Hukuman

1041 Kata
Putri Api yang tak terima berkacak pinggang, ia ingin membakar rambut pria itu yang tersisir rapi di kepalanya. Namun, tiba-tiba seorang pria berkepala pelontos berdiri di depan mereka sembari berkacak pinggang. "Kalian pasti terlambat!" ujarnya tajam. Pangeran Air hanya diam tak berekspresi, sedangkan Putri Api cengengesan saja, karena hampir saja tangannya membakar kepala botak bapak yang menjadi gurunya tersebut. "Kalian berdua ikuti bapak!" tegas Pak Bondan. "Iya, Tuan," jawab keduanya. "Eh, Pak!" ucap keduanya serentak kembali merasa salah panggilan. Pak Bondan langsung berjalan yang diikuti oleh Pangeran Air dan Putri Api di belakangnya. *** "Kenapa kalian datang terlambat?" tanya Pak Bondan mengintrogasi keduanya. "Ketiduran," jawab keduanya kompak. "Kenapa sampai ketiduran?" "Tidak tahu," jawab mereka kembali bersamaan. "Kalian tahu, kan. Sekolah ini menertibkan kedisiplinan!" "Tahu." "Saya akan menghukum kalian berdua." "Baik." Putri Api menoleh menatap Pangeran Air, begitupun sebaliknya. "Kau kenapa mengikuti ucapanku terus?" tanya Putri Api. "Tidak ada yang mengikutimu," balas Pangeran Air. "Buktinya kau terus mengucapkan hal yang sama denganku." "Hanya sebuah kebetulan." "Aku tidak suka." "Oh." "Hiih!" Putri Api memukul kepala Pangeran Air dengan santai, Pak Bondan yang merasa terabaikan karena sejak tadi mereka asik berdua, mencoba melarai Putri Api. Namun, kepala botak licin tak berpenghuni Pak Bondan lah yang jadi sasaran Putri Api. Pangeran Air terkekeh singkat melihat ada api di atas kepala Pak Bondan. Putri Api yang tak sengaja mengeluarkan kekuatannya langsung kalang kabut mencari cara memadamkan api itu. "Hah, api ... api ... kenapa bisa ada api di kepalaku?" Pak Bondan langsung mengipas-ngipas kepalanya yang kepanasan. Putri Api panik ketulungan tak tahu harus apa. Padahal, ia bisa mematikan api itu dengan cepat. Namun, karena Putri Api sedang panik, ia kehilangan akal. Pangeran Air yang lelah terkekeh sejak tadi mengarahkan telunjuknya ke kepala Pak Bondan. Seketika, api padam karena ada air yang menyiram kepala gundul itu. Muka Pak Bondan basah seperti diguyur hujan. "Hei! Siapa yang membakar kepala bapak, ha? Kenapa tiba-tiba ada air?" tanya Pak Bondan masih terheran. "Entahlah," jawab Putri Api dan Pangeran Air bersamaan. Mereka bahkan bertos ria, karena berhasil mengerjai guru pengawas siswa itu. Eh, Putri Api dan Pangeran Air akur? "Dih!" dengkus Putri Api menarik tangannya kembali. Pangeran Air menghela napas lalu kembali menampilkan wajah datar seperti biasanya. Ia baru sadar, jika ia tadinya bisa tertawa walaupun hanya terkekeh singkat. Semua itu berkat ulah gadis di sampingnya. Pangeran Air melirik Putri Api di sampingnya yang sedang bersiul ria. Bibir Pangeran Air tertarik ke samping, tersenyum kecil. *** Alhasil, hukuman yang tak diinginkan oleh Putri Api adalah menyapu halaman yang penuh dengan daun kering. Gadis itu mencebik kesal sembari mengayunkan asal sapu lidi di tangannya. Baru kali inilah ia disuruh menyapu halaman seperti ini. Putri Api melirik pria yang tengah dihukum bersamanya sedang membersihkan toilet sekolah. Putri Api melihat teriknya matahari yang mulai menyerangnya dengan panas sang surya. Akan tetapi, Putri Api sudah terbiasa dengan panas. Tiba-tiba, satu ide terlintas di otaknya. Putri Api tersenyum singkat. Putri Api memutar tangannya mengeluarkan api dari telapak tangan. Sepercik api yang bercahaya di tangannya. Putri Api mendorong tangannya mengarahkan ke daun-daun kering yang berserakan. Api itu langsung membakar daun kering, lalu