Terbongkar

1051 Kata
Reina mencoba menenangkan Pangeran Air, ia memegang pundak pria itu. Namun, detik itu juga Reina terpekik, merasakan tangannya yang terasa perih seperti dilahap api. "Hei, Reina lo kenapa?" tanya Johan. Gawat. Pangeran Air sudah berapi-rapi sekarang. "Gue gapapa, kok." Pangeran Air mencoba mengontrol emosinya. Padahal, dulunya ia sangat sabar tak mudah terpancing, tapi sekarang kenapa dirinya mudah dikuasai oleh emosi? Pangeran Air mengusap-usap tangannya, mencoba memadamkan api yang bermunculan dari telapak tangannya. "Heh! Lo minta maaf, dong!" bentak Johan mendorong pundak Pangeran Air. Api yang tadinya hendak padam kembali bercahaya. Mata Pangeran Air berapi-api ingin sekali membakar semua isi kelas ini. "WOY!" betak Johan, karena Pangeran Air tak menanggapinya. Brakk .... Pangeran Air menepuk keras meja di depannya yang membuat meja itu langsung terbakar. Semua orang terkejut dengan aksi Pangeran Air. "Hah, kenapa bisa terbakar?" "Cepat padamkan, Woy!" "Ambil air, ambil air cepat." "Bakar ... bakar!" (?) "Biarin aja sekolah ini terbakar, biar gak belajar." (?) Dalam keadaan darurat seperti ini masih saja ada yang senang. Api semakin merebak, semua orang kalang kabut, karena takut terkena semburat merah itu. Seorang gadis tiba-tiba masuk ke dalam kelas dengan berlari. Ia langsung mendekati Pangeran Air. Siapa lagi jika bukan Putri Api, gadis itu menarik tangan Pangeran Air pergi dari sana, karena pria itu tetap saja duduk dalam keadaan menunduk—setelah membakar meja tadi. Tangan Putri Api terulur di depan muka Pangeran Air. Pria itu menoleh menatap Putri Api yang mengajaknya ke luar kelas. Akhirnya, pria itu menerima uluran tangan Putri Api. Ia bangkit, lalu mendorong bangkunya. Api yang tadinya membakar satu meja sudah melahap beberapa meja di sampingnya. Ya, cepat sekali api itu merebak ke penjuru kelas. Putri Api meletakkan tangannya ke meja Pangeran Air yang terbakar itu. Brush. Semua api yang ada di kelas tiba-tiba padam, hanya karena sentuhan telapak tangan Putri Api. Semua orang kembali dibuat tercengang dan tak mengerti dengan semua yang terjadi, terlalu aneh dan tidak masuk akal. Tidak ada korek bisa ada api, tidak ada pemadam kebakaran, api besar langsung padam. Tanpa membuat semua orang semakin terheran, Putri Api menarik tangan Pangeran Air ke luar dari kelas itu. *** Putri Api membawa Pangeran Air ke taman di belakang sekolah. Pria itu langsung duduk di kursi panjanh yang ada di taman. Putri Api ikut duduk di samping Pangeran Air. "Kau bawa korek?" tanya Putri Api. "Tidak." "Kenapa kelas bisa terbakar?" "Entah." "Bukannya kau yang membakar meja itu?" "Iya." "Jadi, kau membakarnya memakai apa?" tanya Putri Api. Tidak mungkin bukan, Pangeran Air menjawab memakai telapak tangannya sendiri? "Kau memadamkan api tadi dengan apa?" tanya balik Pangeran Air. Putri Api terdiam, ia seperti diserang pertanyaan sendiri. "Ta-tadi, kan, teman-teman di kelas yang memadamkannya." Pangeran Air hanya diam tak menanggapi. Ia mengatur napasnya yang tak beraturan. Pangeran Air berpikir keras akhir-akhir ini, karena keanehan yang ada pada dirinya. Kenapa bisa ada api dalam dirinya? Bukankah ia adalah seorang pangeran dari kerajaan air? "Jujur saja, kau berasal dari negeri apa sebenarnya?" tanya Pangeran Air. Putri Api terkejut tak tahu harus menjawab apa. "Aku sudaj jawab, aku berasal dari negeri--" "Aku yakin kau berbohong." Putri Api terdiam. Pangeran Air menatap mata Putri Api, gadis itu balik menatap. "Kau dari Negeri Landwater, kan?" tanya Pangeran Air, lalu kembali menghadap depan. Putri Api terkejut, padahal Pangeran Air salah menebak. Namun, kenapa darahnya berdesir mendengar nama negeri itu. Akankah Putri Api mengiyakan saja? Agar pangeran Air tidak curiga. Putri Api memilih diam saja. "Kau dari Negeri Vuurland, kan?" tanya balik Putri Api. Pangeran Air terdiam, ia kembali menatap Putri Api. Tatapan mata pria itu cukup menghipnotis Putri Api agar terus menatapnya. "Iya," jawab Pangeran Air tanpa ragu, walau Putri Api salah sebenarnya. Pangeran Air tentu saja tak ingin orang lain tahu, ia berasal dari Negeri Landwater sebenarnya. Tebakan mereka mungkin sama-sama salah. Namun, andaikan mereka tahu, jika pengakuan mereka tadi adalah kenyataan sesungguhnya. Memang Putri Api berasal dari Negeri Landwater aslinya, begitu pun dengan Pangeran Air berasal dari Negeri Vuurland. Kenapa Pangeran Air bisa beranggapan jika Putri Api berasal dari Negeri Landwater? Itu karena gadis itu dilihatnya mempunyai kekuatan air. Sedangkan Putri Api yang beranggapan Pangeran Air dari Negeri Vuurland, karena pria itu sudah berkali-kali tampak membakar sesuatu. Ada yang aneh. Aku, kan, Putri Kerajaan Van Vuur, kenapa tidak pernah bertemu dengan laki-laki ini? Apa dia hanya orang biasa saja dan sedikit bisa memakai kekuatan api? Akan tetapi, bukannya hanya anggota kerajaan Api saja yang mempunyai kekuatan? Oh, apa mungkin, dia pangeran kerajaan api lain yang tak pernah hadir rapat kerajaan? batin Putri Api berkecamuk memikirkan Pangeran Air yang tak pernah dilihatnya di Negeri Vuurland, memang wilayah itu luas. Akan tetapi, biasanya Putri Api mengenali rakyatnya, apalagi Pangeran Air mempunyai kekuatan api. Bukankah kekuatan hanya dimiliki anggota kerajaan? Tak ada bedanya, Pangeran Air juga berpikir keras. Berarti aku pangerannya gadis ini. Kenapa dia bisa mempunyai kekuatan air, ya? Dia Putri Kerajaan Air apa? Aku belum pernah melihatnya dalam rapat kerajaan. Batin Pangeran Air. Tiba-tiba sebuah cahaya di depan mereka membuat keduanya mengalihkan perhatian ke cahaya itu. Empu Eyang langsung tampak dari cahaya itu, ia berjalan mendekati dua sejoli yang sedang duduk di bangku taman itu. Buru-buru Pangeran Air dan Putri Api bangkit, lalu membungkukkan badannya. Mereka kompak mengucapkan salam untuk Empu Eyang. "Salam hamba, Yang Terhormat Empu Eyang!" salam keduanya. "Salam." "Kalian tampak sudah akur," ucap Empu Eyang tersenyum senang. Mereka bertatapan sebentar, lalu sama-sama membuang muka. "Mohon ampun, Empu Eyang. Ada apa Empu datang kemari?" tanya Putri Api. "Pertanyaan yang sama, Yang Terhormat Empu Eyang," ucap Pangeran Air pula. "Satu minggu lagi. Kalian akan saya bawa ke suatu tempat," ucap Empu Eyang. "Mohon ampun, Empu Eyang. Ke mana hamba akan dibawa?" tanya Pangeran Air. "Pertanyaan yang sama, Empu Eyang!" ucap Putri Api pula menyindir Pangeran Air. Namun, yang disindir tak merasa tersindir. "Jangan sampai ada yang tahu tentang kekuatan kalian!" ucap Empu Eyang. "Mohon ampun, Empu Eyang. Saya sudah melakukan kesalahan. Semua teman sekelas saya sudah mengetahui jika saya mempunyai kekuatan." "Maka dari itu, kalian berdua harus pindah sekolah," ucap Empu Eyang yang membuat Putri Api dan Pangeran Air melongo tak percaya. "Ke mana, Empu Eyang?" tanya Putri Api. Empu Eyang tak menjawab, ia tersenyum singkat. Lalu, .... **** Hallo! Jangan lupa klik lovenya, ya! Terima kasih. Aku gak kunci babnya loh, jangan pelit lovenya, ya! Thanks ~Amalia Ulan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN