Pangeran Air mencoba mengeluarkan kekuatannya. Ia sedang berada di belakang rumahnya dan tidak ada satu orang pun di sini.
Pangeran Air mulai mencoba berkonsentrasi lalu memunculkan kekuatan dari telapak tangannya. Namun, bukan airlah yang muncul, melainkan sebuah cahaya percikan api mulai berkobar di tangannya.
Pangeran Air menatap tak percaya. Kenapa api lagi api lagi yang muncul. Lama-lama air-nya seakan mengering dan tidak bisa muncul lagi. Pangeran Air menggeleng, ia merasa mengkhianati kekuatan sendiri.
"Kenapa bisa api?" tanya Pangeran heran. Jurus yang ia pakai masih sama seperti dulu mengeluarkan air-nya, tetapi sekarang malah api yang muncul dari telapak tangannya?
"Ini tidak masuk akal!"
Tiba-tiba perut Pangeran Air berbunyi meminta asupan makanan.
"Apa karena aku lapar, makanya air-ku tidak muncul?"
"Lalu, kenapa bisa muncul api?"
Dirinya memang mencintai Kerajaan Van Vuur, tetapi Pangeran Air tetap lebih mencintai kekuatannya sendiri.
Pria itu terduduk memikirkan hal itu. Kenapa semua yang terjadi menjadi tanda tanya?
Api?
Lambang V.W terbakar.
Kalung tidak cocok?
Air-nya mengering.
Tercampak bersama gadis itu di sini.
Mendapatkan misi, tetapi tidak tahu misi apa.
"Ke mana aku harus mencari jawaban itu semua?"
***
KERAJAAN AIR
Permaisuri Delita tidak sabaran menunggu kedatangan Empu Eyang. Ia mondar mandir berjalan ke sana dan kemari untuk menutupi kegugupannya.
"Ada apa, Putriku Delita? Kenapa kau seperti orang ketakutan?" tanya Empu Eyang sudah berada di sana. Permaisuri Delita yang mendengar suara Ayahandanya itu langsung menoleh ke belakang, ia membungkukkan badan dan memberikan salam.
"Salam hamba, Yang Terhormat Ayahanda."
"Salam kembali, Putriku Delita.*
"Mohon ampun, Ayahanda. Hamba baru saja mendapatkan kabar, jika penobatan Putra Mahkota dilaksanaan dua hari lagi. Raja Dafnas mengatakan jika ia akan menjemput Pangeran Air langsung ke perkampungan itu, Ayahanda."
"Kenapa cepat sekali? Bukannya acara penobatan itu empat hari lagi?"
"Raja Dafnas ingin melakukan penobatan lebih cepat daripada Kerajaan Van Vuur, Ayahanda."
"Misi mereka belum selesai, bahkan belum dimulai, karena mereka belum juga terbuka satu sama lain. Mereka masih tidak mengetahui identitas masing-masing."
"Lalu, apa yang kita lakukan sekarang, Ayanda?" tanya Permaisuri Delita panik.
"Ini tidak seperti rencanaku. Kenapa Raja Dafnas mengubah waktunya seperti itu. Pangeran Air tidak akan bisa membuat gelembung besar di istana laut. Ia akan terluka oleh kekuatannya sendiri, karena api itu merasa dikhianati jika dipakai untuk menghidupkan lambang V.W."
Permaisuri Delita memijat kepalanya pelan. Ini tentunya membahayakan Pangeran Air yang sudah mulai kembali pada wujud aslinya.
"Sebentar lagi, kekuatan Pangeran Air akan berubah menjadi api seutuhnya, itu tandanya air Pangeran Air akan menghilang. Begitu pula sebaliknya dengan Putri Api."
"Mereka pasti tidak menyangka jika kekuatan mereka hilang, lalu bertukar seperti itu," ucap Permaisuri Delita.
"Kau benar. Mereka harus lebih siap menerima perubahan itu, karena pada akhirnya mereka akan kembali ke Kerajaan asal masing-masing."
Permaisuri Delita sudah merindukan putri yang ia lahirnya tujuh belas tahun silam, tetapi ia juga tidak sanggup jika harus kehilangan Pangeran Air yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
"Mohon ampun, Ayahanda. Lalu bagaimana dengan acara penobatan nanti?"
"Kita terpaksa harus membuat Pangeran Air tertidur sementara, sebelum acara penobatan selanjutnya kembali dilakukan."
"Ta-tapi, apakah dia tidak apa-apa, Ayahanda? Hamba tidak tega jika putra hamba terluka."
"Dia akan aku buat tertidur sebelum menyentuh lambang V.W itu."
Permaisuri Delita mengembuskan napasnya. Merasa pening dengan apa yang akan terjadi ke depannya. Semua pasti terasa berat.
****
PERKAMPUNGAN BUMITAN
Pangeran Air dengan sabar menunggu gadis itu berdandan. Lama sekali, pikir Pangeran Air terlalu lama menunggu Putri Api yang tak kunjung usai.
"Apakah masih lama?" tanya Pangeran Air bosan menunggu.
"Sebentar lagi. Kau menjadi suami yang baik harus setia menunggu," jawab Putri Api.
"Aku bukan suam--"
"Aku tidak peduli. Kau adalah suamiku di sini."
Pangeran Air hanya bisa menghela napas gusar.
"Sudah," ucap Putri Api keluar kamar. Mata Pangeran Air langsung menatap gadis itu dari atas sampai bawah. Tidak bisa dibohongi, jika pria itu terpesona dengan kecantikan Putri Api. Gadis itu memiliki pesona yang sangat memikat. Begitu pula sebaliknya, Putri Api tertegun melihat Pangeran Air yang sudah berpenampilan rapi, tampak berwibawa seperti Putra Kerajaan.
"Kenapa kau melamun? Ayo!" ajak Pangeran Air menarik tangan Putri Api.
"Huft, tampaknya kau sangat kelaparan hingga tak sabar ingin makan di sana," sindir Putri Api.
"Aku memang lapar, karena kau tidak memberikan aku makanan."
"Seorang suami harusnya mencari makan untuk istrinya," ucap Putri Api. Pangeran Air yang akan protes langsung dipotong oleh gadis itu.
"Ssstt, kau suamiku di sini. TITIK!" tegas Putri Api.
"Terserahlah," ucap Pangeran Air mengalah saja. Perempuan memang susah dikalahkan, karena mereka tidak akan mau kalah walau salah.
***
"Wah, selamat datang, Tuan Dafta dan Nyonya Dafta," sambut Bu Wati berdiri di depan pintu rumahnya.
"Ehm, maaf, Bu. Nama saya Pri--"
"Terima kasih, Bu!" potong Pangeran Air menghentikan ucapan Putri Api.
"Ya sudah, ayo masuk! Silakan menikmati hidangannya!" suruh Bu Wati mempersilakan.
Pangeran Air mengangguk pelan. Ia berjalan ke hidangan diikuti oleh Putri Api.
Pangeran Air mengambil makanan secukupnya, lain halnya dengan Putri Api yang malah membungkus makanan itu untuk dibawanya pulang.
"Hei, kau kenapa membungkus makanannya?" tanya Pangeran Air.
"Jika aku lapar besok, aku bisa makan ini."
"Tapi itu sama saja kau mencuri!"
"Aku tidak peduli!" Putri Api memasukkan makanan yang sudah dibungkusnya itu ke dalam tasnya.
Pangeran Air hanya bisa menggeleng melihat perbuatan gadis itu.
Setelah mengambil makanan, Pangeran Air membawa makanan itu duduk di tempat yang sudah disediakan.
"Kalau boleh tahu, ini acara syukuran apa, Bu?" tanya Putri Api.
"Anak saya berhasil mendapatkan emas, Nak. Kami sebagai orang tua bangga," jawab Bu Wati yang membuat kening Putri Api berkerut.
Hanya karena mendapatkan emas?
"Oh, boleh saya melihat anak Ibu?" tanya Putri Api.
"Boleh. Ari, Adi, Afi, kemari, Nak!" panggil Bu Wati. Ketiga anak laki-laki yang dipanggil itu melangkah mendekati Bu Wati.
Mata Putri Api melotot melihat ketiga anak itu, ia langsung tersedak.
Huk-hukk.
"Minum dulu!" suruh Pangeran Air.
"Ini kan anak-anak yang tadi pagi!" ucap Putri Api.
"Wah, berarti kau sudah mengenal anak ibu?" tanya Bu Wati.
"Su--sudah, Bu."
"Bu, Kakak ini yang tadi mencuri makanan kita," ucap Adi diangguki oleh kedua saudara kembarnya. Mereka bertiga kembar tak identik.
"Sstt, kamu ngomong apa, sih, Nak. Ini tamu Ibu!"
"Beneran, Bu. Dan ini Kakak tampan yang memberikan kita emas banyak," ucap Ari menunjuk Pangeran Air. Bu Wati menatap tak percaya. Bagaimana bisa pasangan suami-istri itu, yang satu mencuri dan yang satu lagi memberi.
"Itu benar, Bu. Anggap saja, saya membeli makanan anak-anak ibu untuk istri saya," ucap Pangeran Air meluruskan.
"Oh baiklah."
Putri Api hanya diam saja sembari menguyah makanannya. Ia sangat malu, apalagi ketahuan mencuri.
"Kalian orang-orang baik. Terima kasih, ya!" ucap Bu Wati tersenyum.
Putri Api ikut tersenyum dan Pangeran Air hanya diam menanggapi.
***
Hallo. Sampai sini dulu, ya!
Semoga suka, dan jangan bosan baca sampai akhir, ya. Karena cerita ini bakal panjang banget!
Terima kasih semuanya.
Salam,
~Amalia Ulan