8

1472 Kata
HARI semakin larut, gendung Mega Tarinka pun telah kehilangan sebagain besar penghuninya—cuma tersisa segelintir orang—pejuang lembur. Laras, dia bukan salah satu pejuang lembur. Pekerjaannya t'lah selesai. Dia saja bingung harus apa, namun cuma ini tempat yang aman. Laras mematikan komputer, memperhatikan jarum jam di tangannya berganti secara lambat, memaju-mundurkan kursi, streatching, sampai akhirnya dia kepanasan dan melepaskan scarf fashion salem dari lehernya. Melalui kaca segi empat berukuran kecil yang tertempel di kubikel, Laras menatap nanar memar di kulit lehernya. Perlahan keceriaan yang biasa terpancar di matanya memudar, berganti sendu dan frustrasi. **** "Arga sakit! Bisa lepasin dulu nggak?" Tidak mau mendengarkan Laras, pria itu terus saja menarik paksa Laras sampai ke depan pintu masuk---sadar Laras tidak mau membuka pintu---Arga sengaja merebut tas Laras dengan satu tangan yang lain, membuat seluruh isi tas berhamburan di lantai. Setelahnya Arga berhasil menemukan kunci, membuka pintu cepat, memaksa Laras masuk tanpa memedulikan banyak barang berharga Laras masih berserakan di lantai. "Arga. Sumpah. Aku nggak aneh-aneh. Belakangan ini, aku emang sibuk banget di kantor---bukan karena—" "Halah! Alasan!"sanggah Arga, lalu melemparkan Laras ke kursi ruang tamu yang terbuat dari jati---tidak peduli kalau saja Laras tidak sigap menahan dengan tangan, kening Laras bisa terbentur---memar atau parahnya bisa berdarah. Mata Laras sudah panas, siap buat menangis. Kemudian, Arga kembali menarik bahunya---menghempas dengan sangat kasar sampai posisi Laras terlentang di kursi panjang itu. Tanpa kata dan peringatan, kedua tangan Arga sudah menekan leher Laras kuat-kuat---sampai Laras berpikir; oke, gue bakal mati hari ini. "Ar ... Ga..." Tertatih Laras memanggil nama Arga, disusul batuk akibat tekanan menyiksa dari tangan Arga. "Aku udah pernah bilang, Ras! Aku nggak mau lepasin kamu! Kalau kamu nekat pergi, aku bakal kirim video itu ke Mama kamu atau sebar di youtube! Kalau kamu masih nekat—mikir bisa lepas dari aku, lebih baik kita mati bareng!" **** "Laras? Lembur lagi?" Suara yang datang tiba-tiba itu membuat Laras kelimpungan. Dia buru-buru menghapus air mata, memakai kembali scraf secara asal, lalu berdiri dengan senyum lebar. Dia kembali ke mode Laras yang riang, memasang senyum jenaka---siap menggoda siapa pun di depannya---termasuk Alby. "Eh, Pak Alby! Iya, ada beberapa laporan yang enaknya dikerjain waktu kantor sepi. Ini, saya baru mau pulang." Laras memandang Alby sebentar, lalu menunduk menyembunyikan kesedihaan yang terlanjur menguasai hatinya. Dengan gesit Laras merapikan barang bawaan, dia ingin segera pergi---mengeluarkan kesedihaan---seorang diri. "Kayaknya tadi saya liat Bapak pulang deh, sekitar jam 5 kurang, kok balik ke sini? Ada yang ketinggalan?" "Saya memang belum pulang. Ada urusan sama Mas Diaz di atas, kebetulan ada beberapa deraksi juga—jadi ngobrol sampai lupa waktu." Laras mengangguk, tidak berniat menanggapi. "Oke. Kalau begitu saya pulang dulu ya, Pak," pamit Laras sambil membawa tas, dan keluar dari area kubikel. Baru saja melewati Alby beberapa langkah, pria itu kembali memanggilnya, "Laras ... tunggu." Laras berhenti, tapi tidak berbalik. Seluruh sarafnya tegang, satu tangannya menyentuh scarf secara otomatis---memastikan tidak ada celah buat Alby melihat. Dalam hitungan detik, Alby sudah