"Eh, kalian sedang apa di sini berduaan?"
Putri Api dan Pangeran Air tersentak mendengar sebuah suara.
Mampus! batin Pangeran Air.
Suara siapa itu? batin Putri Api.
"Kalian berdua siapa? Penduduk baru?"
Putri Api hanya diam saja tidak tahu harus menjawab apa. Pangeran Air pun tak bersuara.
"Lihatlah. Mereka berduaan di sini sejak semalam. Jangan-jangan mereka melakukan sesuatu," ucap salah satu warga.
"Kampung ini tidak boleh ternodai oleh perbuatan buruk itu."
"Ya. Kita harus hukum mereka!"
"Setuju. Bawa saja mereka ke Kepala Desa."
Putri Api gelagapan sendiri. Ia takut jika mereka berbuat sesuatu padanya.
"Kau tenang saja," bisik Pangeran Air. Bagaimana bisa ia tenang dalam situasi seperti ini.
Perlahan Pangeran Air merangkul bahu Putri Api yang membuat gadis itu terkejut.
"Kau mau apa?" tanya Putri Api, karena kini tubuhnya sangat dekat dengan Pangeran Air.
"Diam saja dan jangan membantah."
"Jawab! Kalian berdua siapa?"
"Kami hanya pedagang dari Kota, Pak, Bu. Saya dan istri saya ingin tinggal di sini untuk sementara waktu," ucap Pangeran Air santai. Mata Putri Api melotot mendengar pria itu dengan santai menyebutkan jika Putri Api adalah istrinya.
"Oh, suami-istri ternyata."
"Ah, jika suami-istri mah tidak masalah."
"Oh, baiklah. Apakah kalian sudah memiliki tempat tinggal?" tanya Pak tua itu.
"Belum, Pak. Kami baru saja sampai kemarin, sehingga belum sempat untuk mencari tempat tinggal."
"Kalian bisa tinggal di rumah saya. Kebetulan rumah saya masih ada yang kosong."
Pangeran Air tersenyum singkat mendengarnya.
"Jika Bapak tidak keberatan, kami akan tinggal di sana. Kami akan memberikan berupa emas untuk bayarannya," ucap Pangeran Air sedikit membungkukkan badan.
"Tentu saja tidak keberetan. Mari saya antar!" ucap Pak Tua yang memiliki rumah banyak itu senang.
"Terima kasih, Pak." Putri Api sejak tadi terdiam menatap Pangeran Aid berbicara. Ternyata pria dingin itu bisa berubah bijak dan dapat diandalkan juga, pikir Putri Api.
"Hei! Ayo, tunggu apa lagi? Kau mau tinggal di sini sendirian?" tanya Pangeran Air mengagetkan Putri Api.
"Ah, iya maaf."
Pangeran Air berjalan duluan meninggalkan Putri Api. Gadis itu segera mengejar Pangeran Air.
"Tunggu aku!"
Putri Api berhasil menangkap tangan Pangeran Air.
"Jangan tinggalkan istrimu dong, suami!" ucap Putri Api dengan centilnya membuat Pangeran Air langsung melepaskan pegangannya. Pangeran Air bergidik ngeri.
"Mulai saat ini kita harus berpura-pura menjadi suami-istri, bukan begitu Tuan Dafta?"
Pangeran Air hanya diam saja. Tangan Putri Api kembali menariknya.
"Berpura-puralah menjadi suami yang baik!" ucap Putri Api. Pangeran Air hanya menghela napas, menurut saja agar gadis itu tidak berisik. Walaupun seperti itu, perasaan aneh menjalar di tubuh Pangeran Air. Apalagi Putri Api yang berjalan sambil menyandar di pundaknya membuat pipi Pangeran Air berubah merah merona.
***
"Hei, kau bilang pada bapak tua itu kita adalah seorang pegadang. Apa yang mau kita dagangkan, Tuan Dafta?" kesal Putri Api.
"Entah," jawab Pangeran Air singkat yang membuat Putri Api ingin membakar mulut pria itu dengan kekuatannya.
Putri Api merebahkan badannya di atas kasur. Baru satu hari saja ia sudah ingin cepat pulang. Kapan Empu Eyang menjemputnya? Putri Api harus segera mencari tahu apa dosanya, agar ia bisa menghapus dosa itu secepatnya.
"Aku rindu istana," ucap Putri Api pelan yang sebenarnya tidak akan terdengar oleh orang lain. Namun, Pangeran Air dapat mendengarnya. Ya, pendengaran tajam Pangeran Air berfungsi saat ini.
"Istana?" tanya Pangeran Air. Putri Api segera membuka matanya yang langsung membulat sempurna.
"Kau tinggal di istana?" tanya Pangeran Air. Putri Api menutup mulutnya. Ia sudah salah bicara.
"Ya iya di istana. Seperti kata orang-orang. Rumahku Istanaku, jadi rumahku adalah istanaku," alibi Putri Api yang dapat masuk akal. Pangeran Air mengerutkan keningnya sebentar, lalu hanya mengangguk saja. Tidak terlalu ambil pusing.
Putri Api merutuki dirinya sendiri. Hampir saja pria itu tahu.
"Aku lapar," ucap Putri Api kepada Pangeran Air.
"Kenapa kau merengek padaku?"
"Ya, sama siapa lagi?"
"Cari makan sendiri," ucap Pangeran Air.
"Harusnya, kan, memang suami mencarikan makan."
"Aku bukan suamimu."
"Tetap saja di sini kau adalah suamiku. Semua orang juga akan menganggap kita pasangan."
Pangeran Air ingin menutup telinganya karena bosa mendengar suara Putri Api yang tak habisnya berbicara.
"Aku lelah. Aku ingin beristirahat," ucap Pangeran Air. Ia bahkan tidak makan kemarin. Pangeran Air membutuhkan istirahat yang banyak.
"Oh, sudah kalau seperti itu." Putri Api bangkit, lalu keluar dari kamarnya. Ia berniat mencari makanan sendiri ke hutan.
Perut Putri Api memang tidak bisa jika tidak diisi. Ia akan terus kelaparan jika tidak mendapatkan asupan.
Pangeran Air merebahkan badannya di kasur. Ia tidak perlu memikirkan gadis itu. Ia yakin gadis itu pasti bisa jaga diri. Ia harus beristirahat. Ya, Pangeran Air harus tidur sebentar.
Pria itu mencoba menutup matanya untuk masuk ke alam mimpi. Namun, Pangeran Air tak kunjung bisa tertidur. Pikirannya selalu memikirkan gadis itu yang pergi sendiri mencari makan.
"Argh. Dia pasti baik saja. Aku tak perlu memikirkannya!" ucap Pangeran Air mencoba kembali menutup matanya. Tetap saja tidak bisa karena otak Pangeran Air selalu memikirkan gadis itu.
"Argh!"
Pangeran Air terpaksa bangkit lalu keluar mencari gadis itu.
"Dia pergi ke mana, ya?"
***
Putri Api menghirup udara segar dari perpohonan yang ia lalui. Di sini udara sangat sejuk dan matanya bisa memandang bebas.
"Ini lebih indah daripada istana," ucapnya.
Putri Api mulai memainkan tangannya, memutar jemarinya mencoba menghidupkan api-nya. Kemarin api Putri Api bercahaya lagi, ia berharap apinya hidup kembali.
Sebuah percikan api hidup di telapak tangan Putri Api. Ia tersenyum senang.
"Jangan padam lagi, ya. Kau harus terus bercahaya!" ucap Putri Api. Namun, lama-lama api itu mengecil dan tiba-tiba padam.
"Yah, yah. Kenapa kau padam lagi, api!" kesal Putri Api meremas tangannya yang malah memunculkan air bergelinangan di tangannya.
"Kenapa apiku selalu padam dan kau nengalir deras, air?"
"Aku tidak suka denganmu!" kesal Putri Api lalu melempar air itu ke segala arah.
Ia benci air. Air penyebab apinya padam.
"ARRH. AKU BENCI AIR!"
Pangeran Air dapat mendengar suara itu. Ya, itu suara gadis itu.
"Kenapa gadis itu berteriak-teriak di tengah hutan!" Pangeran Air menggeleng. Jangan sampai gadis itu berulah.
Ia harus segera menemukan gadis itu dan membawanya pulang.
***
Putri Api mengusap perutnya yang keroncongan. Ia sudah kelaparan. Tidak ada makanankah di sini?
Mata Putri Api menyipit melihat sesuatu di ujung sana. Tanpa pikir panjang Putri Api segera menghampiri apa yang dilihatnya.
Sebuah makanan lengkap dengan minuman terhidang di bawah pohon itu. Mata Putri Api berbinar, kerongkongannya juga sudah kering butuh asupan air.
Putri Api segera meminum air dalam botol itu dan memakan makanan yang ada di situ. Ia melahap sampai habis tak peduli itu makanan milik siapa.
"Hei! Kenapa kau menghabiskan makanan kami?" Sebuah suara langsung membuat Putri Api terdiam.
Waduh. Siapa itu?
Dengan ragu Putri Api menoleh ke belakang.
...
***
Hai. Maaf banget baru up sekarang. In sya Allah akan lanjutin cerita ini sampai tamat.
Semoga suka, ya.
Thank you
~Amalia Ulan