9

1314 Kata
SATU jam berlalu, dan Alby masih terjebak bersama tangisan Laras. Mobilnya pun masih belum meninggalkan rumah sakit. Ada sedikit penyesalan di d**a Alby, kenapa dia harus masuk ke wilayah pribadi Laras. Tindakan ini berpotensi membuat salah paham, entah dari sisi Laras atau Kania—tapi Kania tidak melihat—dia juga sudah memastikan tidak ada orang suruhan Pak Ryan di sekitarnya. Ah, dia harus segera menceritakan ini pada Kania—entah bercerita melalui apa. "Pak..." Laras memanggilnya untuk kesekian kali, masih dengan posisi menunduk dan memutar tali tas. "Jangan kasih tau Elora." Alby mengetukkan jari ke stir, memiringkan kepala, berpikir keras harus menanggapi permintaan Laras seperti apa. Cewek itu sudah meminta 'jangan kasih tau Elora' lebih dari lima kali, tapi memberitahu Elora adalah satu-satunya cara dia lepas dari masalah pribadi Laras. "Pak, Elora itu orang paling pemikir yang saya kenal, otaknya rumit. Dia bakal mikir keras, walaupun itu bukan masalah dia. Dan seperti yang saya bilang kemarin, Elora punya keinginan sendiri—yang susah terwujud kalau dia punya banyak pikiran." Laras membalas tatapannya, setelah menghindar sedari mereka masuk ke mobil. "Saya nggak mau jadi beban, Elora. Dan saya juga nggak mau ngerepotin Bapak...." "Terus, kamu mau tetap seperti ini?" "Pak, saya—" "Ini udah kriminal, Ras. Kalau kamu nggak mencoba buat lepas, lambat laun kamu bisa mati di tangan laki-laki itu." Alby menghela napa kasar, mencoba menghalau emosi yang mengantre masuk ke hatinya. "Ini simple. Kamu nggak mau Elora tau, fine, saya yang bantu. Sekarang kamu turun dari mobil, lakuin pemeriksaan. Kita udah megang bukti, saya bisa minta pengacara buat urus-urus soal laporan. Kamu mikir biaya pengacara, dll? Nggak masalah saya bisa atur sebagai reward." Laras menggeleng. "Nggak bisa, Pak." "Nggak bisa atau nggak mau?!" Bibir Laras terbuka, lalu tertutup---air mata meluncur bebas ke pipi cewek itu. Alby perlu mecengkram kuat-kuat stir mobil, supaya tangannya tidak lancang mampir ke pipi Laras. Dan membuat segala sesuatu yang sudah rumit semakin rumit. "Ini masalah pribadi saya," ketus Laras. "Apa yang bakal terjadi selanjutnya, bukan urusan Bapak." "Laras!" Seperti yang terjadi beberapa saat lalu, Laras menantangnya melalui tatapan—tidak memedulikan kemungkinan dia bakal marah, tetapi ... buat apa dia marah? Memang ini urusan pribadi cewek itu. Dia bukan Elora, yang jelas sahabat Laras. Mereka tidak berteman, cuma bos-karyawan. Alby membuang pandangan ke luar jendela, lalu terdengar pintu terbuka. Laras bersiap turun, dan Alby tidak ada alasan buat menahan. "Lupakan yang Bapak liat hari ini, atau yang kita bicarakan. Saya pamit pulang, Pak," kata Laras tanpa melihat Alby lagi, kemudian turun dan menghilang dari pandangan begitu saja. Tepat dengan kepergian Laras, ada panggilan telepon masuk—dari Barry—hal yang tidak biasa. Alby langsung mengangkat, khawatir ada hal buruk menimpa Kania. "Kenapa, Bar? Kania okay? Atau—" "Tenang-tenang. Selow. Jangan panik Mas Bro," potong Barry dari seberang sana. "Ada yang mau ngomong." "Hah?" "Kania." "Wah, gila lo! Kalau ada yang tau gimana? Kata lo ada si Bik—siapa itu namanya—Nunik? Ninuk? Kalau doi tau, bisa—" "Halo, By." Alby langsung bisu, suara yang sangat dia rindukan. "Bik Ninuk aku suruh beli martabak yang ngantrinya nggak wajar, baliknya pasti lama." Syaraf yang tadinya tegang mengendur, posisi duduknya pun lebih santai. Tidak pernah disangka suara di seberang sana bisa begitu menenangkan. "By?" "Hmmm." "Kamu di mana?" Alby memperhatikan pintu utama rumah sakit. Haruskah dia menceritakan yang baru terjadi, atau lain waktu—mungkin Kania ingin bicara hal yang lebih penting. Tetapi... "Di parkiran rumah sakit." "Kamu sakit? Alby..." "Nggak. Bukan aku. Kamu ingat Laras?" Ada jeda beberapa detik sebelum Kania menjawab, "Ingat. Karyawan kamu yang rame banget itu kan? Yang kalau aku datang, terus kamu lagi rapat—dia pasti langsung bawa aku minum kopi di bawah, terus nyuruh aku nonton streaming drama Korea." Kania terdengar lebih santai dari tadi siang, bahkan sedikit ... riang? "Iya. Iya. Aku ingat. Kenapa, Al?" "Kemarin aku antar dia pulang, kami lembur bareng." "Terus?" "Waktu sampe rumah, dia ditunggu sama pacarnya." "Oh? Iya, aku ingat. Dia juga sempat cerita udah punya pacara, kerja EO, atau apa gitu. Aku lupa... terus?" Tanpa disadari kening Alby mengerut. Apa benar yang bicara di seberang sana Kania? Tadi siang Kania begitu emosional, ada sendu di setiap kata yang dikeluarkan gadis itu. Saat ini... "By? Kok diam sih? Terus kenapa? Apa hubungannya Laras dan rumah sakit?" "Sepertinya... cowoknya ngelakuin kekerasan." Lalu, bayangan memar di leher dan tangis Laras, kembali membuat Alby tegang. "Sepanjang hari Laras pakai syal, awalnya aku pikir itu fashion dia, ternyata ada memar di leher dia ... ada bekas jari-jarinya." "What? Wah. Gila. Terus? Ih, harus dilaporin polisi. Kamu bisa loh, By, bantu dia. Minta tolong Om Ben." "Dia nggak mau." "Eh? Siapa? Laras?" "Iya. Ya udah lah, ini masalah pribadi dia juga." Entah kenapa kesal di d**a Alby membuncah, begitu membayangkan bakal ada memar lain di badan Laras—bego-nya, Laras tetap tidak mau lepas dari cowok b******k itu. Astaga, Alby! Persetan sama urusan Laras! Dia bukan siapa-siapa lo! Alby menggeleng keras. "Oh ya, Nia... kamu kenapa telepon aku?" "Emang aku nggak boleh telepon kamu?" "Bukan, aku—" "Aku udah tau kenapa Papa Mama nggak bolehin kita ketemu." "Oh ya? Apa?" "Karena kamu nolak nikahin aku." "Udah aku duga!" seru Alby cepat, lalu dia melayangkan pukulan keras ke stir mobil. "Aku udah mikir itu alasannya. Aku juga berusaha buat jelasin ke Om Ryan dan Tante Yoland, tapi, mereka sama susahnya ditemuin kayak kamu. Eh, kamu nggak marah kan?" Sunyi. Dan jantung Alby berdebar sangat kencang. Tidak. Dia tidak mau ada salah paham seperti dulu. "Nia... aku bukannya nggak mau nikahin kamu. Tapi ... saat itu kamu masih koma. Dokter terus aja bilang kita harus siap sama kemungkinan buruk, Mama Papa kamu minta aku nikahin kamu—karena mikir kamu nggak bakal bangun. Kalau aku nikahin kamu saat itu, aku percaya kamu nggak bakal bangun dan itu satu-satunya kesempatan buat membahagiakan kamu. Tapi aku nggak percaya itu, sayang. Aku yakin kamu pasti bangun, dan kesempatan aku buat membahagiakan kamu masih banyak." Masih hening di seberang sana, dan Alby semakin takut Kania salah paham. Bisa saja perubahaan suara Kania saat ini sebuah topeng buat menutupi kemarahannya, yang sedang menunggu waktu untuk diledakkan—apalagi dia baru saja cerita soal cewek lain, bukan langsung fokus pada Kania. Damn! Tiba-tiba Kania tertawa, sangat renyah. Tawa yang dia dengar sebelum kecelakaan sialan itu terjadi. Seandainya dia punya kekuatan menghentikan waktu, dia ingin berhenti di sini, saat suara tawa Kania bisa dia dengar lagi. "I know. Its okay, Al. Aku nggak marah kok." Lalu, Kania melanjutkan tawanya. Tanpa sadar air mata mengumpul di pelupuk matanya. "Tau nggak sih, aku langsung bayangin muka kamu. Pasti lucu banget. Tegang-tegang gitu." "Aku takut, kamu marah kayak—Elora." Alby menyandarkan kepalanya ke kaca, membayangkan saat Kania salah paham, lalu semua menjadi kacau—mengerikan. "Al, tenang ya... aku udah nemuin cara buat kita. Mama Papa nggak akan dengerin mau aku, tapi mereka pasti dengerin mau Kak Kian." "Kiandra?" "Ya?" "How? Bukannya..." "Kak Kian mau pulang ke Indonesia dan bantu aku." "Loh? Tapi—" "Al, aku ceritain nanti ya... Barry udh cemberut, tadi aku bilang mau pinjem bentar, eh—jadi lama." Lagi, Kania tertawa renyah. "Bye, Alby! Aku tutup ya." "Hmm. Oke." Sambungan terputus, tetapi Alby enggan menjauhkan handphone dari telinganya. Dia masih ingin menikmati sisa-sisa tawa Kania. Setelah puas, Alby mengendarai mobil meninggalkan rumah sakit. Alih-alih kembali ke apartemennya, Alby justru membawa mobil melewati tol, jalan terus, sampai melewati tulisan Perumahan Green Ville. Mengingat jalan yang dia laluin kemarin malam, Alby sampai di rumah Laras. Mobil yang sama terparkir di depan gerbang. Dia mengambil handphone dan menghubungi seseorang. "Halo. Putra. Tolong kamu cari tahu siapa pemilik plat mobil B 1536 JK. Oke. Kalau bisa malam ini sudah dapat datanya, kalau sulit, saya tunggu sampai besok siang. Oke. Kirim ke email saya. Ya." Alby menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, memejamkan mata sejenak, sambil menggenggam erat handphone. "Sekali ini aja. Sekali ini aja lo ikut campur." Alby membuka mata, mengamati rumah Laras yang nampak tenang. "Demi kemanusian."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN