Padam

1025 Kata
KERAJAAN API. Putri Api mengerutkan keningnya dibawa oleh Raja Rowned ke aula istana tempat untuk mengadakan persembahan kerajaan. Untuk apa dirinya di bawa ke sini? "Mohon ampun, Ayahanda. Untuk apa, ananda dibawa kemari?" tanya Putri Api sopan. "Putriku, sekarang coba kau hidupkan api unggunh di sumbu itu!" suruh Raja Rowned. Putri Api melihat sumbu hitam nan besar itu, hatinya tercolek merasa takut, ia kemarin ke sini mencoba meletakkan telapak tangannya di sana untuk menghidupkan api. Namun, bukanlah hal yang diinginkan Putri Api terjadi. "Sekarang, Ayahanda?" tanya Putri Api. "Iya." Raja Rowned penasaran, apakah kekuatan putrinya itu masih sama seperti ia baru lahir. "Silakan." Raja Rowned mempersilakan. Putri Api dengan ragu melangkahkan kakinya ke arah sumbu itu. Ia takut jika kejadian kemarin terulang, bagaimana nanti Raja Rowned melihatnya? Ia pasti akan berada dalam bahaya. Putri Api perlahan meletakkan telapak tangannya di sumbu tak berapi itu. Tangannya belum menyentuh, tapi peluh sudah membanjiri dahinya. Putri Api segera menarik tangannya kembali, karena baru saja, air jatuh ke sumbu itu dari tangannya. "Ada apa, Putriku?" tanya Raja Rowned heran. Putri Api segera menyembunyikan telapak tangannya ke belakang, melapkan tangannya ke gaun yang dipakainya. Tiba-tiba, di sisi kirinya, muncul seseorang yang membuat Putri Api terkejut. "Tenanglah! Ayahmu tidak bisa melihatku, hanya kau yang bisa mendengar dan melihatku, Putri Vuur Land." Putri Api mengangguk samar mendengar ucapan Empu Eyang yang berada di sampingnya tanpa terlihat oleh Raja Rowned. "Sekarang, peganglah tangan ayahmu sebentar. Setelah itu, letakkan kembali telapak tanganmu ke sumbu itu!" suruh Empu Eyang. Putri Api mengangguk tanpa menatap Empu Eyang. Putri Api beralih menatap Raja Rowned, ia cengengesan yang membuat Raja Kerajaan Van Vuur itu heran. Tiba-tiba, Putri Api meraba tangan Raja Rowned, lalu menggenggamnya pelan. Empu Eyang mengambil kesempatan itu, memindahkan kekuatan Raja Rowned kepada Putri Api. "Ada apa, Putriku?" "Ah, aku hanya gemetaran, Ayahanda." Setelah berhasil, Empu Eyang mengode Putri Api jika ia harus meletakkan telapak tangannya ke sumbu itu. Putri Api langsung meletakkan telapak tangannya ke sana. Api langsung menyembur besar, sama besarnya dengan dahulu. Raja Rowned tersenyum bangga melihat api itu menyala sangat besar. Ia yakin, putrinya itu cocok menjadi penerusnya. Raja Rowned ingin menjadikan Putri Api sebagai Ratu Kerajaan Van Vuur. "Bagus, Putriku. Ayah bangga padamu." "Terima kasih, Ayahanda." Empu Eyang bernapas lega, ia datang tepat waktu, hampir saja rahasia itu terbongkar. "Ya sudah. Ayah balik ke istana, kau matikan kembali apinya, suruh pelayan menyiramnya!" ucap Raja Rowned. "Walaupun, mereka nantinya kesusahan memadamkan api itu," lanjut Raja Rowned terkekeh pelan. "Baik, Ayahanda." Putri Api membungkukkan badannya. Raja Rowned berpamitan, lalu pergi dari sana. Masih ada urusan yang belum diselesaikannya. Putri Api mengembuskan napas lega, melihat Raja Rowned sudah pergi. Ia membungkukkan badan ke Empu Eyang. "Salam hamba, Yang Terhormat Empu Eyang." "Salam kembali, Putri Vuur Land." "Mohon ampun, Empu Eyang. Hamba ingin menanyakan, kenapa tangan hamba akhir-akhir ini terus mengeluarkan air?" tanya Putri Api yang sudah penasaran. Empu Eyang hanya terdiam, ia menyadari jika umur Putri Api sudah 17 tahun, tandanya jika kekuatan aslinya akan mulai muncul kembali. "Sekarang, coba kau padamkan api itu dengan tanganmu!" suruh Raja Rowned. Putri Api menatap tak percaya, bagaimana caranya ia akan memadamkan api sebesar itu dengan tangannya? "Tapi, bagaimana bisa–" "Silakan dicoba!" suruh Empu Eyang. "Ba–baik, Empu Eyang!" ucap Putri Api ragu. Ia menatap telapak tangannya yang semakin berair. Putri Api mengarahkan tangannya ke depan api yang menyala besar itu. Brush .... Putri Api terkejut bukan main, ia menutup mulut tak percaya. Bagaimana mungkin, api sebesar itu bisa lenyap oleh setetes air dari tangannya. Empu Eyang tersenyum, kekuatan Putri Kerajaan Van Water itu sangat luar biasa. Empu Eyang berdecak kagum dibuatnya. "Mohon ampun, Empu Eyang. Bagaimana mungkin, hamba bisa melakukannya?" tanya Putri masih dilanda keterkejutannya. "Kau adalah Putri Vuur Land. Tentu saja kau bisa melakukannya." Putri Api tak puas mendengar jawaban Empu Eyang, kalau pun ia adalah seorang Putri Negeri Api, tentunya kekuatan besarnya adalah api, kenapa malah bisa memadamkan api? "Selalu latih kekuatan apimu agar tak hilang," ucap Empu Eyang, lalu menghilang dari sana. Putri Api masih penasaran, ia mencoba meletakkan tangannya ke sumbu api itu. Tidak terjadi apa-apa! Putri Api kembali terkejut, karena tidak bisa menghidupkan api unggun kerajaan. "Kenapa tidak bisa?" tanya Putri Api mencoba berulang kali menghidupkan sumbu itu. Namun, tetap sama. Tidak ada sepercik api yang bisa hidup di sumbu itu. Gawat! Jangan sampai ada yang tahu tentang ini! Putri Api harus berhati-hati. *** "Ada apa, Tuan Putri? Kenapa sejak tadi, kau melamun?" tanya Yaya yang heran melihat Putri Api sejak tadi tak bersuara. "Ah, tidak ada." "Apakah, ada yang mengganggu pikiranmu, Tuan Putri?" "Tidak." "Jangan sungkan bercerita pada hamba," ucap Yaya membungkukkan badannya. Putri Api hanya mengangguk, ia masih memikirkan kejadian di aula tadi. Kekuatannya, kenapa malah ada air? Putri Api bangkit, lalu berjalan ke lemarinya, mengeluarkan sebuah kotak di sana. Kotak yang diberikan oleh ayahnya—Raja Rowned. Putri Api membawa kotak itu duduk, ia meraba kotak itu yang terkunci. Oh, apakah ia harus mencari kuncinya? Putri Api teringat jika ia juga diberikan kalung oleh Empu Eyang. Tanpa pikir panjang, Putri Api melepaskan kalung di lehernya lalu mencoba membuka kotak itu dengan liontin kunci kalung itu. "Tidak bisa," dengkus Putri Api. "Terus, di mana aku harus menemukan kunci kotak ini?" tanya Putri Api. Yaya sejak tadi hanya diam memperhatikan tuannya yang sedang bergulat sendiri dengan pemikirannya. "Mohon ampun, Tuan Putri. Mungkin saja, kunci kotak itu hilang dan Tuan Putri harus mencarinya." "Iya, tapi di mana aku mendapatkannya?" tanya Putri Api bingung. "Bukankah, keahlianmu adalah menerawang. Kau bisa melihat kunci itu dari terawanganmu, Tuan Putri." Putri Api menepuk dahinya, kenapa ia tidak pernah terpikirkan seperti itu. Benar kata, Yaya. Ia harus menerawang keberadaan kunci itu. Putri Api memejamkan matanya, memfokuskan penglihatannya yang memikirkan tentang kunci dari kotak itu. Masih gelap, tidak ada pertanda, Putri Api mencoba lebih konsentrasi. Ia semakin memejamkan mata dan memusatkan penglihatan. Mata Putri Api tersentak, matanya tiba-tiba terbuka lebar. "Kalung itu berada pada seseorang," ucap Putri Api. "Seseorangnya siapa?" "Ia sedang memakai kalung itu." "Siapa?" "Dia seorang pria ...." **** Hallo, Guys! Aku comeback! Semoga masih ada yang nungguin Van Vuur Water, ya. Ayo, muncul di komentar biar aku semakin semangat lanjutinnya. Terima kasih, semua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN