Tempat Baru

1044 Kata
"Maka dari itu, kalian berdua harus pindah sekolah," ucap Empu Eyang yang membuat Putri Api dan Pangeran Air melongo tak percaya. "Ke mana, Empu Eyang?" tanya Putri Api. Empu Eyang tak menjawab, ia tersenyum singkat. Lalu, menarik kedua tangan mereka pergi dari sana. Ke manakah Empu Eyang memindahkan mereka? Dalam sekejap, mereka sudah berpindah tempat. Putri Api tersadar jika gerakan tadi sangat cepat. Ia menatap daerah sekitarnya. Tampak luas, dengan pemandangan hijau menyejukkan, ia seperti sedang berada di gurun sekarang. "Ini adalah daerah Prut-an masih berada di Negeri Bumitan. Daerah ini sepi tak banyak dikunjungi oleh orang-orang. Kalian akan tinggal di sini selama satu bulan ke depan," ujar Empu Eyang. "Mohon ampun, Empu Eyang. Di mana saya tinggal?" tanya Pangeran Air. "Tampaknya, tidak ada rumah di sekitar sini," sambungnya. "Itu tugas kalian. Carilah sebuah rumah kosong dan tinggal bersama di sana," ucap Empu Eyang yang membuat Putri Api melotot tak percaya. "Tinggal bersama?" tanya Putri Api tak percaya. "Iya." "Mohon ampun, Empu Eyang. Apa tujuan Empu membawa kami ke sini?" "Nanti akan kuberikan sebuah misi untuk kalian. Tapi, sebelum itu. Kalian harus bisa bekerja sama dengan baik terlebih dahulu. Kekompakkan kalian sangat diperlukan." Lagi dan lagi, Putri Api melotot. Pangeran Air diam saja, ia mengembuskan napas pelan. "Lalu, bagaimana dengan orang tua kami, Empu? Mereka belum mengetahui tentang ini, karena sangat mendadak." Empu Eyang beralih menatap Pangeran Air. "Tenang saja. Orang tua kalian biar aku yang memberitahukan. Ini adalah perintah untuk kalian, laksanakan dengan baik!" "Baik, Yang Terhormat Empu Eyang," ucap Putri Api dan Pangeran Air bersamaan. "Ya sudah. Kalian aku tinggalkan di sini. Berpandai-pandailah. Satu minggu lagi aku kembali ke sini memberikan kalian sebuah misi besar." Putri Api dan Pangeran Air membungkukkan badannya. Empu Eyang menepuk pelan bahu Pangeran Air. "Jaga gadis itu, dia tanggung jawabmu!" seru Empu Eyang, Pangeran Air mengangguk singkat, lalu menundukkan kepalanya. "Hamba siap menerima perintah, Yang Terhormat Empu Eyang." "Bagus." Setelah itu, Empu Eyang menghilang dalam sekejap. Putri Api menghela napas gusar. Apa salah dan dosanya, sehingga Empu Eyang mencampakkannya ke sini? Berdua dengan laki-laki dingin itu pula. "Kita pasti sudah berdosa," ucap Putri Api batu besar di belakangnya. Pangeran Air ikut duduk di batu samping Putri Api. Gadis itu menarik ilalang yang menjuntai di dekatnya, ia cabut lalu dicabik-cabikkannya. "Katanya, kita mau dipindahkan sekolah. Ini mah, pindah rumah, bahkan pindah negara," dengkus Putri Api. "Terima nasib," ucap Pangeran Air bersuara. "Ini semua pasti salah kau, kan? Aku jadi terbawa-bawa." "Terbalik dengan kenyataan sesungguhnya." Ish, bagaimana cara hidup sebulan di sini bersama pria dingin berhati batu seperti dia! batin Putri Api kesal. "Aku bisa mendengarmu," ucap Pangeran Air datar. Putri Api menutup mulutnya, perasaannya, ia tadi tidak berbicara keras. "Kau bisa mendengar ucapanku?" "Hm." "Bagaimana bisa?" "Bisa." "Bagaimana caranya?" tanya Putri Api. "Entah." Putri Api melengos pasrah. Ia menatap matahari yang semakin meredup. "Malam ini aku tidur di mana?" tanya Putri Api menatap sekeliling yang tampak sepi. "Mana tidak ada baju ganti lagi, huft!" Putri Api mulai memikirkan bagaimana hidupnya di sini. Dari mana ia bisa mendapatkan makanan? Berganti pakaian, berteduh apabila hujan? Sungguh, Putri Api ingin ia terbangun dari mimpi buruk ini sekarang juga. Sebenarnya apa tujuan Empu Eyang menelantarkannya di sini? Secara mendadak pula, Putri Api benar-benar tak menyangka. "Jangan kebanyakan mengeluh!" ucap Pangeran Air. Putri Api memutar bola matanya malas. "Aku tidak mengeluh, tapi memikirkan bagaimana caraku hidup untuk satu bulan ke depan." Pangeran Air diam saja. Ia memandang langit yang sudah mulai berubah warna, sebentar lagi langit akan menyambut datangnya malam yang diterangi oleh rembulan. Namun, mereka belum juga mendapatkan tempat berteduh. "Masa iya, kita tidur di semak-semak ini!" kesal Putri Api. Pangeran Air bangkit, Putri Api menoleh menatap pria itu. "Hei, kau mau ke mana?" tanya Putri Api. Pria itu tak menjawab, ia langsung berlalu begitu saja. Putri Api yang tak ingin ditinggal sendiri segera mengejar pria itu dan mengikuti langkah Pangeran Air. Putri Api yang berlari kencang, tak menyadari jika ada batu di depannya, membuat gadis itu tersandung lalu terjatuh ke depan. Sialnya, Pangeran Air yang berada di depan ikut terjatuh akibat dorongan dari badan Putri Api. Gadis itu meringis, ia menutup matanya, merasakan kakinya yang sakit tersandung. Namun, ia cepat-cepat membuka mata, karena ia seperti berada di atas badan seseorang. Benar saja, Putri Api berada di atas badan Pangeran Air. Gadis itu melebarkan matanya. Ia buru-buru bangkit, sebelum pria itu menghujamnya dengan kata-k********r. Pangeran Air hanya menatap datar, gerakan tadi sangat cepat, ia sempat mencium rambut lembut gadis itu yang wangi. Pangeran Air bangkit, ia menatap Putri Api yang tak berani menatapnya. "Ma-maaf," ucap Putri Api menunduk. Pangeran Air menghela napas gusar. Ia lalu menatap ke arah pergelangan kaki gadis itu yang tampak memar. Putri Api takut, pria itu pasti pada marah padanya. Bagaimana jika Pangeran Air pergi meninggalkannya? Putri tidak akan mampu hidup sendiri dalam keadaan seperti ini. Putri Api terkejut, ketika Pangeran Air berjongkok di depannya. "Eh, kau mau, apa?" tanya Putri Api sedikit menjauh. Pangeran Air tetap diam, ia sepertinya sangat menghemat suara. Pangeran Air menyentuh pergelangan kaki Putri Api, gadis itu langsung meringis. "Coba jalan!" suruh Pangeran Air. Putri Api mencoba menggerakkan kakinya, ia melangkah ke depan. Namun, baru satu langkah, kakinya terasa ngilu dan hampir saja Putri Api terjengkang, jika Pangeran Air tak menahan badannya. Putri Api menatap mata tajam Pangeran Air, muka pria itu tetap saja datar. Namun, pesonanya tak bisa ditutupi. Putri Api tersenyum pelan. "Kau tak bisa berjalan?" tanya Pangeran Air. "Bi-bisa." Pangeran Air melepaskan pelukannya. Ia membiarkan Putri Api berdiri dan mencoba berjalan kembali. Namun, gadis itu meringis, sembari memegangi kakinya. Tanpa aba-aba, Pangeran Air langsung mengangkat badan Putri Api. Gadis itu sempat terpekik, ia langsung mengalungkan tangannya di leher pria itu. Pangeran Air menatap Putri Api sebentar, lalu ia kembali menghadap depan. Pria itu mulai berjalan sambil menggendong gadis itu. Mata Putri Api tak lepas dari rahang kokoh nan sempurna milik Pangeran Air. Dalam diamnya, Putri Api tersenyum, merasa nyaman dan terlindungi bersama Pangeran Air. Apakah gadis itu sudah menaruh hati pada pria yang berasal dari Negara Land Water itu? *** Hallo, Guys! Semoga suka, ya. Maaf aku lama update. Semoga masih setia menunggu, ya. Makasih bagi yang mau baca. Thank u guys! Salam, ~Amalia Ulan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN