Keramaian di rumah bercat putih semakin jelas terdengar dari radius sepuluh meter. Tawa-tawa nan bahagia dari beberapa orang, tentunya sanak keluarga. Tak hanya itu, kami yang di luar juga masih tertawa bahagia meski tanpa suara. Ada banyak bunga-bunga bermekaran di siang yang teriknya mentari semakin menyengat. Berkat kejutan luar biasa yang mengerikan. "Wah capek," keluh seseorang memisahkan gandengan tanganku dan Sada. Ya, memang aku dan Sada terus bergandeng tangan sejak dari pemakaman, sejak kami berpamitan pada Senja. Kucing nakal yang masih mengenakan seragam putih abu-abunya, sepatu PDH TNI, potongan rambut kekinian dan senyum gigi tidak ratanya yang manis. Napasnya tersenggal-senggal seperti baru saja menyelesaikan lari marathonnya. Memandangiku dan Sada bergantian, matanya yang

