Pangeran Air, kau harus melatih kekuatan untuk menjadi calon raja!" ucap Raja Dafnas tegas.
"Baik, Ayahanda."
"Ibunda kau bilang, apa benar kau sering bermain dengan api?" tanya Raja Dafnas penuh selidik.
Pangeran Air terdiam. Tak mampu membuka suara.
"Ingat, Putraku. Kau seorang Pangeran Air. Kau juga sudah diangkat menjadi Pangeran Land Water, yaitu pangeran Negeri Air."
"Iya, Ayahanda."
"Mulai sekarang, jauh-jauh lah dari api. Jangan pernah memainkannya lagi karena sejatinya, api dan air adalah musuh."
Setelah itu, Raja Dafnas meninggalkan putranya yang masih terdiam. Permaisuri Delita yang melihat itu segera menghampiri putranya.
"Putraku, Dafta!" panggil Permaisuri Delita. Pangeran Air segera menoleh.
"Hormat ananda, Ibunda." Pangeran Air membungkukkan badannya menghormati Permaisuri Delita.
"Dafta, aku tahu kau sangat menyukai api, bukan?"
Pangeran Air kembali terdiam.
"Tidak masalah jika benar," ucap Permaisuri Delita yang membuat Pangeran Air langsung menatap ibundanya.
"Oh, benarkah?" tanya Pangeram Air dalam hati bersorak senang.
"Tapi, dengan syarat kau tetap bisa menaklukkan air sebagai kekuatanmu."
Permaisuri Delita sudah menyangka jika putranya akan menyukai api karena di sanalah asalnya. Putra Kerajaan Api tinggal di Kerajaan Air tentu saja membuahkan rasa kurang nyaman. Permaisuri Delita paham perasaan Pangeran Air. Andai saja, putranya itu tahu, jika ia bukanlah pangeran asli Kerajaan Air.
"Baik, Ibunda."
"Keluar, lah! Wina sudah menunggu kau sejak tadi," suruh Permaisuri Delita. Alis Pangeran Air bertatut mendengar nama gadis itu.
"Untuk apa dia kemari, Ibunda?"
"Kau seperti tidak tahu saja, menjadi pangeran yang tampan vmemang seperti itu, Nak. Layani dengan baik, sana!"
"Ak–aku."
"Sudah. Ayo, Wina cantik, bukan?"
"Biasa saja, Ibunda."
"Ah, menilai lah dengan sesungguhnya."
Pangeran Air dengan terpaksa keluar ruangan menemui gadis yang selalu menemuinya sejak dua bulan yang lalu.
"Hormat saya, Pangeran Air!" ucap Wina membungkukkan badan setelah bertemu dengan lelaki pujaannya.
"Ada apa?" tanya Pangeran Air dengan muka datar khasnya.
"Aku hanya ingin melihatmu, menatap ketampananmu yang membuatku tak bosan untuk terus memandang."
Pangeran Air hanya diam tak berekspresi apa pun.
"Kenapa kau kemari dengan hal tidak penting?"
"Menatapmu sebuah kebutuhan bagiku. Rindu terus menyiksaku jika tidak bertemu denganmu, Pangeran."
"Sudah lah, Win. Aku ada urusan," ucap Pangeran Air melangkah pergi dari situ. Wina langsung menahan lengan Pangeran Air.
Pria itu berdecak, apalagi lengannya dipegang oleh gadis itu.
"Apakah menurutmu, memegang lengan seorang pangeran sebuah bentuk kesopanan?"
Tersadar dengan apa yang telah dilakukannya, Wina segera melepaskan tangannya dari lengan Pangeran Air.
"Ma–maaf, Pangeran."
Pangeran Air hanya mengabaikan, lalu dia berlalu dari situ, meninggalkan Wina yang mencebik kesal karena terlalu sulit menggapai Pangeran Air.
"Aku harus bisa mendapatkannya!"
Wina adalah seorang putri kerajaan Air lain yang berada di Negeri Land Water juga. Akan tetapi, kerajaannya hanya cabang dari kerajaan besar, Kerajaan Van Water.
Wina merupakan putri Kerajaan Van Water-1 yang letaknya tak terlalu jauh dari Kerajaan Van Water, sehingga membuat Wina bisa menemui Pangeran Air kapan pun dia mau.
Pertemuan Wina dengan Pangeran Air pada saat rapat anggota kerajaan yang diadakan dua bulan yang lalu. Pangeran Air mewakili kerajaan besar air dalam rapat tersebut. Cara Pangeran Air memimpin rapat itu membuat Wina langsung menaruh hati kepada pria tampan nan dingin itu. Sejak itu, Wina semakin tergila-gila dengan Pangeran Air, apalagi orang tuanya semakin mendukung agar Wina berjodoh dengan Pangeran Air.
***
Pangeran Air berjalan di sepenjuru lorong dengan gagahnya membuat pelayan yang melihat ingin berteriak tertahan. Pesona Pangeran Air tak perlu diragukan lagi. Aura yang dipancarkannya bisa menghipnotis siapa saja.
"Lihat, dia semakin tampan."
"Andai saja, aku seorang putri mungkin aku bisa bersanding dengannya."
"Ah, jangan menghayal. Kau hanya seorang pelayan."
"Lihat, jalannya saja membuat kita terpesona."
"Impianku adalah, melihat senyumnya."
"Iya, jarang sekali pangeran tampan itu tersenyum."
Pangeran Air yang memiliki kemampuan mendengar suara dari jauh hanya diam tak berkomentar mendengar ucapan para pelayan, dia tetap melanjutkan langkahnya melewati pelayan yang menatapnya meleleh.
Risiko menjadi pangeran memang puas akan pujian, tapi apakah akan terus mendapatkan pujian? Tentu saja ada yang membicarakan buruk tentangnnya, seperti sekarang. Pangeran Air dapat mendengar suara yang tengah membicarakannya. Jarak suara itu dari kejauhan 15 meter.
"Pangeran Air memang tampan, tapi dia sangat sombong."
"Iya, dia tidak pernah tersenyum. Emang sombong dari lahir."
"Mentang-mentang jadi pangeran, dia tidak mau berbaur dengan kita."
"Huft ... andai saja dia seorang prajurit yang sombong. Pasti kita sudah menimpuknya dengan ribuan beras."
Pangeran Air hanya diam mendengar celotehan pelayan itu. Walau sangat jauh, tapi Pangeran Air dapat mendengar semua percakapan yang membicarakannya.
Termasuk apa yang sudah diucapkan gadis bermasker yang ditemuinya kemarin. Pangeran Air tahu jika gadis itu tengah membicarakannya juga.
"Pangeran Air!" panggil seseorang yang membuat Pangeran Air menoleh ke asal suara.
Yang memanggilnya adalah Mark, pria itu tengah berlari mengejar Pangeran Air.
Keasikan berlari, Mark tidak menyadari ada sebuah batu di depannya yang membuat Mark.
BRUKKK.
"ADUUH!" ringis Mark karena pantatnya mencium lantai dingin.
"Siapa suruh kau berlari," ucap Pangeran Air yang sudah berada di hadapan Mark.
"Maaf, Pangeran."
Pangeran Air mengulurkan tangannya membantu Mark berdiri.
"Ada apa?" tanya Pangeran Air.
"Saya minta maaf karena terlambat menemanimu, Pangeran."
"Tidak masalah."
"Tadi saya pulang ke rumah, membantu kambing saya melahirkan."
"Oh."
"Kambing saya beranak dua, bayinya kembar."
"Oh."
"Anak kambing saya jantan dan betina, mirip sama induknya."
"Oh."
"Saya tadi juga mau belikan s**u untuk bayinya dulu, Pangeran."
"s**u induknya ada."
"Oh, iya. Padahal saya sudah belikan s**u dancow."
"Oh."
"Pangeran mau ke mana?"
"Tidur."
"Oh, perlu saya temanin?"
"Tidak."
"Baiklah, Pangeran. Selamat tidur."
"Ya."
Pangeran Air melangkah pergi meninggalkan Mark. Dalam hati Mark menahan kesal.
Huft, padahal sudah cerita panjang lebar, ditanggepin cuma oh, oh, doang. Pangeran Air kehabisan kosa kata kali, ya. Gumam Mark dalam hati.
"Aku bisa mendengar ucapanmu, Mark!" teriak Pangeran Air.
Mampus!
"Berarti sekarang, Pangeran Air tidak hanya mampu mendengar suara dari kejauhan, tapi di dalam hati dia juga bisa mendengar!" ucap Mark kalang kabut karena telah ketahuan sedang membicarakan tuannya.
"Ampun, Pangeran!"
***