Ada apa dengan mereka? Tiba-tiba Pangeran Air merasakan gejolak dari dalam tubuhnya. Apa yang terjadi?
Pangeran Air melotot saat merasakan tangannya mengeluarkan air. Sudah lama air-nya kering, sekarang kenapa seperti kekuatannya kembali?
Pangeran Air buru-buru menyembunyikan tangannya, takut Putri Api mengetahui hal itu. Tanpa diketahui Pangeran Air, Putri Api juga merasakan hal aneh dalam tubuhnya. Tiba-tiba saja badan Putri Api menghangat, ia melihat tangannya, sebuah percikan api hidup di sana. Putri Api hampir saja terpekik, tetapi segera ditahannya. Ia tak ingin Pangeran Air tahu.
Api-ku hidup kembali! teriak Putri Api dalam hati. Ia sangat bahagia, ia sudah merindukan api-nya berkobar. Jujur saja, Putri Api sedih melihat api-nya yang mengecil belakangan ini entah karena apa.
Tanpa disadari keduanya. Sepasang mata menatap mereka. Seseorang itu tersenyum sinis, matanya menatap tajam ke arah Pangeran Air dan Putri Api.
Pangeran Air menutup telapak tangannya, juga menutup kekuatannya, agar air itu berhenti. Sama halnya dengan Putri Api meniup telapak tangannya pelan memadamkan api itu.
Langit malam sudah menampakkan sang rembulan. Saatnya, matahari berganti tugas dengan bulan.
"Hei, nama kau, Dafta 'kan?" tanya Putri Api.
"Iya."
"Panggil aku Pricil, ya!" ucap Putri Api.
"Iya." Putri Api mendengkus, pria itu sangat irit dalam berbicara.
"Kau yakin, kita tidur di sini?" tanya Putri Api.
"Iya."
"Apakah gubuk ini aman, jika kita sedang tidur?"
"Aman."
Penat sudah Putri Api berbicara dengan es batu di depannya. Jawabannya sangat singkat, membuat Putri Api malas banyak bicara dengan pria itu.
Putri Api mulai menguap pelan, kantuk telah menyerangnya. Mungkin Putri Api terlalu lelah hari ini, makanya ia sangat cepat mengantuk. Pangeran Air melirik gadis itu yang tampak mengantuk sekali.
"Tidur saja!" suruh Pangeran Air.
"Kau tidak tidur?"
"Tidak."
"Ha?" Mata Putri Api yang tadinya sudah hampir tertutup, terbuka lebar.
"Kenapa kau tidak tidur?"
"Siapa yang menjaga kau, jika aku tidur?" Mungkin Pangeran Air tak berniat untuk gombal sama sekali. Namun, ucapan Pangeran Air tentu saja membuat Putri Api tersenyum, hatinya menghangat.
"Ya sudah," ucap Putri Api mulai berbaring. Bibirnya masih membentuk senyuman. Gadis itu membelakangi Pangeran Air. Ia tak bisa menahan senyumnya.
Putri Api menoleh, menatap Pangeran Air yang duduk sambil memangku badannya. Ah, pria itu pasti kedinginan, apalagi angin malam terasa sangat dingin menusuk tulang. Putri Api tak tega melihatnya. Ia memutar tangannya, menimbulkan percikan api kecil di telapak tangannya. Api itu disebarkan ke segala arah, tetapi Putri Api tak membakar. Ia hanya menghangatkan tempat ini, tanpa menampakkan wujud api-nya. Perlahan, tempat ini terasa lebih hangat dan menenangkan. Putri Api terkekeh melihat Pangeran Air yang tampak heran.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Pangeran Air bingung melihat Putri Api tak henti-hentinya tertawa sejak tadi.
"Tidak ada apa-apa. Jika kau mengantuk, tidur saja."
"Iya."
"Ya sudah. Selamat malam."
"Iya." Lagi dan lagi Putri Api mendengkus mendengar jawaban Pangeran Air yang sangat singkat, apakah kamus bicara Pangeran Air hanya itu-itu saja? Ingin sekali Putri Api mengajarkan pria itu agar berbicara lebih banyak lagi.
Putri Api mengabaikan saja, ia kembali membelakangi Pangeran Air, lalu menutup matanya. Entah apalah dosanya, bisa tercampak di daerah ini, berdua pula bersama pria itu. Akan tetapi, tak terlalu buruk bersama pria bernama Dafta itu. Walaupun sedikit cuek, tapi Putri Api yakin, pria itu baik dan bisa dipercaya dan yang terpenting, Putri Api merasa aman dan nyaman dekat dengannya.
Sebelum tertidur, Putri Api sempat tersenyum untuk hari ini. Hari baru bersama pria dingin itu.
***
Sinar matahari langsung mengusik gadis yang tertidur itu. Ia mengejapkan matanya. Sinar sang baskara langsung memantul ke wajahnya. Gadis itu mengubah posisinya menjadi duduk, dilihatnya pria yang semalam begadang untuk menjaganya tengah tertidur pulas.
Putri Api menatap Pangeran Air yang tertidur, lengan pria itu terletak di mukanya menutup matanya. Oh, seperti ini tidur pria dingin, cuek, dan nyebelin ini.
Putri Api mendekatkan mukanya ke wajah pria itu. Tampak Pangeran Air masih pulas. Hidung tinggi pria itu langsung menjadi perhatian Putri Api, sangat mancung dan runcing. Belum lagi bibir merah alami pria itu yang tampak menggoda. Putri Api tersentak, ia segera menjauhkan mukanya, jangan sampai ia di luar kendali. Tidak ... tidak, Putri Api masih waras.
Putri Api usil mengganggu pria itu, ia menggoyangkan bahu Pangeran Air. Namun, pria itu masih tak bergeming, ia ternyata susah dibangunkan.
"Ah, dasar!"
Putri Api yang kesal menepuk keras bahu Pangeran Air yang membuat pria itu terbangun, refleks Pangeran Air menarik tangan yang sudah mengusiknya, membuat Putri Api yang tak siap, terdorong ke depan menghimpit tubuh Pangeran Air.
Putri Api menelan salivanya susah, mukanya sangat dekat dengan muka pria itu. Tatapan mata hitam legam Pangeran Air mengunci mata gadis itu. Putri Api tak bisa berkutik. Dalam seperkian detik, mata mereka masih bertatapan. Sampai akhirnya, Pangeran Air mengalihkan pandangannya, buru-buru Putri Api bangkit, dan membuang muka. Keduanya salah tingkah.
Pipi Putri Api memerah, menimbulkan rona malu di sana. Ia tak berani menatap Pangeran Air sekarang, gadis itu masih dilanda malu.
Pangeran Air juga tak tahu harus berbuat apa. Ia juga tak menyangka jika gadis itulah yang mengusik tidurnya. Pangeran Air berdeham. Ia harus mengontrol detakan jantungnya yang berdetak tak karuan.
"Eh, kalian sedang apa di sini berduaan?"
Putri Api dan Pangeran Air tersentak mendengar sebuah suara.
Mampus! batin Pangeran Air.
Suara siapa itu? batin Putri Api.
***