"Api?" tanya Pangeran Air menatap kedua telapak tangannya yang bercahaya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya seseorang di belakang yang membuat Pangeran Air dan Permaisuri Delita terkejut segera membalikkan badan dan ternyata ... orang itu adalah Empu Eyang. Permaisuri Delita menghela napas lega, karena yang datang bukan sang raja.
"Salam hamba, Yang Terhormat Empu Eyang," salam Permaisuri Delita dan Pangeran Air serentak membungkukkan badan.
Empu Eyang mengangguk menjawab salam keduanya. Mata Empu Eyang langsung beralih ke lanbang V.W yang terbakar, tangannya langsung mengarah ke lambang itu—memadamkannya dengan cepat.
Kekuatan asli Pangeran Air sudah muncul kembali, Empu Eyang harus lebih berhati-hati.
"Mohon ampun, Empu Eyang. Kenapa kekuatan hamba berubah menjadi api?" tanya Pangeran Air heran.
Permaisuri Delita terkejut mendengar pertanyaan itu, ia lebih memilih diam saja sembari menundukkan kepala. Empu Eyang mengusap pundak Pangeran Air pelan.
"Tidak masalah. Mungkin, kau jarang memakai kekuatanmu, makanya lambang itu tak menerima."
Pangeran Air terdiam sebentar, ia melihat tangannya yang masih bercahaya dan terasa panas. Empu Eyang langsung meniup telapak tangan Pangeran Air, menutup kekuatan itu kembali dalam waktu sementara.
"Jangan pernah sentuh sumbu itu lagi, Pangeran Land Water!"
"Baik, Empu Eyang."
"Kembalilah ke istana, Putraku!" suruh Permaisuri Delita.
"Baik, Ibunda."
Pangeran Air segera meninggalkan tempat itu. Ia tahu, ibundanya itu pasti ada keperluan dengan Empu Eyang.
Setelah Pangeran Air benar-benar sudah pergi, Empu Eyang mulai menatap putrinya—Delita.
"Salam hamba, Ayahanda."
"Iya, Putriku Delita."
"Lapor, Ayahanda. Kekuatan Pangeran Air sudah kembali, apa yang harus kita lakukan, Ayahanda?" Tak perlu khawatir Pangeran Air bisa mendengarkan ucapan bundanya, karena Pangeran Air tidak memiliki keahlian melacak pembicaraan jarak jauh orang yang lebih hebat darinya.
"Jangan sampai Raja Dafnas mengetahui rahasia ini. Kau harus bisa menutupi kekuatan Pangeran Air, untuk sementara ini, ayah sudah menutup kekuatan aslinya, tapi kekuatan itu akan muncul kembali dalam waktu dekat."
"Baik, Ayahanda."
"Apakah kau sudah bersedia berpisah dengan Pangeran Air?" tanya Empu Eyang.
Permaisuri Delita mengerutkan keningnya lalu membungkukkan badan, tak mengerti maksud ucapan Empu Eyang.
"Pangeran Air akan ayah pindahkan ke wilayah lain, dia akan memulai misi itu."
"Baik, Ayahanda. Ananda siap akan hal itu."
Empu Eyang meletakkan kedua tangannya ke punggung. "Kau tenang saja, dia tak sendiri," ucap Empu Eyang tersenyum samar. "Ada seorang gadis yang akan menemaninya."
***
DARATAN BUMITAN.
(SEKOLAH)
Putri Api mendumel kesal, karena ia datang terlambat hari ini, akibat ketiduran pagi tadi. Menurutnya, jika sudah terlambat, ia tak akan sekolah, tetapi tetap saja Zigo—pengawalnya—mengantarkan Putri Api ke sekolah.
Yaya tidak ikut bersamanya hari ini, karena Yaya mendapatkan tugas kerajaan dari Permaisuri Raqia. Alhasil, Putri Api sendiri saja di sini.
"Ah, itu gerbang kenapa ditutup, sih!" kesal Putri Api.
"Mohon ampun, Tuan Putri. Penjaga gerbang tidak mengizinkan siswa yang terlambat masuk," lapor Zigo menundukkan kepala.
"Tuh, kan. Kenapa kau masih saja mengantarkanku?" kesal Putri Api, lebih baik ia melanjutkan tidur saja tadi.
"Tapi, jika Yang Mulia Raja mengetahui Tuan Putri tidak sekolah hari ini, lebih buruk lagi, Tuan Putri."
Putri Api mengiyakan dalam hati, benar juga. Bisa saja ia dikeluarkan dari sekolah ini langsung, karena beranggapan Putri Api tidak serius bersekolah.
Putri Api berjalan ke belakang, mencari jalan agar tetap bisa masuk ke sekolah. Zigo mengikuti Putri Api dari belakang.
"Kau tenang saja di mobil, tak perlu mengawasiku seperti ini!" ucap Putri Api merasa terkekang. Ia paling tidak suka diikuti oleh pengawal yang beralasan menjaganya. Oh ayolah, Putri Api lebih pintar dan jago daripada pengawal itu. Masih ingatkah kalian, jika Putri Api waktu kecil suka membakar p****t prajurit kerajaan?
"Tapi, tugas hamba men–"
"Tunggu di mobil, atau aku bakar pantatmu?" ancam Putri Api tak main-main.
Zigo terbungkam, ia lebih baik menuruti ucapan sang tuannya itu, daripada pantatnya terbakar nantinya.
"Ba–baik, Tuan Putri."
Zigo langsung meninggalkan Putri Api sendirian di sana. Gadis itu melanjutkan langkahnya kembali menelusuri jalan ke belakang sekolah, mungkin saja ada pintu yang terbuka.
Yap! Putri Api melihat pagar untuk masuk ke sekolahnya, tepat sekali kelasnya berada di belakang. Akan tetapi, pagar itu juga terkunci, yang membuat Putri Api mendengkus kesal.
"Ah, pagarnya tinggi sekali lagi!" dumelnya mencabik kesal.
Satu ide melintas di kepala Putri Api, ia terkekeh pelan.
Tangan Putri Api memutar, memancing kekuatannya keluar, sebuah cahaya langsung muncul dari telapak tangan Putri Api.
Tanpa pikir panjang, Putri Api membakar pagar itu, berniat merobohkan dengan kekuatannya. Namun, tiba-tiba api itu langsung padam oleh air yang mengguyur pagar itu. Putri Api langsung berbalik mencari asal air itu. Mata Putri Api langsung bertemu dengan mata hitam legam seorang pria yang berdiri di belakangnya sambil menatapnya tajam.
"Kau gila! Kenapa membakar pagar itu?"
"Kau yang memadamkan apinya?" tanya Putri Api tak mengindahkan pertanyaan pria yang tak lain adalah Pangeran Air.
Pria itu tak menjawab, ia membuang mukanya lalu celingak celinguk tak menganggap keberadaan Putri Api.
"Hei! Aku sedang berbicara denganmu!"
Tetap saja Pangeran Air acuh tak acuh, seolah tak mendegarkan suara itu. Putri Api yang kesal memukul d**a pria itu keras, tetapi Putri Api malah mendorong d**a pria itu yang membuat Pangeran Air terjengkang ke belakang, akibat dorongan badan Putri Api. Alhasil, Putri Api berada di atas badan Pangeran Air dengan mata yang saling menatap.
Pangeran Air menatap tajam mata Putri Api yang tak berhenti menatapnya, tangan Pangeran Air mengarah ke wajah Putri Api, membuat muka gadis itu tersembur oleh air. Gadis itu segera bangkit lalu mengusap mukanya basah.
"Kau!" bentak Putri Api.
Gadis itu heran, apakah pria itu memiliki kekuatan air?
Tiba-tiba, Pangeran Air membungkukkan badannya, menyodorkan punggung ke arah Putri Api.
"Apa?" tanya Putri Api tak mengerti.
"Kau ingin masuk atau tidak?" tanya Pangeran Air, tetapi Putri Api tetap saja belum paham.
"Cepat naik ke atas punggungku!" suruh Pangeran Air. Gadis itu menurut saja, ia segera naik ke atas punggung pria itu. Pangeran Air mulai mengangkat badannya. Putri Api baru paham, jika pria dingin nan datar itu membantunya naik ke pagar.
Putri Api langsung naik ke pagar itu dan meloncat turun. Sekarang, ia sudah masuk di halaman sekolah. Pangeran Air langaung saja melompati pagar itu, lalu berjongkok di depan Putri Api.
Pangeran Air mendongak, melihat gadis yang ada di depannya. Putri Api menyibakkan rambutnya ke belakang, lalu merapikan rambut yang berantakan. Pangeran Air sedikit terpana melihat gadis itu. Namun, tersadar akan pikiran anehnya, Pangeran Air segera bangkit lalu meninggalkan Putri Api di sana.
"Hei! Tunggu!" teriak Putri Api.
Langkah Pangeran Air terhenti, ia membalikkan badan kembali menghadap Putri Api.
"Nama kau siapa?"
"Aku pikir kau memanggilku untuk berterima kasih," sindir Pangeran Air.
"Sebutkan saja namamu!" suruh Putri Api.
"Tidak akan, sebelum kau berterima kasih padaku."
"Heh? Kau tidak tulus membantuku?"
"Tidak," jawab Pangeran Air singkat. Putri Api memutar bola matanya, bibir gadis itu mendumel kesal.
"Terima kasih, Pengawal tanpa nama!" ucap Putri Api.
"Hei! Aku mempunyai nama."
"Salah kau tak menyebutkan namamu. Mulai saat ini, aku memanggilmu, PTN—Prajurit tanpa nama!"
"Oke. Aku juga akan memanggilmu, Pelayan tak pandai terima kasih—PTPTK," balas Pangeran Air.
Putri Api yang tak terima berkacak pinggang, ia ingin membakar rambut pria itu yang tersisir rapi di kepalanya. Namun, tiba-tiba ....
****
Hai Guys! Aku kembali! Jangan lupa baca, ya. Terima kasih banyak. Alangkah bahagianya aku jika ada yang komen.
Jangan bingung dengan panggilan Putri Api dan Pangeran Air, yah. Hehe.
Thanks
~Amalia Ulan