Bab 1. Rumah ini

1025 Kata
Rumah ini. Sulit menggambarkan perasaanku padanya. Dulu, aku hampir bilang mustahil. Tapi tangan Tuhan bekerja dengan cara yang ajaib, hingga akhirnya kami bisa menempatinya sekarang.Belum sepenuhnya milik kami, memang. Masih ada kontrak panjang dengan bank—KPR 20 tahun. Sebuah angka yang mengerikan bagi sebagian orang, namun berbanding terbalik dengan keputusan singkatku kala itu. Semuanya bermula saat aku pulang kerja dengan sisa tenaga yang ada. Aku mengajak suamiku, Iko, untuk survei sebuah lokasi. Rumahnya bahkan belum jadi, masih indent. Bangunan komersil. Gila, mungkin itu kata yang tepat. Kami hanya karyawan pabrik, tapi aku nekad. Saat itu otakku rasanya buntu. Aku sudah menawarkan banyak pilihan rumah subsidi, tapi Iko selalu menolak dengan alasan yang itu-itu saja. "Itu jauh sekali, yang benar saja! Kamu mau aku kenapa-napa pas pulang shift malam? Kamu tahu kan mataku rabun kalau gelap?" Aku mengalah, berkali-kali. Sampai akhirnya mataku tertuju pada lokasi ini. Masih dalam pembangunan, tapi lokasinya juara. Dekat keramaian, dekat fasilitas umum, dan yang terpenting: dekat tempat kerja. DP-nya kecil, bangunannya bagus, meski statusnya komersil. Aku ragu, tapi egoku sudah di ubun-ubun. Kami harus punya rumah sendiri. Sekarang. Bagaimana tidak? Kami sudah tujuh tahun menikah. Anak kami, Aline, sudah masuk SD di usia enam tahun. Bayangkan, selama itu kami berdesakan di kontrakan sempit. Kalau malam, kami harus tidur berhimpitan dengan motor dan perabotan. Belum lagi urusan hati yang terus-terusan "nyesek". Setiap kali kami punya tabungan, ada saja saudara yang meminjam dengan cara halus—yang kenyataannya tak pernah kembali. Kami kerja berdua, banting tulang peras keringat, tapi gaji habis tak bersisa tanpa ada barang berharga yang bisa dipandang. Aku ini tipe orang yang "harus punya". Saat menikah, kami memulai dari nol. Semua barang di rumah, dari elektronik sampai motor, aku beli dengan cara kredit. Tak jarang kami bertengkar hebat karena keputusan sepihakku. Tapi aku tidak merasa bersalah, toh aku membayar dengan gajiku sendiri. Aku ingat betul saat aku menentang Iko soal motor. Gaya hidupnya terlalu slow, tanpa ambisi, dan selalu mendahulukan orang lain dibanding diri sendiri. Akhirnya, sambil menggendong Aline yang masih bayi, aku berangkat sendiri ke dealer. Aku ajukan kredit. Ribut dulu, baru punya. Tapi setelah barangnya ada, dia baru sadar: kalau tidak dipaksa begini, kami tak akan pernah punya apa-apa. Hidup kami seperti magnet bagi kesulitan orang lain. Baru mau tenang sedikit, ada sepupu melahirkan tapi tak ada biaya karena suaminya kabur—kami wajib menyumbang jutaan. Lalu paman mau usaha, keponakan mau sekolah tapi tak punya seragam, hingga adik yang menganggur dan tak bisa bayar kontrakan. Semua lari ke kami. Aku lelah. Jika dihitung dengan masa perantauanku sebelum menikah, sudah 15 tahun aku hidup dari satu kontrakan ke kontrakan lain. Orang tuaku selalu berpesan, "Milikilah rumah sendiri, jangan kalah sama kura-kura." Bagiku, sehebat apa pun kamu di kampung, sebanyak apa pun tanahmu di desa, kalau belum punya hunian sendiri di tanah rantau, rasanya belum "pas". Itulah prinsip yang aku pegang teguh. Dulu, setiap kali lewat jalan menuju lokasi rumah ini, hatiku selalu bergetar. Aku sering membisikkan doa, berharap kelak bisa punya rumah di sini tanpa tahu bahwa rumah yang aku incar di internet itu ternyata memang ada di jalan ini. Saat survei, aku langsung jatuh hati. Anehnya, Iko yang biasanya keras kepala kali ini langsung setuju. Kami bayar booking fee saat itu juga. "Siapkan dana sekitar 35 juta ya, Bu," kata orang marketingnya. Uang itu belum ada di tangan. Tapi dia meyakinkan kami untuk ajukan berkas dulu karena prosesnya lama. Di sisi lain, Iko baru saja membeli tanah di kampungnya atas desakan keluarga besar. Di sana, keluarga besarnya masih menyatu, tak ada yang punya rumah sendiri. Mertuaku pun sampai tua masih merantau dan mengontrak. Awalnya aku setuju Iko beli tanah itu, karena aku risih kalau pulang kampung tidak ada privasi—bayangkan tujuh kepala keluarga kumpul di satu rumah kecil. Aku pikir, setidaknya ada wujud sertifikat atas nama suamiku daripada uangnya habis dipinjam orang. Konsekuensinya? Tabungan untuk DP rumah kami jadi pas-pasan. November 2017. Masa yang tak akan kulupakan. Saat itu aku sedang kena cut-off kerja, ini hal biasa, permainan perusahaan agar tidak perlu mengangkat karyawan kontrak menjadi tetap. Aku memutuskan pulang ke Jawa Timur membawa Aline. Baru saja turun dari bus, masih di agen, ponselku berbunyi. Iko menelepon. "Ma, gimana ini? Aku ditelepon bank. Senin disuruh ke sana." Rasanya jantungku mau copot. Antara senang dan takut. Kami di-ACC? Bagaimana bisa? Syaratnya harus berpenghasilan di atas UMR, sementara aku hanya pekerja kontrak. Tapi Tuhan memang luar biasa, berkas kami lolos! Liburan yang sudah kurencanakan lama langsung kupangkas menjadi lima hari. Aku dilema di rumah orang tuaku. Uang DP belum cukup, sementara pihak pengembang meminta serah terima dilakukan sebelum awal tahun untuk menghindari kenaikan harga. Melihat kegelisahanku, orang tuaku—orang-orang yang sering dianggap "orang kampung" yang dekil dan kusam—dengan legowo menawarkan bantuan. Mereka menjual perhiasan mereka demi menambah kekurangan DP kami. Aku terisak, tak tahu harus bicara apa. Aku pulang untuk melepas rindu, malah merepotkan mereka. "Tidak apa-apa, Mbak. Yang penting kamu punya rumah sendiri..." Kalimat itu sederhana, tapi menusuk relung hatiku. Mereka hidup sederhana, tapi punya tabungan nyata. Berbeda jauh dengan "si mulut besar" yang gaya hidupnya tinggi tapi sampai tua tak punya tempat tinggal. Dulu, aku sering sedih kalau mertuaku menghina keluargaku, merasa diri mereka paling hebat padahal kenyataannya nol besar. Tapi lama-kelamaan aku diam. Kenyataannya, keluargaku jauh lebih "kaya" secara mental. Kami punya tempat untuk pulang, tak perlu tidur berhimpitan atau berebut sepotong paha ayam saat Lebaran seperti orang kelaparan. Setelah semua berkas beres dan kunci di tangan, barulah aku bercerita pada mertua bahwa kami mengambil rumah KPR komersil. "Apa iya? Dari mana uangnya?" itu reaksi pertamanya. Lalu disusul kalimat yang membuatku tertegun, "Asyik, kami jadi bisa ikut pindah kan nanti?" Aku membeku. Tak mungkin aku menolak mentah-mentah, tapi hatiku berteriak. Akhirnya, aku mencurahkan keluh kesahku pada Eni, sepupu suamiku. Aku percaya padanya. Aku bilang dengan polosnya, "Itu kan rumah yang bantu bayar DP-nya orang tuaku, masa yang mau tinggal mertuaku?" Aku tidak menyangka, kejujuranku itu sampai ke telinga mertua. Dan seperti drama yang sudah-sudah, kami bertengkar lagi. Lagi dan lagi. Tapi kali ini, aku berdiri di atas tanahku sendiri, di bawah atap yang kuperjuangkan dengan peluh dan air mata orang tuaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN