Keputusan untuk pulang ke rumah sepertinya langkah salah yang Varrel ambil. Sudah benar dari kantor lebi baik mampir ke ruma teman atau mengabiskan waktu di luar daripada di rumah harus mendengarkan ocehan dari Salwa. Akan tetapi nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Varrel hanya bisa mendengari. “Kalian berdua ini lagi bahas apa sih sampai Ayah pulang ngga ada yang nyambut.” Suara khas yang menggema di ruang tamu sontak membuat senyum Varrel mengembang. Ah, bala bantuan akhirnya tiba! Varreil menoleh, menatap seorang pria yang kini berjalan ke arahnya. Bak anak TK, senyuman Varrel seperti melihat gulali. “Akhirnya Ayah pulang,” celetuk Varrel yang langsung mendapat tatapan tajam dari Salwa. Varrel terkekeh melihatnya. Pradipta menatap istri dan anaknya secara bergantian. Sepertinya sebe

