Putri Api membakar segala seudut du tempat itu yang mulai bercahaya. Hawa panas mulai terasa. Putri Api berdecak kagum melihat tempat ini yang indah diterang api.
"KEBAKARAN!" teriak orang dari luar.
Api semakin membakar ruangaan itu. Yaya khawatir ia termakan oleh api yang besar dibuat oleh Putri Api itu.
"Kamu jangan takut, Yaya. Lihat, api ini lembut denganku," ucap Putri Api santai sambil memainkan api di tangannya.
"KEBAKARAN!"
"KEBAKARAN!"
"KEBAKARAN!"
Semakin banyak teriakan-teriakan dari luar yang panik melihat asap menggempul di sana. Pangeran Air yang melihat itu bergerak cepat melihat api yang sudah meraja lela.
"Pangeran, jangan mendekat ke sana!" tegur Mark yang menemani Pangeran Air.
"Aku ingin ke sana!"
Pangeran Air mendekat ke api itu. Orang-orang berteriak terkejut melihat Pangeran Air hendak menerobos api itu.
"Cowok itu gila!"
"Api itu bisa membakar badannya."
"Hentikan pria itu!"
Mark panik tujuh keliling melihat Pangeran Air yang sudah berada di depan api itu.
Pangeran Air tersenyum merasakan kehangatan api yang menyapu wajahnya. Ia bahkan merentangkan tangannya demi menikmati kehangatan itu lebih lama. Peluh membanjiri pelipis Pangeran Air.
Putri Api mengarahkan telunjuknya ke pintu yang masih tertutup itu, ia membakar pintu agar bisa keluar dari situ. Putri Api menarik tangan Yaya untuk keluar bersamanya dari tempat itu.
Putri Api terkejut karena tiba-tiba menabrak badan sesrorang di hadapannya.
"Hei, kau kenapa berdiri di situ?" celoteh Putri Api karena telah menabrak badan Pangeran Air.
Pangeran Air hanya diam, dia yang nabrak kenapa dia yang marah? Batin Pangeran Air.
Semua orang melongo tak percaya melihat mereka terlihat santai tak takut melihat api di hadapannya. Putri Api cengengesan melihat orang-orang menatapnya intens.
"Ayo ke sini, nanti kamu terbakar!" suruh seorang guru yang terkejut tak menyangka ada kebakaran di bawah tanah.
Putri Api melentikkan tangannya, tapi tiba-tiba lengannya disenggol oleh Yaya.
"Pricil, jangan gunakan kekuatanmu!" bisik Yaya.
Putri Api tersadar lalu memyembunyikan tangannya kembali.
Api yang semakin membesar orang-orang mulai berdatangan menyiram untuk memadamkan api itu. Pangeran Air yang melihat teman-temannya sangat lamban, mendengus pelan.
Pangeran Air mengarahkan telapak tangannya ke ruangan terbakar itu, dalam sekejab mata api pun lenyap tak tersisa. Putri Api, Yaya, dan semua yang berada di sana melongo tak percaya melihat Pangeran Air yang memadamkan api itu sekejab mata.
"Hei, bagaimana bisa kau memadamkan apiku?" tanya Putri Api tak percaya.
"Upss!" Merasa tersadar, Putri Api menutup mulutnya. Jangan sampai orang lain tahu akan kekuatannya.
Untung saja, Pangeran Air tak mendengar ucapan Putri Api. Pria itu melangkah meninggalkan tempat yang sudah padam akibatnya itu. Putri Api masih bertanya-tanya, siapakah pria itu sebenarnya?
***