Sudah berminggu-minggu sejak sandiwara cinta yang cukup horor itu. Kini aku telah banyak bersiap untuk pengajuan, Mama dan Tante Shinta bahkan sudah ribet sekali mempersiapkan segala sesuatunya. Ini dapat surat izin juga belum tapi sudah seribet ini. Menyiapkan berkas ini itu, banyak sekali, menyiapkan materi ini itu pula, dan yang terpenting adalah mental. "Loh, eh," seorang tentara menyapaku dengan wajah terkejutnya di dalam Kodim 0727/DIP. Seperti biasa mengenakan seragam dinas hariannya. Aku menarik ujung bibirku. "Om." Menjabat tangannya, mencium punggung tangannya. "Kamu temannya Angga kan?" Tanya beliau membuatku mengingat sesuatu. Jika beliau adalah Ayahnya Angga, itu artinya beliau mantannya Mama. Mengangguk. "Iya, Om." "Kamu mau ngapain?" "Mau cari surat sampul D, Om," jawa

