10

1235 Kata
KIANDRA Atmadja To barrynan1806@gmail.com I'm going home. Nia, i'm sorry for all the trouble you've had to go through. Following mom dan dad's wishes was a lot of trouble, but i'm really greatful that you survived this long. And yes, it's time for me to keep my word. I'm gonna go home, and i'm gonna help you talk to our parents. Relas. Everything will go your away. My sweet beautiful sister. At least one of us actually managed to win the heart of Bagaskara man. Maybe mama's right, i'm not getting anything out of my love for Abe. But you ... you win Alby. He's fighting for you. So, smile and focus on getting better. I love you, Nia. P.S: I'll be ini Indonesia in three or four days. Your little nephew can't wait to meet her beautiful aunt. Membaca balasan email Kiandra, mendadak membuat hati Kania jadi ringan. Pikiran rumit yang cukup menyiksa, perlahan menghilang. Kiandra pulang. Semua bakal menjadi mudah, batin Kania berulang meneriakkan kata-kata itu. "Nah! Kalau senyum gitu kan kece!" Kalimat yang disuarakan dengan semangat itu memancing Kania memindahkan pandangan dari layar laptop. Barry duduk di tangan sofa, di depannya—bersedekap dengan senyum menjengkel yang selalu cowok itu tunjukkan setiap kali mereka bertemu. Memang menjengkelkan, tapi membuat Kania iri setengah mati---senyum tanpa beban---bagaimana cara tersenyum seperti itu. "By the way, peminjaman laptop itu nggak gratis." Kania menutup laptop tanpa menyingkirkan dari pangkuannya. Dia memandang Barry lamat-lamat, tidak berniat bertanya, memilih menunggu Barry meneruskan kalimat. Dan seperti tebakannya, Barry melanjutkan kalimatnya, "Liat deh..." Tiba-tiba Barry berdiri dan menyodorkan handphone ke Kania, mau tidak mau Kania menerimanya. "Cantik kan? Saya mau libur satu hari full—mau ketemu dia. Itu bayaran yang bisa Mbak kasih ke saya." "Kamu itu udah tua, kok sukanya sama gadis kemarin sore gini?" Barry tertawa geli, lalu mengambil handphone dari tangan Kania. "Namanya Bianca. Dia adik saya." Kania sengaja memiringkan kepalanya sedikit, supaya dia bisa lebih jelas mengamati Barry. "Dia baru masuk kuliah, dan saya udah lama nggak ketemu dia." Memperhatikan bagaiamana sorot mata yang biasanya jail berubah lembut---penuh kasih sayang, tanpa diduga memberi efek mengejutkan pada d**a Kania—aneh—berdegup dalam ritme sedikit cepat. Kania cepat-cepat mengalihkan pandangan sebelum Barry menangkap basah. "Oke." "Serius?" Barry terlalu semangat, berlutut dekat kaki Kania, bahkan berusaha mempertemukan pandangan mereka. "Serius, Mbak Nia? Mbak Nia? Ih, liat saya atuh." "Apaan sih?!" Risih, tapi Kania membalas tatapan Barry. "Saya mau tau itu jujur atau nggak, kan kata orang, mata itu jendela kejujuran." "Apa sih? Aneh banget. Serius. Satu hari kamu nggak di rumah ini, nggak bakal buat kacau." "Wah. Thank you very much!" Kania mengangguk. "Tapi saya butuh satu batuan lagi." "Eh?" Dengan wajah serius Kania berkata, "Saya mau bicara sama Alby. Sekarang." Matanya fokus pada handphone di tangan Barry. "Tenang aja ... sebelum kamu ke sini, saya minta Bik Ninuk pergi beli martabak, mungkin baliknya masih satu jam atau dua jam lagi. Martabak itu terkenal rame banget, antriannya gila. Dan jaraknya lumayan jauh dari sini." "Mbak...." "Saya cuma mau dengar suara dia, maksudnya ... selama ini saya struggling jauh dari dia. Saya nggak tau cara menghubungi dia, tiap kali saya ... sangat ingin mendengar suara dia, rasanya---menyiksa. Sekarang ada kamu, saya...." Barry tiba-tiba mendekatkan handphone ke telinga, membuat Kania berhenti bicara secara otomatis. Tidak cuma itu Barry mengedipkan mata kiri sambil menunujuk ke bibir Kania, lalu bicara tanpa suara; "Keep smiling just like that because you look so pretty. I swear!" Seperti sebuah mantra, bibir Kania semakin lebar, terutama saat Barry memanggil nama Alby. Dia tidak bisa menunggu dua cowo itu basa-basi, jadi tanpa peringatan Kania merebut handphone dari Barry. Ah, sudah lama sekali—dia tidak pernah bicara seperti ini sama Alby—mengobrol seperti sepasang kekasih normal. "Halo, By." Tidak ada sahutan dari seberang sana, cuma terdengar embusan napas berat. Wajar. Seperti kata Alby tadi siang, cowok itu tidak mau ambil risiko. Alby khawatir, jadi dia harus menenangkan. "Bik Ninuk aku suruh beli martabak yang ngantrinya nggak wajar, baliknya pasti lama." Kemudian, obrolan yang menyenangkan berlangsung. Alby becerita tentang Laras, astaga, Kania juga merindukan gadis itu---Laras menemani hampir setengah perjuangannya saat berpura-pura bahagia bersama Alby---bahkan Laras pula yang menjadikan kegiatan menunggu lebih menyenangkan. Dan sekarang Laras dalam masalah.... ""What? Wah. Gila. Terus? Ih, harus dilaporin polisi. Kamu bisa loh, By, bantu dia. Minta tolong Om Ben." "Dia nggak mau." "Eh? Siapa? Laras?" "Iya. Ya udah lah, ini masalah pribadi dia juga." Lalu, obrolan berganti arah dengan cepat---berubah membahas kenapa mereka tidak bisa bertemu. Awalnya, Kania sedikit takut mendengar jawaban Alby. Namun... Lagi-lagi Barry yang ada di depannya bicara tanpa suara. 'Trust him.' Ya, percaya dan mendengarkan alasan Alby---hal yang tidak dia lakukan bertahun-tahun silam, yang membuatnya merasa jadi korban padahal berperan juga sebagai pelaku. Dia tidak akan lagi melakukan itu. "Nia... aku bukannya nggak mau nikahin kamu. Tapi ... saat itu kamu masih koma. Dokter terus aja bilang kita harus siap sama kemungkinan buruk, Mama Papa kamu minta aku nikahin kamu—karena mikir kamu nggak bakal bangun. Kalau aku nikahin kamu saat itu, aku percaya kamu nggak bakal bangun dan itu satu-satunya kesempatan buat membahagiakan kamu. Tapi aku nggak percaya itu, sayang. Aku yakin kamu pasti bangun, dan kesempatan aku buat membahagiakan kamu masih banyak." Kania menutup bibirnya dengan satu tangan. Dia tidak boleh menangis. Dia tidak boleh membuat Alby lebih khawatir dari ini. Barry yang masih setia berlutut di depannya, mencoba membantu menenangkan dengan menepuk ringan satu lututnya beberapa kali, lalu meminta Kania tersenyum. Dan dia tertawa lepas untuk pertama kalinya, entah karena membayangkan raut wajah Alby saat menjelaskan panjang lebar tadi, atau ... karena Barry terus saja memuji dan menyuruhnya tersenyum. "I know. Its okay, By. Aku nggak marah kok." Dan Kania melanjutkan tawanya. "Tau nggak sih, aku langsung bayangin muka kamu. Pasti lucu banget. Tegang-tegang gitu." "Aku takut, kamu marah kayak—Elora." Itu juga ketakutan aku sejak keluar dari kantor Papa. Aku takut berubah menjadi lebih mengerikan dari sebelumnya, dan nggak ada lagi kesempatan buat aku mencegah atau memperbaiki. See, By... kita itu selalu serupa sejak dulu. Apa yang kamu takutkan, selalu jadi ketakutan aku. Apa yang kamu hindari, juga aku hindari. Apa yang kamu tangisi, aku tangisi lebih kencang, ucap Kania dalam hati. "By, tenang ya... aku udah nemuin cara buat kita. Mama Papa nggak akan dengerin mau aku, tapi mereka pasti mau dengerin Kak Kian." "Kiandra?" "Ya?" "How? Bukannya..." "Kak Kian mau pulang ke Indonesia dan bantu aku." "Loh? Tapi—" "By, aku ceritain nanti ya... Barry udh cemberut, tadi aku bilang mau pinjem bentar, eh—jadi lama." Kania tertawa lagi. "Bye, Alby! Aku tutup ya." "Hmm. Oke." Setelahnya bibir Kania kembali datar, dia menghela napas pelan-pelan. Senyum Barry pun ikut hilang, cowok itu menaikkan satu alis serta mengerutkan kening. "Kenapa? Saya nggak masalah Mbak Nia mau teleponan sampe subuh, nggak pusing kuota---gratis pake wifi rumah ini---malah tadinya saya mau pamit nunggu di luar, jaga-jaga ada tamu nggak diundang." Kania mengembalikan handphone Barry. "Semakin lama saya ngobrol, saya makin kangen sama Alby. Semakin saya kangen sama dia, saya makin marah sama keadaan ini---terkurung di rumah ini---nggak bisa jalan buat kabur. Semakin saya marah sama keadaan ini, potensi saya membenci orangtua saya semakin besar. Saya nggak mau jadi pelaku ... saya juga nggak mau jadi korban." Barry menerima handphone, lalu berdiri. "Kalau begitu berjuang, buat semuanya... Jangan nyerah sama keadaan. Jangan juga marah sama yang terjadi. Just fight for it and believe it will be all right."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN