Kerajaan Api
Seorang gadis tengah berlari-lari di sepenjuru istana menuju halaman belakang tempat untuk bersantai. Ia hanya mengenakan gaun khas untuk putri kerajaan yang mengembang di bawah. Gaun ini memudahkannya untuk aktif berlari dan memanjat.
Gadis itu memutar kelima jarinya dan melentikkan ke udara melatih mengambil kekuatan yang ada si sekitarnya.
Dia adalah Princess Pricillia Xeory Van Vuur. Putri bungsu Raja Rowned.
Menjadi seorang putri dari Kerajaan Api membuat ia lincah untuk bermain dengan api, karena di sekeliling tempatnya ada bor yang menyalakan api menebarkan kehangatan.
"Hiyaak!"
Gadis itu mendorong tangannya mengeluarkan semua kekuatan yang ia punya membakar ranting-ranting yang sudah ia onggokkan menjadi satu.
Api langsung menyala membakar ranting itu dengan cepat, gadis itu tersenyum puas, semakin lama kekuatannya semakin meningkat.
"Tapi kenapa tanganku masih terasa berair?" tanyanya heran.
Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya dan meniupnya mengeluarkan api yang menyala.
"Aku terlahir dari keluarga Van Vuur tentunya kekuatan terbesarku adalah api," ucapnya meyakinkan jika tidak ada kekuatan lain yang tersembunyi di dalam dirinya.
Putri Api kembali masuk ke dalam istana, ia berlari dan terus berlari karena ia sangat menyukai berlari daripada berjalan.
Putri Api berhenti berlari karena melihat pintu ruangan raja terbuka lebar, seperti ada seseorang yang masuk berjumpa dengan ayahandanya.
"Besok masukkan Putri Api ke sekolah umum, karena dia tidak mau sekolah di Kingdom's School."
Putri Api yang mendengar itu terkejut bukan main, Kingdom's School adalah sekolah khusus untuk anggota kerajaan.
"BENERAN? YEYY!" teriak Putri Api kegirangan.
Raja Rowned memilih memindahkan Putri Api ke sekolah umum karena putrinya itu tidak mempunyai bakat untuk menjadi putri mahkota. Putri Api terbiasa dengan sikap modern masa kini karena dia lebih suka memainkan sosial media daripada belajar bersikap seperti putri mahkota.
Putri Api mencintai kebebasan, dan mengikuti tren zaman sekarang.
Ia iri melihat remaja seumurannya yang bisa hidup bebas bersekolah, bermain, bergaul, sedangkan ia? Ia harus diatur dengan beragam macam peraturan istana kerajaan.
"Putri Api, jaga sopan santunmu, kau tak boleh berteriak seperti itu," tegur permaisuri.
Putri Api menghela napas lalu membungkukkan badannya memberi hormat kepada Raja dan Ratu, kedua orang tuanya.
"Ananda memberi salam Yang Mulia, dan Ibunda Ratu," ucap Putri Api dengan sopan santun.
"Silahkan duduk, Putriku!" suruh Raja Rowned yang terkenal berhati batu dan pemarah, namun sangat lembut kepada anak bungsunya itu.
Raja Rowned sangat menyayangi Putri Api, karena dialah putri satu-satunya di kerajaan ini.
Putri Api duduk di kursi sebelah tamu, ia menyeringit melihat kumis bapak itu yang panjang sebelah.
"Pak, kumisnya nanti dirapiin yah, kasian berat sebelah," bisik Putri Api kepada tamu itu santai.
"PUTRI API!" tegur Permaisuri Ratu yang melihat putriya berbisik-bisik dengan tamu.
"Mohon maaf Tuan Giwei!" ucap Raja Rowned merasa tak enak hati.
Tuan Giwei merupakan kepala sekolah di sekolah umum yang akan menjadi sekolah Puti Api.
"Tidak masalah, Yang Mulia," jawab Tuan Giwei tersenyum tipis.
"Rony, silahkan urus semua perlengkapan Putri Api dan antarkan dia ke sekolah umum mulai besok," perintah raja kepada Rony yang akan menjadi pengawal pribadi Putri Api.
"Hamba siap menjalankan perintah, Yang Mulia!" jawab Rony membungkukkan badannya.
"Makasih Ayahanda, aku senang banget deh," ucap Putri Api dengan bahasa santainya yang membuat Permaisuri Ratu melototkan matanya.
"Mohon maaf Ayahanda, maksud ananda, terima kasih sudah memindahkan ananda ke sekolah umum, ananda sangat bahagia," ulang Putri Api berbahasa formal.
Walaupun Raja Rowned adalah ayah kandungnya, tapi ia harus tetap berbicara formal karena memang itulah peraturannya.
"Sama-sama, Putriku."
***
Kerajaan Air
"Apakah kau yakin memilih sekolah umum, Pangeran Dafta?" tanya Permaisuri Delita kepada putranya.
"Iya, Ibunda!"
"Kau yakin tidak tertarik dengan Kingdom's School?"
"Tidak, Ibunda!"
Permaisuri Delita menghela nafas pelan, tangannya mengelus pucuk kepala pangeran, putranya sudah tumbuh menjadi remaja, walaupun dia bukan anak kandungnya, tapi Delita sangat menyayangi Pangeran Dafta, pangeran dari Kerajaan Api itu.
"Kalau begitu, kau mulai bersekolah besok."
"Iya, Ibunda!"
Permaisuri Delita meninggalkan putranya itu di kamar sendirian. Pangeran Dafta atau Pangeran Air itu bangkit dari duduknya.
Ia melangkah keluar untuk mencari udara segar. Pangeran Air berjalan di sepenjuru lorong istana, di sepanjang jalan banyak pelayan istana yang memperhatikannya.
