Acara Penobatan Putri Api

1056 Kata
Pangeran Air akhirnya teringat sesuatu. Ia langsung berlari masuk ke dalam kamarnya, lalu mengambil kotak kalung itu. Setelah itu, Pangeran Air kembali menghampiri Putri Api. "Apakah kau juga memiliki kotak kalung itu?" tanya Pangeran Air. "Yah. Aku juga mempunyainya." Putri Api langsung mengambil pula kotaknya. Setelah itu Putri Api kembali menghampiri Pangeran Air. Pangeran Air tersenyum singkat, Putri Api pun ikut tersenyum lebar. Saat itu juga, mereka tahu apa yang akan mereka lakukan. **** KERAJAAN API Putri Api akhirnya sampai di istana. Ia langsung mempersiapkan diri di kamarnya. Putri Api sudah siap dengan gaun panjang bewarna merah api. Rambutnya digulung ke atas menampakkan leher putih jenjangnya. Gadis itu tampak menawan, karena pesonanya tak akan terkalahkan. Permaisuri Raqia menatap bangga putrinya. Senakal-nakalnya Putri Api, tetapi Permaisuri Raqia tetap menyayangi putrinya itu dengan tulus. "Lakukan yang terbaik, Putriku," pesan Permaisuri Raqia. "Siap, Ibunda." Raja Rowned datang ke kamar Putri Api bersama pengawal kerajaan. Sang raja tentu sudah tak sabar ingin menyaksikan anaknya itu di acara penobatan. Semua kerajaan api yang ada di daratan Vuurland akan hadir menyaksikan. "Putriku, apakah kau sudah siap?" tanya Raja Rowned. "Sudah, Ayahanda." Putri Api tersenyum singkat menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menatap ke arah cincin yang tersemat di jari manisnya. Cincin itu berkilau membuat Putri Api semakin yakin akan dirinya. "Baik, semuanya. Infokan ke panitia acara, bahwa acara akan segera dimulai!" suruh Raja Rowned. "Baik, Yang Mulia." "Ayo, Putriku. Kita keluar bersama-sama," ajak Permaisuri Raqia. Yaya langsung membantu mengangkat ujung gaun Putri Api yang panjang. Yaya berbisik pelan, "apakah Tuan Putri yakin?" tanya Yaya takut. "Sangat yakin. Kau tenang saja." "Ba-baik, Tuan Putri." Putri Api berjalan digandeng oleh Permaisuri Raqia, di depan mereka ada Raja Rowned memimpin barisan, di belakang Putri Api ada Yaya senantiasa mengangkat gaun gadis itu takut menyapu lantai. Di belakang banyak pelayan dan prajurit sebagai pengawal mereka. "Acara penobatan Putri Mahkota Kerajaan Van Vuur, dimulai ...." Bunyi terompet dan gendang yang beradu langsung memekakkan telinga. Sorak sorai tamu yang menyaksikan riuh sekali dalam ruangan. "Pembukaan. Serangkaian kata yang akan disampaikan oleh Yang Mulia Raja Rowned. Kepada Yang Mulia, dipersilakan!" Raja Rowned langsung melangkah ke depan untuk menyapa para tamu undangan. Ada banyak sekali orang yang datang, karena penasaran seberapa besar api unggun yang dihidupkan Putri Mahkota nantinya. "Terima kasih saya ucapkan kepada yang sudah berkenan hadir pada Acara Penobatan Putri saya. Selamat menyaksikan." "Terima kasih, Yang Mulia. Acara selanjutnya. Pengucapan janji kerajaan." Putri Api melangkah ke depan, menatap semua orang yang ada di depannya. "Saya Princess Pricilia Xeory Vam Vuur berjanji ... saya akan mengabdi pada Kerajaan Van Vuur selama hidup saya. Saya akan mempertanggungjawabkan semua masalah kerajaan. Saya akan berdamai dengan semua kerajaan di daratan, karena saya mencintai PERDAMAIAN." Putri Api membungkukkan badan menutup pengucapan janjinya. Semua orang langsung bertepuk tangan. Dalam hati Raja Rowned, kenapa janji yang diucapkan putrinya itu sedikit berbeda dengan janji-janji yang sudah diajarkannya. Berdamai dengan semua kerajaan di daratan? Ya, sama saja jika Kerajaan Api disuruh berdamai dengan Kerajaan Air. Padahal Raja Rowned sudah memesankan janji yang disebutkan adalah Berdamai dengan semua kerajaan Negeri Vuurland. Bukan semua kerajaan di daratan! "Terima kasih, Tuan Putri. Acara selanjutnya pengesahan janji-janji Putri Api. Kepada Permaisuri Raqia, dipersilakan." Permaisuri Raqia mengambil guci yang berisikan abu dan arang, bekas bakaran api unggun tujuh belas tahun yang lalu. Ya, itu bekas bakaran Putri Api waktu ia dilahirkan. Putri Api langsung membungkukkan badan. Permaisuri Raqia menempelkan bekas arang itu di kening Putri Api. Tepuk tangan kembali terdengar. "Terima kasih, Permaisuri Raqia. Acara selanjutnya Api Unggun Penobatan." Raja Rowned langsung membimbing putrinya berjalan menuju sumbu api kerajaan. Jantung Putri Api berdebar kencang, tetapi ia harus yakin jika ia bisa. Ya, Putri Api pasti bisa! "Kepada semua tamu undangan, diharapkan berdiri!" Semua tamu berdiri untuk menyaksikan acara penobatan. "Bersiaplah, Putriku!" pesan Raja Rowned. Putri Api mengangguk singkat. Putri Api menghela napas sebentar, memusatkan pikiran agar kekuatannya bermunculan. "Mari kita saksikan ... API UNGGUN PUTRI MAHKOTA KERAJAAN VAN VUUR!" Putri Api melangkah maju menatap sumbu besar itu. Ia kembali mengembuskan napas. Putri Api mengusap cincinnya yang bersinar terang. ... Putri Api mengarahkan telapak tangannya ke sumbu itu. ... Apakah Putri Api bisa melakukannya? ... Putri Api memejamkan matanya, lalu menempelkan tangannya tepat pada sumbu itu. ... ... ... BRUSHH. Semua orang langsung melototkan mata. Semuanya melongo, tak terkecuali Raja Rowned yang masih tercengang tak percaya. Api besar langsung menyambar, menjulang tinggi ke atas yang berkobar dengan liar. Semua orang takjub, semua orang berdecak kagum. Api yang dihidupkan Putri Api merupakan api unggun terbesar dari sepanjang tahun. Sorak sorai tepuk tangan langsung menggema di aula. Mereka benar-benar mengapresiasi Putri Api. Putri Api tersenyum lebar. Ia berhasil! Ya, ia bisa. Ia bisa melakukan yang terbaik. "Putriku! Ayahanda bangga padamu!" ucap Raja Rowned sangat bahagia. Putri Api tersenyum. Putri Api lalu membungkukkan badannya pada Raja Rowned. Ayahandanya itu langsung memasangkan mahkota untuk Putri Van Vuur itu. "Princess Pricilia Xeory Van Vuur telah sah menjadi Putri Mahkota Van Vuur!" teriak Raja Rowned disambut tepukan meriah oleh semua orang. "Selamat, Putriku!" Raja Rowned memeluk putrinya itu dengan bangga. "Terima kasih, Ayahanda." Dalam hati Putri Api teringat akan pemuda yang sedang berjuang di sana. Putri Api mengusap cincinnya sembari mengingat pemuda itu, siapa lagi jika bukan Pangeran Air. Acara Penobatan dinyatakan selesai. Putri Api baru bisa menghela napas lega. "Hidup Putri Van Vuur!" "Hidup Putri Van Vuur! "Hidup Putri Van Vuur!" Putri Api tersenyum mendengar teriakan tamu. Ia membungkukkan badan singkat. *** "Tuan Putri, hamba bangga padamu. Hamba menghormatimu, Tuan Putri!" "Selamat, Tuan Putri. Hamba menghormatimu." "Abadi Putri Van Vuur!" "Selamat, Tuan Putri. Hamba bangga padamu." Putri Api hanya tersenyum menanggapi semua ucapan dari pelayan istana yang bertemu dengannya. Putri Api langsung menuju kamarnya. Yaya langsung menghampiri Tuan Putrinya itu. Yaya membungkukkan badan memberikan salam hormat. "Selamat, Tuan Putri. Hamba menghormatimu.' "Terima kasih, Yaya." Yaya kembali membungkukkan badan. "Mohon ampunkan hamba. Bolehkah hamba bertanya, Tuan Putri?" "Boleh saja." "Bagaimana bisa Tuan Putri melakukannya, bukankah kekuatan Putri Api sudah padam?" tanya Yaya hati-hati, "sekali lagi, mohon ampunkan hamba." "Kau tak usah tahu bagaimana caranya. Ini akan menjadi rahasiaku berdua dengan dia." "Ampun, Tuan Putri. Siapa dia yang Tuan Putri maksud?" "Siapa lagi jika bukan ... Pangeran Dafta Van Water." Putri Api tersenyum mengingat pria itu. *** HAII Next Chapter Penobatan Pangeran Air. Jangan lupa baca, ya! Mau tahu kan gimana caranya Putri Api bisa mendapatkan kekuatannya kembali? See you next chapter. Thank You ~Amalia Ulan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN