"Dia seorang pria. Tapi, aku tak bisa melihat wajahnya," dengkus Putri Api.
"Sabar, Tuan Putri. Esok, kau pasti bisa menemukannya."
Putri Api mengangguk singkat, lalu kembali memakai kalung itu dan meletakkan kotak tadi di tempat semula. Putri Api merebahkan badan di ranjang. Yaya berpamitan keluar, karena tidak ingin menganggu Putri Api yang ingin beristirahat.
Putri Api memainkan kalung itu sembari memperhatikan liontin kunci yang bukan merupakan kunci dari kotak itu. Lalu, sebenarnya kalung ini berguna untuk apa?
"Apa karena aku tidak bisa menghidupkan api unggun, makanya kalung itu tidak bercahaya, seperti yang dibilang Empu Eyang?" tanya Putri Api bermonolog.
"Masa, iya?"
Putri Api tak memikirkan itu lagi, ia memejamkan matanya hendak tertidur. Baru beberapa menit matanya terpejam, ia tesentak langsung kembali memuka mata.
"Heh! Kenapa wajah pria sombong itu terbayang olehku!" oceh Putri Api. Ia baru saja terbayang pertemuannya dengan pria sombong yang memadamkan api ruang isolasi kemarin.
"Hampir saja aku bermimpi dia!"
"Eh, apa ini pertanda?"
***
KERAJAAN AIR.
Seperti biasanya, Pangeran Air ditemani oleh Mark. Laki-laki itu tak bosan mengikuti ke mana langkah sang pangeran.
"Pangeran, bagaimana menurut Pangeran sekolah?" tanya Mark.
"Biasa saja."
"Tidak adakah hal menarik yang Pangeran temukan?"
"Tidak."
"Tidak adakah kesan dan pesan Pangeran dengan sekolah umum?"
"Tidak."
"Apakah Pangeran merasa senang?"
"Tidak."
"Biasanya, di sekolah umum bisa bertemu dengan jodoh."
"Tidak."
"Pangeran tidak tertarik dengan salah satu teman perempuan di sana?"
"Tidak."
Mark berhenti berbicara, penat sudah mulutnya berbicara jika ditanggapi kata tidak terus oleh Pangeran Air.
Tiba-tiba, ada seorang pelayan datang menghampiri Pangeran Air. Ia membungkukkan badan menghormati sang pangeran.
"Mohon ampun, Pangeran. Permaisuri Delita meminta Pangeran menemuinya di ruang jamuan."
Pangeran Air mengangguk singkat, lalu segera bangkit, diikuti oleh Mark.
Pangeran Air menghela napas sebentar, melihat ada seorang gadis sedang duduk bersama ibundanya.
"Hormat ananda, Ibunda." Pangeran Air memberi salam.
"Sini, duduklah!" suruh Permaisuri Delita menyuruh putranya itu duduk di sebelahnya yang berhadapan dengan Wina. Ya, Wina putri dari Kerajaan Van Water-2. Anak cabang kerajaan besar Van Water.
"Ada apa Ibunda memanggil ananda kemari?"
"Wina ingin bertemu denganmu, tidakkah kau menyapanya?"
"Hm, ya. Halo," singkat Pangeran Air datar. Pipi Wina langsung bersemu, ia dengan malu menjawab sapaan Pangeran Air, "iya, Pangeran."
"Kalian berbincang saja dahulu. Ibunda mau ke ruangan," pamit Permaisuri Delita. Pangeran Air mendengkus dalam hati, kenapa sekarang ibundanya malah meninggalkan dirinya berdua dengan gadis itu? Pangeran Air mendumel dalam hati.
"Aku tahu, kau mendumel, Putraku!" tegur Permaisuri Delita berbisik, ia tentu bisa mendengarkan suara hati putranya.
Pangeran Air menyadari kesalahannya, ia mengembuskan napas pelan. "Maaf, Ibunda."
"Jika sudah selesai, temui bunda, ada hal penting yang akan dibicarakan."
"Baik, Ibunda."
Wina dengan sabar menunggu pembicaraan anak dan ibu itu yang berbisik. Wina berharap Permaisuri Delita cepat keluar dan meninggalkan dirinya berdua saja dengan Pangeran Air.
Huft, cepatlah Permaisuri Delita pergi! ucapnya dalam hati.
"Aku bisa mendengarmu," tajam Pangeran Air datar. Wina langsung kalang kabut, ia melupakan jika Pangeran Air bisa mendengar suara hati juga, sama seperti Permaisuri Delita.
"Ma–maaf, Pangeran."
"Tidak masalah, Wina ingin ibunda cepat pergi, supaya bisa berduaan denganmu," ucap Permaisuri Delita memaklumi Wina yang jatuh hati dengan putranya.
"Ya udah, bunda pergi, ya."
"Iya, Ibunda." Pangeran Air menundukkan kepalanya menghormati Permaisuri Delita.
Mata Pangeran Air beralih menatap Wina yang sedang tersenyum, hatinya berbunga-bunga bisa berduaan dengan Pangeran Air.
"Apa tujuan kau kemari?" tanya Pangeran Air.
"Ingin melihatmu, Pangeran."
"Itu bukan tujuan."
"Tapi menurutku, melihatmu suatu kebutuhan."
Pangeran Air hanya diam tak menjawab. Ia beralih menatap lain, tak memandang wajah Wina.
"Kau menyukaiku?" tanya Pangeran Air tepat sasaran. Wina terkejut mendengar pertanyaan itu, jantungnya langsung berguncang hebat.
Tanpa ragu, Wina menganggukkan kepalanya. "Iya, Pangeran!" jawab Wina tanpa malu.
"Mulai sekarang ...."
Pipi Wina semakin bersemu merah, ia yakin Pangeran Air mengajaknya berpacaran. Wina sangat yakin, Pangeran Air juga pasti menyukainya.
"Lupakan aku," lanjut Pangeran Air yang membuat Wina tersentak. Hatinya tercolek untuk tercabik.
Pangeran Air bangkit, lalu meninggalkan Wina sendirian di sana dengan luka di hatinya, luka yang dibuat oleh Pangeran Air—pria pujaannya.
***
Seperti pesan ibundanya, Pangeran Air langsung menemui Permaisuri Delita. Ia lebih penasaran hal penting apa yang akan dibicarakan ibundanya, daripada meladeni Wina.
Pangeran Air tidak tertarik sedikit pun dengan Wina. Ia tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap putri kerajaan cabang Van Water itu.
Permaisuri Delita heran melihat putranya yang sudah datang saja menemuinya. Apa saja yang dibicarakan Pangeran Air dengan Wina? Sesingkat itu? Permaisuri Delita menghela napas sebentar, memang sulit menggapai hati pria itu.
"Wina sudah pulang?" tanya Pemaisuri Delita.
"Hormat ananda, Ibunda." Pangeran Air membungkukkan badan.
"Kau tidak tertarik dengan Wina?" tanya Permaisuri Delita.
"Apa hal penting yang akan Ibunda bicarakan?" tanya Pangeran Air mengalihkan pertanyaan Permaisuri Delita.
"Duduklah!" suruh Permaisuri Delita paham sekali putranya itu tidak tertarik dengan Wina.
Pangeran Air langsung duduk di hadapan ibundanya.
Tangan Permaisuri Delita bergerak mengusap pundak Pangeran Air, lalu beralih mengusap rambut pria itu yang tersisir rapi. Rambut pendeknya sedikit berantakan oleh Permaisuri Delita. Mata Pangeran Air terpejam merasakan usapan Permaisuri Delita yang membuat hatinya menghangat.
Walaupun Pangeran Air bukan anak kandungnya, tetapi Permaisuri Delita sangat menyayangi Pangeran Air, apalagi putranya itu sangat penurut tak pernah membantah ucapannya.
"Aku ingin membawamu ke suatu tempat," ucap Permaisuri Delita.
"Ke mana, Ibunda?"
"Istana air di bawah."
"Ada apa di sana, Ibunda?"
Permaisuri Delita tak menjawab, ia langsung saja menarik tangan putranya itu untuk pergi ke sana ... tanpa sepengatahuan Raja Dafnas, tentunya.
***
Permaisuri Delita mengajak Pangeran Air menuruni anak tangga yang menembus ke dasar laut.
Tentu saja, keduanya bisa bernapas dalam air karena mereka sudah sering berkunjung ke dasar laut. Hanya saja, Pangeran Air belum pernah ke dasar laut tempat sumbu V.W menguji kekuatan keturunan kerajaan.
Pangeran Air mengerutkan keningnya melihat tempat itu.
"Ayo ke sana!" ajak Permaisuri Delita menyusuri dasar laut ke sebelah kanan.
Lambang V.W langsung menyambut indra penglihatan Pangeran Air. Ia berdecak kagum melihat lambang besar itu berdiri kokoh.
"Anggota kerajaan yang baru lahir dan yang akan dinobatkan sebagai raja harus bisa membuat lambang itu mengeluarkan gelembung air yang sangat besar," jelas Permaisuri Delita.
"Sekarang, coba kau letakkan telapak tanganmu ke sumbu itu!" suruh Permaisuri Delita.
Pangeran Air mengangguk saja, melangkahkan kaki mendekati sumbu itu.
Permaisuri Delita penasaran, apa yang akan terjadi pada lambang itu, mengingat usia Pangeran Air sudah 17 tahun.
"Silakan, Putraku."
Pangeran Air tanpa ragu meletakkan telapak tangannya ke sumbu itu.
Pangeran Air terkejut bukan gemilang melihat lambang besar itu terbakar, begitupun dengan Permaisuri Delita.
"Api?" tanya Pangeran Air menatap kedua telapak tangannya yang bercahaya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya seseorang di belakang yang membuat Pangeran Air dan Permaisuri Delita terkejut segera membalikkan badan dan ternyata ... orang itu adalah ....
****
HAI GUYS! AKU UP 2 CHAP HARI INI. Yey.
Jangan lupa lovenya dan tinggalkan komentar ya. Makasih banyak.
Salam,
~Amalia Ulan