Para pelayan hanya bisa menggigit bibir dan menahan untuk tidak berteriak karena melihat Pangeran Air berjalan.
Pangeran Air sangat tampan, tentu saja! Wajahnya yang putih bersih dan mulus membuat siapa saja terpana, ditambah lagi dengan hidung mancung tinggi, rahang kokoh, dan bibir merah mudanya yang alami, membuat kaum hawa tak berhenti menatap wajahnya.
Akan tetapi, Pangeran Air hanya menampilkan muka datarnya saja, mukanya yang sudah dingin ditambah tatapan datar membuat orang-orang takut menyapanya, yah takut diacuhkan.
Walaupun Pangeran Air sangat dingin tapi tak mengurangi kadar ketampanannya yang sudah melekat dan mendarah daging.
Dengan muka datar saja ia sudah tampan, apalagi jika ia tersenyum? Para pelayan tak sanggup membayangkannya, mereka bisa terkena diabetes dan kejang-kejang berjamaah.
"Lapor Pangeran, semua perlengkapan sudah hamba siapkan, apakah Pangeran ingin menambahkan sesuatu?"
"Tidak."
"Baiklah, Pangeran!" ucap seorang pria membungkukkan badannya. Dia adalah Zigo asisten pribadi Pangeran Air.
Zigo sudah 10 tahun bekerja melayani Pangeran Air, sejak pangeran itu masih kecil. Umur Zigo bertaut 10 tahun dengan Pangeran Air, Zigo sekarang sudah 27 tahun, sedangkan Pangeran Air baru menginjak 17 tahun.
"Sebentar lagi waktu makan siang, Pangeran! Mari hamba antar ke gedung RM."
Gedung RM adalah tempat untuk makan keluarga istana maupun menjamu tamu yang datang ke istana.
Pangeran Air mengangguk, lalu berjalan di depan Zigo, dan Zigo berjalan di belakang mengikuti pangeran itu.
***
Hari ini adalah hari pertama Putri Api masuk ke sekolah umum. Peraturan Istana kerajaan, bagi anggota kerajaan dibebaskan masuk ke sekolah jika sudah berumur 17 tahun, sebelum berumur 17 tahun mereka ada sekolah khusus di dalam kerajaan.
Putri Api diantarkan ke sekolah umum menggunakan kendaraan kerajaan, yang dikawal oleh beberapa pengawal kerajaan.
Di samping Putri Api ada Yaya sang asisten yang juga ikut sekolah atas perintah Putri Api karena ia tak memiliki teman, alhasil Yaya yang seumuran dengannya diperbolehkan ikut sekolah oleh Raja Rowned.
"Yaya, kamu jangan panggil aku Putri Api kalau di sekolah ya," ucap Putri Api kepada Yaya.
"Mohon Ampun Putri Api, kenapa hamba tidak boleh memanggil Tuan Putri?" tanya Yaya membungkukkan badannya.
"Kita sedang si sekolah, dan kamu menjadi teman aku, bukan asisten aku."
"Hamba mengerti Tuan Putri."
"Haduh, jangan panggil Tuan Putri," tegur Putri Api.
"Hamba mohon ampun, lantas hamba harus memanggil Tuan Putri siapa?"
"Hemm... Pricil aja ya, kita lagi di sekolah berarti kita teman," jelas Putri Api.
"Baiklah teman Pricil!"
"Aduh, kalau manggil teman jangan panggil Pricil, kalau panggil Pricil jangan panggil teman," ucap Putri Api yang juga bingung dengan ucapannya sendiri.
"Hamba moh--"
"Jangan pakai hamba, sebut nama kamu aja," tegur Putri Api.
"Baiklah teman," ucap Yaya.
Yaya merupakan anak seorang pelayan di istana, dan ia semuran dengan Putri Api, sejak kecil Yaya akan selalu menemani Putri Api bermain. Namun sikap Yaya yang sangat polos dan hanya tau dunia di dalam kerajaan membuat Putri Api kesulitan untuk berbaur dengannya, Putri Api lebih menikmati gaya bahasa remaja zaman sekarang, pakaian zaman sekarang, dan dunia zaman sekarang.
Bisa dibilang Putri Api adalah Putri gaul kerajaan Van Vuur.
Akhirnya mereka sampai di sekolah umum atau biasa disebut SMA/SMK/SMU. Sebelum keluar dari mobil, Putri Api memasang masker dan kacamata, ia tak ingin orang-orang tahu jika ia adalah Putri Api.
"Tuan Rony, apakah anda sudah mengurus semuanya termasuk merahasiakan indetitas saya?" tanya Putri Api berbahasa formal kepada kepala pengawal kepercayaan ayahandanya itu.
"Sudah Tuan Putri, hamba sudah membicarakannya dengan Tuan Giwei, kepala sekolah."
Putri Api mengangguk singkat lalu keluar dari mobil dengan muka tertutup masker dan kacamata bulatnya.
"Ayo Yaya, kita masuk," ajak Putri Api diangguki oleh Yaya.
"Baik te-teman," jawab Yaya dengan gugup, tak terbiasa.
"Santai aja, anggap aja kita sekarang lagi jadi anak sekolah seperti biasa ya, jangan monoton kayak di kerajaan hahaha," ucap Putri Api.
"Ba-baik teman."
Putri Api melangkah masuk ke dalam gerbang sekolah, ia langsung menuju ruang kepala sekolah untuk mengkonfirmasi kehadirannya.
"Tuan Rony, anda bisa mengawasi saya dari jauh, jangan terlalu dekat karena saya tidak mau ada yang tahu saya dari kerajaan," peringat Putri Api.
"Baik Tuan Putri," jawab Rony membungkukkan badannya.
***