"Keluar, Kalian!" bentak Pangeran Air keras, mengejutkan dua orang yang tengah berbincang tadi.
"Pangeran Air, ada apa, Nak?" Pangeran Air terkejut mendengar suara dari belakangnya. Sudah ada Permaisuri Delita di belakang Pangeran Air.
"Ehm, tidak ada, Ibunda."
"Istirahatlah, Nak!" ucap Permaisuri Delita mengusap bahu Pangeran Air pelan. Anaknya itu tersenyum menanggapi. Setelah itu, Permaisuri Delita meninggalkan Pangeran Air.
"Siapa yang berbicara tadi?" tanya Pangeran Air, karena ia tak dapat melihat orang itu. Firasat Pangeran Air mengatakan jika dua orang itu hanyalah prajurit biasa. Namun, bagaimana jika prajurit itu adalah penyusup?
Lebih baik sekarang Pangeran Air kembali ke kamarnya saja. Ia cukup waspada saja.
Untuk apa mereka menculik seorang gadis?
***
SEKOLAH
Pangeran Air datang lebih awal pagi ini. Ia tak ingin terlambat dan mendapatkan hukuman lagi dari Pak Bondan. Langkah Pangeran Air berhenti, ketika ada seorang gadis menghalangi langkahnya.
"Selamat pagi, Dafta." Pangeran Air hanya diam menampilkan muka datar khasnya.
"Ini, ada bekal untuk kamu." Reina menyerahkan kotak bekalnya kepada Pangeran Air.
"Tidak usah," tolak Pangeran Air.
"Ambillah, please!" mohon Reina menarik tangan Pangeran Air, lalu meletakkan kotak bekal itu di tangan Pangeran Air.
Lagi, Pangeran Air menggelengkan kepalanya, lalu kembali menyodorkan kotak itu ke Reina.
"Kali ini aja, ya. Terimalah, Dafta!"
"Maaf, saya–" Tiba-tiba ada sebuah tangan yang langsung mengambil kotak bekal itu dari tangan Pangeran Air.
"Buat aku saja," ucap gadis itu santai, yang membuat Reina melotot tak terima.
"HEH! Itu bukan buat, lo! Kembaliin, gak!"
"Eits ... apa yang sudah diberi tak boleh diminta kembali," ucap Putri Api mencibir Reina.
"Tapi gue masak bukan buat lo!"
Putri Api mengangkat kedua bahunya acuh, ia lalu menarik tangan Pangeran Air santai pergi dari situ meninggalkan Reina yang mengentakkan kakinya kesal.
Pangeran Air hanya diam, ia menuruti saja ke mana gadis itu membawanya. Lihatlah ... betapa santainya Putri Api menggandeng tangan Pangeran Air—mungkin ia belum sadar.
"Sepertinya, kita harus bisa berbicara seperti bahasa mereka," oceh Putri Api sejak tadi.
"Mereka, kan, make kata lo-gue gitu kalau berbicara. Huft ... sepertinya, mereka terlalu santai jika berbicara, tidak seperti di istana yang kaku sekali."
Pangeran Air menatap datar. Gadis itu tetap saja mengoceh tak jelas, tal menyadari jika tangan Pangeran Air sejak tadi digenggamnya.
"Mulai sekarang ... kita harus berbicara seperti mereka."
"Hekhem." Pangeran Air berdehem.
"Hmm ... mereka menyebut aku itu biasanya apa, ya. Oh, yah ... aku mereka nyebutnya lo. Kalau kamu itu gue." Putri Api masih saja tak menyadari kodean yang sejak tadi Pangeran Air berikan.
"Ekhem."
"Gue kenapa? Lagi batuk, ya?" tanya Putri Api menatap Pangeran Air yang berdehem sejak tadi.
"Ha?" Pangeran Air tak mengerti. Dahinya berkerut, Putri Api memutar bola matanya.
"Kamu kenapa, lagi batuk? Itu artinya! Masih aja tidak mengerti. Aku kan mau berbahasa gaul seperti mereka juga. Eh, kamu tidak bisa berbicara seperti mereka juga, kan? Kok, kita sama, ya?"
"Tangannya bisa dilepas?" tanya Pangeran Air. Putri Api tersentak, ia baru menyadari jika sejak tadi mengganggam tangan pria itu.
"Gue dingin banget, sih. Biasa aja, dong!" dengkus Putri Api. Detik berikutnya, ia berteriak senang karena merasa sudah bisa berbahasa santai seperti teman-temannya.Tanpa sadar, Putri Api kegirangan memegang lengan Pangeran Air.
Pria itu menghela napas sebentar, gadis itu sangat aneh menurutnya, kadang bisa menjadi galak, kadang polos, terkadang juga lemot dan seperti anak-anak.
Pangeran Air melepaskan tangan Putri Api, lalu beranjak dari situ. Namun, tangannya dicekal kembali oleh Putri Api. Pangeran Air menoleh ke belakang, menatap Putri Api yang tengah menatapnya sambil tersenyum.
"Nama gue Dafta, kan?" Pangeran Air mendengkus pelan.
"Nama lo Pricil, bukan Dafta," balas Pangeran Air.
Alis Putri Api mengkerut. "Nama kamu kan, Dafta! Hih, kok ngaku bernama Pricil?"
"Lo adalah kamu. Gue adalah aku," ucap Pangeran Air menjelaskan, ia memang sudah paham.
"Kebalik, dong?"
"Iya."
"Oh, oke. Makasih, Dafta."
"Tangannya bisa dilepas?" tanya Pangeran Air lagi menatap tangannya yang dipegang terus oleh Putri Api.
"Eh, iya. Maaf."
Setelah itu, Pangeran Air pergi dari situ. Putri Api mengerucutkan bibirnya.
"Aku belum bisa meraba tangannya untuk melihat dia berasal dari negeri mana!" kesal Putri Api. Ia sengaja sejak tadi memegang tangan Pangeran Air, agar bisa melihat asal pria itu.
Putri Api menatap tangannya yang terasa menghangat. Perlahan cahaya-cahaya yang sudah lama redup bercahaya sedikit.
"Eh, apiku hidup kembali?"
"Kenapa apiku seperti mendapat asupan energi?"
"Apa mungkin, pria itu yang menghidupkan apiku?"
Putri Api membulatkan mulutnya, lalu segera mengejar Pangeran Air untuk meminta penjelasan.
***
Sepi sekali rasanya tidak ada Yaya yang menemani Putri Api. Lagi dan lagi, Yaya mendapatkan perintah dari Permaisuri Raqia. Alhasil, Putri Api tidak memiliki teman jika di sekolah.
"Hai," sapa seorang gadis mendekati Putri Api.
"Salam," ucap Putri Api menundukkan kepalanya. Gadis yang menyapa Putri Api sedikit heran dengan respons Putri Api.
"Boleh gue duduk sama lo?"
"Silakan."
"Kenalin, nama gue Fara." Gadis itu mengulurkan tangannya. Putri Api menerima uluran tangan itu.
"Tangan lo dingin banget, ya. Kayak es batu."
"Ha?" Putri Api tersenyum kikuk. Untung saja, tangannya tak menyemburkan api, jika tidak tangan Fara pasti melepuh dibuatnya.
"Gue gak punya teman juga di sini. Ya, jadi gue lihat lo juga sendiri, makanya gue samperin, hehe."
"Lo punya teman namanya, Yaya. Tapi, dia tak bisa hadir, makanya lo sendiri." Fara mengerutkan keningnya bingung mendengar ucapan Putri Api.
"Eh, ehm ... mak--maksudnya, aku punya teman, namanya Yaya. Dia gak hadir," ulang Putri Api. Ia belum bisa menyesuaikan berbicara dengan bahasa santai seperti mereka.
"Lo dari mana, sih? Gak bisa bahasa non formal, ya?"
"Da--dari negeri seberang. Bi--bisa, kok. Cuman lagi gugup aja."
"Oh, oke."
Sekilas Putri Api melihat bayangan Pangeran Air melintas di depan kelasnya. Buru-buru Putri Api bangkit lalu mengejar Pangeran Air.
"Pricil itu Putri Kerajaan bukan, sih?" pikir Rara yang masih dilanda rasa penasaran. Sejak kedatangan Putri Api di sekolah ini, ia sudah memiliki firasat jika Putri Api bukan hanya gadis biasa. Fara semakin penasaran dibuatnya.
Putri Api mengejar Pangeran Air yang berjalan sangat cepat. Ia akhirnya berhasil meraih ujung baju belakang Pangeran Air. Pria itu tersentak, lalu membalikkan badan. Pangeran Air mengembuskan napas gusar lagi-lagi melihat Putri Api yang mengganggunya.
"Ada apa, sih?" tanya Pangeran Air kesal.
Putri Api mengatur napasnya sebentar, lalu kembali menarik tangan Pangeran Air. Pria itu berdecak pelan, lalu melepaskan tangan Putri Api dari tangannya dengan entakkan.
"Jangan sentuh saya!" tegur Pangeran Air datar.
Siapa juga yang mau nyentuh dia. Aku kan cuma penasaran dia berasal dari mana! batin Putri Api kesal.
"Lo berasal dari negeri apa, sih, sebenarnya?" tanya Putri Api yang membuat Pangeran Air terdiam.
"Negeri seberang."
"Ya, apa nama negerinya?" tanya Putri Api, walaupun ia juga mengaku berasal dari negeri seberang, tetapi ia juga penasaran Pangeran Air berasal dari negeri mana. Apakah mereka berada di negeri yang sama?
"Kau tak perlu tahu."
"Kenapa? Apa salahnya aku tahu kau dari negeri mana."
"Jika begitu, kau berasal dari negeri apa?" tanya balik Pangeran Air yang membuat Putri Api kikuk, kenapa ia terjebak oleh pertanyannya sendiri. Putri Api menurutuki dirinya sendiri.
"Negeri Ca-Cacaiyan," ucap Putri Api asal menyebutkan nama negara.
"Oh." Pangeran Air sedikit tak percaya, tapi ia bersikap seolah biasa saja.
"Sekarang jawab pertanyaanku. Kau dari negeri apa?" tanya Putri Api lagi.
"Aku dari Negeri Sieksien."
Putri Api mengerutkan keningnya tak percaya.
"Negeri Seksien?"
"I-iya." Pangeran Air tersadar, ia merutuki diri sendiri, karena salah pula memilih nama negara. Argh! Padahal banyak nama negara yang lain. Batin Pangeran Air kesal.
"Negeri Sieksien negeri para gadis berdandan, kan?" Pipi Pangeran Air langsung memerah.
"Pfft ...." Akhirnya, tawa Putri Api pecah. Ia tertawa kencang sembari memegang perutnya. Muka Pangeran Air sudah semerah kepiting rebus, akibat malu ditertawakan Putri Api.
Pangeran Air memilih berlalu dari situ, sebelum rasa malunya bertambah dilihat banyak orang.
Putri Api mengatur napasnya, mencoba mengontrol dirinya yang masih geli untuk tertawa.
"Pria dingin yang sombong itu lucu juga, ya. Mana mungkin aku percaya dengannya," ucap Putri Api.
****
Pangeran Air terkejut melihat seorang gadis yang tiba-tiba muncul di depannya. Ia menghela napas sebentar.
"Apa yang kau inginkan?"
"Jadi, kamu berasal dari Negeri Sieksien, Daf?" tanya Reina yang membuat pipi Pangeran Air kembali memerah.
"Wah, Tante aku ada di sana, jadi tukang dandan kuku."
Pangeran Air berdehem pelan, lalu mengabaikan saja Reina seperti angin lalu.
"Daf, jadi lo dari negara para gadis?"
"Widih, si Dafta jadi tukang dandan apa, ya?"
"Tukang make up pengantin, mungkin."
"HAHAHAHA." Satu kelas tergelak, menertawakan Pangeran Air.
Awalnya, Pangeran Air memang tak mempermasalahkan. Terserah apa kata mereka jika menertawakannya. Namun, tiba-tiba satu gulungan kertas mengenai kepala Pangeran Air yang membuat pria itu menepuk meja keras.
Mata Pangeran Air tanpa ia sadari berubah mengeluarkan api. Cahaya di matanya berkobar-kobar. Sekuat tenaga Pangeran Air menahan untuk tak menampakkan kemarahannya, jangan sampai ia mengeluarkan kekuatannya.
Reina mencoba menenangkan Pangeran Air, ia memegang pundak pria itu. Namun, detik itu juga Reina terpekik, merasakan tangannya yang terasa perih seperti dilahap api.
"Hei, Reina lo kenapa?" tanya Johan.
Gawat. Pangeran Air sudah berapi-rapi sekarang.
***
Hallo. Makasih yang udah mau baca. Ayo, tinggalkan jejak setelah baca, ya. Maafkan segala kekurangan, semoga suka, ya.
Thanks
~Amalia Ulan