Bab 2. Pindah

1133 Kata
Pulang dari bank setelah akad kredit, wajahku pucat pasi. Bayangan angsuran selama belasan tahun ke depan mulai menghantui, terasa begitu menakutkan. 'Bagaimana kalau kami gagal bayar nanti?' Namun, keinginan kuat untuk memiliki atap sendiri kembali membakar semangat. Logikaku berbisik: 'mengontrak 15 tahun saja aku sanggup, andai saja sejak dulu aku mengambil KPR, pasti rumah itu sudah lunas sekarang.' Ketakutan itu makin menjadi karena situasi pekerjaan yang tak menentu. Aku sedang dalam masa cut off. Sebenarnya ada panggilan masuk, tapi perusahaan sedang tidak stabil. Aturannya pun makin mengada-ada. Aku hampir saja menandatangani kontrak baru, tapi gagal hanya karena dokumen salah satu teman satu kloter ada yang kurang. Menurutku itu hanya mempersulit; harus lengkap semua baru bisa tanda tangan serentak. Temanku itu terpaksa pulang kampung untuk mengurusnya. Sejujurnya, gairah kerjaku sudah padam. Aku lelah dengan segala peraturan yang terasa dibuat-buat. Suamiku pun, setiap kali aku mengeluh capek atau meminta bantuannya, selalu menyahut dengan nada menantang, "Resign saja, siapa suruh bekerja?" Aku merasa tertantang. Lima belas tahun menjadi buruh pabrik telah menguras seluruh energiku. Aku ingin berhenti. Toh, usaha online-ku lumayan lancar, bahkan sampai keteteran. Akhirnya aku membulatkan tekad dan berkata pada suami bahwa aku tidak akan melanjutkan kontrak. Dia setuju. Aku pun meminta pendapat mertuaku. Meski kami sering berselisih, biasanya kami cepat berbaikan. Aku selalu melibatkannya dalam keputusan harian karena Aline, anakku, kutitipkan padanya selama aku bekerja. Aku meminta pendapatnya karena selama ini aku turut menopang ekonominya. Aku jujur bahwa setelah berhenti kerja, aku takkan bisa memberi uang rutin seperti biasanya, apalagi kami punya cicilan rumah baru. Karena tak ada yang melarang, aku nekat berhenti. Pertimbangan lainnya adalah uang Jaminan Hari Tua yang baru bisa cair setelah 30 hari tidak aktif bekerja. Aku merasa inilah saatnya di rumah, terutama demi Aline. Selama ini aku merasa banyak melewatkan momen emasnya. Banyak pola asuh yang tidak sinkron dengan prinsipku. Aku tidak menyalahkan mertuaku; aku sadar ini kelalaianku, dan sekarang waktunya aku mendidik anakku sendiri. Awalnya, semua tampak terkendali. Kami masih sanggup membayar angsuran hampir 3 juta per bulan, ditambah biaya kontrakan, sembari menunggu rumah indent selama 6 bulan itu selesai. Aku masih punya tabungan dari sisa JHT dan hasil jualan online. Waktu berlalu, rumah akhirnya siap huni. Namun, muncul dilema baru. Rumah itu sebenarnya sudah layak huni, tapi tetap butuh renovasi, terutama bagian dapur. Alasan lainnya, suamiku tak tega meninggalkan ibu dan adiknya di kontrakan, sementara aku bersikeras tidak mau tinggal satu atap dengan mereka. Aku sungguh tak sanggup. Bukan hanya karena orang tuaku yang lebih banyak membantu, tapi sifat mertuaku yang dominan, suka mengatur, menyalahkan, dan enggan mendengar pendapat orang lain adalah api dalam sekam. 'Beda pintu saja kami sering bertengkar, apalagi jika satu dapur?' Akhirnya, selama dua tahun kami membayar ganda: kontrakan sekaligus angsuran rumah. Kami keteteran hebat hingga mencapai titik nadir saat wabah COVID melanda. Iko sempat dirumahkan dan hanya menerima setengah gaji. Semua pembayaran menunggak. Bisnis online-ku lumpuh total; klien yang sudah DP suvenir membatalkan pesanan. Kami benar-benar goyah. Di tengah kesulitan itu, kakak perempuanku, Anna—satu-satunya keluarga di perantauan—mengambil sikap. Dia berencana pulang kampung karena suaminya akan meneruskan bisnis keluarga di sana. Tak tega melihatku terombang-ambing di kontrakan sempit, dia memberi perintah tegas: kami harus pindah ke rumah sendiri untuk meringankan beban. Jika alasannya karena dapur belum direnovasi, dia bersedia meminjamkan rumahnya yang juga ada di sini untuk kami tempati sementara. Aku galau, tapi dia benar. Kak Anna sudah seperti orang tua bagiku. Tetapi, daripada menempati milik orang lain, lebih baik kami pindah ke rumah sendiri. Rumah Kak Anna bisa disewakan, lumayan untuk menambah income. Bagaimanapun, rumah itu sudah menjadi tanggungjawab kami. Kami berembuk singkat. Tanpa banyak protes, Iko pun menurut. Kami akhirnya pindah ke rumah sendiri. Semua biaya pindahan ditanggung kakakku. Aku pindah tanpa mertua dan adik ipar; mereka tetap di kontrakan. Adik iparku sudah bekerja, jadi mereka tidak kesulitan keuangan. Beberapa bulan terakhir, dia bahkan membantu meminjamkan uang untuk membayar kontrakan yang menunggak, tapi aku tahu semua itu ada catatannya dan kelak akan menjadi perhitungan aset. Kini, kami tinggal di rumah sendiri. Tanpa campur tangan orang lain. Susah dan senang kami jalani bertiga. Di lingkungan baru ini, mataku mulai terbuka. Selama bertahun-tahun tinggal dekat mertua, aku seolah memakai kacamata kuda; hanya lurus ke depan tanpa melihat warna-warni kehidupan orang lain. Maklum, dulu tetanggaku belum ada yang berumah tangga dan aku terlalu sibuk bekerja hingga kurang wawasan. Di sini, aku menyadari sesuatu: ada yang salah dengan kehidupanku sejak awal. Semua terlihat tidak benar setelah aku melihat dunia luar. Iko adalah satu-satunya mantan pacarku yang akhirnya menjadi suami. Kami bersama sejak aku pertama kali bekerja. Dulu, aku menyukainya karena dia sosok yang dewasa dan mengayomi, usia kami terpaut tujuh tahun. Kami dekat selama empat tahun. Waktu yang cukup panjang untuk bisa mengenal satu sama lain sebelum memutuskan menikah. Kami tidak pernah secara resmi "jadian," tapi hari-hari kami selalu bersama. Iko jugalah yang memasukkanku ke pabrik tempat kami bekerja. Sebagai rasa terima kasih, aku memberinya bingkisan. Saat itu dia sudah punya pacar, jadi kami hanya saling menyapa. Hingga suatu saat, aku terjebak masalah dengan pria asing bernama Abdul yang ternyata sudah beristri. Iko tahu aku gadis lugu dari kampung. Begitu aku bercerita, keesokan harinya dia datang bak pahlawan saat Abdul mendatangi kontrakanku. Iko menyelamatkanku dari gangguan Abdul yang hampir setiap hari memaksa ingin bertamu. Sejak itu, kami makin dekat. Iko sering datang membawakan nasi goreng atau membantu saat aku sulit. Aku sempat bertanya tentang pacarnya, khawatir dia cemburu. Iko menjawab santai bahwa mereka sudah putus. Dia bercerita bahwa pacarnya itu, Windy, ia temui secara tak sengaja saat Windy tersesat di dekat terminal. Iko menolong dan mengantarnya pulang, lalu mereka jadian. Dia tertawa menceritakan itu, dan aku menyahut sarkas, "Bisa-bisanya ketemu cewek langsung ditembak. Besok ketemu orang baru lagi, langsung nembak lagi?" "Ya enggak lah, ngaco," jawabnya malu-malu. "Kamu ingat nggak Sel? Waktu itu, sebenarnya aku ngajak kamu jalan, tapi kamu tolak.Jadilah aku ketemu cewek lain dulu, baru sekarang dekat sama kamu..." ucapnya sambil tertawa lepas. Begitulah awal kedekatan kami. Hari-hariku hanya berputar antara kerja dan Iko. Aku mengakui diriku polos, lugu, kampungan, dan tidak gaul. Seumur hidup, tak pernah ada laki-laki yang memuji cantik atau memberiku perhatian manis hingga membuat hati berbunga, kecuali Iko. Aku sempat merasa, mungkin hanya Iko yang mau denganku. Awalnya aku tak berniat serius, kupikir ini hanya pacaran biasa. Namun, rasa itu tumbuh dari simpati menjadi iba saat mendengar kisah hidup Iko dan keluarganya yang memilukan—bahkan lebih menyedihkan dari kisah hidupku yang sebenarnya sudah cukup menderita. Aku merasa kami cocok, seolah kami bisa saling mengobati luka batin masing-masing. Sebuah lubang menganga di sanubari kami sejak kecil yang mungkin bisa tertutup jika kami terus bersama. Iko akhirnya memintaku memikirkan pernikahan. Tapi kini, ganjalan besar itu muncul, yaitu restu. Keluargaku belum tahu siapa Iko. 'Bagaimana reaksi mereka jika melihat penampilannya yang urakan?' Aku mulai diliputi kegelisahan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN