Rindu Permaisuri Raqia

1049 Kata
Kerajaan Api Permaisuri Raqia menatap hamparan rumput di halaman istana. Ia hanya sendirian di sini, tatkala mengenang masa-masa awal bertemu dengan Raja Rowned. Permaisuri Raqia tersenyum kala mengingat itu. Ia masih tak percaya bisa berjodoh dengan raja nan galak tapi tegas itu. Walaupun Raja Rowned pemarah. Namun, hatinya begitu lembut saat bersama Permaisuri Raqia. Mungkin hanya Permaisuri Raqialah yang bisa melembutkan hati seorang Raja Rowned. "Mohon ampun, Yang Mulia," ucap seorang pelayan yang datang langsung membungkukkan badan. Permaisuri Raqia menatap pelayan itu lalu mengangguk pelan, alisnya terangkat terheran menanyakan ada apa. "Ya, ada apa?" tanya Permaisuri Raqia. "Ada Yang Terhormat Empu Eyang ingin berbicara dengan Yang Mulia dan Permaisuri." "Baik. Di mana Raja Rowned sekarang?" tanya Permaisuri Raqia. "Ada di ruang pejamuan, Yang Mulia." "Baiklah, aku akan segera ke sana," ucap Permaisuri Raqia segera bangkit. Pelayan itu membungkukkan badan dan berjalan di belakang sang Permaisuri. *** Permaisuri Raqia membuka pintu yang ia yakini sudah ada Empu Eyang dan suaminya di dalam sana. Saat pintu terbuka, Permaisuri Raqia langsung membungkuk memberikan hormat kepada suaminya dan Empu Eyang. "Salam hamba, Yang Terhormat Empu Eyang dan Yang Mulia Raja Rowned," ucap Permasiuri Raqia memberikan salam. "Salam kembali, Permaisuri Raqia!" jawab Empu Eyang, "silakan duduk!" lanjutnya. Permaisuri Raqia mengangguk lalu segera duduk di hadapan Empu Eyang dan suaminya. "Ampunkan hamba, Yang Terhormat Empu Eyang, sebenarnya apa tujuan Empu Eyang kemari?" tanya Raja Rowned. "Aku hanya ingin memberitahu kalian tentang Putri kalian yang sedang bersekolah di Bumitan." Mendengar itu tentu saja Permaisuri Raqia terkejut. Ada apa dengan putrinya? Apakah Putri Api melakukan sesuatu? "Emang ada apa dengan putriku, Empu Eyang?" tanya Permaisuri Raqia. "Ampunkan hamba," ucap Permaisuri Raqia terlupa, karena terlalu refleks ketika anaknya itu menjadi tujuan Emu Eyang kemari. "Apakah putriku melakukan kesalahan, Yang Terhormat Empu Eyang?" tanya Raja Rowned. "Tidak. Sama sekali tidak, kaliam tenang saja. Putri kalian baik-baik saja dan dia tak melakukan apa pun." "Lalu, apa maksud Empu Eyang tentang putri kami?" tanya Raja Rowned. "Untuk satu minggu ke depan, putri kalian harus berada di desa bumitan sampai waktu yang aku tentukan, karena ada suatu hal yang harus ia kerjakan di sana. Aku memiliki misi penting dan tugas untuknya." "Berarti, Putriku tak pulang ke istana selama itu, Empu Eyang?" tanya Permaisuri Raqia yang langsung merindu, padahal jika putrinya itu di istana, Permaisuri Raqia pasti dibuat naik darah oleh Putri Api. "Benar. Setelah tugasnya selesai, aku akan menjemputnya dan mengantarkannya kembali ke sini. Kalian tak usah khawatir," ucap Empu Eyang. "Maaf, Empu Eyang. Apakah dia sendiri di sana? Lalu, bagaimana dengan makan dan tempat tinggalnya?" tanya Raja Rowned cemas. "Jangan khawatir. Putri Vuurland itu ditemani oleh seorang teman yang akan melindunginya," ucap Empu Eyang mengingat Pangeran Air yang akan menjaga Putri Api. "Jika boleh tahu, siapa temannya, Yang Terhormat Empu Eyang?" tanya Permaisuri Raqia. Selama ini yang ia tahu, putrinya itu hanya bergaul drngan asistennya—Yaya. Dengan para putri kerajaan api yang lain pun Putri Api tampak tak acuh. "Pokoknya ada dan kalian tidak perlu temannya siapa, yang pasti putri kalian aman bersamanya," ucap Empu Eyang meyakinkan. "Baik, Yang Terhormat Empu Eyang," jawab Raja Rowned dan Permaisuri Raqia serentak. "Baiklah, hanya itu yang ingin kusampaikan. Aku harua kembali," ucap Empu Eyang. "Terima kasih, Empu Eyang atas informasinya." "Ya, sama-sama." *** Raja Rowned sejak tadi tak melihat Permaisuri Raqia. Ke mana istrinya itu? Tak biasanya menghilang. "Pengawal, apa kau melihat Permaisuri Raqia?" "Ampunkan hamba, Yang Mulia. Hamba tak melihatnya. Sejak tadi hamba berjaga di sinu tak melihat satu jejak pun." Raja Rowned mengangguk singkat, lalu kembali berjalan menyusuri lorong istana yang panjang. "Pelayan. Apa kalian melihat Permaisuri Raqia?" tanya Raja Rowned yang sedang berkumpul di dapur. "Ampunkan hamba, Yang Mulia. Kami tidak melihat Yang Mulia Permaisuri," jawab salah satu dari mereka. "Bagaimana mungkin kalian tak melihatnya!" ucap Raja Rowned gusar. "Mohon ampun, Yang Mulia. Jika boleh hamba bertanya. Siapa orang yang sedang Yang Mulia cari?" tanya Yaya yang baru datang ke dapur melihat sang raja tengah menanyakan seseorang. Yaya tak mendengar jelas tadi apa yang diucapkan Raja Rowned. "Yaya, apa kau melihat istriku?" tanya Raja Rowned. Yaya langsung mengangguk dan membungkukkan badannya. "Ya, hamba melihatnya, Yang Mulia." "Di mana?" "Permaisuri Raqia sekarang sedang berada di ruangan Putri Api, Yang Mulia." "Terima kasih." Raja Rowned langsung pergi dari situ dan melangkah ke ruangan Putri Api. Pinti dibuka oleh Raja Rowned yang langsung menampakkan istrinya sedang duduk di atas kasur. "Dari tadi aku mencarimu, kenapa kau tak memberitahuku dahulu?" "Maaf, Yang Mulia." Hanya itu jawaban yang diberikan oleh Permàisuri Raqia. Ia tampak lesu tak bersemangat. "Ada apa dengan kau? Kenapa kau tampak lesu? Apa kau sakit?" tanya Raja Rowned panik. "Aku baik-baik saja." "Apa yang terjadi denganmu? Katakanlah." "Aku hanya rindu pada putri kita. Sudah dua hari dia tak di istana. Aku mengkhawatirkan kondisinya," ucap Permaisuri Raqia mengembuskan napas pelan. "Istriku ... kau pikir aku tak rindu? Aku pun sama dengan kau, tetapi kau ingat apa yang dikatakan Empu Eyang? Ia akan menjaga Putri kita. Kau tak perlu khawatir." "Ya tetap saja aku mengkhawatirkannya, karena dia anakku." Raja Rowned memegang pundak istrinya itu lalu mengusapnya pelan, menenangkannya. "Putri kita adalah putri yang istimewa. Harusnya kau bangga dengan itu. Sekarang, dia sedang mendapatkan tugas dari Empu Eyang. Kau harusnya mendukung bukan seperti ini." "Percayalah, Istriku. Putri kita baik-baik saja, dia sedang menjalankan misi. Kita patutnya bangga, hanya orang terpilih yang mendapatkan misi dari Empu Eyang." Air mata lolis dari pelupuk mata Permaisuri Raqia. Ia mengangguk, lalu menghapus jejak air matanya. "Kau benar, suamiku," ucap Permaisuri Raqia tersenyum. Raja Rowned pun ikut tersenyum. Istrinya itu akan memanggilnya dengan sebutan 'suamiku' jika ia sedang bermanja atau mengakui kesalahan. "Kau istri kedua, tetapi kau istri tercinta," ucap Raja Rowned yang membuat rona merah muncul di pipi Permaisuri Raqia. Raja Rowned akan selalu mengatakan kalimat itu untuk membujuk Permaisuri Raqia. "Sudah, hapus air matamu," ucap Raja Rowned. "Mari kita nanti kepulangan putri kita, mungkin beberapa hari lagi." "Iya, Yang Mulia. Sekarang aku merasa lebih tenang. Aku tak sabar menunggu putri kita pulang." "Ya sudah. Mari kita makan malam, aku tahu kau sudah lapar," ajak Raja Rowned. Ia mengulurkan tangan dan Permaisuri Raqia menerima uluran tangan Raja Rowned. Mereka akhirnya makan malam bersama. *** BERSAMBUNG *** Ada yang setuju nggak kalo aku buatin kisah cinta Raja Rowned dan Permaisuri Raqia nanti? Hihi tungguin aja ya. Salam hangat, ~Amalia Ulan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN