"Siapa dia?" tanyaku pada Mukti yang mematung di sampingku.
Mukti dan Shandi justru hanya saling menatap. Sementara itu perempuan yang setahuku bertugas di Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan itu semakin centil saja berbicara dengan Sada. Begitupun Sada yang seolah lupa jika kekasihnya sedang menonton adegan menyesakkan itu. Inikah ajang pembalasan? Hah, tapi aku tak melakukan apapun dengan Satria.
Darimana aku tahu perempuan itu bertugas di Grup 2 Kopassus? Mataku tidak buta. Ada tulisan itu di lengan sang perempuan. Dan yang aku tahu, Grup 2 itu ya Kandang Menjangan yang bermarkas di Kartasura, Sukoharjo.
"Mukti, aku tanya sekali lagi. Siapa dia? Kenal enggak kamu?" tanyaku lirih tapi menahan kecemburuan yang membabi buta.
Lihat saja perempuan itu berani memukul manja lengan Sada. Bahkan menepuk bahu Sada dengan lembut. Astaga, itu bahu untukku bersandar dan lengan berotot untukku bergelayut mesra. Sementara perempuan itu berani menyentuhnya dengan ganjen sekali. Ingin rasanya aku tampol itu muka sumringahnya. Mana Sada cuma diam saja dan menanggapi.
"Emm..." Mukti semacam takut-takut. "Emmm, Mbak nggak akan lembar bom molotov kan, Mbak?" Justru bertanya padaku.
Aneh si Mukti ini, Sada saja santai sekali macam itu, sementara dia justru yang terlihat panik dan berkeringat dingin. Seharusnya Sada sekarang yang ketakutan, bukan Mukti. Justru menjelaskan bahwa Mukti mengetahui sesuatu yang amat sangat penting soal perempuan itu.
"Tidak bom molotov, paling juga meluncurkan rudal," selorohku tetap memasang wajah cemburu pada Sada dan sang perempuan keganjenan itu. "Ayolah, kamu kenal enggak sama dia?" bentakku pada Mukti keras-keras hingga beberapa orang yang lewat berhenti sementara Sada dan perempuan bernama Gisel itu langsung menatapku bingung. Hilang pula kesabaranku.
"Oh lupa." Sada menarik tanganku untuk mendekat padanya. Merengkuh tubuhku, membawanya ke dalam rangkulan yang hangat. "Kenalin, Dik Gisel. Ini calon istri saya." Dengan bangga memperkenalkan aku.
Semua amarah dan kecemburuanku luruh seketika. Kupandangi wajah tampan itu, yang masih saja tersenyum bangga memperkenalkan aku pada perempuan lain.
"Loh calon istri?" Gisel sedikit terkejut. Ada juga raut wajah kecewa yang terlintas di sana. "Tapi..."
"Ya, doakan saja. Tinggal menunggu tambah balok satu di pundak sudah siap pengajuan," ujarnya bahkan belum merencanakan ini sebelumnya.
Kalau dipikir-pikir lagi. Kapan aku dan Sada menyepakati untuk segera pengajuan sesaat setelah pangkatnya naik satu tingkat? Tidak pernah. Memang dia berulang kali mengatakan akan menikahiku ketika pangkatnya sudah Lettu dan ketika dirasa karir militernya tidak memiliki banyak hambatan. Ah, Sada membuat harapanku terasa akan segera menjadi nyata saja.
"Hah?" Masih sedikit terkejut. "Rasanya kok pupus terlalu cepat, Bang," gumam Gisel tanpa rasa malu di depanku.
Sesama perempuan, aku tahu apa maksud dari kalimatnya. Dia pasti suka sama Sada dan hari ini harapannya luruh, seperti amarahku yang meluruh namun lebih menyakitkan. Memang, menaruh harapan yang tinggi pada urusan duniawi memiliki risiko kecewa melebihi harapan itu sendiri. Maka berharap lah pada Tuhan sebab Ia tak pernah ingkar janji.
"Salam kenal ya, Mbak. Saya Kanya." Mengajukan tangan untuk berjabat tangan, agar perkenalan ini menjadi lebih afdol.
Memasang wajah sumringah padahal perempuan yang di depanku terlihat lesu. Bukankah aku terlalu jahat untuk tertawa di atas penderitaan orang lain? Tapi bahagia manusia dengan manusia lain itu berbeda. Ketika yang lain bahagia, pasti ada yang lainnya lagi yang sengsara. Hukum alam.
"Iya, saya Gisel. Adik letting-nya Bang Sada." Menjabat tanganku dengan erat. Seperti ada dendam yang tersalur di sana.
Tunggu, Adik lettingnya Sada? Rasanya kok tidak asing sekali dengan kisah di masa lalu. Namanya juga terdengar akrab sekarang.
Oh, aku ingat. Gisel ini adalah Adik letting yang suka sama Sada. Yang sering sekali kirim pesan w******p pada Sada tetapi tidak mendapat balasan. Sampai akhirnya Sada kehilangan ponselnya, mau tidak mau berganti nomor dan dia tidak pernah bisa menghubungi Sada lagi.
Gisel terpaksa tersenyum di depanku. Aku tahu itu kepalsuan. Perempuan satu dengan yang lainnnya itu saling memahami. Jika tidak saling memahami mungkin perlu dicek lagi apakah dia pernah operasi transgender.
Pasti sangat menyakitkan sekarang ini, mengetahui laki-laki yang sejak lama dia cintai memperkenalkan perempuan lain sebagai calon istrinya. Inilah yang dikatakan bahagia di atas penderitaan orang lain dalam realitanya. Sedikit ada rasa empati tapi mau bagaimana lagi. Aku hanya pelaku sementara Tuhan yang mengatur alurnya.
"Ya sudah, kasian calon istri saya kalau lama-lama di sini. Sudah kelaparan dia." Menggenggam tanganku erat.
Sejujurnya tidak begitu kelaparan sih. Sada saja yang melebih-lebihkan saja.
"Eh, nggak mampir di stand dulu, Bang? Ada Bang Ardya di sana." Menunjuk stand bertuliskan Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan.
Ya, sedang ada acara Techno Military Festival yang digelar di mall ternama di Solo ini. Iklan dan pamfletnya bahkan sudah tersebar sejak satu bulan yang lalu.
"Oh, nanti saja. Salam buat Ardya, ya?" Bergegas melangkah pergi.
"Siap, Bang," jawab Gisel tegas sekali. Padahal aku yakin hatinya rapuh, hancur berkeping-keping.
Kami berempat melenggang pergi setelahnya. Menuju ke area food court. Sepanjang itu pula Sada tidak pernah melepaskan genggaman tangannya yang erat.
"Impas kan, By? Tahu kan rasanya cemburu itu bagaimana?" yanya Sada tidak melihat ke arahku, tetapi berjalan lurus dengan pandangan lurus.
"Ceritanya balas dendam nih?"
"Bukan balas dendam. Kalau balas dendam, aku tidak akan memperkenalkanmu semanis tadi sama dia." Menggenggam tanganku semakin erat. "Coba rasakan sendiri getarannya."
Aku hanya bisa tersenyum pun tersipu malu. Kalimat-kalimat Sada yang sederhana selalu menerbangkanku tinggi-tinggi kemudian terjatuh di antara bintang-bintang. Dia yang selalu membuat kuncup dihatiku mekar. Mana mungkin aku akan memilih orang lain? Rasanya tidak. Ah, tapi ada Tuhan yang maha membolak-balikkan hati manusia.
Shandi tiba-tiba terkekeh tanpa sebab di belakangku dan Sada, di samping Mukti yang menatap anak kecil menginjak 15 tahun itu terheran-heran. Apa coba yang lucu sampai Shandi harus terkekeh sendirian? Rasanya tidak ada juga orang gila yang lalu lalang di sini, tidak ada juga komedian asal Jawa Barat, Sule yang melawak di sini. Kesehatannya perlu dipertanyakan.
"Suka lucu ya kalau lihat orang pacaran. Gitu toh rasanya, saling cemburu, saling menggenggam, bermanis-manisan, berantem. Indah juga," celetuk Shandi membuat Sada langsung menghentikan langkahnya.
"Dik, kamu belum waktunya. Sekolah dulu yang bener!" seru Sada tanpa pernah mau berkaca pada masa lalu.
Ketika Sada berada di usia Shandi saat ini. Dia bahkan bertengkar dengan sahabatnya sendiri karena mencintai perempuan yang sama. Dan sekarang, tanpa mau menoleh ke belakang dia menasehati Shandi.
Yang perlu dicatat adalah setiap orang yang lebih tua menasehati atau melarang kita itu karena mereka sudah mengalaminya. Bukan karena mereka tidak pernah mengalami dan suci di masa lalu. Tapi mereka merasakan sendiri dan tahu sendiri apa risikonya mengenal cinta diusia muda. Terkadang bukan tanpa alasan jika orang tua kita melarang kita berpacaran ketika masih sekolah. Itu karena beliau pernah mengalami buruknya efek cinta yang mengganggu kewajiban belajar kita. Yah paling tidak beliau tahu susahnya belajar apalagi harus diganggu dengan kata pacaran. Because Experience is the best teacher.
Mungkin teori ngawur itu yang menjadi alasan Sada melarang Adik satu-satunya malam ini. Dia tak mau Shandi mengalami hal yang sama dengan dia, kesulitan belajar karena urusan cinta yang berbelit.
"Iya, Mas Sada. Kalaupun mau pacaran pasti minta izin dulu kok sama Mama ataupun Papa. Aku juga enggak bakalan nikung punya temen. Belajar dari pengalamannya Mas Sada, nikung punya temen itu 80% menimbulkan keretakan persatuan di Indonesia," celoteh Shandi sambil terkekeh.
Sada menghela napas panjang. Melanjutkan langkah kami yang tinggal empat meter lagi.
Aku memandang Sada. Dia pasti sedang mengingat masa lalunya dengan Cesa. Binar matanya redup dan itu jelas sekali.
"Aku merindukan Cesa, By," ujar Sada berulang kali menahan air matanya agar tidak terjatuh.
Sampai detik ini, hanya Cesa yang mampu membuat air mata Sada mengalir. Setiap kali mengingatnya atau merindukannya. Bukankah air mata lelaki lebih mahal daripada air mata perempuan? Ketika laki-laki menangis, air mata itu dari dalam hatinya bukan dari matanya. Jika perempuan, dia terkadang menangis tanpa hati. Cesa bisa menyentuh mata hati Sada hingga air mata itu keluar.
Apa kabar Senjaku yang jingga?
Menuntun Sada yang tiba-tiba terasa lunglai tanpa tulang.
"Duduk dulu." Mempersilahkan Sada duduk pada kursi kecil di barisan food court. "Dik Shandi, Mukti, kalian pilih meja yang lain dulu ya?" pintaku dengan kode kedipan mata.
Mukti yang menyadari Sada hanya terdiam dengan tatapan kosong langsung menarik Shandi menjauh. Memilih tempat duduk yang jaraknya cukup jauh dariku dan Sada. Memang prajurit yang pengertian dengan Dantonnya.
Dengan sigap aku memilih beberapa menu, termasuk menu steak favorit Sada. Satu tahun bersamanya aku hafal betul yang dia suka. Berikut dengan cappucino float sebagai minumannya.
Duduk di hadapan Sada yang menerawang jauh, kehilangan titik fokusnya pada dunia nyata saat ini. Dia pasti sedang memutar film dokumenter tentang persahabatannya dengan Cesa.
Aku, aku jelas juga merindukan Cesa, sama seperti Sada saat ini. Tapi prinsip kami, ketika satu sakit yang satu harus kuat dan bertugas mengurus yang sakit. Sementara saat ini, yang satu harus menjadi kuat agar bisa menopang yang lemah. Bualan soal, "Jika kamu sakit aku juga sakit," itu bagi kami terlalu konyol. Kalau semua sakit siapa yang mengurus? kalau semua lemah siapa yang menguatkan? Pikirkan itu matang-matang. Cinta memang luar biasa, tapi jangan jadi bodoh karena cinta. Cinta juga tetap butuh nalar.
Maka untuk saat ini aku hanya berusaha kuat dan sok kuat untuk menguatkan Sada yang lemah. Melalui genggaman tangan, aku ingin sedikit menenangkan Sada. Barulah setelah itu aku akan berbicara sedikit demi sedikit agar semua bisa kembali seperti semula. Sada yang kuat dan ceria. Begitulah cinta yang disebut saling menyempurnakan.
"Kamu nggak kangen sama Cesa, By?" Tanyanya sudah mulai kembali ke alam sadarnya. "Setiap kali aku lihat kamu kaya gini yang terbayang selalu Cesa. Masih ingat betul saat dia merengek-rengek, meminta bantuanku agar aku mau menjagamu dan Anna. Aku ingat betul semua cerita-ceritanya soal kamu. Walaupun aku pikir perempuan yang dicintainya itu Anna. Tapi... Yah, ketika melihatmu itu seperti melihat dua wajah." tangisnya hampir terjatuh sambil menangkup wajahku.
Tuhan, mataku ikut memanas. Aku juga merindukan Cesa. Sangat merindukan Cesa. Tapi apa yang bisa aku perbuat selain menyampaikan rindu itu mepalui Engkau, Tuhanku.
"By?" Menggenggam kedua tangan Sada di wajahku. "Aku juga merindukan Cesa. Sangat merindukan dia. Tapi dia sudah tenang di alamnya. Sudah, jangan menangis di sini. Kasian kucing-kucing nakal itu sudah haus akan liburan. Kalau liburannya rusak mereka pasti kecewa." Mengusap ujung matanya yang siap menjatuhkan butiran hangat.
Terlihat romantis bagi banyak orang, ketika saling menghapus air mata pasangan. Sayangnya menghapus air mata Sada terlalu menyakitkan. Karena membuatnya tersenyum untuk saat ini seperti memintanya untuk jauh-jauh meninggalkan Cesa. Padahal aku masih menyimpan itu dan menangisi kenangannya. Tapi untuk keseribu kalinya, hidup terus berjalan meskipun kita kehilangan.
Sada melihat ke arah Mukti dan Shandi duduk. Mereka juga melihat ke arah Sada dengan penuh tanya dan rasa iba.
"By, Cesa selalu bersama kita. Dia pasti mendengar semua kata rindu dari kita. Tenangkan dirimu. Pasti nanti malam dia datang menemuimu," ujarku yang sejujurnya juga untuk diriku sendiri. Cesa seringkali datang menemuiku melalui mimpi ketika aku merindukannya.
Tersenyum tipis padaku berusaha menghilangkan sedihnya. "Kucing-kucing itu sudah berapa lama tidak makan daging? Kebanyakan makan ikan asin campur nasi sih. Pesan makanan daging semua," seru Sada sudah berusaha kembali pada titik terkuatnya.
Seorang pelayan memang sedang menyajikan pesanan Mukti dan Shandi. Pesanan yang begitu menggunung dan daging semua. Sayurannya tidak ada. Itu perut apa penggilingan daging?
"Datanglah menemui sahabatmu malam ini, Cesa. Buatlah dia selalu tersenyum karena mengingatmu. Jika kehilanganmu sudah terlalu menyakitkan untukku maka jangan hilangkan pelangiku juga memalui senyum seorang Purnama," batinku tersenyum bahagia melihat Sada juga tersenyum.
"Woy, jarang dikasih makan daging, ya?" seru Sada menggoda Mukti dan Shandi yang bersiap menyantap makanan pesanannya.
"Jarang, Bang. Mak Ijah kalau ngasih makan ikan asin campur nasi terus sih. Itupun hanya satu kepalan, tidak sampai di tenggorokan, Bang," sahut Mukti membuat beberapa orang memandangnya aneh.
Tentara memang kadang kehilangan urat malunya saat tidak berseragam. Masih mending kalau pakai seragam, pada pengen jaga image karena seragam kebanggaan dan nama baik institusinya.
"Loh, untuk ukuran kucing kampung itu sudah makanan yang paling mahal loh. Sudah baik betul itu Mak Ijah memberimu makan kalau tidak, pasti kamu nyolong ikan asin tetangga. Habis itu kena timpuk sendal jepit lusuh yang bagian tumitnya sudah bolong," seru Sada membuat banyak orang tertawa.
Malu pun malu. Tak apa selama Sada mau tersenyum. Daripada melihatnya menangis dan bermuram durja lebih baik menahan malu untuk diriku sendiri.
"Wah, sorry, Mas. Kita ini kucing kampung yang dipelihara oleh ketua asosiasi peduli kucing kampung, Mak Ijah Surijah binti Abdul Kodir. Jadi makanan kita terjaga, ikan asin? Sorry kita makannya whiskas," timpal Shandi membuat Sada tertawa.
"Ini gimana dua kucing yang dipelihara satu rumah makanannya bisa beda? Satu ikan asin campur nasi, satu bilang makan whiskas. Yang pelihara kalian suka pilih kasih ya?" seru Sada semakin tidak jelas.
"Lah, biamasa lah, kalau kucing masih masa pertumbuhan begini makanannya yang lebih bergizi, Bang."
"Nah betul itu, Mas," timpal Shandi.
"Sudahlah, makan dulu baru nanti bercanda lagi." Menghentikan mereka sebelum makanan yang kami pesan berubah suhu menjadi dingin. Dingin, semacam gebetan yang tidak pernah peduli.
Kami semua melanjutkan makan hingga setengah jam kemudian kami sudah berada di salah satu supermarket. Berbelanja keperluan sehari-hari. Ceritanya nurutin dua Bapak tentara dan satu Dedek gemes SMA. Setelah melalui babak penyisihan yang panjang, Shandi akhirnya diterima di SMA N 1 Karanganyar. Jadi hari ini, dia harus berbelanja banyak hal untuk keperluannya selama di kos.
Orang-orang yang melihat kondisi kami akan tertawa. Barang belanjaan perempuan justru lebih sedikit dari barang belanjaan cowok-cowok rempong ini. Aku bahkan menjadi seseorang yang mendorong troli untuk mereka. Mengikuti langkah kaki mereka pergi dan sesekali berbelok arah sedikit untuk membeli beberapa keperluan pribadi, dari mulai alat kecantikan hingga, ya,hingga tiba di barisan barang yang malu aku ambil padahal aku butuh sekali.
"Mau beli ini?" Sada menunjuk barang yang ada di depanku. "Beli aja kali enggak usah malu. Semua cowok juga sudah tahu kalau itu keperluan perempuan. Wajib ada di kamar perempuan juga," serunya justru mengambil satu pack untukku.
"By!" Menepuk punggungnya keras. "Jangan malu-maluin lah. Sudah sana pergi, bukan yang ukuran ini juga." Mengembalikan satu pack pembalut yang asal Sada comot saja.
Aku langsung berlalu pergi meninggalkan Sada yang mengelus punggungnya. Pasti panas sekali rasanya menerima tepukan cukup keras dari tanganku.
"By, kamu enggak jadi beli itu? Malu ya? Kenapa sih? Aku sering lihat kaya gitu lah di minimarket. Ya kenapa sih? Diiklan televisi juga ada." Mengejar langkahku yang semakin cepat.
Ini cowok kenapa? Tahu pacarnya malu masih saja dibahas. Itu tuh keperluan yang sifatnya pribadi banget. Iyalah oke cowok-cowok sering lihat tapi enggak harus juga tahu soal begituan kan. Aduh, ingin sekali rasanya aku menampol mulut Sada keras-keras.
"By." Menghentikan troli dari depanku. "Malu ya?" godanya menggerak-gerakkan kedua alisnya. "Kenapa sih, By? Nanti kalau sudah nikah juga tahu soal begituan. Ah kamu mah. Enggak perlu malu kali." Semakin menggodaku.
"Sada, kita putus! Laki-laki m***m!" Meninggalkan troli itu di tengah-tengah supermarket yang semakin malam semakin ramai.
"Eh loh, kok putus sih, Kan? Bercanda doang ya ampun." Mengejarku. "Yakinlah aku enggak bermaksud seperti itu. Aku cuma pengen bilang aja kalau enggak perlu malu belanja begituan walaupun kita belum nikah atau apalah. Memang itu kebutuhanmu kan? Itu saja. Kalau salah ya maaf lah, jangan putus dong," rengeknya menahan tanganku.
"Kamu tuh tahu enggak sih seberapa privasinya pem... Ah, itu buat perempuan? Suka risih lah kalau laki-laki tahu soal itu. Kita enggak akan putus kalau kamu tidak mengusik keperluan pribadiku macam tadi. Tidak usah sok tahu dan sok ikut campur! Diam saja!" Seruku kembali mendekati troli yang sudah jauh aku tinggalkan.
"Maaf, By. Nggak lagi lah. Maaf pokoknya sudah membuatmu merasa risih. Aku tidak tahu soal itu," ujar Sada di belakangku. Menundukkan kepalanya merasa bersalah. "Maaf ya, By? Nggak putus, kan?"
Aku terdiam tidak mau menjawab apapun. Biarkan saja dia menyesali perbuatannya. Siapa dia? suami juga belum, mau mengusik keperluan pribadi. Tidak tahu saja kalau perempuan PMS itu lebih kejam dari Kim Jong Un.
Langkahku terhenti di pusat alat make up. Baru ingat kalau lipstikku yang kemarin dipatahin Arta. Ponakanku yang satu itu memang laki-laki tapi sering matahin lipstik tantenya. Itu anak kalau sudah gede suka matahin lipstik pacarnya juga kali ya?
Sada masih terdiam mengikutiku. Giliran dia yang mendorong troli dengan wajah masamnya.
"Yang matte ada, Mbak? Yang nomor 31 sama 32 coba?" Meminta pada pelayan yang dandanannya luar biasa. Luar biasa tebalnya, itu bedaknya beli kiloan, kah?
Sang pelayan mengeluarkan dua kotak lipstik berbeda nomor jelas menandakan beda warna. Satu warna peach, satu lagi warna merah muda.
"By, bagusan yang mana?" Tanyaku pada Sada, menunjukkan dua contoh lipstik yang ada di tanganku.
Yang diberi pertanyaan hanya terdiam dan menatapku datar.
"By, yang mana?" taanyaku sekali lagi, menggoyang-goyangkan lipstik agar dia fokus pada benda ini bukan pada wajahku. "Sada!" panggilku geram atas tingkahnya.
"Diam salah ngomong juga salah. Pokoknya laki-laki selalu salah!" keluhnya cembetut membuat pelayan alat-alat make up tertawa kecil.
"Ya, kalau diminta ngomong ya ngomong lah. Ini bukan privasi, oke?"
Manggut-manggut lemah. "Bagus yang peach," jawabnya setelah bergantian memperhatikan kedua lipstik di tanganku.
"Tapi kalau yang peach aja tuh kadang kurang terlihat, By."
"Ya, sudah yang merah muda."
"Yang merah muda terlalu cetar nggak sih warnanya? Cocok nggak sama kulit aku?"
Menghela napas panjang. "Mbak tahu enggak sedihnya jadi laki-laki itu saat apa?" Justru bertanya pada pelayan yang terlihat kikuk.
Pelayan yang mengenakan seragam berwarna navy itu menggeleng.
"Saat pasangannya meminta untuk memberikan jawaban atas sebuah pilihan." Melirikku. "Pilih ini salah, itu salah. Semuanya serba salah. Jadi, tolong banget ya, Mbak. Jangan memberikan pilihan pada seorang laki-laki yang jawaban sebenarnya Mbak sudah tahu!" tekan Sada sedang menyindirku.
Dengan wajah kikuk dan tawanya yang kaku. "Hehe, iya, Mas." Menjawab Sada.
"Nah, ingat ya, Mbak. Kasian nanti cowok Mbak bisa kaya saya, tekanan batin, tekanan darah tinggi, tekanan jantung apalah itu jadi satu." Kata Sada lagi masih betah menyindirku.
"Oke, Mbak," seruku menghentikan kegilaan Sada. "Saya beli dua-duanya ya?" Menyerahkan dua lipstik untuk dibungkus dan di hitung.
Kekasihku yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung ini menahan tawanya untukku. Dia pasti tahu jika aku sudah merasa tersindir dengan kalimat menohoknya.
Setelah sekian lama menghamburkan uang, semacam hidup terlalu hedon malam ini. Kami akhirnya kembali ke rumah. Jam malamku tinggal sepuluh menit dan tepat saat kami sampai di depan rumah.
"Terimakasih untuk malam hari ini, By. Besok-besok kalau ada waktu lagi ya? Dan maaf untuk hari ini." Sada menggenggam kedua tanganku.
Aku menoleh ke jok belakang, dua ekor kucing itu tertidur pulas di atas tumpukan barang belanjaan.
"Giliran enggak ada yang ganggu sudah waktunya kita berpisah," gumamku. "Pulas sekali lagi, kecapekan pasti mereka."
Waktu yang tersisa aku gunakan untuk memandang Sada dan dua kucing nakal itu. Memandang mereka saja sudah membuatku tersenyum. Kalau bahagia itu sederhana maka mereka-lah kesederhanaan yang membahagiakan. Purnama dan beberapa bintang bercahaya.