"Kalian berdua bagaimana? Benar ngga mau ikut? Saya bisa antar, dan mobil kamu biar di handle montir saya." "Engga!" jawab Karina dan Agatha kompak. Keduanya tersenyum lebar menatap bos serta sahabatnya yang berdiri sejajar. Jika dilihat dari wajah keduanya memang sepadan. Tetapi tidak dengan akhlak. Detik ini saja perbedaan keduanya cukup terlihat. Walaupun di luar kantor sosok berwibawa Varrel masih terasa. Sedangkan Ayna? Wanita itu berdiri tegak tetapi mirip cacing kepanasan. "Kita bisa naik taksi, Pak, lagipula saya udah panggil montir. Bapak kalau mau pulang gapapa pulang aja. Tapi tolong anterin Ayna sampai apartemen ya? Maklumin kalau nanti selama di jalan dia buat ulah," ujar Karina mewakili hati Agatha. Tak! Satu pukulan mendarat di lengan Karina. Siapa lagi pelakunya kalau

