BAB X

2544 Kata
Hari Jum'at, siang menjelang sore. Tepatnya pukul 14.00 WIB. Aku sedang bersama dengan dua wanita paruh baya yang hebatnya tiada tara. Wonder woman bagiku dan Sada. Wanita terhebat di seluruh dunia. Iya, aku sedang menikmati waktu luang ku setelah dari kantor bersama dengan Mama dan Tante Shinta. Kalian tahulah siapa Tante Shinta itu. Calon mertuaku, eh mamanya Sada. Terlalu percaya diri sekali aku ini. Jadwal kerja pegawai negeri di hari Jum'at itu singkat, makanya aku dan Mama bisa ada waktu luang. Sementara Tante Shinta, Beliau sedang datang ke Karanganyar untuk menghadiri acara rapat wali murid di sekolah Shandi. Beliau menyempatkan waktunya untuk bertemu denganku dan Mama. Bukannya bertemu di rumah justru bertemu di resto tepat di pusat kota. "Maaf lho, Bu. Jadi ngajakin janjian di resto begini. Harusnya bisa mampir ya? Tapi maaf sekali lagi, saya harus segera kembali ke Semarang," ujar Tante Shinta pada Mama yang baru saja membenarkan posisi duduknya. Mama tersenyum. "Aduh, santai, Bu. Justru saya yang minta maaf ini hanya bisa menyambut kedatangan orang jauh di resto sederhana macam ini." Sepertinya drama akan segera dimulai. Drama soal siapa yang paling sungkan diantara Mama dan Tante Shinta. Sudah biasa seperti ini terjadi. "Tante sama Mama mau pesan apa?" tanyaku memecah keriwehan mereka berdua. Cukup koruptor yang buat drama, Mama dan Tante Shinta tidak perlu ikut juga membuat drama kecil di sini. "Apa saja, pesan juga yang kamu pesan untuk Tante," jawab Tante Shinta begitu manis. "Mama juga sama saja, Dik," balas Mama. Emak-emak jika sudah bertemu dengan emak-emak lainnya suka tidak peduli dengan hal lain. Mereka sibuk bercerita ngalor-ngidul soal kehidupannya. Eits, tapi jangan salah. Setelah membuat drama tadi, Mama dan Tante Shinta justru membicarakan hubungan putra dan putri nya. Yang paling utama adalah kapan kami bisa menikah dan Tante Shinta mulai dipanggil Mama olehku. Setelah mengatakan beberapa menu yang ku pilih, aku kembali memperhatikan pembicaraan Mama dan Tante Shinta. Entahlah sejak kapan beliau-beliau ini bisa sedekat itu. Padahal jarang sekali bertemu tapi memang iya sering menyapa via suara. "Aduh, beneran ini saya, Bu. Jadi enggak sabar pengen punya cucu," seru Tante Shinta yang tiba-tiba menepuk lenganku. Hampir saja ponselku terjatuh ke lantai. Padahal aku sedang menghubungi putra sulungnya. "Saya juga, Bu. Lagipula mereka sudah sama-sama mapan," sahut Mama yang ikut menepuk lenganku. Ini pada kenapa sebenarnya? Suka sekali menepuk lenganku? "Ibu sudah punya cucu satu, lucu menggemaskan begitu. Nah, saya? Aduh, harus nunggu Sada dan Kanya nikah dulu." Cuap-cuap mereka sedikit terganggu ketika pelayanan menyuguhkan pesanan kami. Kami, sepertinya hanya aku yang memesan dan mereka sibuk bercengkrama. "Pengen nambah satu lagi, Bu. Kalau bisa cucu perempuan begitu dari Kanya. Biar lengkap rasanya, pas pensiun sudah punya dua cucu." Mungkin orang-orang bertanya, memang tidak risih mendengar orang tua membicarakan itu? Entahlah, rasanya biasa saja, justru melayang. Mungkin faktor usia kali, usia yang sudah siap menikah tapi memang tidak terlalu dipikirkan juga. Dikatakan siap mungkin iya, materi sudah ada, masak dan ngurus rumah sudah bisa, yang penting pasangan ada, restu pun di tangan tapi tidak terburu-buru menikah juga sih, sudah ada waktunya kok. Aku biarkan saja Mama dan Tante Shinta berangan-angan. Kita nikmati saja apa yang mereka harapkan dan semoga Tuhan kabulkan. Sejujurnya aku juga berharap menyandang gelar nyonya Purnama Putra Persada. "Nah ya itu, Bu. Pas hari tua kita tinggal duduk menimang cucu. Papa-nya Sada juga sudah berangan-angan kelak pindah saja di Karanganyar. Biar dekat dengan cucu." Menghentikan seruputan jus alpukat di depanku, hampir tersedak menatap Tante Shinta. Apa barusan yang aku dengar dari Mama-nya Sada? Itu level pengharapan yang paling tinggi sih. Sampai mau pindah ke Karanganyar pula. Membuatku semakin percaya diri saja jika kelak menikah dengan Sada. "Wah, boleh itu, Bu. Tapi saya juga bingung kalau nanti Kanya menikah dengan Sada, terus Sada dimutasi jauh dari Karanganyar bagaimana? Apa Kanya mau melepas status pegawai negerinya untuk ikut bersama suaminya atau justru tetap tinggal di Karanganyar walaupun jauh dari suaminya?" "Iya juga, Ibu Dewi. Tapi kalau Nak Kanya melepas statusnya apa rasanya tidak mubadzir, Bu? Nak Kanya sudah berusaha mati-matian untuk menjadi pegawai negeri, mengalahkan ribuan orang. Kemudian dilepas begitu saja." Tante Shinta benar juga, Mama juga benar telah mengingatkanku soal itu. Pernikahan saja hanya terlintas sekejap di kepalaku apalagi soal keputusan setelah menikah nanti. Ah, jadi kepikiran harus bagaimana nanti. Keputusan krusial semacam itu kan tidak bisa diambil dalam semalam. Harus direnungkan panjang. Terlebih Sada lebih memilih di mutasi pada masa mudanya daripada ketika masa senjanya. Katanya biar masa tua tinggal menikmati enaknya. Apalagi mutasinya di seluruh Indonesia. Jika aku melepas statusku, mana mungkin? Aku sudah memperjuangkannya hingga titik darah penghabisan lalu aku lepas begitu saja? Semacam hanya permainan saja. Tapi jika tidak ikut dengan Sada, memangnya aku bisa menjalani hari-harinya terbentang jarak? Eh, pikiran kotor apa ini. Belum tentu juga masa depanku sama dengan apa yang aku bayangkan. Karena biasanya ekspektasi dan realita bertolak belakang. "Aduh pada ngomongin apa sih? Lamaran saja belum sudah dipikirkan sejauh itu," tegur pria berseragam yang baru datang. Bukannya menatap dengan kalimat sapaan yang lebih baik justru semacam itu. Mungkin itu juga karena Sada telah mendengar percakapan dua wanita hebat ini. Ya, Sada memang menyempatkan waktunya juga disela dinas untuk menemui Mama-nya. Lihat saja dia masih memakai seragam hijau lengkap dengan atributnya. "Tante," menyapa dan menjabat tangan Mama. "Maaf Sada terlambat." Bergantian menjabat tangan Mama-nya. "Sudah biasa." Mama dan Tante Shinta menjawab serentak. "Aduh kompaknya yang mau besanan," seloroh Sada sambil menyenggol bahu Tante Shinta. Tante Shinta tertawa. "Iyalah, ini Mama sama Ibu Dewi sudah kompak. Jadi kapan nikah?" Sada menatapku tersenyum. Aku pun membalas senyumannya singkat. "Tinggal nunggu balok tambah satu, Ma. Satu tahun lagi kalau lancar sudah Lettu, paling tidak ada jeda satu tahun lagi baru menikah," jawab Sada dengan entengnya. Aku juga tidak mempermasalahkan itu. Memang santai sekali aku ini. "Aduh itu terlalu lama, Sada. Memangnya kalau sudah Lettu langsung menikah tidak bisa?" Tante Shinta lebih rewel ternyata. "Ya bisa, Ma." Meletakkan ponsel dan kunci mobilnya di atas meja. "Tapi bagaimana ya? Rasanya kurang tepat. Jarang sekali prajurit langsung menikah ketika pangkatnya sudah Lettu, maksudnya tanpa jeda satu tahun atau dua tahun." "Jarang pun bukan berarti tidak boleh kan? Bukannya boleh menikah setelah dilantik menjadi tentara 2-4 tahun, ya?" tanya Tante Shinta. Sementara aku dan Mama lebih memilih untuk diam. Mama mungkin juga sungkan berbicara terus terang soal keinginan beliau agar aku menikah dengan Sada, takutnya semacam orang yang sedang mendesak. Dan aku memilih diam karena memang tidak ingin mempermasalahkan. Hidupku santai sekali sejauh ini. "Iya, Mama. Tapi sabar sedikit saja, semua akan menikah pada waktunya. Kalau polisi itu tidak menggoda Kanya, Sada yakin bakalan nikah sama Kanya kok. Jadi Mama tenang saja, ya?" Mengusap punggung telapak tangan Tante Shinta. Mama langsung mendongakkan kepalanya, melupakan sendokan nasi di tangan kanannya. "Emmm... Mama ingat, katanya kamu dideketin polisi? Kamu tidak pernah cerita soal itu, Mama justru dengar dari Sada dan Mbak Anna." Di dekat Mama, Tante Shinta terlihat terkejut. Raut wajah kecewa juga tergambar segaris di wajahnya. Pasti pikiran beliau berjalan terlalu jauh sekarang. Menghela napas. "Itu rekan kerja dalam menangani berita hoax dan hate speech jelang Pilkada Serentak, Mama. Lagian Mama tahu kan, siapapun yang dekat dengan Kanya pasti Kanya ceritakan sama Mama. Entah dia menggoda Kanya atau tidak tapi rasanya tidak, dan iya polisi itu membuat Sada cemburu beberapa kali, Ma. Tapi yakinlah, Kanya tidak tertarik sama sekali," jelasku agar tidak terjadi salah paham. Baru juga lima menit yang lalu berbicara soal pernikahan masa depan. Tahu-tahu dirusak oleh berita tentang kedekatanku dengan Satria. Ya, memang akhir-akhir ini kami sering bertemu sayangnya memang tidak ada apapun yang terjadi. Walaupun ada beberapa sifat aneh dari Satria terhadapku. "Dari penjelasan Kanya sih Mama yakin dia tidak tergoda sama polisi itu, Mas Sada." Sahut Tante Shinta dengan penuh keyakinan. Memang calon mertua yang paham betul akan perasaan calon menantunya. "Ya masalahnya kalau itu polisi goda Kanya terus kan bahaya, Ma. Sada percaya sama Kanya tapi tidak dengan polisi itu." "Tante juga sih," timpal Mama yang justru memperkeruh suasana. "Dik, ingat kata-kata Mama, ya? Jangan tergoda yang lainnya, kamu sudah mendapatkan yang terbaik dan yang lain belum tentu sebaik Sada. Cinta itu pakai logika dan jelas bukan untuk dicoba. Apalagi di usia siap menikah macam kalian ini. Sudah waktunya cinta ke arah yang benar." Nasehat Mama membuatku terjungkal dan tertampar.. "Iya, Mama. Kanya sudah bahagia punya Sada." Tersenyum manis pada Sada yang sejak tadi tidak mau mengalihkan pandangan berbinarnya dariku. "Pada khawatir semua memang seganteng apa sih polisi itu?" celetuk Tante Shinta yang membuat semua adegan buyar. Binar keindahan mata Sada sudah buyar pergi dariku. "Ganteng, Ma. Manis juga, giginya rapi banget. Keren pokoknya." Justru Sada yang bersemangat menjelaskan. Aku bahkan tidak memperhatikan Satria sampai detail giginya. Padahal Satria sering juga tertawa di depanku. Tunggu, darimana Sada bisa tahu sedetail itu. Dia bahkan baru satu kali bertemu dengan Satria. Itupun dia berada di dalam mobil sementara Satria berdiri jauh darinya. Tidak mungkin sedetail barisan gigi juga sih seharusnya. "Kok..." "Ya, aku menggunakan keahlian stalking-ku untuk cari i********:-nya. Cukup lama sampai dibantu Mukti dan Bang Huda, akhirnya ketemu," jelas Sada sebelum aku menyelesaikan pertanyaanku. "Coba lihat seperti apa?" pinta Tante Shinta yang sepertinya sudah menahan rasa penasarannya sejak tadi. Sada langsung mengutak-atik ponselnya. Aku bahkan tidak sempat membuka i********: tetapi Sada justru punya banyak waktu luang untuk stalking. Pun aku yang lebih sering bertemu dengan Satria tidak pernah tahu apa nama i********:-nya. Yang lebih penting aku memang perempuan yang lebih suka menggunakan waktu luang untuk menghubungi Sada ataupun belajar masak daripada main gadget atau sosial media. Oh, main sosial media pun karena tuntutan pekerjaan, yang di-stalking setiap hari adalah akun-akun penyebar hoax yang lucu, mana ada foto-foto atau quote yang bermutu. "Nih, Ma." Menunjukkan layar ponsel pada Mama-nya. Mama-ku yang juga penasaran ikut menonton layar ponsel itu. Jelas menampilkan foto Satria. "Lebih ganteng dia sih, Mas." Tanggapan dari Tante Shinta yang membuatku tersedak dan Sada langsung menjauhkan ponselnya. "Baru kali ini loh aku denger seorang Mama bilang anak orang lain lebih ganteng dari anaknya sendiri." Protes Sada menampakkan wajah kecewanya. Aneh juga sih. Setiap laki-laki itu pasti ganteng sekalipun hanya Ibu-nya yang bilang begitu. Lah, kali ini justru seorang ibu mengatakan anaknya tidak lebih ganteng dari anak orang lain. Tapi ya kalau boleh jujur, Satria punya senyum yang lebih manis dari Sada, mungkin karena barisan gigi-nya yang lebih rapi. "Ah, astagfirullah jangan khilaf, Kanya! Jangan khilaf!" batinku ingin sekali mengguncang otakku dengan kekuatan magnitudo 8,2 SR sampai tsunami. Otakku sepertinya bermasalah. Harus diguncang dulu baru sadar. Masa' iya justru memuji orang lain daripada pacarnya sendiri. "Iya sih, senyumnya bagus," puji Mama yang langsung menutup mulutnya sendiri. Merasa bersalah pada Sada yang semakin kecewa. "Ya sudah, Satria aja situ jadi anak Mama dan calon menantu Tante Dewi. Lah Sada mah apa, hanya manusia yang tidak sempurna," serunya bernada cemburu. Mama dan Tante Shinta justru mentertawakan Sada, bukannya membujuk atau merasa bersalah. Mama juga yang tadi merasa bersalah sekarang malah mengejek Sada dengan tatapan dan tawanya. "Aku tetep pilih kamu kok, Da. Sekalipun senyum Satria lebih manis daripada senyummu," kataku sambil menggenggam tangannya pun menatap dia dalam penuh makna. Sada langsung memicingkan matanya padaku. Picingan mata yang paling mengerikan. "Laki-laki juga tidak suka dibandingkan. Iya sih, kalimatnya manis tapi kok ada asamnya gitu. Pakai acara bilang senyum Satria lebih manis lagi! Ah kecewa berat." Dua Mama kami menahan tawanya. Sementara aku tertawa tanpa dosa. Seolah tidak membuat kesalahan fatal dengan Sada. "Kita semua ini jujur, Mas Sada. Kan kalau bilang gantengan kamu berarti kita bohong. Dan Mas Sada tahu lah yang namanya bohong itu..." "Dosa, Ma," lanjutnya tegas sambil mengerlingkan mata. "Maaf ya, Nak Kanya. Tante ini sudah terlalu berharap kamu bisa menjadi menantu Tante, jangan kecewakan itu, ya?" Seperti ancaman tapi tidak ancaman. Mungkin hanya untuk mengingatkan agar aku tidak berpaling dari putranya. "Iya, Dik. Mama sudah berharap betul Sada menjadi menantu Mama kelak, jadi jangan kecewakan itu!" Mama mengikuti langkah Tante Dewi. Ini jadi semacam aku yang terlalu banyak salah. Padahal bagiku Sada sudah segalanya, mana mungkin aku berpaling pada Satria. Sekalipun aku nyaman bersama dia, tapi nyaman cinta dan nyaman teman itu beda. Mencondongkan tubuhku ke depan. Mendekati Mama dan Tante Shinta. Sementara telapak tanganku yang kanan menutup samping mulutku agar Sada tidak bisa melihat. "Kanya masih cinta kok sama Sada," bisikku dengan nada sepelan mungkin. "Apa?" tanya Sada mendekati wajahku. Aku langsung mengembalikan tubuhku ke posisi semula. "Ini rahasia kita bertiga ya, Ma, Tante. Jangan ada yang tahu," seruku sedikit mengejek Sada. Kedua wanita di hadapanku mengangguk kemudian tertawa. "Tenanglah, Tante pasti jaga Dik Kanya buat kamu, Da. Cukup lancar lah dalam tugasmu. Kamu boleh pergi asal kembali lagi," ucap Mama dengan nada yang begitu manis. "Jaga dirimu baik-baik selama bertugas. Mempertaruhkan nyawa demi bangsa memang baik, tetapi lebih baik untuk tetap bertahan agar bisa terus menjaga negara." Sada yang sudah tersentuh langsung menyunggingkan senyumnya. "Sada pasti jaga diri dan jaga negeri ini. Untuk Mama dan Tante," balasnya. "Aku?" Menunjuk diriku sendiri. "Kamu? Kalau sudah jadi istriku, aku akan menjaga negara untuk kamu." Mencubit hidungku di bagian ujungnya. "Maaf ya, Bu. Mas Sada dari tadi godain Kanya terus. Dia buta kayanya, Bu. Enggak lihat kalau disini ada Ibu Dewi," kata Tante Shinta mengalihkan perhatianku dan Sada. "Anak muda, Bu. Biarkan saja dinikmati dulu, tapi kalau berani godain berlebihan. Om Andi siap loh ngajak kamu duel karate, Da," seru Mama memasang wajah penuh ancaman pada Sada. "Siap salah, Tante. Saya tidak akan macam-macam kok, Tante. Saya kan anak yang polos," katanya mengedipkan bulu matanya begitu cepat. Sudah sok imut sekali pacarku ini. Kami semua tertawa, menikmati waktu luang yang seadanya. Hingga waktu yang dimiliki Tante Shinta tidak banyak lagi, tersisa beberapa menit. Maka terpaksalah kami mengakhiri cengkrama di siang hari menuju sore hari. Maklumlah, calon mertua yang masih sibuk di usia senjanya. "Tante nitip Shandi sama kamu ya, Nak Kanya? Kalau ada apa-apa laporan sama Tante," pinta Tante Shinta sesaat sebelum masuk ke dalam mobilnya. "Dan satu lagi, Tante pengen cepet-cepet dipanggil Mama," bisiknya padaku. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Ada kebahagiaan yang tidak terkira tapi ada kekhawatiran yang sebenarnya memuncak. Harapan kedua orang tua terkesan terlalu tinggi. Bukan, bukan aku tidak yakin bisa setia sama Sada. Aku bisa, hanya aku belum bisa memastikan rencana Tuhan berikutnya untuk hidupku. Orang-orang bilang untuk tidak menaruh harapan yang tinggi pada urusan duniawi. Sebab potensi kekecewaan jauh lebih tinggi pada harapan itu sendiri, berharap lah pada Tuhan sebab Ia tak pernah ingkar janji. Aku hanya takut Tuhan punya rencana lain dan membuat mereka yang berharap kecewa. Sekalipun aku tahu, rencana Tuhan adalah yang terbaik untukku. Ah, setidaknya aku berusaha melakukan yang terbaik karena selanjutnya Tuhan-lah yang mengatur bab jodoh, rezeki dan kematian. Sekalipun aku tetap mencintai Sada belum berarti juga kami berjodoh, namun harapan itu ada. "By, aku langsung pamit ya? Maaf tidak bisa mengantar Mama dan kamu pulang," pamitnya sambil menggenggam tanganku. "Tante, Sada minta maaf karena tidak bisa mengantar Tante dan Kanya pulang, banyak tugas yang menanti." Mengulanginya lagi pada Mama. "Tidak apa-apa, Nak Sada. Tante sama Kanya bawa mobil sendiri-sendiri juga kok. Selamat bertugas kembali, Nak." Mengusap bahu Sada. "Siap laksanakan, Tante." Menjawab ala dunianya, militer. "Kalau begitu saya pamit dulu, Tante. Assalamualaikum." Menjabat tangan Mama. "Wa'alaikumsalam," jawab Mama mengusap kepalanya. Sada tersenyum lalu mengusap kepalaku dan dia melenggang pergi setelahnya. Selesai sudah urusan kami hari ini setelah punggung itu hilang dibalik kemudi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN