Nara tidak siap sama sekali, terkejut karena Devan datang dan malah kini mencium bibirnya. Dadanya sudah berdebar kencang, berusaha mendorong Devan agar menghentikan aksinya. “Eugh--apa yang kamu lakukan hmp--” Devan hanya sesaat terpisah, dia segera menahan tengkuk Nara dan segera menyerang lagi. Sama sekali tidak memberikan ruang bagi Nara untuk melakukan penolakan. Nara merasakan kalau Devan begitu kasar bukan seperti kemarin-kemarin. “Devan, sebentar …” Devan tidak mau mendengarkan Nara sama sekali. Dia bahkan sampai mendorong Nara berbaring, membuka pakaiannya dengan tergesa-gesa. Tatapan matanya berkabut, deru napasnya memburu dan juga wajahnya nampak tegang. Nara sudah ikut tenggelam, pasrah ketika Devan menyentuhnya. Wanita itu tadi ketakutan, sesaat, kehadiran Devan membuatn

