KERAJAAN AIR
"Mohon ampun, Ayahanda. Ada apa ananda dipanggil kemari?" tanya Pangeran Air membungkukkan badannya.
"Putraku, Pangeran Air. Apa kau bersedia mencalonkan diri menjadi Putra Mahkota Kerajaan Van Water?"
Pangeran Air diam sejenak. Lalu membungkuk pelan.
"Ananda bersedia jika Ayahanda mengizinkan."
Raja Dafnas menatap putranya itu bangga, tangannya mengusap pundak Pangeran Air pelan.
"Saingan kau adalah Pangeran Darni."
Pangeran Darni adalah kakak sepupu Pangeran Air. Ia adalah anak Raja Darnas—Kakak Raja Dafnas.
"Baik, Ayahanda." Pangeran Air mengangguk saja membayangkan lawannya nanti. Pangeran Air tak terlalu akrab dengan Pangeran Darni.
"Persiapkan diri dan perbanyak latihan. Kau harus menguasai kekuatanmu sendiri."
"Baik, Ayahanda."
Pangeran Air membungkukkan badannya.
"Ananda mohon pamit, Ayahanda."
"Silakan, Putraku."
Pangeran Air mengangguk, lalu segera berlalu dari sana. Permaisuri Delita yang mendengar percakapan suami dan anaknya itu mendadak cemas. Ia ingin memberitahu berita ini tentunya kepada Empu Eyang.
***
"Tidak masalah, jika Pangeran Air mencalonkan diri menjadi Putra Mahkota. Kau tenang saja," ujar Empu Eyang berdiri sambil berpunggung tangan.
"Ampun, Ayahanda. Bagaimana jika Pangeran Air menghidupkan api lagi di istana bawah laut, Ayahanda?"
Empu Eyang bedehem pelan.Ia juga sempat memikirkan hal itu.
"Gadis itu harus datang ke sini, supaya semuanya aman."
"Gadis? Siapa maksud, Ayahanda?" tanya Permaisuri Delita.
"Putri kandungmu, Delita."
Hati Permaisuri Delita mendadak menghangat mendengarnya. Ia sungguh sudah tidak sabar ingin bertemu dengan putrinya itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Putri Api.
Kira-kira, seperti apa ya, dia sekarang. Batin Permaisuri Delita.
"Hamba sudah tak sabar bertemu dengannya, Ayahanda."
"Nantikan saja, kau bisa bertemu dengannya."
"Baik, Ayahanda."
***
Pangeran Air berjalan di sepanjang lorong istana. Langkahnya tak tahu arah pergi ke mana. Tadi Pangeran Air sudah pergi ke taman. Namun, langkah kakinya berbelok ke dapur istana. Sekarang, kakinya itu melangkah ke ruangannya kembali.
Tiba-tiba, dari arah berlawanan ada serangan, dengan sigap Pangeran Air mengelak dan menangkis serangan itu. Siapa yang telah menyerangnya?
"Bagus juga serangan kau, Pangeran Dafta." Pangeran Air berbalik, mencari pemilik suara itu.
"Tapi, kau tak lebih hebat dariku," lanjut pria itu tersenyum sinis. Pangeran Air menghela napas pelan, malas sekali berdebat dengan Pangeran Darni.
Pangeran Air tak menanggapi, ia kembali berbalik berjalan meninggalkan Pangeran Dani yang menatapnya tajam.
Lagi, serangan hampir mengenai Pangeran Air, denga sigap pria itu menghindari serangan.
"Apa masalahmu?" tanya Pangeran Air dingin.
Pangeran Darni menepuk-nepuk pundak Pangeran Air.
"Dik," panggil Pangeran Darni. Pangeran Air diam saja. "Kau tak layak menjadi Putra Mahkota," lanjutnya.
Pangeran Air tersenyum miring, lalu menoleh sebentar menatap wajah kakak sepupunya itu.
"Lalu, apa kau layak?" tanya Pangeran Air menusuk.
Pangeran Darni menatap tak suka, merasa diremehkan. Ia menggumpal tangannya, hendak menyerang Pangeran Air.
Tangan Pangeran Darni menyentuh punggung Pangeran Air. Namun, tiba-tiba pria itu berteriak, karena terkejut. Tangannya ditarik kembali.
Pangeran Air yang melihat itu hanya diam sembari menatap datar.
"Menyentuhku saja kau tak mampu," sinis Pangeran Air.
"DIAM KAU!" bentak Pangeran Darni.
Pangeran Air berbalik, meninggalkan Pangeran Darni yang memanas. Selepas kepergian Pangeran Air. Pangeran Dani menatap telapak tangannya heran.
Pada saat menyentuh Pangeran Air, tangannya terasa terbakar, hampir saja tangannya melepuh dibuatnya.
Kenapa badan Pangeran Air begitu panas?
"Apakah Dafta mempunyai kekuatan lain?" tanya Pangeran Darni heran.
***
Pangeran Air memutar-mutar kalung di tangannya. Kalung yang diberikan oleh Empu Eyang itu selalu membuat tanda tanya besar bagi Pangeran Air.
Untuk apa kalung itu diberikan kepadanya? Jika bukan dialah yang menjadi pemilik kalung tersebut.
"Siapa pemilik asli kalung ini, ya?" tanya Pangeran Air heran.
"Ampun, Pangeran. Pangeran sedang memikirkan, apa?" tanya Mark yang sejak tadi memperhatikan Pangeran Air.
"Tidak ada."
"Pangeran jika ingin bercerita pada saya, janga ragu ya, Pangeran. Saya, kan, pendengar yang baik Pangeran, buktinya ... waktu Pangeran berenang di persawahan saja, saya masih rahasiakan."
"Sejak kapan saya berenang di sana?"
"Emangnya gak pernah ya, Pangeran?"
"Gak."
"Tapi, saya rasa pernah deh, Pangeran."
"Gak."
"Terus, siapa yang berenang di sawah itu, Pangeran?"
"Gak tahu."
"Tidak mungkin ayah saya juga, Pangeran."
"Hm."
"Apa jangan-jangan, saya ya, Pangeran yang berenang di sawah?"
"Hm."
"Terus, kapan ya, Pangeran? Saya berenang di sana?"
"Untuk apa saya berenang di sana?"
"Apa mungkin, saya memancing di sana?"
"Mungkin," jawab Pangera Air singkat.
"Menurut, Pangeran. Saya mancing apa?"
"Hiu."
"Oh, iya, benar. Pangeran kan, tidak pernah salah."
"Berapa hiu yang saya dapatkan, Pangeran?"
"Kenapa hiunya mau dipancing sama dia, Pangeran?"
Pangeran Air menutup telinganya tak ingin mendengar perkataan Mark lagi—sangat tidak berguna untuk Pangeran Air.
"Pangeran, apa benar hiu sudah pindah hidup ke sawah?"
Bencana apa yang menimpa Pangeran Air mempunyai teman seperti Mark.
***
Pangeran Air tidak nafsu melihat makanan di depannya. Apalagi ada gadis yang tidak diharapkan Pangeran Air kedatangannya di sini—ikut makan bersama keluarganya.
"Pangeran, kenapa makanannya dilihat saja?" tanya Permaisuri Delita.
"Tidak nafsu, Ibunda."
"Mau disuapin Wina, ya?" tanya Permaisuri Delita menggoda putranya.
"Tidak, Ibunda."
"Lalu, kenapa makanannya tidak dimakan?"
Pangeran Air terpaksa menyuap makanan itu, agar ibundanya tidak banyak pertanyaan lain.
"Apa mungkin, Pangeran gerogi makan semeja bersamaku?" tanya Wina dengan pipi memerah.
"Maaf, tidak."
Permaisuri Delita menatap tak enak pada Wina, atas jawaban singkat putranya yang bisa menyinggung dan melukai gadis itu.
Cepat-cepat Pangeran Air menghabiskan makanannya, supaya bisa segera pergi dari sana.
Setelah selesai, Pangeran Air berdiri, lalu mebungkukkan badannya.
"Ananda mohon pamit, Ayahanda, Ibunda."
"Cepat sekali, kau baru makan sedikit, Pangeran."
"Maaf, Ibunda. Ananda sudah kenyang." Pangeran Air segera berlalu dari situ. Meninggalkan Wina yang menahan malu, karena jelas sekali Pangeran Air mencoba menghindarinya. Itu tandanya, Pangeran Air tidak menyukainya sama sekali.
"Pangeran Air mungkin lagi ada urusan, lanjutkan makannya ya, Nak!" ujar Permaisuri Delita mengusap bahu Wina pelan.
"Baik, Yang Mulia."
***
"Pangeran. Sebentar, Pangeran!"
"Ada yang perlu saya tanyakan pada, Pangeran."
Pangeran Air berhenti melangkah, ia menatap Mark serius.
"Ada apa?" tanya Pangeran Air langsung saja.
"Saya tadi memancing di sawah, Pangeran."
Pangeran Air menghela napas sebentar, tak tertarik dengan obrolan Mark.
"Tapi, saya tidak bisa menangkap hiu, Pangeran."
"Pertanyaannya?" tanya Pangeran Air.
"Bagaimana cara memancing hiu di sawah, Pangeran?"
"Mau disembur air kematian, atau air penyiksaan?" tanya Pangeran Air yang membuat Mark pucat pasi.
"Ampun, Pangeran. Saya janji, tidak akan memancing di sana lagi, Pangeran."
Pangeran Air menggelengkan kepalanya, lalu kembali meneruskan jalannya.
"Kita harus bisa menemukan gadis Kerajaan Api itu."
Telinga Pangeran Air langsung mendengar pecakapan yang terdengar samar-samar.
"Iya, dia bisa kita jadikan umpan."
Pangeran Air mengerutkan keningnya, siapa gadis yang dibicarakan oleh dua orang misterius itu?
"Kita culik saja besok dia di sekolah."
"Keluar, Kalian!" bentak Pangeran Air keras, mengejutkan dua orang yang tengah berbincang tadi.
"Pangeran Air ...."
***
Hallo, semoga suka, ya. Jangan lupa tungguin kelanjutannya, okey.
Terima kasih yang udah mau baca.
Salam hangat,
~Amalia Ulan