"Hei, aku seperti pernah melihatmu!"
Putri Api terkejut bukan main mendengar suara dari belakangnya. Jantung Putri Api berdetal kencang. Apakah penyamarannya akan terbuka secepat itu?
Putri Api enggan menolehkan kepalanya.
"Hei, namaku Pangeran paling tampan sejagat raya. Nama kamu Yaya, kan?" ucap seorang pria dari belakang Putri Api.
Putri Api bernapas lega karena pria itu tidak mengenalinya, melainkan mengenali Yaya.
"Ma–maaf. Apakah kita pernah bertemu?" tanya Yaya gugup.
"Kamu murid baru tadi, kan? Kita sekelas," jawab pria itu.
"Oh." Yaya jadi salah tingkah ditatap oleh pria itu intens.
Putri Api memakan makanannya cepat takut-takut ada yang mengenalinya. Setelah selesai, Putri Api melap bibirnya dengan tisu lalu menutup kembali mukanya dengan masker.
"Apakah aku boleh mengenalmu lebih dekat?" tanya pria itu tak gentar mendekati Yaya.
"Ma–maaf. Mak–maksudnya?"
"Namaku Jordan. Panggil saja, Jo!"
"Baik, Jo!"
"Ekhemm," dehem Putri Api menggoda Yaya.
"Eh, iya. Kamu Pricil, kan?" Jordan berjalan ke arah Yaya menghadap ke Putri Api.
"Iya," jawab Putri Api singkat.
"Aku tidak tahu wajahmu, kenapa kamu memakai masker?" tanya Jordan.
Putri Api tak menjawab. Ia segera bangkit dan berlalu dari sana, sebelum identitasnya terbongkar.
***
Putri Api berlalu meninggalkan Yaya bersama pemuda yang sepertinya menyukai Yaya.
Yaya yang melihat tuan putrinya pergi tentu saja mengikuti Putri Api meninggalkan Jordan di sana. Jangan sampai, Yaya digantung oleu Raja Rowned karena tidak menemani Putri Api.
Langkah Putri Api berhenti karena dia dihadang oleh lima orang gadis yang mengganggunya tadi pagi. Siapa lagi, jika bukan geng Reina biang rusuh.
"Gue mau nanya sama lo! Kenapa ruang isolasi bisa terbakar? Sedangkan, tidak ada sumber api di sana," tanya Reina berdekap d**a.
"Entah," jawab Putri Api.
"Berani sekali lo berbicara seperti itu sama gue! Tari, bawa mereka ke gudang di roftop!" suruh Reina.
"Apaansih, gaje!" ucap Putri Api mengikuti gaya bicara mereka lalu menarik Yaya menerobos badan kelima gadis itu.
"WOY! BERHENTI GAK!"
Putri Api tak mengidahkan teriakan Reina. Dia tetap berjalan dengan langkah seribu, sampai tak sengaja menabrak badan seseorang.
"Duh, maaf botak!" ucap Putri Api.
"Botak? Saya kamu bilang botak?"
Putri Api melihat setelan pakaian yang dipakai bapak itu. Putri Api menelan salivanya susah. Bapak itu memakai setelan guru. Oh, Putri Api sudah salah menabrak orang.
"Maaf, Pak. Saya pikir siswa, Pak. Soalnya, Bapak pendek sih. Botak lagi, macam tuyul!"
Pak Hartono yang mendengar hinaan dari Putri Api melototkan matanya yang sebesar bola basket.
Berani sekali muridnya satu ini berbicara seperti itu kepadanya.
"Saya kepala bidang di sekolah ini! Saya penyetor paling banyak untuk sekolah ini."
"Kepala bidang? Kepala bapak saja licin tak berpenghuni, mending dikontrakin deh, Pak."
Setelah mengatakan itu, Putri Api segera berlari menjauh dari Pak Hartono.
"Dasar, murid kurang ajar!"
***
Setelah hampir seharian penuh berada di sekolah. Putri Api kembali ke istana. Dia akan menghabiskan waktunya untuk belajar menggunakan kekuatannya di istana.
"Mohon ampun, Putri Api. Yang Mulia Raja memanggilmu ke ruangannya," ucap seorang pelayan menghampiri Putri Api.
"Iya."
Putri Api segera berjalan ke ruangan Raja Rowned. Tentunya di sana ada ibundanya.
"Ada apa, Honda?" tanya Putri Api.
"Putri Api! Berbicara yang benar! Kau bukan balita lagi!" tajam Permaisuri Raqia.
"Iya, Abu." Putri Api terkekeh melihat mata Permaisuri Raqia semakin melotot lebar.
"Mohon ampun, Ayahanda. Ada apa ananda dipanggil kemari?" tanya Putri Api mengulang ucapannya.
"Empu Eyang ingin bertemu dengan kau, wahai putriku."
Putri Api segera membungkukkan badannya di hadapan Empu Eyang. Ia baru menyadari keberadaan Empu Eyang di samping Raja Rowned.
"Yang Terhormat, Empu Eyang!" salam Putri Api kembali membungkukkan badannya.
"Salam kembali, Putri Vuur Land."
"Terima kasih."
Putri Api duduk di sebelah Permaisuri Raqia menghadap Empu Eyang.
"Langsung saja. Saya ingin memberikan kalung ini untukmu," ucap Empu Eyang memberikan sebuah kalung berliontin kunci kepada Putri Api.
"Mohon ampun, Empu Eyang. Kalau boleh saya tahu, kalung apakah ini?"
"Saya tidak akan memberitahumu, tapi kau harus mencari tahu sendiri, kegunaan kalung itu."
"Baiklah."
Putri Api mengambil kalung itu dari tangan Empu Eyang.
"Silakan dipakai, Putri Vuur Land."
"Baik, Empu Eyang."
"Kalung itu akan bersinar jika pemilik aslinya memakai kalung tersrbut. Jika tidak terjadi apa-apa, kau harus mencari cara agar kalung itu bersinar."
Permaisuri Raqia segera membantu putrinya memakaikan kalung tersebut. Kalung bewarna merah itu tidak terjadi apa-apa ketika dipakai oleh Putri Api. Raja Rowned dan Permaisuri Raqia terkejut tidak ada reaksi apa-apa ditunjukkan kalung itu.
"Mohon ampun, Empu Eyang. Kenapa kalung itu tidak bereaksi apa pun?" tanya Permaisuri Raqia penasaran.
"Berarti, Putri Api harus mencari cara agar kalungnya bersinar," jawab Empu Eyang.
"Kalung itu juga bisa melindungimu, Putri Vuur Land," ucap Empu Eyang kepada Putri Api.
"Satu lagi, Putri Vuur Land. Simpanlah kotak ini di tempat yang aman, kau harus bisa menjaganya sebaik mungkin," ucap Empu Eyang memberikan sebuah kotak.
"Kotak apa ini?" tanya Putri Api. Permaisuri Raqia menyenggol putrinya karena kurang sopan dengan Empu Eyang.
"Eh?" Putri Api menyadari kesalahannya.
"Mohon ampun, Empu Eyang. Kotak apakah ini?" ulang Putri Api.
"Suatu saat nanti, kau pasti tahu apa guna kotak tersebut!" ucap Empu Eyang.
"Baiklah. Terima kasih, Empu Eyang."
***
Kerajaan Air.
Pangeran Air duduk bersila sambil menatap sebuah kalung yang diberikan kepadanya oleh Empu Eyang. Katanya, kalung itu akan memancarkan cahaya jika dipakai oleh orang yang tepat, tapi mengapa pada saat ia memakai tak bereaksi apa-apa?
"Apa kalung ini bukan milikku?" tanya Pangeran Air.
"Kotak itu?"
Pangeran Air langsung berlari ke kamarnya mencari kotak itu. Ia masih ingat jika kotak itu terkunci tidak bisa terbuka.
Apakah kalung yang diberikan kepadanya berfungsi untuk membuka kotak tersebut? Entahlah, Pangeran Air ingin mencobanya.
Pangeran Air mencoba membuka kota itu memakai mainan kalungnya yang berbentuk kunci. Namun, kotak itu tetap saja tidak bisa terbuka.
"Kenapa tidak bisa terbuka?"
Pangeran Air memperhatikan kotak itu lagi. Ia melihat sebuah lambang berbentuk api. Pangeran Air terkejut hampir saja menjatuhkan kotak itu jika ia tidak sigap menangkapnya kembali.
"Lambang apa ini?" tanya Pangeran Air.
"Ini bukan lambang kerajaan Van Water."
"Lalu, lambang apa?"
Semua itu membuat Pangeran Air bertanya-tanya. Ia juga merasakan keanehan dalam dirinya yang merasakan gejolak panas. Pangeran Air selalu berpikir keras tentang dirinya yang malah mencintai api bukan air.