ALBY usai memberikan ciuman termanis di hidup Kania. Ciuman yang dulu tidak berani dia impikan. Ciuman yang baginya sebatas ilusi. Untuk beberapa saat posisi keduanya tetap sama, berbaring bersebelahan tanpa menyentuh atau bicara—saling memandang. Entah kenapa keduanya mendadak kaku dan tegang. Kania sadar, pola itu terulang. Bibir mereka berpisah---Alby mendadak canggung---lalu pamit, selalu berakhir seperti itu. Kania baru berpikir untuk mengatakan jangan memaksakan diri bersikap manis saat merasakan jemari lelaki itu membelai lembut pipi kanan lalu turun ke lehernya. "By...." "Kira-kira, butuh waktu berapa lama buat Tante Hana dan Kian kembali ke sini? Satu jam? Dua jam? Tiga jam?" "Hmm. Tiga sampai empat jam? Why?" "Kalau pintu kamar ini aku kunci buat beberapa menit ke depan—sust

