“Memangnya saya ada janji dengan anda?” Devan masih tenang, dan tengah bersabar atas kedatangan wanita cantik yang nampak jengkel kepadanya. Bianka semakin geram, baru kali ini dia diabaikan kehadirannya. Kedua tangannya berlipat di d**a, tatapannya begitu penuh kekesalan. “Apa kamu tetap enggak ACC proposalku?” tanya Bianka pada akhirnya, dia berusaha untuk kembali bersikap elegan, takut kalau-kalau ada orang yang menontonnya dan bisa jadi malah mengenalnya. “Julian yang menangani soal itu--” “Aku inginnya kamu memberikan jawaban secepatnya, aku butuh kepastian.” “Saya tidak pernah berjanji untuk approve pengajuanmu, Nona.” Bianka membeliak kaget, kehilangan kata-katanya. Kedua tangannya semakin mengepal sekuat tenaga. “Kau--benar-benar,” desisnya. Devan tersenyum kecil, menunjukka

