Tiba-tiba seorang pria menarik Putri Api dari situ. Putri Api dibuat terkejut karena pergerakan yang sangat cepat itu.
"Bahaya. Kau bisa dilahap api!" tegas seorang pria. Siapa lagi jika bukan Pangeran Air.
"Hei, kau lupa? Jika aku adalah penguasa api! Aku Putri Vuurland!" teriak Putri Api.
"Mana buktinya? Menghidupkan api saja kau tak mampu."
Ucapan pria itu terasa menusuk bagi Putri Api. Tangannya terkepal kuat, lalu beranjak dari situ. Putri Api akan membuktikan jika ia tak bisa direndahkan.
Putri Api sekarang kembali mendekati rumah itu. Ia memandang api yang semakin besar. Gadis itu mengembuskan napas pelan, lalu memutar tangannya dan mengarahkan kepada rumah itu.
Brush.
Apa yang terjadi?
Api dalam sekejap langsung padam yang membuat semua warga terkejut. Putri Api juga menatap tak percaya pada tangannya.
Pangeran Air tak kalah terkejut, apalagi melihat kekuatan air yang dikeluarkan gadis itu membuatnya terperangah. Ia saja yang merupakan Pangeran Air kehilangan kekuatannya. Lantas kenapa Putri Api bisa begitu hebatnya?
"Hei, kenapa kau bisa memadamkan api itu?"
"Gadis itu luar biasa. Dia super hero malam ini."
"Heran, kenapa dia bisa memadamkan api cepat seperti itu? Apa dia bukan manusia?"
Banyak bisikan-bisikan warga yang terdrngar oleh Putri Api. Gadis itu memilih segera pergi dari situ, sebelum semuanya tahu siapa dirinya yang sebenarnya.
***
"Ak--aku minta maaf, jika tadi menyinggungmu." Pangeran Air menahan tangan Putri Api. Namun, gadis itu segera melepaskan tangannya.
"Jangan sentuh aku!" seru Putri Api yang masih memanas mengingat ucapan Pangeran Air tadi.
"Aku tahu, ucapanku tadi salah. Aku minta maaf."
"Sudahlah. Aku ingin tidur," ucap Putri Api, tetapi tangannya kembali ditahan oleh Pangeran Air.
"Bagaimana caranya agar kau mau memaafkanku?" tanya Pangeran Air.
"Bsrhenti berbicara padaku!" tegas Putri Api, lalu langsung memasuki kamarnya. Pangeran Air menghela napas sebentar, ternyata menghadapi cewek marah itu susah juga.
"Sudahlah, lebih baik aku latihan untuk besok," ucap Pangeran Air.
"Bagaimana caranya aku bisa membuat gelembung air jika kekuatanku sendiri sudah menghilang?" tanya Pangeran Air menatap kedua telapak tangannya. Sungguh, pria itu sangat takut jika tidak bisa melakukannya.
"Air-ku ke mana kau menghilang?"
***
KERAJAAN AIR
Tibalah saatnya hari yang ditunggu-tunggu. Hari Penobatan Putra Mahkota Kerajaan Air.
Jantung Permaisuri Delita berdebar kencang. Ia takut terjadi sesuatu pada putranya. Permaisuri Delita tak ingin rahasia itu sekarang terbongkar. Raja Dafta pasti akan marah besar. Namun, di sisi lain, Permaisuri Delita juga tak sabar menunggu kehadiran putrinya. Putri yang ia lahirkan tetapi bukan ia yang membesarkan. Mana ada seorang ibu yang tak merindukan anaknya?
"Di mana Pangeran Air? Kenapa belum datang juga? Bukankah pengawal kerajaan sudah menjemputnya?" tanya Raja Dafta panik.
"Sabar, Yang Mulia. Mungkin putra kita sedang dalam perjalanan," ucap Permaisuri Delita mencoba menenangkan.
Orang-orang sudah ramai berdatangan. Mereka mulai memasuki istana dan memenuhi istana laut untuk menyaksikan penobatan.
Wina juga tak sabar ingin melihat Pangeran Air—pria yang ia cintai—disahkan menjadi Putra Mahkota. Wina pasti akan bangga jika bisa bersama Pangeran Air.
Permaisuri Delita beranjak menemui Empu Eyang terlebih dahulu.
"Mohon ampun, Ayahanda. Bagaimana ini, Ayahanda? Aku takut Pangeran Air terluka, karena kekuatan yang ia punya sekarang adalah api. Bisa-bisa lambang itu terbakar olehnya," ucap Permaisuri Delita panik.
"Tidak akan ada yang bisa menyentuh lambang itu selain Putri Api, karena dialah yang akan meneruskan kerajaan ini. Jadi, satu-satunya cara adalah menggagalkan Pangeran Air menyentuh lambang itu," ucap Empu Eyang.
"Bagaimana caranya, Ayahanda?"
"Seperti yang kukatakan beberapa hari yang lalu, aku akan membuat Pangeran tertidur lama."
"Bukankah cara itu berakibat fatal, Ayahanda? Jika semua orang menyangkanya Pangeran Air lemah dan tidak berhak menjadi Putra Mahkota, bagaimana?"
"Memang Pangeran Air tidak ada hak."
Empu Eyang terdiam sebentar memikirkan jalan keluar yang tepat. Apa yang dikatakan Peemaisuri Delita benar juga.
"Aku ingin rahasia itu terbongkar, ketika dua kerajaan itu sudah mulai berdamai, karena jika sekarang ... semuanya akan kacau. Dua raja pasti akan marah besar. Bisa-bisa nyawa Pangeran Air dan Putri Api terancam."
"Aku tak mau itu terjadi!" tegas. Permaisuri Delita.
"Ampunkan hamba, Permaisuri Delita."
Pengawal kerajaan datang menghadap Permaisuri Delita. Wanita itu menoleh.
"Ada apa?"
"Hamba hanya ingin menyampaikan kabar, jika acara penobatan Kerajaan Van Vuur diadakan hari ini juga."
Permaisuri Delita terkejut bukan main. Empu Eyang juga tak menyangka. Kenapa kerajaan itu mengubah jadwal tanpa sepengetahuannya?
Ini benar-benar dadakan! Empu jadi pusing bagaimana caranya bertindak. Bukan seperti ini rencana awalnya, kenapa dua raja itu tak mematuhi ucapannya. Benar-benar tak mau kalah. Raja Rowned sepertinya tak ingin penobatannya terlambat dari Kerajaan Van Water.
Lalu, bagaimana dengan Putri Api yang tak punya kesiapan? Bahkan gadis itu juga sudah kehilangan kekuatannya.
"Apakah sekarang saatnya semua itu terungkap, Ayahanda?" tanya Permaisuri Delita gemetar.
"Sepertinya, Putriku Delita. Sepertinya daratan sudah tak ingin menunggu lebih lama lagi. Semua orang harus tahu."
"Aku masih belum siap ini terjadi."
"Siap tak siap, kau harus siap, Putriku Delita."
Empu Eyang lalu bersiap untuk mengunjungi Putri Api dan Pangeran Air. Mereka harus tahu kebenaran sesungguhnya.
***
PERKAMPUNGAN BUMITAN
Pangeran Air sudah siap-siap menuju istana. Ia sudah mempersiapkan diri, walau masih dengan perasaan ragu, karena takut tak bisa mengeluarkan kekuatannya.
"Air-ku benar-benar mengering," ucap Pangeran Air sedih. Ia sudah tak tahu lagi harus berbuat apa.
"Sebenarnya, kau merasa aneh tidak?" tanya Putri Api yang tiba-tiba muncul di hadapan Pangeran Air.
"Tentunya."
"Kenapa api-ku padam dan air-kau mengering? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kekuatan kita bisa tertukar?" tanya Putri Api yang membuat Pangeran Air ikut memikirkan jawaban.
"Aku juga heran."
Putri Api menghela napas gusar. Ia baru saja mendapatkan kabar jika acara penobatan Putri Mahkota Kerajaan Van Vuur dipercepat menjadi hari ini. Gadis itu tak mempersiapkan diri, karena ini terlalu mendadak baginya.
Mata Putri Api menyipit melihat kalung yang melingkar di leher pria itu. Putri Api langsung mendekatkan wajahnya ke Pangeran Air yang membuat pria itu terkejut.
"Kalung kau?!" Putri Api terkejut melihat kalung yang dipakai oleh Pangeran Air memiliki lambang Kerajaan Van Vuur.
"Kenapa kau memakai kalung lambang kerajaanku?" tanya Putri Api tak percaya. Mata Pangeran Air membulat, ia terkejut dan tak percaya jika kalung ini berlambang Kerajaan Vam Vuur.
"Hah? Lambang Kerajaan Van Vuur?"
"Iya!"
Putri Api segera mengeluarkan kalung dari balik bajunya yang ia sembunyikan. Gadis itu, lalu memperlihatkan kalungnya pada Pangeran Air.
"Kau memakai kalung lambang kerajaanku!" ucap Pangeran Air pula.
"Bagaimana bisa aku tak sadar selama ini?"
"Lambang itu sangat kecil, kita mungkin tak terlalu memperhatikannya."
Pangeran Air akhirnya teringat sesuatu. Ia langsung berlari masuk ke dalam kamarnya, lalu mengambil kotak kalung itu.
Setelah itu, Pangeran Air kembali menghampiri Putri Api.
"Apakah kau juga memiliki kotak kalung itu?" tanya Pangeran Air.
"Yah. Aku juga mempunyainya."
Putri Api langsung mengambil pula kotaknya. Setelah itu Putri Api kembali menghampiri Pangeran Air.
Pangeran Air tersenyum singkat, Putri Api pun ikut tersenyum lebar. Saat itu juga, mereka tahu apa yang akan mereka lakukan.
****
Hallo!
Terima kasih yang udah mau baca. Semoga suka, ya!
Salam,
~Amalia Ulan