“Apa harus kau memanggilku makan malam, Daddy?” Suara dingin Devan menyapa sang ayah yang tengah berbincang dengan pria yang seumuran. Sama-sama tua. Devan berjalan mendekat dengan penuh arogansi, langkahnya pasti dan anggun, menunjukkan kuasa yang dimilikinya saat ini. Memasuki ruangan itu saja, mata Devan sudah begitu tajam menatap pria berjas dan berkacamata yang memegang cerutu. “Ah, Devan, wah … lama enggak jumpa.” Pria yang menjadi tamu dari Petra, ayah Devan segera bangun dari duduknya, tersenyum lebar dan melangkah mendekati Devan sembari merentangkan tangannya dan merangkul pria itu secara tiba-tiba. Memeluk erat seolah sudah lama akrab, menepuk bahu Devan beberapa kali sementara Devan hanya diam mematung. Kedua tangannya tidak terangkat sama sekali, wajahnya tetap saja data

