Kantin

875 Kata
Pangeran Air berlalu dari tempat itu bersama Mark yang senantiasa mengekorinya dari belakang. Aksinya tadi pasti membuat semua warga sekolah terkejut. Ya, biarlah semua orang tahu. Toh, Pangeran Air berasal dari negeri seberang, Negeri Land Water. Pangeran Air kembali mengingat gadis yang ditemukannya tadi, ia menebak pastinya gadis itu penyebab kebakaran. Namun, Pangeran Air kembali bertanya-tanya, siapa gadis itu sebenarnya? Bagaimana bisa dia menyalakan api besar membuat kebakaran? Satu hal yang melintas di kepala Pangeran Air. Apakah gadis itu berasal dari Negeri Vuur Land? "Pangeran, apa yang sedang Pangeran pikirkan?" "Tidak ada." "Tapi, saya seperti melihat kebingungan dari wajah Pangeran." Pangeran Air hanya diam. Ia mengerinyit melihat sekelompok perempuan datang mendekatinya. "Hai," sapa salah satu dari lima gadis itu. Pangeran Air hanya diam, dia hanya menoleh sekilas lalu memalingkan wajahnya. "Boleh kenalan, gak? Namaku Reina, aku anak bangsawan terbesar di negeri ini, ayahku juga pendiri sekolah ini. Salam kenal," ucap Reina mengulurkan tangannya yang tak disambut Pangeran Air. Pangeran Air malah bangkit dan meninggalkan kelima gadis itu yang melongo melihat aksi Pangeran Air. "Dih, sombong banget tuh, cowok! Untung ganteng," dengkus Reina kesal. "Pepet terus aja, Rei!" ucap teman Reina yang bernama Tari. "Iya, pokoknya gue harus deketin dia. Gue harus bisa pacaran dengannya." "Emang cowok itu siapa, sih?" tanya Tanta yang belum mengenal Pangeran Air. "Dia Dafta, pria dari negeri seberang." Mereka belum tahu saja, pria negeri seberang yang mereka kenal merupakan pangeran negeri air. *** "Hallo, perkenalkan nama saya Princess Pricillia Va–" Putri Api memberhentikan ucapannya, dia tak mungkin memperkenalkan nama lengkapnya di hadapan teman-teman barunya. Sebab, jika Putri Api menyebutkan nama Van-Vuur tentu saja semua orang tahu dia putri kerajaan tersebut. "Nama saya Princess Pricillia, va–vanggil eh panggil aja Pricil," ucap Putri Api. "Hai Pricil." "Pricil, kamu yang tadi ada di tempat kebakaran, kan?" "Ah, iya. Pricil kamu tidak apa-apa?" "Sudah anak-anak. Nanti dilanjutkan perkenalannya, ya. Pricil silakan duduk!" suruh Bu Tina, guru yang mengajar di kelas hari ini. "Baik, Buk." "Yaya, kamu juga perkenalan diri ya!" suruh Bu Tina. Yaya menggeleng pelan. "Saya tidak berani, Nyonya!" ucap Yaya. Putri Api langsung menyenggol lengan Yaya karena gadis itu salah panggilan. "Panggil saya ibuk saja," ucap Bu Tina yang aneh mendengar ucapan Yaya. "Eh, iya. Maaf Nyo–Buk." "Silakan duduk Yaya dan Pricil, kursi kalian di belakang." Putri Api langsung menarik Yaya ke kursi tempat mereka duduk. "Sebelumnya, ibu minta maaf karena kejadian tadi mengganggu kenyamanan kalian. Pihak sekolah akan menelusuri kebakaran tersebut. Ibuk juga minta maaf kepada Pricil dan Yaya yang menjadi korban, maaf membuat kesan pertama kalian di sekolah ini mengecewakan." "Tidak apa-apa, santai aja!" jawab Putri Api. "Buk," sambung Putri Api yang terlupa meletakkan sapaan pada ucapannya. "Baiklah, kita mulai saja ya pelajaran hari ini." "Baik, Buk." *** Pelajaran telah usai, waktunya siswa istirahat untuk mengisi perut yang kosong atau melepaskaj kepenatan setelah belajar. Putri Api mengajak Yaya pergi ke kantin mencari makanan. Kantin di sekolah tentu saja tidak seperti dapur istana yang membebaskan Putri Api mengambil makanan apa saja. Di sini, Putri Api tentu membayar semua makanan yang dibelinya. "Pricil, aku mau nanya, kita berada di negeri apa sebenarnya sekarang?" tanya Yaya yang masih dilanda keheranan. "Negeri Bumitan. Di negeri ini tidak mespesialkan api ataupun air. Semua kekuatan tidak akan tampak, karena negeri ini datar dan sama saja," jawab Putri Api. Putri Api mengeluarkan sesuatu dari saku roknya. "Kau tahu? Ini namanya ponsel, kita bisa menghubungi seseorang jika kita tahu nomor ponselnya. Di ponsel ini, kita juga bisa menggunakan sosial media," jelas Putri Api. "Maaf Pricil, maksud sosial media itu, apa?" tanya Yaya yang polos hanya tahu ruang lingkup kerajaan Van Vuur. "Hadeuh, sosial media itu ada di ponsel ini berbentuk aplikasi. Nah, gunanya untuk mengetahui keberadaan orang lain dan melihat apa saja yang dilakukannya." (Note _catatan penulis_ : Bagi kalian yang sedang baca ini, jangan samakan dengan dunia kita karena cerita ini fantasi. Memang ada benda2 yang ada di realita seperti Hp atau lain2nya, tapi gunanya berbeda dalam cerita ini. Sosmed juga ada guna lainnya. Maaf jika membingungkan! Silakan lanjutkan membaca.) "Wah, kenapa di istana tidak ada benda seperti itu?" tanya Yaya. Dia juga pengin memainkan benda itu. "Istana tidak mengizinkan, karema jika di istana banyak aturannya. Ini saja aku bisa mendapatkannya atas bujukan sama ayahanda." "Apa permaisuri tahu?" tanya Yaya. "Tentunya tidak, jika tahu, ponsel ini pasti disita." Makanan tiba, pelayan kantin langsung menghidangkan ke meja Putri Api dan Yaya. "Yaya, gimana caranya aku makan jika memakai masker?" tanya Putri Api karena dia masih mengenakan masker. "Dibuka aja dulu Pricil, tidak akan ada yang melihatmu!" ucap Yaya. "Benarkah? Jika ada yang mengenaliku bagaimana?" "Aku akan menutupi mukamu!" "Baiklah." Putri Api membuka maskernya perlahan. Di kantin tidak terlalu banyak pengunjungnya, karena biasanya. Murid SNB 1 (Sekolah Negeri Bumitan Satu) menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan yang bisa dijadikan tempat untuk menikmati makanan. Putri Api jadi ingin pergi ke sana. "Hei, aku seperti pernah melihatmu!" Putri Api terkejut bukan main mendengar suara dari belakangnya. Jantung Putri Api berdetal kencang. Apakah penyamarannya akan terbuka secepat itu? Putri Api enggan menolehkan kepalanya. "Hei, namaku Pangeran–" =BERSAMBUNG= **** Hai semuanya, makasih ya yang sudah mau baca Maaf aku updatenya pendek2 Insyaallah aku akan post banyak chapternya. Terima kasih bagi yang mau membaca. Jangan lupa tinggalkan Vote and Commentnya. Thanks ~Amalia Ulan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN