Happy Reading
.
.
.
Hawa dingin perpustakaan membuat seluruh pengunjungnya betah untuk tetap duduk dan fokus membaca bukunya. Begitu juga dengan Alecia, yang saat ini sedang fokus dengan laptopnya.
Dua hari ini, Alecia memang sangat sibuk karena tugas skripsinya. Ya, kabar baik dari Alecia adalah tahun kelulusannya menjadi dipersingkat karena semua tugasnya yang sudah tuntas dan mendapatkan nilai bagus.
Alecia sangat bersyukur, bahwa tahun kelulusannya dipersingkat. Jadi, ia bisa kerja lebih awal di perusahaan papanya. Tetapi, saat ini Alecia harus super ekstra supaya bisa mengikuti wisuda bulan depan.
Alecia fokus mengetikkan apa saja yang sudah direvisi oleh dosennya. Ia harus memperbaikinya, dengan melihat buku panduan dan skripsi Raefal terdahulu.
Meskipun itu skripsi Raefal yang dulu, tetapi itu sangat membantu bagi Alecia. Dan Alecia sangat bersyukur lagi, karena minatnya dengan Raefal sama jadi ia tidak merasa terbebankan oleh tugas skripsi ini. Karena Raefal sudah membantunya mengerjakan.
"Akhirnya selesai." ucap Alecia dengan merenggangkan otot-ototnya. Karena sudah 2 jam Alecia duduk di depan layar laptop.
Alecia bangkit dari duduknya dengan membawa flashdisk yang sudah ia isi file skripsinya. Alecia merapikan semua barangnya, dan beranjak pergi meninggalkan perpustakaan.
Alecia berjalan menuju tempat fotocopy untuk mengeprint skripsi yang sudah ia perbaiki. Setelah selesai, Alecia kembali berjalan untuk menemui dosennya.
Jam menunjukkan pukul 15:30. Alecia segera mempercepat langkahnya untuk menemui dosennya, karena sudah ada janji untuk bimbingan skripsi.
Alecia melangkah masuk kedalam ruang kelas, dimana ia membuat janji dengan dosennya.
"Selamat sore bapak."
Alecia melangkah lebih masuk dan duduk setelah mendapatkan izin. Alecia mengeluarkan keetasnya, supaya dapat direvisi oleh dosen pembibingnya.
Alecia terus berdoa dalam hati supaya kali ini ia bisa sidang. Alecia memperhatikan gerak-gerik sang dosen saat merevisi skripsinya.
"Kamu ini masih muda. Dan ngga banyak yang tahun kelulusannya dipersingkat seperti kamu." ucap sang dosen yang bernama Ari dengan menatap lekat mata Alecia.
Alecia hanya diam dan terus memperhatikan dosen Ari. "Kamu juga termasuk mahasiswi kebanggaan di fakultas ekonomi karena ipk tertinggi. Saya jadi bangga sama anak semuda kamu." lanjut sang dosen.
"Terima kasih pak." balas Alecia dengan tersenyun ramah.
Dosen Ari memberikan kertas skripsi Alecia. Alecia segera menerima dan melihat hasilnya. LULUS.
Saat membaca tulisan lulus dikertas. Alecia tidak lagi bisa membendung rasa bahagianya. Ia tersenyum dan banyak mengucapkan terima kasih.
"Makasih ya pak, atas bimbingan bapak selama ini. Maaf kalo saya anaknya cerewet dan susah diatur."
Dosen Ari tersenyum bangga pada Alecia. "Iya ngga papa. Kamu anaknya supel kok, gampang diatur."
°°°°
Tepat setelah keluar dari ruang kelas. Ponsel Alecia berbunyi dan Alecia segera mengeceknya. Love. Ternyata dari Raefal.
Alecia tersenyum lalu mengangkatnya.
"Kamu dimana? Aku tunggu di depan gerbang kampus."
Alecia mengerutkan dahinya saat Raefal mengucapkan itu. Raefal datang untuk menemuinya? Bagaimana dia tahu kalau Alecia sedang berada di kampus.
"Kamu tahu darimana aku lagi di kampus?"
Terdengar suara tawa yang khas di sebrang sana. "Sayang. Kamu kayak ngga tahu aku aja. Udah sekarang kamu dimana? Atau mau aku jemput ke depan fakultas kamu?"
Alecia tersenyum. Terkadang, Alecia sendiri bingung mengapa Raefal bisa mengetahui banyak hal tentangnya.
"Yaudah, aku tunggu di depan fakultas aja. Kalo jalan di depan kampus jauh."
"Okee. Tunggu disitu ya calon istri ku."
Sambungan terputus. Padahal Alecia belum sempat membalas ucapan Raefal. Alecia kembali menaruh ponselnya kedalam saku celananya.
Alecia melanjutkan langkahnya keluar dari fakultas untuk menemui Raefal. Alecia kembali tersenyun saat mengingat Raefal yang sering menyebutnya sebagai calon istri.
Entah, setiap kali Raefal menyebutnya calon istri. Alecia nerasa geli tetapi di dalam hatinya, ia merasakan ada sesuatu yang bergejolak. Hatinya berdegup kencang.
"Jangan kebanyakan senyum kali."
Suara itu, membuyarkan senyuman Alecia. Alecia malu saat ada yang mengetahui dirinya sedang asik dengan khayalannya.
"Ih, serah gue la San."
"Lo mau kemana?"
Alecia menunjuk keluar. "Keluar."
"Yaudah, barengan deh." ucap teman Alecia yang bernama Sandra dengan menarik paksa tangan Alecia.
Alecia meronta ingin dilepaskan karena tidak nyaman. "Kalo barengan ya jangan narik gue kayak gini kali San. Gue bukan kambing yang bisa lepas kalo ngga lo taliin kok."
Sandra tersenyum hingga menenggelamkan matanya dibalik senyumnya yang lebar.
"Biar lo cepet jalannya aja sih."
Alecia menatap malas teman perempuannya ini. "Pake senyum lagi. Gue tinggal kabur baru tahu rasa lo."
Sandra mengerucutkan bibirnya karena merasa kesal dengan Alecia. "Lo jahat banget sih. Mentang-mentang mata lo lebar, terus mata gue sipit gitu."
Alecia tertawa lepas saat mendengar ucapan Sandra. Sandra memang seperti sedang menutup mata jika tersenyum atau tertawa. Jadi, ia sering mendapat godaan dari temannya jika ia tersenyum.
Tin..tin...
Alecia memalingkan wajahnya, melihat siapa orang dibalik mobil sport berwana hitam yang sudah membunyikan klakson.
Alecia kembali tersenyum saat melihat wajah Raefal dibalik kaca mobil. Alecia melambaikan tangannya saat Raefal menyapanya dengan melambaikan tangan.
Sedangkan Sandra dibuat bingung dengan aksi mereka. "Gila. Itu cowok atau pangeran dari kerajaan. Ganteng banget." ucap Sandra saat melihat wajah Raefal sedang tersenyum pada Alecia.
Alecia melirik kearah Sandra yang sedang memperhatikan wajah Raefal. Alecia segera menyuruh Raefal menutup kaca mobilnya dari kejauhan.
"Liatin apaan lo."
Alecia berdiri dihadapan Sandra dengan menutupi arah pandang Sandra kearah Raefal.
"Lo kenal? Dia siapa? Kenalin dong."
Alecia membulatkan matanya saat mendengar ucapan konyol Sandra. Ingin rasanya Alecia memakan Sandra hidup-hidup.
Alecia menggelengkan matanya saat melihat tingkah aneh Sandra yang merapikan rambutnya.
"Dia it--"
"Sayang. Kamu kama banget sih."
Alecia berbalik dan mendapati Raefal yang sudah berdiri dibelakangnya dengan memeluk pingganya.
Alecia kembali menatap Sandra yang sekarang sedang membuka mulut dan memelototkan matanya.
"Nah gitu. Itu baru namanya melek San." ucap Alecia dengan memberi ibu jari dihadapan mata Sandra.
"Sial lo." ucap Sandra dengan menepis tangan Alecia dari wajahnya.
Tampak, Raefal sedang berbisik kearah Alecia.
"Oh iya. Katanya lo tadi mau kenalan sama pacar gue." ucap Alecia dengan menggandeng tangan Raefal supaya mau berdiri di sampingnya.
Sandra tampak tersenyum malu saat Alecia mengenalkan Raefal pada Sandra.
"Sandra. Teman kampusnya Alecia." ucap Sandra dengan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Raefal.
"Raefal. Calon suami Alecia." ucap Raefal dengan membalas jabat tangan Sandra.
Sesudah mendengar ucapan Raefal. Tiba-tiba saja Sandra menjadi diam dan tidak berkata-kata. Sehingga membuat Alecia menarik tangan Raefal untuk pergi meninggalkan Sandra sendiri.
"Cepat sadar. Udah mau malem. Gue dulu ya San." ucap Alecia dengan menepuk Pundak Sandra pelan.
°°°°
'Alecia POV'
Suasana romantis restoran saat ini menemani ku dan Raefal. Aku melihat sekeliling resto yang dipenuhi dengan lilin cantik dan bunga, serta lighting yang memang dibuat sedikit redup.
Lantunan instrumental musik semakin menambah suasana menjadi romantis.
"Kamu salah bawa aku kesini. Baju aku ngga cocok tahu." ucap ku dengan berbisik kearah Raefal.
Raefal tersenyum kearah ku. Lalu ia mrngenggam tangan ku. "Semua baju keliatan bagus kalo kamu yang pake."
Aku membalas senyumnya. Pria ini, selalu bisa membuat ku berada diatas langit. Aku melepaskan genggamannya sebentar lalu mengeluarkan kertas dari dalam tas ku.
"Aku mau ngomong sama kamu." ucap ku dengan wajah serius.
"Ngomong apa?"
Aku tidak menjawab dan terus menatapnya dengan serius. Sampi membuat Raefal sedikit takut.
"Ngomongnya ngga aneh-aneh kan?" tanya Raefal dengan menatap ku.
Aku memberikan kertas itu pada Raefal. Dan Raefal mulai membuka dan membacanya. Ia tersenyum kearah ku dan mulai mencubit pipiku.
"Kamu itu ya. Suka banget bikin orang khawatir."
Aku tersenyum dan menatapnya lembut.
"Sengaja."
Raefal menurunkan tangannya untuk kembali menggengam tangan ku.
"Kalo gitu. Aku yang mau ngomong serius sama kamu."
Aku menatap mata Raefal yang sedang menatapku dengan serius. Aku sedikit takut sekarang karena wajah Raefal menjadi sangat serius.
"Kamu sebentar lagi lulus. Dan aku ngga main-main sama ucapan ku soal nikahin kamu." ucap Raefal.
Aku menurunkan pandangan ku. Aku sedikit merasa takut jika membahas soal pernikahan.
"Aku ngga mau dengar jawaban kamu sekarang. Aku cuma mau dengar jawaban kamu waktu aku sama papa ku datang kerumah buat lamar kamu. So, waiting me baby." ucapnya dengan menciun tangan ku.
Siapa yang tidak mau menikah dengan lelaki ini. Orang yang akan menjadi pasangannya pun akan merasa bahagia bisa menikah dengannya.
Tetapi tidak dengan ku. Entah mengapa, aku merasa sedikit ragu jika menikah terlalu muda. Semoga saja nantinya jawaban ku adalah yang terbaik bagiku.
°°°°
Jangan lupa Vote dan Komentar ☺