BAB IX

3903 Kata
"Dik Arta, jangan lari-lari nanti dimarahin Mama loh," teriakku pada Arta yang sejak tadi membuatku kelelahan. Berlarian ke sana ke mari dan tertawa. Menyusuri lorong-lorong yang asing baginya. Maklum, anak kecil yang baru saja lancar berjalan pasti terlalu banyak gerak dan tidak mau diam. Lihat saja satu detik duduk diam di sampingku saja tidak mau. Bukannya Terkadang dia juga ngoceh sendiri, menjadi pusat perhatian orang lain yang sedang lalu lalang. Arta boleh mendapat tatapan gemas, sementara aku justru ditatap aneh oleh beberapa anak muda. Ya, aku mengambil cuti tahunanku khusus untuk Mbak Anna. Maksudnya sih terpaksa. Harusnya aku ambil ketika tidak banyak pekerjaan dan aku gunakan untuk liburan di Semarang. Mengunjungi Cesa dan semua kenangannya. Ekspektasi dan realita lebih sering berlawanan daripada sama. Saat ini, aku sedang berada di salah satu gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan. Di lantai satu di depan ruang sidang skripsi. Setelah satu tahun berhenti sejenak dari aktivitas menuntut ilmunya. Kini Mbak Anna sudah melanjutkan kewajibannya menuntut ilmu setinggi langit. Dia telah menyelesaikan urusan Bab akhirnya dengan cepat. Dan kini dia sedang di dalam ruang sidang, mempertanggungjawabkan apa yang telah dia tulis dan teliti selama ini. Aku? Jelas aku menjadi babysitter dari Dik Arta yang bandel dan tingkahnya kelewatan batas. "Mama." Wajah Arta tiba-tiba berubah merah, bibirnya terlipat, air matanya juga sudah di ujung. Hujan deras disertai gelegaran suara akan segera datang. "Eh, Mama lagi beli es krim buat Dik Arta. Tunggu di sini, ya? Diam tapi, enggak boleh lari-lari. Nanti kalau Dik Arta jatuh, sakit, enggak boleh makan es krim," ujarku dengan bahasa normal, kalau harus mengikuti bahasa anak kecil capek aku. Dari tadi sudah memakai bahasa anak kecil. "Huaaa!" Bukannya diam dan paham, Arta justru menangis semakin kencang. Ribuan kali sudah aku menenangkan Arta tapi tidak ada hasilnya. Dia baru bisa diam ketika aku menyebutkan nama Om Sada. Begitu kata itu terucap, Arta menahan tangisnya meskipun masih sesegukan. Memang pesona Sada di mata Arta itu luar biasa. Sudah sejak dia masih merah sih suka digendong sama Sada. Gedenya ya gini, yang diingat selalu Sada. "Iya, Nte telpon Om Sada, ya? Tapi Dik Arta tidak boleh nangis. Nanti kalau nangis ditembak dooor loh sama Om Sada." Menunjuk perutnya dan sedikit menggelitik. Arta mau sedikit tersenyum. Kasian kali lah ditinggal Mama-nya berjuang untuk gelar S.Pd. Lihatlah air mata diujung mata bulat itu. Mengutak-utik ponselku. "Assalamualaikum, Da," seruku sambil menatap Arta. Anak sekecil dia pun bisa melontarkan tatapan penuh harap. "Hem... Wa'alaikumsalam. Kenapa, Kan?" Yang di seberang terdengar lesu. "Om... Om..." Arta yang berada di gendonganku berusaha merebut ponsel yang menempel pada telinga kananku. "Sayang, nggak boleh. Nte bicara dulu sama Om, ya?" Kataku lembut mengabaikan Sada sementara waktu. "Kalau lagi jagain Arta jangan sambil teleponan. Bisa keracunan sweet talks kita, By. Masih jauh di bawah umur dia," seru Sada yang belum sempat mendengar kalimat penting dariku. Arta sudah mulai tersenyum-senyum sendiri. Menunjuk-nunjuk ponselku yang sedang menampilkan foto Sada. Ya, di kontak Sada memang sengaja aku pasang fotonya. "By, kamu masih dinas enggak? Bisa ke ruang sidang FKIP UNS? Arta lagi rewel banget nih, dia aja baru diem pas aku bicarain soal kamu. Tolong lah, dia sedang tidak bersahabat dengan tantenya," jelasku panjang lebar, sejujurnya sedikit keluhan dari nada. "Eh iya siap, Bang. Sudah selesai, Izin ya, Bang?" Yang di seberang sepertinya tidak peduli dengan penjelasanku. Dia justru sibuk menanggapi orang lain yang suaranya samar terdengar olehku. Dari suaranya sih seperti Mas Huda tapi entahlah tidak tahu. "By, kamu dengerin aku enggak sih? Sibuk, ya? Ya sudah!" Langsung mematikan telepon memasang wajah cemberut yang diikuti dengan wajah kecewa dari Arta. Air mata yang beningnya mengalahkan sumber mata air Gunung Lawu itu jatuh lagi di pipi mungilnya. Suaranya tertahan karena aku menatap Arta kelelahan. Tidak tahu lagi harus mengendalikan dia semacam apa. Biasanya Arta tidak serewel ini, selalu minta dekat dengan mamanya apalagi minta dekat juga dengan calon omnya. Membuatku pusing saja. "Eh, Dik Arta mau lihat Mama?" Menunjuk jendela kaca yang lebar dan panjangnya tidak sampai satu meter. Mungkin hanya 50 x 50 centimeter. "Tuh lihat, Mama lagi nyanyi kali ya, Dik? Ya itu Mama kan, ya?" Ponakanku ini akhirnya terdiam, memperhatikan Mama-nya yang sedang menjelaskan beberapa hal tentang skripsinya. Aku pernah ada di posisi itu. Sekian lama akhirnya Arta tidak menangis lagi pun raut bosannya telah hilang. Tepatnya setelah empat puluh lima menit berlalu. Sayangnya hilang bosan itu terbitlah sifat hiperaktif-nya. Dia sudah tidak mau berada di gendongan ku lagi, dia lebih memilih berjalan atau mengesot di lantai tanpa takut kotor. Berulang kali aku melarangnya pun tetap tidak digubris. Dia ini sedang mengiklankan produk deterjen kali, tidak takut kotor. Sekarang dia justru berlari ke halaman depan ruang sidang, di bawah pohon dia mengoceh sendirian. Aku hanya bisa memperhatikan dia agar tidak aneh-aneh. Apalagi memasukkan benda asing ke mulutnya. Anak kecil suka begitu kan ya? Benda asing bawaannya dicoba mulu pakai mulut. "Nte..." Menunjukkan boneka kecil berbentuk bebek berwarna kuning yang dipegangnya. "Iya, apa namanya, Dik? Be... Bek. Apa, Dik Arta? Be... Bek." "Bek... Bek... Bek..." Hanya kosa kata itu yang bisa dia tirukan tapi Alhamdulillah sedikit banyak bisa mengikuti dan memahami. Tersenyum gemas. "Coba tekan bebeknya, Dik. Pasti bunyi." Mengajari Arta memencet boneka bebek berbulu tipis ini. Arta tertawa girang ketika bebek itu berbunyi Kwek-kwek saat dia memencetnya. Bahagia itu sederhana, apalagi untuk anak sekecil Arta. Ada mainan bisa gerak sendiri saja sudah bahagia. Terbersit di kepalaku soal Sada. Sesibuk itukah dia hari ini sampai tidak bisa menemaniku? Katanya dia tinggal berdinas biasa, belum ada latihan dalam waktu dekat ataupun instruksi persiapan tugas yang mendadak. Santainya tentara juga macam apa? Sibuk juga, kan? Mengambil napas kemudian membuangnya perlahan sambil memejamkan mata. Hanya itu yang aku lakukan dan tidak sampai menyita waktu lebih dari lima menit. Tapi semenit pun tidak genap itu berhasil menghilangkan Arta dari hadapanku. Jika tadi adalah bentuk menenangkan diri, apalah artinya tenang jika Arta hilang. Aduh, kepanikan yang luar biasa sekarang ini datang. Aku langsung menoleh kemanapun hingga ke kolam ikan yang tidak dalam di dekat area parkir. Jangan-jangan Arta jatuh lagi kan ke kolam itu? Atau ke selokan itu? Aduh, dimana kamu, Dik. Masa' iya ditinggal merem dikit aja hilang, kaya hantu kamu. Keringat dinginku semakin banyak seiring dengan kepanikanku yang kian menjadi. "Em... Maaf, Dik. Tahu anak kecil yang umurnya satu tahunan nggak? Tadi pakai baju navy gitu, bawa boneka bebek. Dia putih, ganteng, ya gitu lah." Menghentikan langkah seorang mahasiswa yang berjalan dengan segerombolannya. "Oh, disebelah sana lagi sama Papa-nya, Mbak." Menunjuk kursi di balik pohon besar. Tidak terlalu terlihat, hanya saja di ujung kursi itu ada boneka bebek milik Arta. "Makasih ya, Dik." Mengucapnya dengan ramah. Bergegas melangkah namun langkahku terhenti. Mahasiswa tadi bilang apa? Arta lagi sama papanya? papanya siapa coba? Orang Bang Raka lagi kerja, apalagi sedang ada rapat di kantor cabang pusat di Slamet Riyadi. Mana mungkin bisa datang ke mari? Mataku membulat, ketakutanku memuncak, pikiran kotorku mengacak-acak. Jangan-jangan Arta diculik lagi. Sekarang kan sedang marak itu penculikan anak. Entahlah lagi pada enggak waras kali manusia zaman sekarang ini. Yang punya anak, anaknya dibuang atau dianiaya. Sementara yang tidak punya anak setiap malam berdoa bahkan menghabiskan banyak biaya agar diberi anak. Sementara itu yang lainnya sibuk menculik anak untuk keperluan human traficking. Mereka itu maunya apa sebenarnya? Yang punya anak lalu dibuang itu loh, hilang otak kah apa? Dianiaya lagi. Aishh membuatku banyak dosa karena mengumpat saja. Lupakan, lupakan. Fokus pada Arta. Bagaimana kalau Arta beneran diculik? Bagaimana aku menghadapi penculiknya? Telepon Sada? Telepon Mama? Telepon Papa atau telepon Bang Raka? Ataukah Shandi yang juara karate? Atau bahkan telepon Satria biar tidak perlu lagi buat laporan penculikan dan menunggu gerak lambat? Aduh, bagaimana ini? Mengambil napas singkat kemudian bergegas. Tidak lagi berpikir bahaya apa yang akan aku alami ataupun apa yang harus aku lakukan. Cukup dekati saja semoga beneran Bang Raka yang bersama dengan Arta. Langkahku mantap, semacam tentara yang sedang melakukan defile. Tapi langkahnya tidak secepat itu sih. Betapa terkejutnya aku saat melihat yang bersama dengan Arta adalah pria berseragam hijau. Tertawa menggoda Arta dan bahkan Arta dibuat terbahak-bahak karenanya. Luruh sudah kekhawatiranku. "By? Kok?" Itu sapaanku yang tidak sopan. Bukannya mengucap salam atau langsung bilang terimakasih. Atau menatapnya dari arah yang benar terlebih dahulu. Bukan dari belakang macam ini. Sada langsung menggendong Arta. Otot-otot kuatnya nampak semua saat itu. Memaksa seragamnya semakin membetuk tubuh berotot itu. Bukankah dia calon hot daddy? "Pertama, kalau lagi telepon dan belum selesai itu jangan asal ditutup. Dengerin dulu sebentar. Kedua, kalau lagi jagain anak itu jangan sambil merem-merem tidak jelas semacam itu. Giliran anaknya diculik bingung." Ucapnya membuat beberapa mahasiswa yang duduk di sekitaran taman melihat ke arah kami. Aku yakin mahasiswa-mahasiswa itu sedang berpikir kami ini pasangan mom kece dan hot daddy, berikut dengan cute son. Astaga, indah sih tapi tidak sekarang juga. "Oh, yang terakhir. Aku sudah memintamu untuk belajar menjadi Mama yang baik. Cobalah mulai menjaga Arta dengan baik pasti selanjutnya juga bisa jadi Mama yang baik!" serunya begitu keras. Orang-orang tertawa kecil untuk kami. Beberapa perempuan bahkan terpesona dengan keadaan ini. Semacam mereka sedang menyaksikan adegan dalam sebuah serial drama televisi. "Jangan keras-keras lah. Pikiran mereka sudah aneh-aneh itu," kataku mengatupkan kedua barisan gigiku. "Masa bodoh soal pikiran orang lain. Yang penting itu Arta," ucapnya ketus padaku. Sejujurnya aku merasa tersisih jika sudah begini. Sada jauh lebih perhatian pada Arta dibandingkan dengan kekasihnya. Sifat kebapakannya terlihat sekali, apalagi pandangan kasih sayang itu tidak bisa disembunyikan. Aku duduk di sebelah Arta, dimana Sada lebih memilih berjongkok di hadapan Arta. Memperhatikan sekejap setiap detail wajah lelah Sada, peluhnya yang menetas di pelipis dan leher. Cuaca kota Surakarta memang sedang panas-panasnya. Mengambil beberapa lembar tissue dari tas mungil yang bergelantung di bahuku. "Dinas hari ini melelahkan?" Tanyaku sambil mengusap peluh di dahi dan lehernya. "Maaf mengganggu dinasmu hanya karena aku yang tidak bisa mengatasi Arta." Terus mengusap peluhnya. "Aduh, aduh, bebeknya jatuh. Dia sakit, kakinya terluka. Harus dibawa ke rumah sakit hewan naik ambulance. Wiuw... Wiuw... Wiuw..." Sambil menggerakkan boneka bebek di tangannya. Arta yang menyaksikan itu tertawa bahagia. Sada benar-benar tidak peduli dengan kalimatku. Marah? Harus ya semarah itu? "Kamu bisa kembali kalau sedang sibuk. Insyaallah aku bisa mengatasi Arta," ucapku merasa bersalah. "Terima kasih, maaf karena telah mengganggumu dan bersikap tidak semestinya." Menggenggam tanganku yang masih sibuk di lehernya. "Dinasku sudah selesai hari ini," jawabnya singkat sekali. Mengangguk paham. "Jadi kamu langsung ke sini setelah dinasmu selesai? Atau kamu yang memaksa dinasmu selesai begitu saja karena aku menelponmu?" tanyaku sedikit kecewa karena lagi-lagi dia hanya peduli dan tertawa pada Arta. "Memang dinasku tidak full hari ini," jawabnya singkat. "Oh," sahutku singkat. Sudah terlalu kecewa. "Arta mau jalan-jalan? Beli es krim?" Menggandeng Arta yang sudah bosan duduk di atas bangku taman. Ponakan kecilku itu memang menyukai es krim. Entah bawaan dari dalam perut atau sejak dia tidak sengaja makan es krimku kala itu tapi sepertinya memang bawaan sejak kecil, karena Mbak Anna sering sekali ngidam es krim daripada dekat-dekat dengan suaminya. Maka es krim adalah kata yang paling diingat oleh Arta. Aku mengikuti langkah Arta dan Sada dari belakang. Bukannya Sada menggendong Arta, dia justru memilih menyakiti punggungnya dan menggandeng Arta yang berjalan kecil di samping kanannya. Baru lima meter berjalan, Arta tiba-tiba terduduk di atas tanah. Seolah dia memberi kode bahwa kakinya sudah terlalu lelah. "Ayo gendong Tante." Mengangkat tubuhnya yang mungil tapi Arta menolak gendonganku, dia memaksaku melepaskan tangan dari tubuhnya kemudian melempar tatapan memelas pada Sada. "Aduh, ponakan Om, nempel terus." Mengambil alih Arta dari dekapanku. Menggendong Arta di sisi kanan d**a bidangnya. Hanya satu tangan Sada yang mendekap tubuh mungil itu. Sementara tangan kirinya meraih jari-jemariku. "Maaf untuk hari ini," ucapnya ketika langkah kedua kami berjalan beriringan. Aku hanya menatap dia bingung dari samping. Memangnya maaf untuk apa? Dia tidak berbuat salah hari ini, justru aku yang mengganggu waktu istirahatnya, bahkan selepas dinas. "Mungkin kalimatku sedikit pedas," lanjutnya menatap ke arah depan. Tidak peduli dengan Arta yang menatapnya datar pun denganku yang menatapnya penuh tanya. Menggeleng pelan. "Tidak, aku yang minta maaf karena telah mengganggumu." Bergelayut manja di lengannya. Sada hanya tersenyum kecil kemudian mencium pipi gembul Arta. "Sayang cuma bisa cium keponakannya," celoteh Sada membuatku tersenyum. "Kanya?" panggil seseorang yang suaranya tidak asing lagi. Dari gedung Pascasarjana. Valdo, iya dia Valdo teman kuliahku yang kini sedang menempuh S2. "Eh, Do." Terkejut. "Apa kabar? Ya ampun tambah cakep aja ya kamu," seruku membuat Sada mencengkram tanganku kuat. Lagi-lagi Arta hanya menatap datar. Anak sekecil itu tahu apa. "Iya dong," jawabnya sombong. "Kayanya belum ada satupun foto tentang pernikahan kalian kok sudah punya anak saja," timpalnya menggoda Arta dalam gendongan Sada. "Eh, ngapain juga kalian ke sini?" "A..." "Iya, kami sedang bernostalgia saja di sini. Sambil ngajak anak jalan-jalan. Duluan ya?" Sada lebih dulu menanggapi, sementara aku kalah cepat dari dia. "Ah, oke." Hanya itu jawaban Valdo dan dia pergi begitu saja. Aku hanya bisa menatap punggungnya itu menjauh tanpa bisa mengatakan apapun. Kami melanjutkan langkah kami. Menunju kantin kecil yang cukup lengkap menyediakan banyak makanan. Termasuk di dalamnya es krim kesukaan Arta. Papan tulisannya terlalu jelas menandakan bahwa ada es krim di sana. "Kalimatku terlalu s***s nggak sih? Ah biarlah, aku sedang tidak mau cemburu hari ini. Jadi berbohong sedikit tidak masalah," gumamnya cukup jelas untuk aku dengar. Sampai di dalam kantin yang isinya mahasiswi berkebutuhan khusus. Bukan dalam artian yang sebenarnya. Lah bagaimana mereka tidak berkebutuhan khusus, di dalam kantin yang sempit bukannya makan malah sibuk merias diri di depan cermin bulat kecil satu genggaman tangan. "Silahkan Pak, mau pesan apa?" sapa pemilik kantin dengan ramahnya sambil mengelap meja yang basah. "Es krim ya, Bu. Yang bentuknya Spongebob ada?" pinta Sada langsung mendekati freezer di pojokan kantin. Sementara Sada sibuk memilih dan melihat-lihat es krim di hadapannya sambil menggendong Arta dan menggandeng Tante-nya. Mahasiswi di dalam kantin sibuk menatap Sada, terpesona. "Hot daddy," seru salah satu mahasiswi berteriak kegirangan, dengan kaca di tangan kirinya dan lipstik di tangan kanannya. "Ini mah Rio Dewanto lewat," seru yang lain dengan raut terpesona. Sada memang calon hot daddy banget jika sudah begini. Seragam, pangkat di pundak, sepatu PDH mengkilap, jam tangan shock army di pergelangan tangan kanannya, rambut cepak dan tampang cool. Belum lagi lekukan tubuh dan d**a bidangnya yang jelas tidak bisa disembunyikan oleh seragam ketat. Lalu dia sedang menggendong anak kecil berwajah cute. Siapa yang tidak terpesona? "Sayang, kamu mau es krim juga?" tanya Sada mengeraskan suaranya padaku sembari melirik kerumunan mahasiswi dalam sedetik. Dia pasti sengaja biar mahasiswi itu tidak membicarakannya terus menerus. Dia pernah bilang jika terkadang risih orang-orang lebih memperhatikan dan terpesona oleh penampilannya, apalagi seragamnya. "Boleh," jawabku singkat sambil bergelayut manja di lengannya. Cemburu juga aku jika kekasih satu-satunya ini dibicarakan sana-sini oleh perempuan lain, apalagi perempuannya lebih muda. Allah, jelas kalah lah yang tua begini. "Istrinya masih kuliah di sini, Pak?" tanya sang Ibu kantin yang memang biasa beramah-tamah dengan pembelinya. Tapi ramah begini dengan kepo beda tipis ya? "Oh, tidak, Bu. Dia sudah lulus satu tahun yang lalu. Kami hanya jalan-jalan saja di sini." Jawab Sada dengan suara kerasnya juga. "Oh, iya? Dulu sering jajan di sini nggak? Kayanya nggak asing sih." "Sering kok, Bu. Anak informatika seringnya nongkrong di sini kan?" giliranku menanggapi. "Oh, anak informatika dulunya, Guys. Otaknya cerdas," seru salah satu mahasiswi cukup lirih. Tapi telingaku juga tidak se-tuli itu. "Sudah, Bu. Tiga ini ya? Berapa? Tolong Arta dulu, By." Menyerahkan Arta padaku. "Wah, By? Gabby nih namanya. Coba cari lulusan Informatika namanya Gabby. Lihat sedikit profilnya." Mahasiswi rumpi itu masih saja membicarakan kami. Heran dengan anak muda zaman now, lebih suka dengan hot daddy daripada yang masih lajang dan tampan. Sada masih berusaha mengeluarkan dompet tebalnya dari dalam saku celana. Tebal? Iya, tebal karena kebanyakan kartu kredit, e-money, ATM. Hampir semua bank BUMN dia punya. Entahlah isinya bagaimana, ada atau tidak. Mengeluarkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan. Sementara di dalam dompet tinggal uang senilai Rp 50.000,- "Wah, miskin. Mending enggak usah." Yakin ini mahasiswi pada matre. Jelas sekali dengan gaya pakaian, bicara hingga make up-nya. "Uang tunainya tinggal itu doang?" bisikku pada Sada yang sedang menunggu kembalian. "Iya, sedang ikut membantu Bank Indonesia dalam mencanangkan uang non-tunai atau uang elektronik sebagai alat pembayaran masa depan di Indonesia. Yah, sekalipun belum banyak merchant yang menyediakan pelayanan pembayaran non-tunai," jelasnya sambil tertawa. Kekasihku ini sepertinya terlalu banyak bergaul dengan Bang Raka. Dia jadi banyak tahu soal ekonomi dan dunia perbankan. Bahkan dia mulai mempelajari kebijakan fiskal dan moneter di Indonesia. Mungkin dia akan manuver menjadi Menteri Perekonomian setelah pensiun nanti. "Tenanglah, ini kalau buat beli saham Unilever 10 lot masih cukup. Sisanya banyak malah." Ucap Sada sombong sekali sambil mengeluarkan kartu ATM Bank BRI. "Ishh...," desahku kesal. Setelah melakukan transaksi kami bergegas pergi sebelum para mahasiswi itu membicarakan kami terlalu jauh. Sebagian dari mereka masih terpesona tapi sebagian lagi memilih tidak terpesona karena isi dompet Sada yang tinggal Rp 50.000,-. Mereka hanya tidak tahu saja kalau di salah satu kartu itu berisi gajinya sebagai tentara. "Mahasiswi zaman sekarang gitu amat deh. Kayanya anak ekonomi sih itu," seru Sada di tengah perjalanan kembali ke ruang sidang. "Jangan sok tahu kamu," tegurku agar dia tidak salah menduga atau ber-su'udzon sama orang. Tidak baik kan. "Eh, menurut survei, anak ekonomi memang begitu. Aku memang bukan anak kuliahan tapi aku tahu lah soal fenomena alam di kampus-kampus seluruh Indonesia." Selagi kami membicarakan fenomena mahasiswi masa kini, Arta justru sibuk dengan es krim di tangannya. Mulutnya yang mungil dan lidah kecilnya itu sibuk m******t-jilat es krim berbentuk Spongebob. Lahap sekali, macam tidak pernah makan es krim selama satu tahun. Padahal baru