BADAN Alby gemetar bersandar pada tembok apartemen, mengamati setiap sudut yang meninggalkan jejak Laras. Baru 14 hari sejak Laras keluar dari ruang operasi dan dinyatakan meninggal karena pendarahan Petensio Plasenta—terlihat begitu tenang seolah sedang tertidur pulas. Tetapi dia tidak sanggup mendekat, tidak ada yang sanggup, kecuali Mama Nike dan Elora yang langsung menyambut dan menemani Laras untuk dibersihkan. Cuma dua orang itu yang benar-benar menemani setiap proses cepat yang diminta Laras sampai peti yang sudah tertutup dibawa ke ruang duka. Dia? Memilih mengurung diri di kapel rumah sakit, bertindak pengecut seperti yang dikatakan Laras dulu. Dia tidak siap. Seolah dunia begitu membencinya. Hancur. Tidak ada lagi yang bisa dia perbaiki. Dengan keadaan kacau dan banyak emos

