Sebelum melangkah masuk ke gerbang, mata Putri Api menyipit melihat sebuah cahaya yang berasal dari belakang gedung. Kakinya dilangkahkan menuju ke sana. Yaya yang melihat Putri Api berjalan ke arah sana mengekorinya dari belakang.
"Putri Api mau ke mana?"
"Jangan panggil aku Putri Api di sekolah!" peringat Putri Api sekali lagi.
"Eh, iya. Maaf, Pricil."
Putri Api tetap melanjutkan langkahnya, ia seperti melihat percikan api yang menyala di belakang gedung.
Ternyata benar, ada seseorang yang tengah menghidupkan api. Putri Api mengerjab-ngerjabkan matanya tak percaya melihat ada seseorang yang bisa menghidupkan api selain dirinya.
Dari mana pria itu berasal? Kenapa dia bisa melakukan itu?
Yaya yang menyadari Putri Api ditatap oleh pria itu mencoba memberikan kode untuk Putri Api melepaskan tatapannya. Namun, Putri Api masih melamun tak menyadari seseorang yang tengah menatapnya intens.
"Putri Api. Eh—"
"Pric—"
"Pricil!"
"Pricil, ayo kita kembali!"
"Eh?" Putri Api tersadar lalu segera membuang mukanya, tertangkap basah tengah memperhatikan seseorang. Putri Api malu sekali.
"Eh, ma–maaf, Tuan!" ucap Putri Api lalu berlalu dari sana.
Putri Api segera berlalu dari situ sambil menarik Yaya bersamanya.
***
Seperti biasanya, sekolah mengadakan perkenalan terhadap lingkung sekolah terlebih dahulu kepada siswa barunya. Putri Api dan Yaya berkeliling melihat sekitar gedung ini yang sangat luas. Putri Api berlari menuju taman sekolah yang penuh dengan bunga. Tangannya diputar lalu diayunkan pelan tak sadar Putri Api membakar batang bunga mawar di sana.
"Mampus," decaknya.
"Putri Api, apa yang telah Putri Api lakukan?" Yaya terkejut memandangi bunga mawar itu yang sudah dilahap api.
"Air, air, cepat padamkan api itu!" panik Putri Api kocar kacir.
"Di mana aku mendapatkan air, Putri Api?"
"Ah, sekali lagi dan lagi jangan panggil aku Putri Api, ayo kau ambil air di danau sana!" suruh Putri Api santai. Yaya melongo tak percaya, jarak danau sangat jauh dari sini, lagi pula Yaya tidak mengetahui jalannya.
Api semakin merebak, Putri Api semakin panik apalagi melihat di ujung sana ada sekelompok orang yang menuju ke taman.
"Bagaimana, ini?" tanya Putri Api.
Bruss.
Tiba-tiba api padam karena ada air yang membasahi bunga tersebut. Putri Api menganga tak percaya, dari mana air itu berasal?
"Jika kau bisa membakarnya, kau juga harus tau cara memadamkannya," ucap suara dari belakang Putri Api.
Putri Api yang penasaran segera menoleh ke belakang melihat pemilik suara. Mata Putri Api menyipit seperti tidak asing melihat pria itu. Oh, bukankah pria itu yang menghidupkan api di belakang gedung tadi?
"Hei, kau siapa, apakah kau yang memadamkan ap–"
Sebelum Putri Api menyelesaikan pembicaraannya, pria itu berbalik meninggalkan Putri Api.
"Ck," decak Putri Api merasa diabaikan.
"Siapa sih laki-laki itu?"
"Sombong sekali dia!"
"Aku tidak menyukainya!"
"Sombong, sih. Tapi, tampan juga ya, Pricil?" Yaya tersenyum menatap punggung pria itu yang sudah menjauh.
Putri Api menoleh menatap Yaya yang masih senyum-senyum sendiri. Putri Api berdehem pelan menyadarkan Yaya, tapi yang disindir tidak menyadari tatapan sinis Putri Api.
"YAYA!" pekik Putri Api keras.
"Eh, iya Tuan Putri!" jawab Yaya refleks.
"Terus saja kau memanggilku Tuan Putri, aku bakar p****t kau, mau?" ancam Putri Api.
"Maaf, Pricil. Sangat sulit bagi hamba mengganti panggilan."
"Biasakan mulai sekarang!" tajam Putri Api.
"Baik, Tuan Putri."
Putri Api berkacak pinggang, ia mendesis pelan.
"Eh, baik, Pricil!"
***
"Woy, lo ngapain di sana, ha?"
Putri Api menunjuk dirinya memastikan jika dia yang dipanggil woy oleh gadis di hadapannya.
"Iya, lo b**o!"
"Nama saya Pricil, bukan Woy!" bantah Putri Api.
"Siapa pun itu, gue gak peduli. Tidak ada yang boleh ke taman ini kecuali geng gue, mengerti?"
Putri Api hanya diam memperhatikan gadis tinggi berambut priang itu bersama empat orang temannya di belakang. Putri Api malah menatap hiasan di kepala gadis itu yang sangat besar.
"Itu di kepalanya jepitan rambut, apa pot bunga, ya," gumam Putri Api yang terdengar oleh gadis yang tengah disindirnya.
"Lo ngejek gue, ha?"
"Anda, siapa?" tanya Putri Api menatap heran.
"Gue Reina, penguasa di sekolah ini, lo dan teman lo itu harus tunduk sama gue!" ucap Reina dengan sinis.
Dalam hati, Putri Api hanya tersenyum geli. Ia membayangkan betapa serunya membakar rambut seperti musang itu.
"Woy!"
"Pricil, apa yang harus kita lakukan?" bisik Yaya yang sudang ketakutan.
"Jangan takut, ini hanya pelayan biasa," ucap Putri Api santai.
"WOY! LO NGATAIN GUE PELAYAN?" teriak Reina tak percaya. Berani sekali gadis itu dengannya.
"Guys, hukum mereka, bawa keduanya ke ruang isolasi!"
Keempat teman Reina mendekati Putri Api dan Yaya. Namun, Putri Api menurut saja, ia juga penasaran ruang isolasi yang dimaksud Reina.
"Jangan takut, Yaya!" bisik Putri Api yang bergelayut ketakutan di lengan Putri Api.
Mereka memasukkan Putri Api dan Yaya ke dalam ruangan gelap di bawah tanah yang berada di bawah gedung sekolah. Putri Api sama sekali tidak menampilkan wajah takut karena die memang tidak takut. Toh, dia bisa memberikan cahaya untuk menerangi ruang gelap ini nantinya.
Setelah dimasukkan, Reina mengunci pintu itu meninggalkan Putri Api dan Yaya berdua di dalam ruangan gelap itu.
"Nanti sore baru kita buka pintunya, biar mereka kapok dan tidak berani lagi sama kita," ucap Reina tersenyum puas.
Putri Api menatap sekitarnya yang gelap, bau tanah masuk ke rongha hidungnya.
"Hallo, gelap sekali di sini!" ucap Putri Api yang malah girang.
"Pricil, aku takut sekali," ucap Yaya bergetar.
Putri Api yang melihat ketakutan Yaya memutar tangannya mengeluarkan cahaya dari telapak tangannya untuk menerangi tempat itu.
"Bagimana kalau aku bakar saja tempat, ini?" tanya Putri Api.
"Jangan Putri Api, nanti malah terjadi kebakaran besar!"
"Tidak masalah!"
Putri Api membakar segala seudut du tempat itu yang mulai bercahaya. Hawa panas mulai terasa. Putri Api berdecak kagum melihat tempat ini yang indah diterang api.
"KEBAKARAN!" teriak orang dari luar.