tiga hari yang lalu jalan-jalan dengan Uti-nya beli es krim di minimarket. "Aduh, sampai belepotan," kataku membersihkan dagu Arta yang basah oleh es krim. "Sayang, ini juga dong," ucap Sada sambil memberi kode dengan bola mata bergerak ke bawah. Mencengkerutkan dahi. "Apa loh?" Tidak mengerti apa yang dia minta. Tinggal bicara saja apa susahnya sih. "Itu dadaku kotor, enggak peka banget deh," serunya sekali lagi melihat ke arah bawah. Ada noda kuning dan cokelat di d**a bidangnya. Seragam yang tadinya terlihat bersih dan rapi kini ternodai. Tersenyum lalu mengusap dadanya dengan tissue yang masih di tanganku. "Kayanya perlu tissue basah deh, By. Masih kelihatan nodanya." "Ini malah beradegan so sweet di depan anakku. Ya ampun, terkontaminasi virus kamu nanti, Nak." Mbak Anna tiba-tiba datang meraih Arta dan menutupi mata Arta yang tidak tahu apa-apa. Padahal sejak tadi Arta sendiri sibuk dengan es krim-nya. Tidak memperhatikan aku dan Sada sama sekali. "Apa sih, Mbak? Cuma bersihin noda nih." Menepuk d**a Sada. "Anak Mbak juga yang bikin kotor," seruku. "Ah, tetap saja itu tadi adegan tidak senonoh untuk anak kecil. Lagian kalian ini, bukannya nunggu di depan pintu ruang sidang malam jalan-jalan keenakan," serunya cemberut tapi sambil menggoda anaknya. "Jalan-jalan?" Giliran Sada yang menanggapi. "Aku ya, An." Menunjuk dirinya sendiri. "Aku berangkat dari Sragen ke sini cuma buat jagain si Arta, biar dia enggak nangis, nggak lari-larian. Malah di bilang ke enakan." "Lah, siapa coba yang minta datang ke sini?" Melihat Sada kemudian melirikku. Aku hanya tersenyum kaku. "Ya lagian anak Mbak rewel amat dah hari ini. Biasanya juga nurut sama Tante-nya. Ini malah maunya sama Om Sada. Ya gimana lagi, aku panggil Sada ke sini lah ya," belaku. "Ah masa bodoh! Masa aku dinyatakan lulus dengan nilai cumlaude tapi enggak ada yang menyambut. Kecewa deh," serunya memasang wajah kecewanya yang buruk. "Oh, jadi masalahnya itu. Nah ini kita baru mau ke sana, An. Tapi kamu keburu datang." Sada mengusap punggung Anna. "Selamat, ya? Tinggal peresmian gelar S.Pd nih." "Makasih. Antarlah pacarmu itu pulang!" perintahnya singkat lalu membawa Arta pergi begitu saja. Meninggalkan aku dan Sada yang bahkan belum sempat mengatakan hal yang lebih banyak lagi. "Maklumin, By. Mbak Anna lagi PMS juga hari ini," jelasku menahan tawa. "Baiklah, mau pulang atau jalan-jalan dulu? Tapi kalau jalan-jalan aku cuma pakai sepeda motor." Menunjuk motor sport hitam yang terparkir di halaman parkir. Aku ingat betul bagaimana rasanya dibonceng dengan motor semacam itu. Tidak nyaman sama sekali. Lebih baik langsung pulang sajalah, berbicara dengan Sada di rumah saja. Bisa sakit punggung kalau jalan-jalan pakai motor begituan. Masih mending sih pakai matic lebih nyaman di punggung. "Ogah lah, pulang saja," jawabku. "Kenapa memangnya? Takut panas? Kamu lebih suka pakai mobil, ya? Iya sih ya sekarang sudah punya mobil." Sada sepertinya tersinggung dengan ucapanku. Sebenarnya bukan karena itu, meskipun sudah punya mobil tapi aku lebih suka naik motor. "Bukan masalah itu, By. Kalau kamu tadi bawa motor matic atau motor bebek biasa, aku pasti mau jalan-jalan lebih enak. Tapi masalahnya kalau pakai motor sport macam ini tidak nyaman. Trauma aku. Cuma sebentar saja tidak nyaman," kataku menjelaskan. "Ya adanya ini. Ini juga boleh pinjam letting. Kalau pakai mobil kan enggak bisa ngebut. Keburu kamu stres ngadepin Arta." Mulai luruh dengan penjelasanku. "Eh tapi kapan kamu dibonceng pakai motor sport? Rasanya baru kali ini aku bawa motor sport." "Oh, itu waktu dibonceng Satria," jawabku cepat dan santai. Jelas di bawah alam sadar, kalau sadar pasti aku saring dulu tadi jawabannya. Sada menghentikan aktivitasnya dengan helm di tangan. "Satria polisi itu? Dia berani boncengin kamu? Dan parahnya kamu mau?" Baiklah, aku baru saja menabuh genderang perang. Bodoh bukan? Iya, sekalipun aku juga tidak melakukan apa-apa pada Satria. Bahkan kala itu aku sibuk menahan tubuhku agar tidak menempel pada tubuh Satria tapi meskipun aku tidak melakukan apa-apa tetap saja membuat Sada cemburu kan? "Hanya waktu aku mau sholat, itupun terpaksa karena tidak ada boncengan lain, By. Percayalah. Tidak terjadi apa-apa." Menggenggam tangannya. "Aku hanya minta kesetiaanmu selama aku mengabdi, aku tidak minta yang lain. Kalau tidak bisa, lebih baik cukup sampai di sini. Dalam sebuah film karya Purnawirawan Tebe Silalahi dikatakan bahwa prajurit tidak akan menangis karena kematian tapi dia menangis karena ketidaksetiaan dan pengkhianatan," ucapnya begitu menohok. Aku menggenggam tangan Sada. Tidak peduli banyak orang lalu lalang di parkiran sepeda motor. "By, aku tidak akan membuatmu menangis karena aku tahu air mata seorang prajurit itu mahal." Tersenyum manis. Cinta memang indah, membutakan, begitu saja datang tanpa permisi, pasti menemukan tempat berlabuhnya tapi jangan jadi bodoh karena cinta. Jadi aku tidak akan menjadi bodoh karena melepaskan laki-laki yang menyayangiku, mencintaiku, menjagaku, perhatian dan tulus padaku untuk orang lain yang bahkan belum aku kenal sebaik aku mengenal Sada. Sekalipun aku tidak bisa menolak takdir Tuhan sebagai Panglima yang mudah saja membolak-balikkan hati manusia. Cinta itu bukan tidak ada logika tapi kita yang terlalu bodoh memahami cinta tanpa nalar. Dan aku masih menggunakan akal sehat dan nalarku dalam mencintai Sada. Karena mencintai tanpa logika itu terlalu bahaya, kita bisa saja kehilangan cinta yang seharusnya, yaitu cinta pada Tuhan. Bahkan mencintai Tuhan saja melalui logika. "Kenapa pula aku harus meninggalkanmu hanya untuk seseorang yang tidak pasti. Jika laki-laki itu sebaik dan sesholeh Ali bin Abi Thalib mungkin aku mau meninggalkanmu demi dia. Tapi aku tidak se-anggun dan se-sholeha Fatimah Az-Zahra. Aku Kanya yang memilih Sada sebagai tempat melabuhkan cinta." "Astagfirullah, diabetes," keluhnya dengan pipi memerah. "Aku percaya sama kamu ya, By? Tapi jangan sia-siakan kepercayaanku." "Siap, komandan." Memberikan hormat dengan memasang wajah imut. Sada tertawa kecil. "Pantas saja kamu jadi pegawai negeri soalnya kalau jadi TNI atau Polisi bisa bikin pelatih dan seniormu gagal fokus." Mencubit kecil pipiku. Aku hanya menanggapi dengan senyum yang semakin manis. Cemburu dalam cinta itu wajar, yang tidak wajar itu memaksa cinta. Bahagia karena cinta itu wajar, yang tidak itu cinta tanpa logika. Yang lebih wajar ketika cinta itu juga soal tangis bukan hanya soal bahagia. Jangan terlalu tinggi berangan soal cinta, karena ia akan menjatuhkanmu. Realitanya saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN