"Hei! Kenapa kau menghabiskan makanan kami?" Sebuah suara langsung membuat Putri Api terdiam.
Waduh. Siapa itu?
Dengan ragu Putri Api menoleh ke belakang.
Tiga orang anak laki-laki menatap Putri Api tajam, gadis itu kalang kabut, karena ketahuan mencuri. Apa yang harus Putri Api lakukan?
"Kau pencuri!" teriak salah satu anak laki-laki tersebut. Putri Api hanya menunduk dan menggeleng pelan.
"Bawa saja dia ke Pak Kepala Desa, agar diberi hukuman."
"Maaf, aku tidak sengaja memakan makanan kalian," ucap Putri Api memohon.
"Kau telah membuat kita kelaparan."
"Aku akan menggantinya." Putri Api mengaruk sakunya untuk memberikan emas sebagai gantinya, tetapi Putri Api tidak menemukan emas di sakunya. Gadis itu tiba-tiba memukul dahinya pelan. Ia lupa jika tidak membawa emas dan diletakkannya di atas meja.
"Kau mau ganti dengan apa? Dengan daun?" ejek anak itu yang disambut gelak tawa temannya.
"Sudahlah, kau tidak akan sanggup membayar. Mari kita bawa saja dia ke Pak Kepala Desa."
"Setuju. Ayo!"
Anak-anak itu langsung menarik tangan Putri Api agar ikut bersama mereka, tapi Putri Api tidak mau dan tetap menahan dirinya.
"Lepaskan aku! Kalian tidak sopan menarik-narikku."
"Kau harus ikut bersama kami."
"Tidak mau."
Mereka tetap memaksa Putri Api. Gadis itu menolak dan mempertahankan dirinya, tetapi tetap saja Putri Api tidak bisa melawan tiga anak laki-laki itu yang menariknya.
"Hentikan!" teriak seseorang menghentikan langkah mereka. Putri Api langsung menoleh ke belakang menatap Pangeran Air yang berdiri di sana.
"Ini emas untuk kalian, tetapi lepaskan dulu wanita itu!" suruh Pangeran Air memperlihatkan sebongkah emas kepada anak-anak itu. Mereka langsung melepaskan tangan Putri Api dan berlari mengambil emas itu dari tangan Pangeran Air.
"Awh," ringis Putri Api, karena tangannya memerah ditarik-tarik oleh anak-anak itu.
"Terima kasih, Tuan!" ucap mereka lalu pergi dari situ meninggalkan Putri Api dan Pangeran Air berdua.
Putri Api menunduk tak berani menatap mata Pangeran Air, karena sudah membuat masalah. Ia takut jika pria itu memarahinya.
"Kenapa kau masih di situ?" tanya Pangeran Air. Putri Api hanya cengengesan pelan.
"Yuk, pulang!" ajak Pangeran Air menarik Putri Api, lalu merangkul pundak gadis itu. Putri Api terkejut tak menyangka jika pria itu merangkulnya dan tidak marah kepadanya.
Putri Api menatap wajah Pangeran Air yang dingin. Tanpa sadar, ternyata Pangeran Air juga tengah menatap Putri Api yang membuat keduanya hanyut dalam tatapan.
Bibir Putri Api tertarik membingkai sebuah senyuman. Pangeran Air juga tersenyum kecil.
"Jangan senang dulu, sampai rumah kau akan mendapatkan hukuman," bisik Pangeran Air tersenyum miring yang membuat gadis itu mendengkus. Putri Api melepaskan rangkulan pria itu, lalu mengentakkan kakinya kesal. Gadis itu berjalan duluan di depan meninggalkan Pangeran Air yang terkekeh melihat sikap gadis itu seperti anak kecil.
Menggemaskan. Tanpa sadar kata itu terbesit di otak Pangeran Air. Detik kemudian ia menggeleng pelan. Apa yang telah dipikirkannya? Aneh-aneh saja, batin Pangeran Air.
***
Putri Api mendengkus kesal, karena ia disuruh membereskan ruman dan melakukan apa pun yang diminta oleh Pangeran Air sebagai hukuman perbuatannya tadi.
"Sekarang buatkan aku makanan. Aku lapar, aku tidak makan dari kemarin."
"Aku tidak peduli," dengkus Putri Api.
"Jika aku mati, kau juga yang akan kesusahan," ucap Pangeran Air yang membuat Putri Api kesal.
"Tidak ada bahan makanan, Tuan Dafta terhormat. Apa yang harus aku masak?"
"Kau bisa belanja ke pasar."
"Aku tidak tahu pasar di mana."
"Kau bisa bertanya dengan Bu Tuti."
Putri Api mengembuskan napas gusar, kenapa pria itu tak henti-hentinya berdebat dengannya dan tidak mau mengalah sama sekali.
Tiba-tiba sebuah cahaya masuk. Putri Api dan Pangeran Air langsung membungkukkan badan mereka, karena tahu siapa yang akan datang.
"Salam hamba, Yang Terhormat Empu Eyang."
"Salam."
"Ampun, Empu Eyang. Hamba sudah tidak tahan tinggal di sini, hamba mau kembali ke istana," ucap Putri Api yang tidak sadar menyebutkan istana membuat alis Pangeran Air berkerut.
"Istana?" tanya Pangeran Air heran.
"Ternyata kalian masih belum saling mengetahui identitas masing-masing. Berkenalanlah lebih jauh dan saling terbuka, agar kalian bisa cepat-cepat pergi dari sini," pesan Empu Eyang.
"Mohon ampun, Empu Eyang. Apa maksud dari ucapan Empu Eyang?" tanya Pangeran Air.
"Aku ingin kalian terbuka dan tidak merahasiakan apa pun itu. Katakan yang sejujur-jujurnya!" perintah Empu eyang.
"Kalung," ucap Empu Eyang.
"Kalung," ucap Empu Eyang kembali
"Tukar," ucap Empu Eyang, setelah itu menghilang dengan cahaya yang mengantarnya.
"Empu eyang! Jangan pergi! Aku ingin pulang!" rengek Putri Api yang sudah merindukan istana.
Di saat Putri Api sibuk dengan rengekannya yang meminta pulang. Pangeran Air malah sibuk memikirkan ucapan Empu Eyang tadi.
Rahasia?
SalingTerbuka?
Kalung?
Tukar?
Semua itu menjadi tanda tanya bagi Pangeran Air. Apa maksud Empu Eyang? Apakah ini ada hubunhannya dengan dirinya dan Putri Api?
Pangeran Air tiba-tiba menatap kalung yang berada di lehernya, tertutup oleh baju yang dikenakannya. Pangeran Air mengeluarkan kalung itu, lalu memperhatikannya.
Ia masih belum menemukan jawaban mengenai kalung tersebut.
"Jika kalung ini tidak bersinar, maka bukan aku pemilik aslinya. Lalu, siapa pemiliknya? Jika bukan aku, kenapa Empu Eyang memberikan kepadaku?" tanya Pangeran yang selalu berkecamuk dalam otaknya.
Mata Pangeran Air beralih menatap sebuah kalung yang dipakai oleh Putri Api.
"Kalung apa yang dipakai oleh gadis itu?" tanya Pangeran Air heran. Ia mendekati gadis itu pelan.
Mata Pangeran Air tertuju pada kalung gadis itu, ia semakin mendekatkan langkahnya.
"Mau apa kau?!" tanya Putri Api tajam langsung menjauhi Pangeran Air.
"Aku hanya ingin melihat kal--"
"Kau jangan macam-macam denganku!"
"Aku tidak akan macam-macam."
"Menjauh!"
Pangeran Air akhirnya mengalah saja. Mungkin suasana hati gadis itu sedang tidak baik.
Tok ... tok ... tok.
Putri Api segera membuka pintu, menampakkan seorang wanita paruh baya.
"Siang," ucap Bu Tuti.
"Siang, Bu."
"Saya hanya ingin menyampaikan undangan Bu Wati menyuruh kalian datang ke rumahnya malam ini, karena ada acara syukuran."
"Baik, Bu. Terima kasih," jawab Pangeran Air.
Bu Tuti lalu berpamitan dan Putri Api kembali menutup pintu.
"Kau lapar, kan? Tunggu saja nanti malam kau bisa makan di rumah Bu Wati," ucap Putri Api lalu berjalan masuk kamarnya.
"Jadi aku harus menahan kelaparan ini sampai nanti malam? Jika aku mati nanti sore, bagaimana?"
"Aku tidak peduli."
Pangeran Air mengembuskan napas pelan. Putri Api contoh istri yang tidak baik, karena tidak bisa melayaninya.
"Gadis itu berlagak seperti Putri Mahkota saja," ucap Pangeran Air. Padahal kebenarannya memang seperti itu, Pangeran Air saja yang tidak mengetahui hal itu.
****
Haiii,
Maaf baru bisa up sekarang, semoga aku bisa up terus sampai akhir bulan ini.
Terima kasih yang udah mau baca.
Salam,
~Amalia Ulan