Putri Api mengarahkan daun kering yang sudah terbakar itu ke tengah menjadi satu onggokkan. Oh, ayolah! Api adalah kekuatannya yang bisa dikuasainya bagaimana ia mengendalikannya. Api sudah menjadi teman baik Putri Api yang patuh dan lembut kepadanya. Satu onggokkan sudah berada di tengah. Daun kering tadi sudah terkumpul terbakar bersamaan yang membuat cahaya besar di halaman. Putri Api merasakan panasnya api yang dibuatnya sendiri. Pangeran Air melirik cahaya yang bersinar dari halaman. Matanya langsung tertuju ke asal cahaya itu. Bibir Pangeran Air langsung tertarik untuk tersenyum. Tanpa berpikir panjang, ia mencampakkan pel di tangannya lalu berlari ke halaman itu melihat api dengan jelas. Pangeran Air melihat Putri Api yang berdiri di dekat Api itu seraya merentangkan tangannya. Apa gadis itu yang menghidupkan api? tanya Pangeran Air dalam hati. Pangeran Air berjalan mendekati api itu, ia ingin melihat lebih dekat lagi. Hawa panas langsung masuk ke wajah Pangeran Air yang dipancarkan oleh api itu. Putri Api terkejut melihat seorang pria yang tiba-tiba berada di sampingnya sedang merentangkan tangan sambil tersenyum menghayati panas api di hadapannya. Alis Putri Api bertaut, kenapa pria itu tidak takut melihat api sebesar ini? batin Putri Api. "Hei, PTN!" panggil Putri Api. Namun, yang dipanggil tak tersadar, masih memejamkan mata menghayati api. "PTN!" teriak Putri Api yang langsung membuat Pangeran Air tersadar. "Namaku bukan PTN!" "Tidak peduli, aku akan tetap memanggilmu PTN." "Terserah." "Kenapa kau kemari?" tanya Putri Api. Pangeran Air terdiam. Ia juga baru menyadari jika dirinya terbawa sendirinya ke sini menghadap api itu. "HEI! KALIAN SEDANG APA DI SITU?" teriak seseorang dari belakang yang membuat Putri Api dan Pangeran Air terkejut. Putri Api langsung kalang kabut karena api yang dihidupkannya semakin membesar. "API? KEBAKARAN! KENAPA BISA ADA KEBAKARAN?" teriak Pak Bondan panik. Pangeran Air yang sudah lelah, tak ingin ada kehebohan segera mengayunkan tangannya memadamkan api itu. Putri Api melongo melihat apinya padam begitu saja oleh pria itu. Pak Bondan mengucek matanya, beran melihat api itu yang tiba-tiba sudah hilang. "Hei! Bukannya tadi ada kebakaran?" tanya Pak Bondan cengo. Dengan kompak Pangeran Air dan Putri Api mengangkat bahu seperti orang tidak tahu apa-apa dan tidak merasa bersalah tentunya. Setelah itu, Putri Api menarik tangan Pangeran Air beranjak dari situ meninggalkan Pak Bondan yang masih terdiam dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikirannya. Kenapa dia seolah-olah dibodohi oleh dua murid menyebalkan itu? Sudahlah, Pak Bondak semakin pening dibuatnya. Pangeran Air hanya diam ketika tangannya digenggam oleh gadis itu dan membawanya ke taman sekolah. Merasa tersadar sedang mengenggam tangan dingin seseorang, Putri Api langsung melepaskan genggamannya lalu membuang muka. Pangeran Air tetap diam. Ia berpunggung tangan sembari menatap depan. "Kau berasal dari mana?" tanya Putri Api. "Negeri seberang," jawab Pangeran Air. "Negeri apa?" "Kau dari mana?" tanya balik Pangeran Air. "Jawab dulu pertanyaanku!" tegas Putri Api. "Kau juga." Putri Api mendengkus, lalu memutar bola matanya. Susah sekali berbicara dengan pria dingin itu. "Aku dari negeri ...." BERSAMBUNG *** HAI GUYS! Ayo, yang baca silakan muncul di komentar ya. Aku usahakan up banyak2 nih. Kalian moodboster aku, ayo muncul di komentar kita berteman. Terima kasih buat yang sudah mau baca. Maaf banyak kekurangan ya. Terima kasih ~Amalia Ulan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN