Putri Api mendengkus, lalu memutar bola matanya. Susah sekali berbicara dengan pria dingin itu.
"Aku dari negeri–"
"HEI KALIAN!" teriak seseorang dari belakang membuat Putri Api dan Pangeran Air terkejut segera membalikkan badan. Kepala botak Pak Bondan bercahaya, karena sinar matahari langsung menarik perhatian Putri Api dan Pangeran Air. Apalagi lari Pak Bondan yang lamban, karena badan gembungnya membuat pria paruh baya itu kesusahan mengejar Putri Api dan Pangeran Air.
Sontak saja, kedua anak murid kurang ajar itu tertawa menertawakan Pak Bondan.
"Hei! Kalian malah ketawain saya!" bentak Pak Bondan tak terima.
Pangeran Air langsung menarik tangan Putri Api pergi dari sana. Mereka berlari pontang panting meninggalkan tempat itu.
Entah sudah berapa kali mereka berdua bergenggam tangan sambil berlari seperti itu.
***
KERAJAAN API
Setelah sampai di istana, Putri Api langsung masuk ke dalam ruangannya untuk beristirahat. Perjalanan dari Negeri Bumitan ke Vuurland memang membutuhkan waktu yang panjang, untung saja ada fasilitas kerajaan yang siap mengantar dan menjemput Putri Api, yaitu memakai pesawat terbang.
Putri Api merebahkan badannya di kasur berukuran besar itu. Masih memakai seregam, Putri Api memilih memejamkan matanya. Bibir gadis itu tergerah membingkai senyuman. Ia membalikkan badan ke kanan, membayangkan kejadian tadi di sekolah. Terasa berbeda dan sangat indah.
"Eh?"
"Apa yang aku pikirkan!" ucap Putri Api tersadar dari lamunannya.
Tiba-tiba, tangan Putri Api terasa dingin. Ia langsung melihat telapak tangannya yang basah oleh air. Mata Putri Api melotot, takut-takut jika Raja Rowned datang dan melihat tangannya.
"Air ... kau kenapa sering muncul di tanganku?"
"Ke mana apiku?"
Putri Api meremas telapak tangannya, mencoba menghilangkan air itu yang terus bermunculan.
Ketukan pintu langsung mengalihkan perhatian Putri Api ke pintu. Jantungnya berdetak tak karuan, takut melihat siapa yang datang.
Ah, Putri Api lupa mengunci pintu ruangannya tadi.
Seseorang membuka ganggang pintu yang membuat Putri Api segera menyembunyikan tangannya ke belakang. Seseorang masuk, Putri Api memejamkan matanya takut.
"Hormat hamba, Tuan Putri."
Putri Api mengembuskan napas lega, karena bukan ayahandanya yang datang. Putri Api mengenal suara itu. Yah, itu suara Yaya—asisten pribadinya.
"Ada apa kau kemari?" tanya Putri Api.
"Hamba disuruh Yang Mulia Ratu untuk memberitahu Tuan Putri bersiap-siap, karena nanti malam ada rapat kerajaan, Tuan Putri."
"Bilang saja, aku lelah. Aku ingin tidur malam ini."
"Maaf, Tuan Putri. Hamba hanya menyampaikan pesan beliau. Tuan Putri tidak boleh menolak perintah Yang Mulia Ratu."
Putri Api mengembuskan napas lelah. Ingin rasanya bermanja dengan kasur, tapi apa daya. Rapat kerajaan nanti malam menyuruhnya untuk meninggalkan kasur kesayangan.
"Baiklah," lirih Putri Api pasrah.
"Hamba akan membantu Tuan Putri bersiap-siap. Sebentar, Tuan Putri. Hamba ambilkan dulu pakaian dan mahkotanya."
"Iya."
***
Putri Api berjalan di sepanjang lorong istana. Banyak pelayan yang membungkukkan badan menghormati sang tuan putri lewat. Yaya di belakang Putri Api mengangkat gaun gadis itu yang sangat panjang.
Gaun panjang berwarna merah campur keemasan dengan mutiara yang berkilau di gaunnya membuat semua orang iri dan ingin memakai baju milik Putri Kerajaan Van Vuur itu. Mahkota indah melekat di kepala Putri Api, menambah pesonanya lebih anggun dan menawan.
Putri Api masuk ke ruangan rapat. Semua pangeran dari kerajaan api yang lain beralih menatap Putri Api yang tampak bercahaya di depan pintu. Sudah banyak diantara mereka yang sudah menaruh perasaan pada putri cantik kerajaan itu yang menjadi satu-satunya Putri di Kerajaan besar Api. Bahkan, sejak lahir derajatnya sudah diangkat oleh sang penguasa daratan—Empu Eyang.
Raja Rowned bangkit berdiri menyambut kedatangan putrinya. Pengawal kerajaan langsung mempersilakan Putri Api duduk di tempat yang telah disediakan.
Ternyata, Putri Api lah yang datang paling akhir, buktinya semua kursi rapat telah terisi semuanya. Putri Api jadi gugup dipandang semua orang. Apalagi pangeran daru Kerajaan Ran Vuur di hadapannya sejak tadi tak berhenti menatapnya. Namun, sikap Putri Api yang malu-malu hanyalah rekayasa yang dibuat-buatnya. Oh, ayolah. Putri Api dia si gadis nakal yang hobi membakar p****t prajurit kerajaan.
"Apa kau lihat-lihat? Mau kucolok mata kau?" ucap Putri Api santai dalam keadaan hening karena rapat belum dimulai.
Pangeran Roy—pangeran Kerajaan Ran Vuur—langsung meneguk salivanya susah. Ternyata, Putri Api yang dilihatnya anggun dan kalem memiliki jiwa yang sangat bar-bar.
"HAHAHAHA." Putri Api tanpa malunya tertawa keras yang membuat semua pasang mata terkrjut menatapnya. Permaisuri Raqia langsung mencubit paha gadis itu yang membuat Putri Api mengaduh kesakitan, sedangkan Raja Rowned hanya diam dengan muka memerah menahan malu. Namun, seburuk apa sikap putrinya, Raja Rowned akan tetap membela Putri Api.
"Harap maklum semuanya. Putri saya memang suka pencair suasana agar tak terlalu menengangkan," ucap Raja Rowned yang tak menyalahkan sikap putrinya sama sekali.
Permaisuri yang ingin sekali memarahi anaknya itu tertunda karena tak ingin merusak pencitraannya. Putri Api mendengkus melihat respons ayahandanya. Ia sengaja memperlihatkan sikap aslinya kepada semua orang agar Raja Rowned membatalkan rencananya. Ternyata, ayahandanya itu tetap saja membelanya.
"Baiklah, mari kita mulai saja rapat pada hari ini."
Rapat kerajaan akan diadakan setiap bulannya. Akan dibuat acara pembakaran api unggun setiap enam bulan.
"Untuk itu, minggu depan saya akan melantik putri saya menjadi Putri Mahkota Kerajaan Van Vuur." Mata Putri Api melebar sempurna tak percaya mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Raja Rowned.
Tepuk tangan meriah langsung menggelegar di dalam ruang rapat. Hasrat ingin menjadikan Putri Api kekasih bertambah-tambah di hati para pangeran yang menyukai gadis itu. Siapa yang tak menginginkan Putri Api? Cantik, hebat, pintar, menjadi Putri Vuurland, dan sekarang akan dilantik pula menjadi Putri Mahkota kerajaan besar Van Vuur. Kurang apa lagi Putri Api? Apalagi sikapnya yang apa adanya dan periang menambah nilai plus di hati para pangeran kerajaan api lain.
"Maaf, Yang Mulia Raja Rowned, izinkan hamba menanggapi," ucap seorang raja dari Kerajaan Ten Vuur.
"Silakan Raja Ten-an!"
"Kenapa Yang Mulia memilih Putri Api menjadi Putri Mahkota? Bukankah, Yang Mulia memiliki enam orang putra yang bisa dijadikan Putra Mahkota dan raja di masa depan? Hanya itu saja, terima kasih, Yang Mulia."
Raja Rowned mengangguk lalu berdehem pelan.
"Putriku ... kemarilah!" suruh Raja Rowned yang membuat Putri Api tersentak dari lamunannya. Putri Api terkejut, karena ayahandanya memanggilnya ke sana. Buru-buru Putri Api memasang sepatunya yang ia lepas karena risih. Bagaimana tidak risih? Panjang hak sepatunya lebih dari 15 cm. Permaisuri Raqia yang melihat putrinya membungkukkan ke bawah meja memakai sepatu sangat geram, ingin sekali memutar telinga Putri Api saat ini juga. Lagi-lagi, semua mata menatap Putri Api yang menghilang di kursi karena sedang memasang sepatunya. Lama menunggu, Putri Api akhirnya bisa memakai sepatu yang ribet itu.
Putri Api berjalan mendekati Raja Rowned. Lalu, pria paruh baya itu merangkul pundak Putri Api.
"Kalian tentu pasti mengingat, bagaimana putriku dahulu menghidupkan api unggun kerajaan yang sangat besar!"
"Bahkan, Empu Eyang saja langsung mengangkat putriku sebagai Putri Api Vuurland!" ucap Raja Rowned lagi membanggakan sang putri.
Putri Api mulai gelisah, karena tangannya yang mulai berair kembali. Jangan sampai, ayahandanya memegang telapak tangannya.
"Selain itu, putriku juga sangat pintar."
Secara tidak langsung, Raja Rowned lebih menyayangi Putri Api daripada enam putranya yang lain. Mungkin, beberapa orang putra Raja Rowned tidak merasa tersinggung, karena memang mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan adik bungsunya. Namun, siapa sangka? Ada seseorang yang tak menerima itu semua. Matanya menatap tajam ke arah Putri Api tak setuju jika gadis itu yang akan menggantikan posisinya saat ini.
"Aku akan menghancurkan kau, Putri Api!"
****
Hai semuanya! Terima kasih bagi yang sudah mau bacaa. Ayo, jangan lupa love dan komentarnya ya.
Salam hangat
~Amalia Ulan