berdiri di hadapannya---tidak menyelidik seperti yang dia takutkan. "Ayo, saya antar pulang," kata Alby tenang. "What? Ah, nggak usah, Pak. Ngerepotin." Laras tidak bisa ambil risiko, bisa saja Arga sudah berdiri di depan rumahnya lagi---memastikan Laras pulang sendiri atau diantar---mencari pembenaran dari segala tuduhan kemarin. "Saya nggak ngerasa direpotin, kebetulan saya memang mau ke arah sana---ada urusan." "Ada urusan atau mau cari-cari alasan buat anter saya pulang?" Laras menyeringai. "Cie ... cie...." Laras tertawa kecil sebentar, lalu menlanjutkan kalimatnya, "serius deh, Pak, nggak usah. Saya pulang naik taksi online aja, kebetulan saya dapat voucher diskon banyak banget, kan sayang kalau nggak dipake." Alby memasukkan kedua tangan ke saku celana, tanpa diduga melangkah maju mendekati Laras dengan wajah serius. Tentu saja hal itu membuat Laras mundur sesuai jumlah langkah Alby, sampai akhirnya punggungnya menyentuh tepian kubikel. Dan Alby masih terus maju. "Saya nggak suka ditolak." Tatapan serius dari Alby membuat jantung Laras berdetak lebih cepat, bukan terpesona---tetapi mengingatkannya pada Arga. Bulu halus di badan Laras berdiri, seringai jenaka lenyap tanpa jejak, ketakutan menyergap. Rasanya begitu menyiksa. Laras berjalan miring, berusaha keluar dari tatapan Alby. "Oke. Saya ikut Bapak. Ayo," kata Laras kaku dan bergetar. Lalu, dia jalan mendahului Alby sampai ke mobil. Suasana hening di mobil sangat berbeda dari kemarin, lebih mencengkam, bahkan Laras tidak bisa duduk nyaman---syarafnya tegang---dalam hati sibuk membodohi diri sendiri karena terus menggoda Alby---mungkin pria itu hilang kesabaran dan berniat melakukan sesuatu yang gila kepadanya. Toh, kalau Alby melakukan hal-hal 'gila'---dia tidak bisa melakukan perlawanan apa pun---menghadapi Arga saja dia kalah---apalagi Alby, yang jelas-jelas memiliki kekuasaan. "Loh? Kok kita ke rumah sakit, Pak?" Laras semakin panik saat melihat mobil Alby memasuki area rumah sakit yang memang letaknya tidak terlalu jauh dari gedung Mega Tarinka. "Pak?" Alby tidak juga menjawab, sibuk memarkirkan mobil di parkiran VIP. "Pak? Serius deh ... kita ngapain ke rumah sakit? Bapak sakit? Kok nggak bilang dari tadi minta ditemanin cek up, kan saya bisa---" Alby langsung keluar dari mobil, mau tidak mau Laras juga mengikutinya. "Pak..." Laras masih berusaha mengajak bicara Alby, bahkan setelah mereka melewati pintu ruang UGD. Namun, Alby tidak juga menjawab—terus saja berjalan—sampai seorang dokter tinggi berkacamata, bersneli, berdiri di depan mereka seolah sudah menunggu lama. "Alby! Gue pikir Alfa bercanda, ternyata benar. Ada apa, Bro? Ada yang nggak enak?" tanya si dokter. Untuk beberapa saat dua cowok itu sibuk berbicara, sementara Laras memperhatikan name tag si dokter—dr.Indra. "Laras, ikut Dokter Indra," perintah Alby. Kedua mata Laras terbelalak, lalu dia tertawa keras. "Pak Alby kalau bercanda suka aneh. Ngapain saya ikut Dokter Indra? Saya sehat, baik-baik aja." Tidak. Dia tidak baik-baik saja. Seluruh badannya nyeri, bahkan hatinya. Tetapi... Alby kembali mendekati Laras lagi, bergerak cepat menarik scarf Laras sampai memar mengerikan yang disembunyikan Laras terlihat sangat jelas. Panik yang tadinya sempat reda, menggila dalam hitungan detik. "Pak!" Laras merebut kembali scarf dari tangan Alby, lalu mengambalikan fungsi awal benda itu—menutupi lehernya. "Saya baik-baik aja." "Anak kemarin sore juga bisa liat, kalau kamu nggak baik-baik aja." "Saya..." Laras mengambil jeda sebentar. "Mau saya baik-baik aja atau nggak, itu bukan urusan bapak. Ini masalah pribadi, bukan kantor." "Masalah pribadi? Kalau kamu ada apa-apa, tentu saja berpengaruh ke kantor. Pekerjaan kamu itu berhubungan sama keuangan, itung-itungan, kalau kamu sakit terus salah waktu bekerja—siapa yang rugi? Kantor." "Tapi saya nggak melakukan kesalahan, semua laporan hari ini hasilnya benar. Toh, ini—ah, pokoknya saya sehat-sehat aja! Nggak perlu ke dokter segala!" Laras tetap bersikeras. "Yang butuh dokter itu Bapak! Galau, sampe migran! Ujung-ujungnya ada beberapa pekerjaan tertunda." Dalam hati Laras mengumpat, menyesal kenapa bibirnya tidak bisa bungkam. "Udah ah, saya mau pulang! Bye!" Laras berbalik, berjalan keluar, tidak peduli Alby memanggil namanya sangat keras sampai orang-orang di wilayah UGD itu memandanginya. Begitu sampai di luar UGD, air matanya menetes tanpa bisa dicegah. Tanpa sadar dia berjongkok persis di depan pintu masuk, menangis seperti baru saja ada orang terdekat yang meninggal di dalam sana, memeluk dirinya sendiri. Rasanya sangat lama Laras seperti itu, sampai suaranya sedikit serak. Tanpa diduga ada yang memegang ujung sikunya, lalu membantunya berdiri. "Ayo, pulang." "Pak Alby..." Laras setengah mati menghentikan tangisnya, tapi sia-sia. Bukannya reda, tangisnya justru semakin kencang. "Percaya deh, Pak... saya baik-baik aja. Hari ini, besok, dan seterusnya... saya pasti baik-baik aja. Kerjaan saya bakal beres. Janji! Jangan pecat saya ya, Pak. Maaf, kalau tadi saya ngomong kasar. Saya—saya nggak mau berhenti kerja, diam di rumah." Membayangkannya saja sudah membuat Laras merinding. Alby tidak menjawab, menuntun Laras ke mobil dalam diam seolah memang memberi waktu buat Laras mengeluarkan yang harus dikeluarkan. "Pak... saya rela deh lembur seminggu penuh tanpa dikasih bonus, asal Bapak nggak marah... saya masih mau kerja." "Masuk, Ras," kata Alby saat mereka sampai di parkiran mobil. "Pak..." Laras masih memohon, kali ini dengan tangan menyatu di depan wajah Alby. "Saya—" Alby menyentuh dan menurunkan tangan Laras. "Saya nggak marah, Ras." Perlahan raut wajah Alby melembut. "Saya cuma—saya tau ini urusan pribadi kamu, nggak seharusnya saya ikut campur. Tapi... saya nggak bisa liat perempuan yang saya kenal seperti ini. Perempuan itu diciptakan buat membantu, melengkapi laki-laki. Sudah seharusnya diperlakukan dengan hormat, bukannya—" "Pak—" "Jangan cari alasan klasik terbentur, orang t***l mana yang kebentur pas di leher? Dan memar itu membentuk jari-jari. Orang terakhir yang saya liat sama kamu, ya pacar kamu itu. Mama kamu juga sekarang tinggal di Yogyakarta, jadi nggak mungkin beliau yang melakukan." Laras menyerah, untuk pertama kalinya dia melepaskan seluruh topeng tegar dari dirinya, mempertontonkan frustrasi, tidak berdaya, kacau, sedih—yang mati-matian dia tutupi dari semua orang terutama sang mama dan Elora. "Saya bawa kamu ke sini, buat bukti. Kalau kamu sudah punya jejak medis, kamu bisa melakukan tindakan selanjutnya. Kamu—" "Saya nggak bisa, Pak." Entah jarak mereka yang terlalu dekat, atau memang Laras sangat butuh tempat bersadar. Kening Laras menempel di d**a Alby, menangis, dan terus berkata, "saya nggak bisa, Pak. Saya mau, tapi nggak bisa."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN