BANTINGAN pintu membuat Alby membuka mata. Dia melemparkan diri ke sofa, mengacak-acak rambutnya seperti orang gila, lalu menggeram. Kemudian menarik napas dalam-dalam. **** Alby berdiri di depan pintu rumah Laras, lelah dan panik menguasai seluruh saraf di badannya. Sementara Abe yang memang sedang beristirahat di Yogyakarta untuk penerbangan nanti malam dan mau menemaninya—menunggu di mobil—membuka setengah kaca—menyemangati. Pintu cokelat itu akhirnya terbuka dan wanita paro baya yang dia kenal muncul di sana. Tante Nike—Ibu Laras. "Nak Alby?" Kaget. Tentu saja. Tante Nike melongok ke kanan dan ke kiri, mencari Laras. Dan Alby semakin panik. "Cuma saya sendiri." "Oh. Kenapa pagi-pagi gini ke rumah? Masuk. Ayo, masuk." Alby masuk dan duduk di kursi jati sesuai arahan Tante Nike.

