24

844 Kata

Laras menarik napas dalam-dalam, masih berusah menenangkan diri sebaik mungkin. Dia tidak boleh terlihat lemah. Tidak. Namun, saat matanya bertemu dengan sang mama—seluruh tekadnya runtuh. Air mata mengalir deras tanpa izin. Laras berusaha menyekanya, tapi tidak berguna. Air mata terus meluar, ditambah Mama membungkuk dan memeluknya. "Maaf." Cuma kata itu yang mampu Laras bisikan. Keseluruhan kejadian. Asal mula kegilaan Arga berputar terus-menerus, alasan dia tidak bisa pergi. Mama melepaskan pelukan, menarik kursi semakin dempet dengan ranjang, lalu duduk sambil menggenggam satu tangan Laras. "Cerita. Mama dengerin." Laras merasa dadanya begitu sesak seolah ada tertimpa berton-ton batu besar, menyiksa. Dia memejamkan mata, tidak sanggup membayangkan rekasi Mama. Dia harus mengarang c

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN