Sebuah Surat

1194 Kata
KERAJAAN API Putri Api mondar-mandir di sepanjang kamarnya sembari menggigit ibu jari cemas. Yaya yang melihat tuan putrinya berjalan bolak balik sejak tadi pusing dibuatnya. "Mohon ampun, Tuan Putri. Jika hamba boleh tahu, ada apa gerangan dengan, Tuan Putri?" Putri Api berhenti berjalan lalu duduk di samping Yaya. "Minggu depan aku akan diangkat jadi Putri Mahkota," ujar Putri Api. Mata Yaya langsung berbinar cerah. "Wah ... selamat, Tuan Putri!" ucap Yaya girang. Putri Api memutar bola matanya malas. "Aku tidak menginginkannya," dengkus Putri Api. "Ampun, Tuan Putri. Bukankah lebih baik lagi menjadi Putri Mahkota, karena derajat Tuan Putri akan semakin tinggi." Putri Api mengembuskan napas gusar, sebenarnya ia juga menginginginkan pangkat itu. Namun, dalam kondisi seperti ini, ia meragukan dirinya. Apakah Putri Api masih bisa menghidupkan api unggun kerajaan? Bahkan, sekarang kekuatan apinya semakin mengecil. Putri Api menatap telapak tangannya yang semakin berair dan selalu basah. Ada apa sebenarnya dengan dirinya? "Yaya, ayo ikuti aku ke belakang!" ajak Putri Api menarik tangan Yaya. Putri Api sedikit berlari pergi ke halaman belakang, Yaya mengikuti saja ke mana Tuan Putrinya itu melangkah, karena memang sudah menjadi tugasnya mendampingi Putri Api, Setelah sampai di halaman belakang. Putri Api berdiri di depan pohon rindang yang sempat ia bakar waktu kecil dahulu, kini pohon itu sudah diganti dengan pohon lain. Putri Api menarik napasnya lalu mengembuskan pelan. Ia mulai memfokuskan diri. Matanya ia pejamkan dengan pikiran yang ia konsentrasikan. Perlahan ... tangan Putri Api mulai memutar seperti bulatan yang melingkar. Masih dengan mata terpejam, Putri Api mendorong tangannya dengan seluruh tenaga. "Hiyaak ...." Perlahan ... Putri Api membuka matanya. Alangkah terkejutnya ia melihat pohon besar itu tumbang oleh air yang berasal dari tangannya. Mulut Yaya membulat sempurna, ia segera mengajak Putri Api beranjak dari situ, takut terkena oleh air deras yang berjalan mendekatinya. Putri Api semakin tak percaya dengan dirinya yang aneh. Apakah sekarang ia juga memilki kekuatan air? Jika iya, tentunya Putri Api bisa mengendalikan air. Putri Api kembali memainkan tangannya. Sekarang, tangan Putri Api menarik air itu kembali. Benar saja, dalam sekejap air itu kembali hilang, walaupun pohon itu tetap tumbang. Yaya masih dilanda keterkejutannya tak bisa berkata apa-apa. Ia sangat heran kenapa sang tuan putri memiliki kekuatan air, kekuatannya bahkan sangat besar. "Tuan Putri ... apa yang terjadi?" tanya Yaya penuh penasaran. "Jika kau heran, aku bahkan sanga tak mengerti dengan semua ini." "Apa mungkin, Tuan Putri memiliki dua kekuatan?" "Sejak lahir, kekuatanku hanya api, tidak ada air. Kenapa baru sekarang air itu ada di tubuhku?" Putri Api memikirkan keras tentang itu. "Hmm ... tapi, apakah sejak ada air, kekuatan api Tuan Putri masih ada?" tanya Yaya. "Masih ada, tapi makin lama, makin memudar." Yaya menutup mulutnya terkejut mendengar hal itu. Masa seorang Putri Kerajaan Api tidak memiliki kekuatan api lagi? "Yaya, rahasiakan ini semua!" tegas Putri Api. "Ba–baik, Tuan Putri." "Ya sudah, ayo kembali!" ajak Putri Api. *** Putri Api mencoba memejamkan matanya, tetapi ia tak kunjung tertidur sejak tadi. Ia masih memikirkan tentang hari ini yang terus membekas dalam ingatannya. Semua terasa aneh dan tak disangka oleh Putri Api. Dari mana kekuatan air itu berasal? Sedangkan keluarganya adalah penguasa api semuanya. "Apa mungkin aku bukan anak kandung ayahanda dan ibunda?" tanya Putri Api. Detik selanjutnya, ia langsung menggeleng, karena itu tidak mungkin. Mana mungkin jika ia bukan anak Raja Rowned sangat diistimewakan oleh raja itu? Putri Api merasa dirinya sangat dibanggakan oleh Raja Rowned sebagai putrinya. Ketukan pintu langsung mengarahkan perhatian Putri Api. Siapa yang bertamu ke ruangannya malam-malam seperti ini? Putri Api beringsut dari kasur, lalu bangkit dan berjalan ke depan pintu. Ia membuka pintu itu, akan tetapi tidak ada orang di luar. Kaki Putri Api menyenggol sesuatu di lantai. Matanya menyorot ke benda yang baru saja tersenggol olehnya. Putri Api membungkuk mengambil kotak itu. Ia celingak-celinguk memastikan tidak ada orang selain kotak itu. Merasa aneh, Putri Api membawa kotak itu masuk ke kamarnya. Ia penasaran apa isi kotak itu. Tidak mungkin kotak itu bisa mengetuk pintu itu, 'kan? Putri Api akhirnya memutuskan untuk membuka kotak itu. Di dalamnya ternyata hanya ada sebuah kertas yang dilipat. Surat? Siapa yang memberikan surat itu? Apa isi suratnya? Tanpa pikir panjang lagi, Putri Api langsung saja membaca surat itu. Kau akan mati! Kau tak layak berada di sini. Kau hanyalah abu kerajaan api. Putri Api tersentak membaca surat itu. Langsung saja ia gulung kertas itu. Mata Putri Api bercahaya, bibirnya gemeratak. Ia sama sekali tak takut. Namun, siapa yang berani mengancamnya? Emosi Putri Api melunjak membaca surat itu. "ARRH!" Tangannya langsung membakar barang-barang di kamarnya. Inilah yang tak Putri Api inginkan terjadi, jika ia akan dinobatkan menjadi Putri Mahkota, pasti banyaknya orang yang tidak menyukainya dan tidak setuju jika raja memilihnya. "ARRH!" Cahaya langsung bersinar terang di kamar Putri Api. Matanya masih memancarkan api. Tangannya terdapat gumpalan-gumpalan api yang siap membakar apa saja. Putri Api tersadar, ia langsung mengedalilan emosinya. "Api?" tanyanya. "Api ... kekuatanku kembali lagi?" "Benarkah?" Putri Api menyadari jika kekuatan apinya kembali lagi. Bahkan kamarnya sudah penuh oleh kobaran api. Tiba-tiba sebuah cahaya putih muncul di tengah ruangan. Putri Api melihat Empu Eyang muncul dari cahaya putih itu. "Tenanglah, Putri Api!" ucap Empu Eyang mengusap bahu Putri Api yang naik turun. "Kenapa kau bisa terpancing oleh sebuah surat seperti itu?" Putri Api menarik napas pelan, lalu membungkukkan badannya, hampir lupa tidak sopan dengan sang penguasa daratan. "Mohon ampun, Yang Terhormat Empu Eyang, salam hamba!" ucap Putri Api. "Salam kembali, Putri Vuurland. Apa kau baik-baik saja?" tanya Empu Eyang. "Baik, Empu Eyang." "Sekarang ... padamkan api yang telah membakar tempat ini!" suruh Empu Eyang. Putri Api mengangguk, lalu membungkukkan badannya. "Izinkan hamba mencari air dahulu, Yang Terhormat Empu Eyang." "Tidak usah. Gunakan air dari kekuatanmu," ucap Empu Eyang. "Apakah hamba bisa melakukannya, Empu?" "Coba saja." Putri Api mengangguk, lalu mulai memusatkan konsentrasinya. Ia memutar tangan, lalu mengarahkan ke sepenjuru ruangan yang terbakar. Badan Putri Api ikut memutar memadamkan api. Dalam sekejap, api itu padam tak tersisa. Empu Eyang berdecak kagum, lalu bertepuk tangan memuji keahlian Putri Api. Tampaknya, gadis itu sudah bisa mengendalikan air. Putri Api membungkukkan badannya kembali. "Kau tahu, kenapa air menjadi kekuatanmu?" "Mohon ampun tidak, Yang Terhormat Empu Eyang." "Tugasmu saat ini adalah, harus bisa mengendalikan air. Ingat! Jangan sampai ada yang tahu, jika kau memiliki kekuatan selain api!" "Mohon ampun, Yang Terhormat Empu Eyang. Asisten hamba sudah mengetahuinya, ampunkan hamba." "Tidak masalah, asalkan dia tak akan buka mulut. Jangan sampai terdengar ke telinga Raja Rowned." "Baik, Empu Eyang." "Terus asah apimu agar tak padam. Walaupun lambat laun api itu akan menghilang." "Mohon ampun, Empu Eyang. Apakah hamba tak akan memiliki kekuatan api lagi nantinya?" "Tergantung." "Mohon ampun, Empu Eyang. Hamba tidak mengerti." "Tergantung orang yang menjadi pasanganmu nantinya. Jika dia pangeran air maka kau tidak akan mendapatkan kekuatan api lagi. Tapi, jika dia seorang pangeran api, maka kau akan mendapatkan separuh kekuatan apinya. Karena dia yang akan menghidupkan apimu lagi." "Jadi, apakah hamba harus mencari pasangan keturunan darah api?" "Benar." Putri Api jadi memikirkan sosok laki-laki yang ia temukan beberapa kali terakhir ini. Apakah pria itu berasal dari negeri Vuurland? **** Hai! Makasih yang udah mau baca, jangan lupa tinggalkan jejak setelah baca ya. Terima kasih. Salam hangat, ~Amalia Ulan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN