d**a Nara semakin kencang, napasnya berhembus liar dengan matanya yang memerah melihat benda itu. “Jangan sentuh benda itu, Devan!” teriak Nara. Kotak itu adalah satu-satunya harta yang ia miliki. Di dalamnya tersimpan jam tangan rusak milik almarhum ayahnya—benda yang ia sembunyikan di dalam lipatan terdalam koper tuanya, di bawah tumpukan baju lama yang tak pernah ia sentuh. Itu adalah persembunyian yang ia yakini tidak akan pernah ditemukan oleh siapa pun. Devan memutar kursinya, menatap Nara dengan seringai tipis yang mematikan. "Kamu pikir di gedung ini enggak ada tempat yang bisa aku jangkau? Apa kamu punya privasi di gedung milikku ini?" Tatapan Devan tajam, seolah siap melumat habis Nara yang baru saja melakukan hal nekad. "Itu punyaku! Kembalikan!" Nara menerjang maju, mencob

