“Kalian sudah membaca kontraknya dengan jelas kan?” Suara Devan terdengar dingin menusuk. Bahkan pria yang tadi baru saja ditinju olehnya sudah kembali berdiri tegak dengan kepala menunduk. Kali ini Yeni sama, menundukkan kepalanya. Nara masih tidak mengerti tentunya. Ruangan luas itu mendadak terasa menyempit, seolah oksigen di dalamnya tersedot habis oleh aura d******i yang dipancarkan oleh Devan. Pria itu berdiri tegak, bayangannya memanjang di lantai marmer yang dingin, tepat di hadapan Yeni yang sudah gemetar hebat. Devan tidak berteriak, namun suaranya yang rendah justru membawa ancaman yang lebih nyata daripada sebuah gertakan. "Apa kalian ingin membela diri dan memberikan alasan?" tanya Devan. Kalimat itu lebih terdengar seperti vonis daripada sebuah pertanyaan. Yeni tersentak

