Telapak Tangan

707 Kata
Putri Api bergelayut manja dengan Permaisuri Raqia membuat wanita paruh baya itu mendengkus karena tak biasanya putri nakalnya itu bergelayut seperti anak monyet dengan induknya. "Sebutkan saja. Kau mau apa, Putri Api?" "Aku hanya ingin bermanja denganmu, Abu." "Panggil aku ibunda!" tajam Permaisuri Raqia, Putri Api terkekeh pelan melihat ibundanya itu menatap garang. "Iya, Abu." "PUTRI API!" "Hadir, Abu!" "AKU BAKAR KAU, PUTRI API!" ancam Permaisuri Raqia. "Hahaha ... bakar saja lah, Abu. Kau lupa? Aku putri Api, putri Van Vuur sekaligus. Jika Abu membakarku maka semakin bertambahlah kekuatanku," ucap Putri Api yang membuat Permaisuri Raqia geram. Permaisuri Raqia tersenyum sinis, ia menatap putrinya lembut. "Sini tangannya, Sayang!" ucap Permaisuri Raqia menatap Putri Api selembut sutera. Putri Api yang melihat tatapan lembut menghipnotisnya memberikan saja telapak tangannya tanpa pikir panjang. Permaisuri Raqia tersenyum senang lalu menyatukan telapak tangannya dengan telapak tangan Putri Api. Permaisuri Raqia langsung menyalurkan api yang menyakitkan ke tangan Putri Api. Namun, tiba-tiba ... Permaisuri Raqia menarik tangannya kembali. Putri Api terkejut melihat gerakan cepat sang ibunda yang seperti ketakutan. "Ada apa di tanganmu, Putri Api?" "Tidak ada apa-apa, Abu." "Tangan kau dingin sedingin es batu dan basah!" Putri Api yang tersadar segera memyembunyikan telapak tangannya ke belakang. Ia juga heran sebenarnya karena tangannya selalu mengeluarkan air tapi bukan keringat. Putri Apu merasakan seperti ada mata air yang tumbuh di telapak tangannya. Tidak masuk akal, dia adalah seorang putri Kerajaan Api tidak mungkin mempunyai kekuatan lain seperti ... air, bukan? Permaisuri Raqia menarik lengan Putri Api berjalan mengikutinya. Wanita paruh baya itu mengajak Putri Api ke ruangan sang raja. Ini tidak bisa dibiarkan. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada putrinya. Permaisuri Raqia memaksa putrinya masuk ke dalam ruangan Raja Rowned. Putri Api mendengkus kesal, ibundanya itu menariknya seperti kambing yang tak mau masuk kandang. Setelah masuk, Putri Api tanpa berucap sepatah kata ataupun memberikan salam langsung duduk di kursi hadapan raja. "PUTRI API! Di mana sopan santunmu!" teriak Permaisuri Raqia yang membuat Putri Api buru-buru bangkit. "Salam ananda, Yang Mulia Honda!" "Panggillah ayahmu dengan benar!" tajam Permaisuri Raqia. "Mohon ampun. Salam ananda, Yang Mulia, Ayahanda!" ulang Putri Api. "Ada apa, Putriku?" tanya Raja Rowned. Permaisuri Raqia membungkukkan badannya menghormati Raja Rowned. "Salam hamba, Yang Mulia." "Apa tujuan kalian kemari?" tanya Raja Rowned lagi. "Aku merasakan telapak tangan Putri Api berair dan dingin. Apakah itu tidak berbahaya?" Raja Rowned beralih menatap Putri Api yang menundukkan kepalanya. Putri Api hanya diam sembari menyembunyikan tangannya ke belakang. "Putri Vuur Land. Berikan tanganmu. Aku ingin melihatnya." Putri Api menggeleng. Permaisuri Raqia menyenggol lengan putrinya itu agar memberikan tangamnya kepada Raja Rowned. Putri Api mengembuskan napas sebentar, dengan ragu ... ia memberikan telapak tangannya kepada Raja Rowned. Raja Rowned memperhatikan telapak tangan Putri Api lalu meraba telapak tangan putrinya. "Apakah kau pernah menaruh hati pada seorang pria?" tanya Raja Rowned. "Ha?" heran Putri Api. "Tangan kau berair dan basah. Apakah kau menyukai seorang pria dari Negeri Land Water?" "Tidak, Ayahanda. Ananda baru saja masuk sekolah, mana mungkin ananda langsung jatuh cinta," jawab Putri Api. Kenapa ayahandanya menanyalan hal tak penting itu? "Apa Maksudmu, Yang Mulia?" tanya Permaisuri Raqia ikut bingung. "Biasanya, jika putri dari Negeri Vuur Land mencintai putra Negeri Land Water. Maka, kekuatannya akan hilang berganti menjadi kekuatan putra yang dicintainya. Jadi, jika Putri Api mencintai pria Negeri Air itu, dia akan kehilangan kekuatannya," jelas Raja Rowned. "Menurut pemahaman sejarah seperti itulah. Makanya, api dan air tidak akan pernah bersatu karena kekuatan masing-masing akan hilang." "Pria mana yang kau cintai, Putri Api?" tanya Permaisuri Raqia tajam. "Aku tidak mencintai siapa pun." "Berkatalah jujur, Putriku!" tegas Tanya Rowned. "Sungguh, aku tidak mencintai siapa pun. Masalah tanganku yang berair aku juga heran karena ini terjadi sejak dua bulan yang lalu," jelas Putri Api yang membuat Raja Rowned dan Permaisuri Raqia terkejut. "Kenapa kau tidak pernah meberitahuku?" tanya Permaisuri Raqia. "Karena menurutku, ini tidak penting." "Apakah itu sebuah pertanda?" ucap Raja Rowned kembali bertanya-tanya. Apa yang terjadi dengan putrinya? "Putri Api, bersiaplah. Aku akan membawamu ke suatu tempat untuk mengujimu," ucap Raja Rowned. "Ke mana, Ayahanda?" "Sudah, jangan ditanyakan. Sekarang kau bersiap-siap saja!" suruh Permaisuri Raqia. "Iya, Ibunda." *** Hai Guys! Segini dulu ya. Ini au sempetin nulis saat daring. Semoga kalian suka ya. Terima kasih semuanya. Thanks ~Amalia Ulan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN