalan dengan langkah mantap dan riang ke arah gerbang. Beruntung sekali hari ini aku tidak bawa mobil, sedang malas menyetir. Tahunya setiap kemalasan itu bukan berarti buruk, justru kemalasan ku menyetir berarti baik untuk hari ini. Aku sudah berdiri di depan gerbang bercat putih, melihat ke segala sisi dimana tempat mobil diperbolehkan berhenti. Lalu lalang kendaraan yang mulai ramai di sore hari, juga Taman Pancasila Karanganyar yang mulai ramai oleh pedagang kaki lima. Harus jeli melihat satu persatu mobil yang terparkir ataupun mobil yang lalu lalang. "Kanya," panggil seseorang dari sisi samping kiri. Aku langsung menoleh ke arahnya. Sudah tersenyum lebar dan sok imut, tahunya yang menyapaku bukan Sada, melainkan Satria tanpa K. "Eh, Satria." Terlalu kaku. "Kamu mau ke Polres nemuin aku, to? Tidak perlu, aku sudah datang kemari untuk menemuimu. Ayo bicarakan saja di dalam." Menarik tanganku. Sejak workshop kerjasama Kominfo dan Polres Karanganyar beberapa hari yang lalu, kami memang menjadi dekat. Seringkali bertemu untuk urusan tugas, surat penangkapan dan lainnya. Aku juga semakin paham dia orang yang cukup nyaman dijadikan teman, cukup lucu, kritis juga. Sayangnya dia terkadang terlalu percaya diri. "Maaf, Sat. Aku harus pergi." Sambil menyunggingkan senyum sumringah yang tidak bisa tertahan lagi. Satria melepas pegangan tangannya pada pergelangan tanganku. "Kamu kelihatan bahagia sekali, kenapa? Karena aku datang? Tapi kenapa justru mau pergi?" tanyanya bingung sendiri. Sekali lagi senyum bahagiaku merekah. "Purnamaku datang, Sat. Jadi aku harus segera pulang, takut terlewat malam indahku." "Purnama? Ada gitu Purnama datang di akhir bulan?" tanyanya lagi bertambah pula kebingungannya . Tertawa kecil. "Ada, Purnama-ku datang tidak mengenal akhir bulan, pertengahan bulan atau awal bulan. Duluan ya, Sat." Sudah melambaikan tangan dan melangkah dua jenjang ke depan. "Tunggu!" Menarik tangan kananku ke belakang. Mau tidak mau tubuhku berputar untuk menjaga keseimbangan akibat tarikannya padaku. Itupun membuat tubuhku menabrak tubuh berototnya, kami saling berhadapan dan tidak ada batas diantara kami. Tangan kiriku bahkan bisa menyentuh beberapa lencana di d**a bidangnya. Kami sama-sama terdiam cukup lama, saling memandang dalam dan tanpa kedipan. "Empat menit dua puluh detik lagi jam kerjamu selesai. Aku tunggu di depan kantor." Kalimat Sada itu terngiang, merasuk ke dalam telingaku dan memukul keras relung hatiku. Jika Sada mengatakan empat menit, itu artinya sekarang dia sudah datang di sini. Aduh, kalau sampai Sada melihat adegan 13+ ini bisa pecah perang dunia ketiga. Bukan karena urusan politik antar negara tapi soal cinta dua insan manusia. "Maaf, Sat. Aku benar-benar harus pergi sekarang. Arif dan Eka akan mengurus akan semuanya. Mereka yang tahu detailnya," kataku melepas tubuhku dari genggamannya juga dari tatapan memikatnya. Aku langsung menyisir lagi setiap sisi di dekat kantor. Matilah aku, mobil Sada sudah terparkir di seberang jalan tepat di depanku. Akan menjadi hari terakhirku jika Sada membawa sangkurnya kali ini. Bisa putus leher indahku. "Maaf, Sat. Aku duluan, ya?" Tersenyum tipis kemudian menghela napas panjang dan mulai melangkah. Menunduk dan menyiapkan kata yang pas untuk sambutan pertama selepas tugasnya. Harus seriang mungkin serta berpura-pura tidak terjadi adegan apa-apa yang barusan tadi. Positif thinking saja Sada tidak melihat adegan tidak baik itu tadi. Membuka pintu mobil yang di dalamnya sudah ada laki-laki tampan yang menunggu. Laki-laki yang memilih menatap tajam Satria di depan gerbang. Satria yang masih melihatku meskipun aku yakin dia tidak bisa melihatku dengan jelas dari sana. Menghela napas. "Hallo, By. Kangen banget tahu nggak? Sudah berapa lama kamu tidak ngasih kabar sama aku? Ada yang terluka?" tanyaku antara mengkhawatirkan kondisinya dan mengkhawatirkan emosinya. Dia bahkan tidak menyambutku dengan hangat atau melihatku sedetik saja saat aku datang. Mata tajamnya masih membidik Satria yang baru mulai masuk ke dalam gerbang setelah aku benar-benar tidak lagi bisa dilihatnya dari kejauhan. "By?" panggilku lirih, takut-takut emosinya langsung meledak. Jika sudah begini, yakinlah aku. Sada pasti melihat adegan yang barusan. Dia pasti cemburu total sekarang. Malapetaka yang datang disaat seharusnya kami saling mengucap rindu. Mengabarkan kabar yang telah lama menghilang. Ini justru menjadi ajang pembuktian cinta memalui rasa cemburu. "Lencana polisi banyak ya, By?" ujarnya tetap melihat ke arah dimana Satria telah menghilang. "Seragam polisi juga lebih bagus dari tentara. d**a-nya bidang, By?" "By, itu tidak seperti yang kamu pikirkan kok. Dia tadi hanya butuh berbicara denganku tapi aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu denganmu, jadi dia menahan langkahku dan aku kehilangan keseimbangan. Hanya itu, ayolah itu bukan apa-apa." Membujuknya agar warna merah padam kecemburuan di seluruh wajahnya sirna. Sada baru mau melihatku. "Gitu? Selama ini kamu ngapain aja sama dia? Ganteng juga orangnya, ya?" "Aku kenal dia juga baru satu minggu, By. Itupun karena urusan pekerjaan. Ada kerjasama yang dijalin antara Kominfo dan Polres Karanganyar soal pemberantasan hoax dan hate speech. Kamu tahu, meksipun berhari-hari bertemu dengan Satria tapi yang aku ingat tetap Purnama. By, ini masih milik kamu kok." Menunjuk dadaku sendiri. "Jadi polisi yang pangkatnya IPDA tadi namanya Satria? Bagus ya namanya?" Dari gelagatnya masih belum bisa menerima penjelasanku. Aku terdiam. Sakit kali hati ini tidak dipercaya sama pacar sendiri. Mataku memerah, panas dan siap mengeluarkan air panasnya. "Kamu tuh berapa lama sih enggak hubungin aku? Kamu juga tidak menjelaskan sedikitpun soal tugasmu. Kamu tahu enggak sih seberapa khawatirnya aku sama kamu? Takut kamu terluka, takut kamu tidak kembali, aku khawatir semua tentang kamu." Tangisku jatuh. "By, aku tuh setiap hari kaya orang yang gila karena merindukanmu. Memangnya aku peduli ada laki-laki yang lebih tampan, polisi, ajudan presiden, jaksa bahkan ketua MPR sekalipun? Tidak!" tekanku menahan emosi. "Oke, aku salah, tapi beneran itu cuma urusan pekerjaan. Kamu itu masih menggenggam hatiku. Percaya atau tidak tapi itu kenyataannya!" Tangisku semakin pecah. "Jadi kita mau menebus rindu atau mau bertengkar?" Sada memelukku. "Jangan nangis lah. Tangisan perempuan jauh lebih mematikan daripada nuklir bagi laki-laki." Mengusap lembut kepalaku. "Aku percaya kok sama kamu. Tapi jangan rusak kepercayaanku ya? Aku juga sangat merindukanmu," bisiknya menyentuh pusat hatiku. Sekian menit kami saling memeluk. Melebur rindu yang telah membeku. Merasakan detak jantung masing-masing yang degupnya masih sama saat kami sama-sama jatuh cinta. "Aktingku bagus, ya?" selorohku yang memang terpaksa mengeluarkan air mata agar Sada mau menyudahi kecemburuannya. Tapi soal kerinduan dan penjelasanku semuanya nyata bukan tipu daya. "Jadi nangisnya cuma akting?" tanyanya melepas pelukan, menatapku dari jarak dekat. Berhasil membuat deru napasku memburu dan untuk kesekian kalinya aku jatuh cinta. Mengangguk. "Hanya tangisku yang bisa meluruhkan kemarahanmu." Menangkup kedua sisi pipinya. "Percayalah bahwa tidak ada laki-laki lain selain kamu." Sada tersenyum lebar kemudian memelukku lagi. Sangat-sangat merindu. "Shandi, kayanya kita salah ikut Bang Sada," celetuk suara dari jok paling belakang. Bersembunyi di balik sandaran. Hanya terlihat kepalanya saja. Dua laki-laki beda usia. Satu berambut cepak, satu lagi rambut tebal yang ditata rapi. Keduanya mengintip dari belakang. Sejak kapan Shandi dan Mukti ada di sana? "Iya, Mas. Mana aku belum tujuh belas plus lagi," balas Shandi sambil menutup matanya dengan jari-jarinya, tapi dia jelas bisa melihat adegan kami dari celah-celah jari-jemarinya. Aku langsung melepas pelukanku. "Sejak kapan kalian di situ?" tanyaku menahan malu, memicingkan mata pada dua laki-laki pengganggu itu. Beralih pada Sada dengan tatapan penuh tanya. "Kok kucing-kucing kampung yang nakal itu ikut sih, By?" "Mereka maksa ikut," jawab Sada ikut memicingkan mata pada Shandi dan Mukti. "Mbak Kanya jahat bangetlah. Masa' kita dikatain kucing nakal, mana kucing kampung lagi. Masih mending kucing Persia atau Anggora." Protes Mukti yang memang tidak biasa aku panggil sebagai kucing. Kalau Shandi sih, memang dia lebih sering dikatakan sebagai kucing nakal. "Kamu tahu, Shan? Kucing kampung itu yang suka buang air besar sembarangan." "Emang kucing Persia kalau buang air besar di closet, Mas?" tanya Shandi begitu polos. Aku dan Sada tertawa sementara Mukti menghela napas kesal. Orang-orang polos dan orang-orang yang sok polos memang cocok dipadu-padankan. "Maaf karena mengajak mereka, tapi bukankah gelapmu semakin indah jika Purnama lengkap membawa bintang-bintangnya?" Senyum manisku merekah. "Aduh diabetes, By," keluhku menatap Sada penuh cinta. "Situ diabetes sini mules-mules," celetuk Mukti yang sudah biasa menjadi pengganggu keromantisan antara aku dan Sada. Satu tahun ini dia adalah pengganggu terbaik kami. "Ya sudah sana dibuang dulu. Nanti kalau sudah selesai telepon, ya? Biar Abang jemput ke sini." Kalimat kiasan yang sejujurnya mengusir Mukti. "Siap salah, Danton. Mulesnya sudah hilang." Merebahkan kepalanya di sandaran jok paling belakang. Shandi dan aku hanya tertawa kecil karena tingkah Mukti. Bukankah benar kata Sada, malam manusia semakin indah bila Purnama hadir bersama bintang-bintang mungilnya. Kerlap-kerlip cahayanya melengkapi keindahan Purnama. Bagiku, baik Shandi, Mukti, Tante Shinta, Arta, Bang Raka dan yang lainnya adalah bintang bagi gelapku. Sementara matahari adalah pusat tata surya yang membuat Purnama juga bisa bersinar di malam hari. Siapa matahariku? Jelas Mama dan Papa. Indah sudah tata surya dalam hidupku, seharusnya lebih indah jika lengkap dengan Senja. "Kita antar kamu pulang dulu, habis itu kita jalan-jalan," ujar Sada langsung menyalakan mesin mobilnya. Lima kilometer jarak kantor Kominfo menuju ke rumahku. Sepanjang itu pula aku hanya terdiam dan menatap Sada penuh kerinduan. Sementara Mukti dan Shandi lebih memilih bermain gadget mereka masing-masing. Sudah bagus dua kucing nakal itu diam dan tidak menjadi pengganggur. "Kamu kalau kebanyakan ngelihatin aku kaya gitu bisa belekan loh, By," serunya terlalu fokus pada jalanan kota, tanpa mau melirikku sedetikpun. "Belekan doang mah enggak masalah. Biasanya juga sampai diabetes enggak masalah kok," sahutku tetap menatapnya begitu dalam. Sada tersenyum kecil. "Wah sepasang manusia menabrak tiang listrik karena terlalu asyik melontarkan sweet talk," seru Shandi dari belakang. "Wah, lebih parahnya lagi, Mas Mukti. Mereka bawa dua Adik. Kasian kepalanya benjol segede bakpao." Aku menoleh ke belakang. Dengan posisi ponsel miring macam itu Shandi tidak mungkin membaca berita, jelas dia sedang asyik dengan permainannya. Aku tahu dia sedang menyindirku dan Sada. Salah sendiri mau ikut orang pacaran. Hal semacam ini sudah risikonya. "Iya nih, dua Adiknya selamat dari mau tapi sepasang kekasih itu tidak," seru Mukti yang berpura-pura menanggapi. "Mulutmu itu, Mukti!" tegur Sada tetap fokus meskipun itu sedikit mengganggu. Mukti justru cengengesan di belakang. "Siap salah, Danton." Kalimatnya macam tidak ikhlas. "Salah terus aku ini, cuma Danton yang selalu benar. Macam perempuan saja selalu benar. Yo sorry Danton, aku ora sempurna," gumamnya sambil mengutak-atik layar ponselnya yang datar. "Ya memang manusia tidak ada yang sempurna Mukti," timpalku menahan tawa untuknya. Mukti hanya melengos saja kemudian melanjutkan kesibukannya pada layar ajaib di tangannya. Banyak waktu kebersamaan yang terbuang karena aku yang mematut diri terlalu lama di depan kaca. Sementara tiga laki-laki itu sibuk bercengkrama dengan keluargaku. Termasuk dengan ponakanku yang lucu, Arta. Sejak Sada datang dia langsung nemplok dan tidak mau lepas. Bergumam ala anak kecil yang baru bisa satu sampai tiga kosakata. Pintarnya Sada bisa mengerti apa yang Arta mau. Saking dekatnya mereka sampai batin seolah terikat. "Naik pangkat kapan, Da? Ada berita soal kenaikan pangkat luar biasa karena lima perwira telah berhasil menyelesaikan tugasnya di Indonesia-Timor Leste. Kamu termasuk?" tanya Papa, jelas itu suara Papa. "Kami tidak menerima kenaikan pangkat itu, Om. Kesepakatan dengan Perwira yang lainnya juga dengan prajurit di bawah kami. Toh, kami hanya menjaga siang dan malam, bukan bertempur macam yang rakyat pikirkan. Memang di rahasiakan tapi tidak begitu membahayakan nyawa, Om. Makanya kami sepakat tidak menerima kenaikan pangkat itu. Lagipula satu sampai dua tahun lagi saya naik pangkat kok, Om," jelas Sada yang terdengar bodoh. Jika dipikir-pikir, kenaikan pangkat itu anugrah dari Tuhan melalui penghargaan dari negara. Kenapa justru ditolak? Lebih memilih kenaikan pangkat regular yang jangka waktunya lebih lama. "Loh, berarti kemarin Om bacanya tidak sampai selesai ya? Hanya headline beritanya saja sih," eru Papa diiringi tawa kecil. "Tapi kenapa tidak diambil, Da? Bukannya semua prajurit berharap bisa naik pangkat lebih cepat, ya? Apalagi Perwira, siapapun itu pasti mempersiapkan diri menjadi Panglima TNI." Tidak ada jawaban cukup lama. Membuatku penasaran saja apa yang akan Sada katakan sebagai jawaban. Mungkinkah dia sebenarnya juga sedikit menyesali keputusannya menolak kenaikan pangkat? "Setiap prajurit pasti bermimpi menjadi Jendral, Om. Tapi kami lebih suka menjadi Jendral melalui jalan yang indah meskipun sedikit terjal. Kenaikan pangkat luar biasa memang menggiurkan, tapi rasanya terlalu dini memberikan kami kenaikan pangkat luar biasa. Tugas ini memang kewajiban kami sebagai prajurit yang menjaga kedaulatan dan keutuhan negara. Jika tugasnya sampai menghilangnya salah satu nyawa dari anggota atau sampai membahayakan semua nyawa pasukan mungkin kami menerima kenaikan pangkat itu," jelas Sada akhirnya terhenti. Secara tidak sadar aku tersenyum di depan cermin. Kebanggaan yang luar biasa memiliki kekasih yang begitu lapang mengabdi pada negaranya. Tidak lagi diragukan besar cinta Sada pada Indonesia, juga cinta prajurit lain pada negaranya. Jika kalian ingin tahu orang-orang yang benar-benar mencintai negerinya. Maka tengoklah prajurit yang bertaruh nyawa, Presiden yang bertaruh pikiran, waktu serta tenaga, tengok pula ilmuwan pengembang teknologi di Indonesia, tengok mereka para pahlawan olahraga yang berjuang bagi nama baik bangsanya. Tengoklah mereka yang berjuang untuk hidupnya sendiri agar tidak membuat negara semakin hancur. Namun jika kalian ingin melihat mereka yang cintanya hanya bualan semata. Maka tengoklah koruptor yang menikmati harta negara tanpa takut dosa, tengok pula siswa-siswi yang malas upacara, tengok juga anak-anak muda yang lebih memilih n*****a daripada agama. Tengok pula mereka yang hanya tahu sosial media tanpa pernah tahu apa arti Indonesia bagi dirinya. Bukankah bangga ketika seseorang yang kamu cintai berjuang melindungi apa yang paling kamu cintai, yaitu negara. Sekecil apapun perjuangan pasanganmu untuk memperbaiki negara, berbanggalah. Meskipun pasanganmu hanya bisa berkerja untuk dirinya sendiri, setidaknya dia berusaha membuat negara tidak terlalu miskin. Aku bergegas keluar dari kamar dengan senyum sumringah dan rasa bangga yang tidak terbendung lagi. "Lama banget Adik mah kalau dandan. Kaya mau pergi konser ke Amerika," tegur Mbak Anna yang baru saja keluar dari kamarnya. "Ya itu, An. Ini sampai Arta umurnya sudah dua puluh tahun baru selesai," sahut Sada. "Om... Om..." Arta mengajukan satu mobil-mobilan berwarna hitam pada Sada. Mbak Anna langsung meraih Arta. Membawanya ke dalam gendongan ternyaman di dunia, gendongan seorang ibu. "Om mau pergi dulu sama Tante. Mainnya besok lagi, ya? Dik Arta main dulu sama Mama." Memberikan penjelasan seadanya pada Arta. "Om Sada buat Tante dulu ya, Dik? Jangan ganggu." Menoel Arta yang terlihat cemberut. Mega mendungnya juga telah datang dan hampir terjatuh. "Uluh, nggak ikhlas dia Om kesayangannya diambil orang," seru Sada mencium Arta begitu gemas. "Om pamit dulu, Dik Arta. Besok lagi main sama Om ya?" Sekali lagi mencium pipi kanan Arta. Mulut Arta sudah bergetar tanda bahwa dia akan segera menjatuhkan air mata yang ditampungnya. "Sudah pergi sana, nanti keburu malam. Ingat jam malam hanya sampai jam 21.00," seru Papa seolah mengusir kami. Kami berempat berpamitan walaupun berat meninggalkan Arta yang sudah menangis, meronta digendongan ibunya. "Abang sudah cocok jadi Papa yang baik. Lettu langsung pengajuan, Bang?" tanya Mukti disela Sada yang masih sibuk membenarkan posisinya di balik kemudi. "Kalau Mbakmu ini siap kenapa tidak?" tantang Sada melirik ke arahku. "Mbak Kanya siap kok, Mas. Kemarin itu bilang kalau pengen banget nikah sama Mas Sada," celetuk Shandi membuatku mau tidak mau memelototinya. Itu hanya rahasia diantara kami, malu jika Sada tahu soal itu. Gengsilah, dipikir aku terlalu berharap nanti. Terus nanti Sada jadi risih karena aku terlalu mengharapkannya berlebihan. Ah, kucing nakal ini. "Oh, ya? Mbak Kanya bilang begitu?" yanya Sada sedikit menggodaku. "Kapan Mbak bilang begitu? Mana buktinya? No pict, no video, hoax!" kataku menutupi diri. "Nah kan, Mbakmu yang cantik ini sudah mulai tergoda sama IPDA Satria, Dik. Jangan berharap lebih. Kalau dia tidak mau nikah sama Mas berarti dia nikahnya sama Satria-Satria itu." Melajukan mobilnya. Menyindirku habis-habisan. Aku pikir akting menangisku bisa meluruhkan rasa cemburunya, tidak tahunya dia tetap menyimpan rasa cemburu itu rapat di dalam hatinya. "By, Satria itu cuma rekan kerja. Lagian kok kamu tahu kalau pangkatnya IPDA? Kamu kenal sama dia? Kalau kenal tanya sendiri lah. Pasti dia jawabnya kita cuma rekan kerja," jelasku. Sada melirikku. "Aku cuma tahu pangkatnya dari tanda di bahu, By. Aku memang tentara tapi aku juga tahu soal pangkat kepangkatan di Polri. Tidak kenal lah aku sama polisi itu. Cukup mendengarkan penjelasan dari kamu saja." "Ya sudah kalau begitu percayalah sama aku. Jangan cemburu lagi!" "Loh, cemburu itu wajar, By. Masa' saling mencintai tapi tidak cemburu. Kan perlu dipertanyakan cintanya. Yang penting cemburunya tidak keterlaluan kan?" "Ya, bukan begitu maksudnya. Gini loh, By. Aku sama Satria kan cuma rekan kerja. Janganlah jadikan itu sebagai alasan pertengkaran kita. Kamu mah enggak paham-paham." Sedikit memasang wajah cemberut. "Jadi bagaimana kondisi terkini di dalam mobil berwarna hitam, reporter Shandi?" Mukti bersuara, berlagak seperti pembaca berita dalam stasiun televisi. "Baik, terimakasih Mas Mukti. Kondisi terkini di dalam mobil hitam berplat H 5789 DM sedikit mencengangkan. Gemuruh peperangan telah dimulai. Agaknya isu yang selama ini berkembang tentang pecahnya perang dunia ketiga itu benar adanya. Dua sejoli telah menyerukan dimulainya perang dunia ketiga. Berikut laporan yang dapat kami sampaikan. Dari jok belakang mobil berwarna hitam, reporter Shandi Wastu Racana melaporkan," seru Shandi sambil berlagak macam reporter yang melaporkan langsung dari tempat kejadian perkara. Aku hanya menatap mereka aneh. Sesekali menghela napas untuk kegilaan mereka berdua. Rasanya dua kucing kampung yang nakal ini jarang sekali bertemu dan bersua tapi mereka begitu kompak sekalinya bersama. "Sudahlah, jangan bertengkar terus, Bang. Tidak baik. Eh, Bang. Kalau sampai itu polisi berani menikung Mbak Kanya. Kita serukan saja perang saudara. Abang yang maju duluan yang lainnya jadi penonton," canda Mukti membuat Sada hilang kendali pada setir mobilnya. Sampai ban mobil keluar dari jalur jalanan kota. "Abang ikhlaskan sajalah kalau Kanya mau sama polisi itu. Daripada harus bertengkar dengan saudara sendiri. Trauma aku bertengkar karena perempuan," sahut Sada melirik ke arahku. "Tutup telinga kalian!" Memerintah Mukti dan Shandi. Mereka pun langsung menuruti apa perintahku. Kedua tangannya menutup rapat kedua telinga masing-masing. Dengan mata yang setengah tertutup pula. "By, mau sampai kapanpun. Aku lebih suka bersama denganmu. Nyamanku itu hanya kamu. Terang dalam gelapku itu hanya kamu. Percaya atau tidak itu adalah faktanya. Dan masalahnya kamu seringkali tidak percaya denganku," ujarku menyentuh relung hatiku sendiri. Sada mendengarkan aku dengan seksama. Menahan merah di pipinya. "Sampai detik ini hanya dua laki-laki yang menggetarkan hatiku setara dengan kekuatan magnitudo sebesar 7,2 SR. Pontensi tsunami dan memporak-porandakan hatiku. Dan dua laki-laki itu adalah Senja juga Purnama. Mana ada Satria, Arif, Dava, Valdo, Mukti sekalipun?" "Kenapa bawa-bawa namaku?" protes Mukti tetap menutup telinganya. Aku yakin samar-samar dia mendengar kalimatku yang cukup keras dan emosional. Sementara Shandi hanya melirik ke arah Mukti. "Diam kamu!" "Siap salah, Ibu Danton!" Serunya langsung diam seribu bahasa. Mempersiapkan kalimatku lagi. Mukti memang pengganggu, membuatku lupa saja dengan kalimat yang sudah aku persiapkan matang-matang di otakku. "Hanya kamu sampai detik ini, Da. Jika orang lain saja berminat menikah denganmu lalu bagaimana dengan kekasihmu sendiri? Dia tidak berminat begitu? Kalau memang iya, kenapa dia tidak melepasmu sekarang?" Yang aku ajak bicara masih terdiam tapi senyumnya mengembang. "Kenapa, Da? Itu karena dia berminat! Dia bahkan rela menahan rindu yang mengoyak keyakinannya. Dia bahkan rela menantimu walaupun satu hari sudah setara dengan seribu tahun. Dia tetap setia sama kamu walapun dia bukan prioritasmu saat ini. Bukankah hanya perempuan bodoh yang sangat mencintai kekasihnya yang mau melakukan itu?" Begitu emosional. Parahnya, bukannya Sada segera membalas kalimatku dan menenangkanku. Dia justru memilih diam seribu bahasa sambil tersipu. "Untuk kesekian kalinya, terserah kamu mau percaya atau tidak dengan perempuan bodohmu ini. Faktanya, aku mencintaimu dan setia padamu. Masalahnya, kamu tidak percaya denganku. Dan solusinya, cobalah untuk sedikit mengerti!" Sada tetap terdiam. Hingga perjalanan panjang tidak terasa. Kami sudah sampai di salah satu mall ternama di Solo. Rencananya memang kita akan makan dan berbelanja sebentar sebelum menikmati wisata malam kota Surakarta. "Mbak, ini kita sudah boleh buka telinga nggak, ya?" tanya Shandi terus menerus menutup telinganya. Sekalipun kini kami semua sudah tidak berada di dalam mobil. "Iya, Mbak. Capek banget lah," keluh Mukti yang ternyata masih sama, menutup telinganya. "Sudah," seruku berjalan lebih dulu ke arah pintu masuk mall. Diikuti oleh Sada yang berusaha menyamai langkahku. Sampai di dalam mall, lantai satu dipenuhi oleh pasukan berbaju loreng. Berikut dengan beberapa alutsista ringan yang ditata sedemikian rupa. "Bang Sada?" panggil seorang perempuan cantik mengenakan seragam loreng yang tak biasa. Jika biasanya hijau, cokelat dan putih. Kali ini lorengnya cokelat, putih, sedikit hijau dan merah. "Eh, Gisela. Kamu kok di sini?" tanya Sada terlihat sumringah, tersenyum bahkan sangat manis pada perempuan berambut pendek dengan baret merah di kepalanya. Siapa perempuan cantik ini? Namanya macam tidak asing di telingaku. Belum lagi Sada terlihat sangat bahagia bertemu dengan Gisela-Gisela ini. Membuatku cemburu saja. "Siapa dia?" tanyaku pada Mukti yang mematung di sampingku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN